
Tania pergi ke cafe Bagas, sekedar ingin bertemu dengan Bagas. Terlihat dari wajahnya, dia ingin berbicara serius.
" Bagas," sapa Tania saat melihat Bagas baru saja membawakan minuman untuk pelanggan.
" Tania, ada apa?" tanya Bagas terkejut melihat Tania berkunjung di cafenya.
" Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu." ujar Tania.
Bagas masuk ke dapur, sedangkan Tania mencari tempat duduk. Bagas keluar dari dapur tidak menggunakan celemek layaknya pelayan. Dia kalau duduk disampingnya Tania.
" Ada apa?" tanya Bagas.
" Bantu aku, aku tidak ingin menghancurkan hubungan Alisya dan Adrian." ujar Tania.
Sepertinya Tania sudah menyesal akan perbuatannya, sehingga dia terlihat buru-buru ingin bertemu dengan Bagas.
" Bagaimana caranya?" tanya Bagas, dia tidak tahu harus bagaimana sebab dia tidak terlalu dekat dengan Alisya maupun Adrian. Bagaimana dia bisa menyatukan pasangan itu.
" Kamu pikirkan saja dulu. Aku harus pergi." ujar Tania berdiri dari tempatnya, terlihat sedang terburu-buru.
" Tan, kamu mau kemana?" tanya Bagas menahan tangan Tania untuk pergi.
" Aku ingin bertemu dengan Dafa." ujar Tania melepaskan pegangan tangan Bagas.
Bagas hanya bisa memperhatikan gadis itu pergi.
Tania menaiki taksi menuju tempat tinggal Dafa, namun sesampainya disana Dafa tidak berada di rumah. Tania akhirnya kembali menaiki taksi menuju kantor Dafa.
Di kantor Dafa, Tania masuk kedalam mencari keberadaan Dafa. Seorang karyawan meminta Tania untuk menunggu sebentar dikarenakan Dafa sedang memotret. Tania akhirnya menunggu sampai Dafa menyelesaikan pekerjaannya.
Alisya sibuk di butik, seharian ini banyak sekali pelanggan yang berkunjung. Alisya sendirian, sedangkan bunga masih berada di kampus. Karena hari ini ada mata kuliah yang sangat penting untuk diikuti.
Adrian datang ke butik, namun dirinya hanya bisa melihat istrinya yang tengah bekerja itu di balik jendela. Adrian menatap istrinya yang tersenyum melayani para pelanggan yang datang.
" Aku merindukan senyuman itu." gumam Adrian menatap Alisya.
Adrian masih belum berani untuk menemui Alisya. Yang Adrian lakukan hanya memperhatikan Alisya dari jauh. Setelah cukup memandang Alisya, merasa rasa rindu sudah terobati. Adrian pergi dan kembali ke kantor.
__ADS_1
Dafa sudah selesai melakukan pekerjaannya, seorang karyawan di kantor menemuinya.
" Kak Dafa, ada yang ingin bertemu denganmu." kata karyawan.
" Siapa?" tanya Dafa.
" Seorang cewek. Aku gak menanyakan namanya, dia sudah menunggumu di ruangan." ujar karyawan itu.
" Baiklah, aku akan menemuinya." ujar Dafa tersenyum.
Tidak mungkin seorang klien, sebab jika ada yang butuh jasa pasti melalui karyawannya supaya bisa mengatur jadwal. Berarti gadis itu adalah orang yang kenal dengannya. Dafa membereskan kamera sebelum menemui gadis itu.
Dafa berjalan menemui gadis itu, raut wajah ramahnya berubah saat melihat siapa yang tengah menunggunya.
" Tania." ucap Dafa.
" Dafa, aku kesini ingin.." ujar Tania langsung berdiri saat melihat orang yang ingin ditemuinya itu sudah berada dihadapannya.
" Ada apa? Kenapa kamu kesini?" tanya Dafa raut wajahnya datar.
" Aku... Aku ingin minta maaf. Aku tahu aku salah, aku yang menyebabkan Alisya bertengkar dengan Adrian. Aku ingin meminta maaf atas semua kesalahanku." ujar Tania dengan wajah memelas, rasa bersalah sudah memuncaki dirinya.
Tania terdiam, air matanya menetes. Menyadari kesalahannya, wajah memelas meminta maaf.
" Tan, apa ini permintaan maaf tulus dari lubuk hatimu? Apa kamu merasakan rasa bersalah? Atau jangan bilang kamu meminta maaf karena kamu tidak ingin aku bersama dengan Alisya." kata Dafa yang masih belum mempercayakan gadis dihadapannya.
