Mengejar Cinta Mu

Mengejar Cinta Mu
Bab 78


__ADS_3

Adrian lagi berkutat dengan laptopnya, Bella yang ada di ruangannya sibuk dengan ponsel. Jam sudah menunjukan makan siang, Bella melihat di pintu ruangan kerja Adrian. Nampaknya Alisya istri Adrian tidak datang membawakan makan siang Adrian.


" Tumben, istri Adrian gak datang hari ini." ujar Bella dal hati. Biasanya jam makan siang Alisya sudah datang ke ruangan kerja Adrian.


Bella masih menunggu, dia tidak beranjak untuk ke kantin. Pikiran Bella, masih penasaran dengan Alisya sebab kemarin gadis itu tidak mau diantar oleh suaminya bahkan hari ini dia juga belum datang.


"Jangan-jangan si Alisya gak datang lagi. Lalu Adrian juga belum keluar dari ruangannya." ujar Bella sendirian.


Tiba-tiba pintu ruangan kerja Adrian terbuka, terlihat Adrian yang muncul dibalik pintu. Bella jadi salah tingkah, sebab kedapatan sedang berdiri di samping pintu ruangan kerja Adrian.


" Siang pak, mau makan siang?" tanya Bella basa basi, karena malu ketahuan sedang berdiri di depan pintu ruangan kerja Adrian.


" Iya, kamu ada liat Jefri?" tanya Adrian, biasanya Jefri akan ke ruangannya saat jam makan siang. Namun, semenjak Alisya sering ke kantor mengantarkan makan siang, Jefri sudah jarang ke ruangannya.


" Belum pak. Tumben pak, ibu Alisya gak datang." tanya Bella penasaran kenapa hari ini Alisya tidak datang ke kantor.


" Dia lagi sibuk, kalau begitu aku duluan. Kamu jangan lupa makan siang."


" Iya pak." jawab Bella tersenyum, setidaknya dengan perkataan seperti merupakan bentuk perhatian bagi Bella.


Bella lalu berjalan mengikuti Adrian dari belakang. Dari depan Jefri berjalan mendekati merek berdua. Jefri melambaikan tangan, menyapa Adrian.


"Tumben sendiri, Alisya gak datang?" tanya Jefri kepada Adrian.


" Udah dia orang yang menanyakan itu. Alisya lagi sibuk mengurusi bisnis barunya, jadi untuk beberapa kedepan aku akan makan siang di kantin." ujar Adrian.


" Ah, begitu ya. Tenang, masih ada aku yang menemani mu." ujar Jefri tersenyum lalu sedikit melambaikan tangan ke Bella.


Alisya hari ini akan mengadakan rapat dengan bunga, membahas tentang bisnis yang akan mereka garap nanti. Kebetulan bunga hari ini sedang tidak sibuk bahkan bunga juga sudah meminta izin untuk tidak bekerja hari ini. Meski harus penuh drama sebab Bagas melarangnya untuk meminta cuti meski itu hanya satu hari. Namun, Bunga dengan ekspresi memelasnya akhirnya hati Bagas luluh memberikan bunga cuti sehari.

__ADS_1


Bunga dan Alisya bertemu ditempat yang sama, di cafe tempat Bunga bekerja. Bagas tidak bisa menganggu, sebab saat ini posisi bunga bukan lagi menjadi pegawai seperti kemarin.


" Jadi bagaimana? kita survei dulu lokasinya dan juga kita coba dulu desain yang kamu buat kemarin. Kalau misalnya cocok dan bagus baru kita keluarkan model-model yang lain." ujar bunga memulai pembicaraan.


" Ah, boleh juga. Aku suka ide kamu, kalau begitu kita beli bahannya lalu kita ke penjahit untuk jahit sesuai dengan model ini." kata Alisya menunjukan gambar, yang di gambarnya tadi malam.


" Iya," ucap bunga meminum minuman yang dipesannya.


" Kalau kita pergi saja sekarang." ujar Alisya. Mereka berdua keluar dari cafe, sebelumnya bunga membayar pesanan mereka. Dia melirik Bagas yang masih sibuk melayani pelanggan lain.


" Ayo," ajak bunga keluar cafe. Bagas yang melayani pelanggan hanya bisa melihat kepergian bunga dan Alisya dari cafenya.


