Mengejar Cinta Mu

Mengejar Cinta Mu
Bab 102


__ADS_3

Dibalik kisah Tania yang mengantar Dafa ke Bandara....


Dafa ketinggalan pesawat akibat dirinya harus menemui Alisya. Dafa tidak bisa menolak, sebab Alisya pasti membutuhkannya. Bagaimana pun meski ada rasa cinta, Dafa tidak bisa memungkiri jika dirinya hanya bisa menjadi teman curhat Alisya hingga sekarang. Dan Dafa sudah berjanji jika dirinya akan tetap menjadi teman curhat Alisya. Jadi saat Alisya merasa galau, maka Dafa dengan siap menjadi pendengar serta penasihat bagi Alisya.


Bagas menghampiri Dafa yang sudah keluar dengan tas ranselnya. " Udah mau berangkat?" tanya Bagas.


" Iya nih! soalnya mau check in di bandara juga." jawab Dafa.


" Kita antar ya." kata Tania yang baru saja keluar dari kamarnya menghampiri Dafa.


" Tidak perlu, aku bisa naik taksi ke bandara." kata Dafa sebab dia tidak ingin merepotkan kedua temannya itu.


" Sudahlah, tidak usah canggung begitu. Bukannya kita udah temanan lagi, jadi ya udah biarkan kami yang antar. Sekaligus perpisahan." ujar Bagas.


" Nanti di Jakarta juga bisa ketemu. Ngapain bilang perpisahan."


" Kalau aku sih mungkin bertemu, tapi dengan Tania emang mau ketemu." ujar Bagas.


Dafa berdiri setelah selesai mengikat tali sepatunya. " Biar Tania saja yang mengantar. Kamu udah ada janjian dengan bunga, kan?" kata Dafa.


Entah apa yang dipikirkan Dafa, dengan tiba-tiba ingin mengajak Tania mengantarnya ke bandara. Dafa pergi ke dapur meminum air putih, dia teringat dengan perkataan kepada Alisya kemarin.


" Witing tresno jalaran soko kulino, artinya cinta datang karena terbiasa."


Kalimat yang disampaikannya kepada Alisya membuat dirinya, jadi teringat akan cinta Tania untuknya. Meski dia mencoba egois dengan merebut Alisya dari sisi Adrian. Itu tidak akan berhasil, sebab Alisya hanya mencintai Adrian. Dan pula Adrian juga sudah mulai menaruh hati untuk Alisya. Adrian mulai mencintai Alisya karena sudah terbiasa hidup bersama Alisya selama mereka menjalani hidup rumah tangga. Dafa berfikir bahkan semalam dia tidak bisa hanya memikirkan nasib cintanya.


" Tan, kamu udah siap?" tanya Dafa menunggu Tania yang akan mengantarnya ke bandara.


" Serius cuma Tania. Aku bantu nganter deh. Mumpung ada mobil nih." ujar Bagas dengan niat membantu.


" Aku udah bilang hanya Tania." ucap Dafa menolak.


" Tapi, siapa yang mengantar kalian ke sana. Hemat bajet bro!" ujar Bagas.

__ADS_1


" Tapi kamu bilang ada janjian dengan bunga. Kasihan nanti dianya menunggu. Biar Tania saja yang pergi denganku." ujar Dafa.


" Aku cuma mengantar saja. Setelah itu urusan kamu dengan Tania deh. Gimana?" pinta Bagas menawarkan tumpangan.


" Iya dah. Siap-siap sana keburu telat." ujar Dafa.


" Siap pak!" ucap Bagas lalu menuju kamarnya.


Tania keluar dari kamarnya, karena ini perdana jalan bersama berdua dengan Dafa meski hanya mengantar ke bandara. Tania tidak mau melewati momen ini begitu saja, dia mengenakan rok pendek serta dengan baju blus motif bunga-bunga kecil berwarna ungu, tidak rambutnya digerai agar terlihat manis di mata orang yang memandang.


" Aku sudah selesai." ucapnya.


" Tunggu Bagas sebentar, dia yang akan mengantarkan kita ke bandara." ujar Dafa.


" Baiklah."


Tak berselang lama Bagas juga sudah selesai, penampilannya cukup simpel mengenakan baju kaos dan celana jeans pendek. Sederhana meski hari ini dia juga akan mengajak bunga berjalan-jalan mengelilingi Surabaya dengannya.


" Penampilan mu begitu. Bukannya setelah mengantar kami kamu jalan-jalan dengan Bunga ya." ujar Tania melihat penampilan Bagas.


" Bukan begitu. Setahu ku bunga menyukai hal-hal yang berbau Korea gitu. Jadi pastinya tipe bunga tidak jauh dari gaya cowok Korea." ujar Tania.


" Sok tahu kamu.. Kayak gini udah bagus kok." bantah Bagas karena dia merasa penampilannya sudah bagus bila dimata Bunga.