" Aku.... Aku memang mencintaimu. Bukan berarti aku egois merencanakan hal itu dengan pura-pura meminta maaf. Aku menyadari semua kesalahan ku. Makanya aku kesini untuk meminta maaf. Aku... Aku sangat merasa bersalah atas semuanya. Aku menyadari itu, aku meminta maaf. Aku.. aku ingin... kita.. bisa bersahabat seperti dulu lagi." Ujar Tania disela-sela tangisannya.
Wajah Dafa yang tadinya cuek, kini berubah. Karena ujaran serta wajah tangisan Tania. Membuat Dafa tidak sampai hati memiliki rasa marah padanya.
" Tan, persahabatan kita tidak pernah pecah. Hanya saja perasaan kitalah yang membuat terlihat menjauh. Bukan aku yang seharusnya kamu meminta maaf. Seharusnya Alisya yang mendengar semua permintaan maaf mu itu, bukan aku." ujar Dafa.
" Hiks...hiks.. maafkan aku.. Aku mohon maafkan aku.. Aku terlalu mencintaimu.. Sampai-sampai aku menyakiti hati orang yang tidak tahu apa-apa. Aku sadar sekarang daf, aku mohon maafkan aku.." ujar Tania menangis.
Dafa yang tidak tega, memegang kedua bahu gadis itu. Seolah memberikan kekuatannya, agar gadis dihadapannya kini bisa tenang.
" Tania, aku sudah memaafkan mu." ucap Dafa.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari Bagas juga datang menemui mereka berdua. Dia terharu melihat kedua sahabatnya. Sudah lama, dia tidak melihat pemandangan yang seperti ini. Sudah lama mereka bertiga tidak bertemu dengan bahagia dan terharu seperti ini. Bagas tanpa sadar menghampiri kedua sahabatnya, dan memeluk mereka berdua.
" Aku bahagia, kita bisa kembali seperti ini." kata Bagas tersenyum kepada kedua sahabatnya.
Tania ikut tersenyum, dengan menghapus air matanya.
" Melihat kalian, aku punya ide." ucap Bagas.
" Ide? Ide apa?" tanya Dafa bingung tiba-tiba Bagas membicarakan ide.
" Bagaimana kita liburan? Sekalian ngajak Alisya dan Adrian. Siapa tahu dengan begitu mereka berdua kembali akur? Dan tugas mu Tania, kamu harus meminta maaf kepada Alisya dan kamu juga harus menjelaskan semuanya. Mungkin dengan begini, kita bisa menyatukan mereka dan kita juga bisa bernostalgia. Sudah lama loh, kita tidak ngumpul bertiga." ujar Bagas memberitahu idenya.
" Ide yang bagus! Aku setuju. Aku menyesal sudah membuat rumah tangga Alisya hancur. Aku akan menjelaskan semuanya dan meminta maaf atas kesalahanku." ujar Tania.
" Tapi tunggu dulu." ucap Dafa melepaskan pelukan Bagas.
" Memangnya Alisya dan Adrian mau berlibur dengan kita?" tanya Dafa.
" Tenang saja. Soal itu biarkan aku yang urus. Sekarang kalian berdua berkemaslah, kita akan menuju butik Alisya." ujar Bagas tersenyum senang.
Adrian bengong di meja kerjanya. Semenjak kepergian Alisya dari rumah, Adrian seperti tidak ada selera lagi untuk bekerja. Adrian terus menghela nafasnya berat, beban yang ditanggungnya begitu besar. Tiba-tiba pintu kantornya diketuk oleh seseorang dari luar. Membuat Adrian terkejut.
" Siapa?" teriak Adrian dari dalam ruangan.
" Aku pak, Bella. Ada hal yang ingin aku sampaikan kepada bapak." ujar bella.
" Kalau begitu silakan masuk." ujar Adrian.
Bella masuk kedalam ruangan, dari raut wajahnya sepertinya ada hal penting yang ingin dia sampaikan.
" Ada apa?" tanya Adrian.
" Pak Adrian, tiba-tiba saja klien yang minta ketemu di Surabaya menghubungi. Katanya ada berkas yang ingin dia berikan, dia meminta bapak untuk mengunjunginya lagi di Surabaya." ujar bella.
Kenapa Bagas tiba-tiba menelfon? Jika ada berkas yang ketinggalan pastinya dia segera menghubungi Adrian atau langsung ke kantor saja kemarin. Adrian begitu bingung, dirinya tidak bisa ke Surabaya sebab Alisya ada di sini. Dia tidak mau jauh dari Alisya.
" Kata beliau berkas tentang masalah bapak." ucap Bella.
__ADS_1
Adrian akhirnya menyadari maksud dari ucapan bella.
" Baiklah, besok aku akan menemuinya di Surabaya."