Alisya dan bunga menuju ke toko kain, untuk membeli bahan kain. Kebetulan Daffa juga berada diarea dekat toko itu, dia sedang memotret beberapa pedagang kaki serta para ibu-ibu yang tengah berjalan di jalan melintasi toko. Melihat Alisya dan bunga turun dari taksi, Daffa memanggil mereka berdua.


" Alisya," panggil Daffa.


Belum sempat Dafa menjawab, alisya sudah tahu jawaban melihat kamera yang dipegangi oleh lelaki itu. " Lagi potret ya kak."


" Iya, biasa." ucap Dafa.


" Ternyata jadi fotografer gak mudah ya, harus cari view yang bagus untuk mendapatkan hasil terbaik." ujar bunga melihat Dafa yang sepertinya tidak istrirahat, sebab kemarin Dafa baru saja pulang dari desa tempat yang dijadikan objek fotonya.


" Gak juga, kebetulan aku belum punya gambar di area pertokoan gitu. Kalian berdua ngapain kesini?" tanya Dafa kepada Alisya dan bunga.


" Oh itu, kita mau cari bahan untuk desain kita yang pertama." ujar Alisya.


" Oh gitu, kalau begitu aku lanjutkan pekerjaan ku dulu ya." ujar Dafa pamit kembali mencari objek untuk dijadikan momen di kameranya.


Adrian sedang memakan makan siangnya, terlihat jelas wajah yang tidak menikmati suasana. Jefri yang duduk dihadapannya hanya bisa menghela nafas.

__ADS_1


" Udah tahu gak bisa hidup tanpa istri. kenapa ngizinin coba!" ujar Jefri bermaksud agar Adrian peka dengan suasana hatinya.


" Apaan sih! Justru bagus jika dia mau memulai bisnisnya. Daripada dia di rumah gak ada kerjaan." ujar Adrian mengerti apa yang dikatakan oleh Jefri.


" Iya, tapi raut wajahmu itu. Kelihatan jelas."


" Apanya? Ekspresi ku sama saja seperti biasa." ujar Adrian mengelak.


" Mungkin, bagimu biasa. Eh! tapi dengan melihat raut wajahmu ini, aku sudah menyadari bahwa kamu udah mulai jatuh hati nih!" ujar Jefri.


" Kalau soal hati, aku gak tahu." ucap Adrian dengan wajah merenung. Dia masih belum mengerti dengan perasaannya.


Jefri lagi-lagi menghela nafasnya, dia tidak paham dengan sahabatnya ini. Padahal jelas sekali Jefri melihat ekspresi selama ada Alisya disampingnya bahkan sekarang saat Alisya itu tidak ada disampingnya hari ini.


" Sadarlah, apa yang kamu harapkan dari masa lalu?" kata Jefri.


" Aku gak tahu, apa ini bisa dikatakan harapan atau bukan. Yang jelas, masa lalu aku cukup berkesan. Aku juga gak tahu apa aku sayang dengan Alisya atau tidak." kata Adrian mengaduk-aduk menu tanpa memakannya sama sekali.


" Apa yang membuat masa lalu mu itu cukup berkesan, hm? Ada Alisya sekarang, buang masa lalu berkesan mu itu. Sini! biar kasih kamu pemahaman apa yang kamu rasakan sekarang." ujar Jefri membantu sahabatnya itu biar peka dengan perasaannya.


" Ngomong si gampang, tapi membuktikan itu. Aku ngerti, yang jelas aku butuh penjelasan kepada Tania memutuskan aku begitu saja. Dan untuk perasaan ku dengan aku juga gak paham. Menjalani hidup suami istri dengannya menurut ku hanyalah sebuah partner dalam kerja. Untuk perasaan aku belum bisa memastikan itu." kata Adrian menghela nafasnya.


" Adrian.. Adrian.. Kamu ini benar-benar gak peka. Wajah mu barusan itu berbeda dengan saat Alisya berada disamping mu. Serius! kamu terlihat murung hari ini." ujar Jefri.


" Ah itu dugaan mu saja. Aku hanya capek karena pekerjaan yang menumpuk." kata Adrian mengelak akan perasaannya, menurutnya apa yang dikatakan Jefri tidaklah benar.


" Sampai kapan menolak terus. Baiklah, aku biarkan saja kamu menjalani penolakan perasaan mu itu. Sampai kamu menyadarinya. Sekarang makanlah, jangan diaduk terus. Emang bubur ayam diaduk?" ujar Jefri dengan candaan.


" Apaan sih! namanya makan bubur ayam gak diaduk."

__ADS_1


__ADS_2