" Ya jelas aku tahulah.. Aku sering ngikutin dia dengan Alisya saat bersama dengan Dafa." kata Tania namun segera menutup mulutnya karena itu merupakan kejadian dimasa lalu saat Tania ingin membalaskan rasa sakitnya kepada Alisya. Bukan karena dia tidak mau bicara akan kejadian itu, namun dia merasa tidak enak hati dan juga malu karena ada Dafa disana.


" Kamu cuma ngikutin dan tidak tahu dia suka cowok Korea atau tidak." bantah Bagas lagi. Sebab penjelasan Tania masih kurang cukup baginya untuk percaya jika Bunga suka dengan gaya cowok Korea.


" Apa yang dibilang itu benar, kamu tahu aku sering jalan-jalan, serta nongkrong bersama dengan bunga. Jadi aku lumayan tahu, bunga sangat suka hal-hal yang berbau Korea. Terkadang setiap nongkrong pasti kita akan berkunjung ke store yang jual aksesoris Korea gitu. Jadi aku saranin kamu, kalau ajak bunga jalan penampilan mu hari diubah serta ajaklah dia ketempat store yang jualan album atau berkaitan dengan Korea." ujar Dafa yang ingin membantu Bagas, karena dia tahu Bagas merencanakan itu untuk pdkt kepada Bunga.


" Tuh dengerin. Ngeyel sih!" ucap Tania mengejek Bagas karena tidak mendengar omongannya.


Bagas melihat penampilannya, dia merasa memang kurang jika penampilannya akan kurang menarik di mata Bunga. Mengingat apa yang dikatakan Dafa, jika tipe bunga seperti penampilan cowok Korea. " Kalian bisa menungguku sebentar?" ujar Bagas karena dia ingin mengubah penampilannya.

__ADS_1


Tania menghela nafasnya, karena hari menunggu Bagas lagi. " Sudah. Kita berangkat saja keburu telat. Kamu jangan lupa jemput Tania di bandara nanti." ujar Dafa mengangkat ranselnya untuk keluar rumah.


" Tapi..."


" Tidak ada kata tapi. Jangan lupa jemput aku ya, kita pergi dulu, bye." ujar Tania melambaikan tangannya.


" Tapi..... aku tidak tahu penampilan cowok Korea seperti apa.." gumam Bagas dengan murung.


Selama perjalanan ke bandara, Dafa dan Tania tidak mengobrol sama sekali. Suasana canggung sangat terasa saat berada didalam taksi. Tania mengutuk dirinya, tidak memaksa Dafa untuk menunggu Bagas sebentar. Karena jika ada Bagas mungkin atmosfernya tidak secanggung ini. Tania mencoba memulai pembicaraan, namun dia tidak tahu kata apa yang harus diucapkan.


Taksi sudah sampai di bandara, mereka berdua turun. Tania niat membayar, namun sudah keduluan Dafa yang membayar taksinya.


" Ayok!" ajak Dafa sambil menenteng tas ranselnya.


Mereka berdua berada di lobi, Dafa belum melakukan check in karena masih sebentar lagi. Dafa sengaja datang lebih awal karena sebenarnya ada yang ingin dia sampaikan kepada Tania.


Suasana masih saja canggung, tidak ada pembicaraan meski sudah berada di bandara. Dafa sibuk melihat jam tangannya. Tania sudah merasa kecewa, sebab dia merasa sia-sia mengantar tanpa ada kata perpisahan atau apapun. Waktu check in, sudah lebih dekat. Dafa melihat Tania yang duduk disampingnya dengan bosan.


" Maaf ya.. kamu pasti bosan." ujar Dafa memulai pembicaraan.


" Ah, tidak kok.." bantah Tania padahal aslinya memang sudah mulai bosan.


" Aku tidak tahu harus gimana untuk memulai obrolan." ujar Dafa merasa bersalah.


" Aku pun sama." ujar Tania menimpali.


" Rasanya canggung saat kita cuma berdua. Padahal dulu saat kita masih berteman kita tidak secanggung ini." ujar Dafa.


" Iya, aku yang salah." ucap Tania menyesal karena sudah membuat jarak diantara mereka berdua.


" Tan, sebentar lagi aku akan check in. Aku mau bilang, jika aku akan mencoba belajar mencintaimu. Aku menyadari itu, saat aku mengingat Adrian yang sudah mulai mencintai Alisya. Aku hanya ingin kamu bersabar, mungkin akan lama untukku menerimamu." ujar Dafa.


Tania cuma bisa syok, dengan apa yang didengarnya. Dia tidak bisa berkata-kata lagi. Jadi dia diberi kesempatan oleh Dafa. Rasanya begitu terharu mendengar semua itu. Tania hanya bisa menitikkan air matanya.

__ADS_1


" Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik." ucap Dafa menenteng tas ranselnya meninggalkan Tania.


__ADS_2