
Alisya melihat pesan yang masuk di ponselnya, ternyata foto yang dikirimkan bunga. Foto para model pakaian yang dimintanya sudah dikirim. Alisya melihat semua foto itu.
" Wah! bagus banget. Gak nyangka hasilnya bakalan sebagus ini." gumam Alisya melihat foto-foto yang dikirim Alisya.
Tiba-tiba Bunga menelfon dengan video call. Alisya segera mengangkatnya, diperlihatkan wajah bunga.
" Bagaimana hasilnya? bagus gak?" tanya bunga.
" Bagus banget! aku suka sama hasilnya. Jangan lupa titipkan salam dan juga terima kasihku ke kak Dafa." kata Alisya.
" Gak usah dititip, omong langsung aja sama orangnya." ujar bunga mengarahkan kamera ponselnya ke arah Dafa.
Alisya melihat wajah Dafa yang tengah memasukan kameranya ke dalam tas.
" Kak Dafa, Alisya mau ngomong." ujar bunga kepada Dafa.
" Hey Al, bagaimana liburannya menyenangkan?" sapa Dafa.
" Belum bisa dikatakan menyenangkan sih! Oh iya kak, makasih banyak loh udah mau ngebantu. Hasilnya bagus banget." ujar Alisya.
" Iya, sama-sama. Nanti kalau perlu bantuan lagi tinggal hubungi aja ya." ujar Dafa.
" Siap kak. Sekali lagi makasih ya udah bantu." ujar Alisya.
Kamera ponsel kembali mengarah ke wajah bunga. " Al, jangan lama-lama di Surabaya. Cepak aku, jika kerja sendirian."
" Siap ibu." ujar Alisya mengacungkan jempolnya.
" Kalau gitu aku matiin dulu ya. Soalnya kita mau pulang." kata bunga.
" Iya, kalian berdua hati-hati di jalan." ujar Alisya dan video call pun dimatikan.
Adrian dan Bagas sudah banyak berdiskusi tentang bisnis yang akan mereka berdua kerjakan. Adrian begitu menyukai ide yang dilontarkan oleh kliennya ini. Terlihat jelas kliennya sangat berpengalaman dalam hal berbisnis. Setidaknya pertemuan pertama dengan Bagas, membuat Bagas sangat terkesan di mata Adrian.
Meski sedang sibuk membicarakan kerja sama dengan kliennya. Matanya terkadang mengarah kepada gadis yang tengah sibuk melayani pelanggan, siapa lagi kalau bukan Tania.
" Baiklah Adrian, kita sudah dulu pertemuan kita malam ini. Semoga kerja sama kita bisa berjalan dengan lancar." kata Bagas bersalaman dengan Adrian sebagai bentuk kerja sama yang baik.
" Siap Bagas, semoga kerjasama kita berjalan lancar." ujar Adrian tersenyum.
" Kalau begitu aku permisi dulu." ucap Bagas undur diri meninggalkan Adrian.
__ADS_1
Adrian masih duduk menanti Tania. Tania yang sedari tadi sibuk dengan pelanggan. Melihat Adrian sendiri, menghampiri Adrian.
" Adrian!" ucapnya duduk dihadapan Adrian.
" Aku akan memulainya, aku butuh penjelasan mu." ujar Adrian tanpa basa-basi.
" Apa yang perlu dijelaskan, bukannya dulu saat aku putusin hubungan kita, karena kamu mau dijodohkan, kan." kata Tania.
" Tapi kamu gak pernah tahu apa yang aku rasakan selama kamu meninggal aku. Aku terus mencari keberadaan mu bahkan disaat kita sempat bertemu kamu malah menghindar dariku. Kenapa? Kenapa kamu lakukan ini padaku!" bentak Adrian teringat akan rasa sakit yang selama ini dideritanya.
" Aku minta maaf soal itu. Tapi kamu akan tahu jika kamu berada diposisi ku. Aku gak bisa menang melawan gadis itu. Gadis itu adalah angsa sedangkan aku hanya seekor itik. Gak pantas buatku untuk bersanding dengan mu. Kamu pikir cuma kamu saja yang merasakan sakit, aku juga Adrian. Tapi aku sadar, itu yang membuat aku menghindar darimu." kata Tania menjelaskan semuanya dengan wajah sendu.
" Tapi kata maaf tidak bisa mengobati apa yang aku rasakan selama ini Tania!" ujar Adrian dengan penuh emosi.
" Aku sadar respon mu akan seperti itu. Aku gak mengganggu hubungan kalian, tapi meski aku gak bisa memiliki mu. Aku mohon beri aku darah dagingmu, biar aku bisa terus mengingat mu." ujar Tania menangis sambil dengan tangan menyentuh perutnya.
" Maksudmu apa!"
" Aku gak bisa berlama-lama ngobrol denganmu, aku tunggu kamu besok. Ini alamat tempat tinggal aku. Aku tunggu kedatangan mu." ujar Tania memberikan sepotong kertas berisikan alamat. Tania lalu pergi, kembali bekerja melayani para pelanggan.
Adrian menatap kertas itu, tangannya meremas kertas itu. Rasa sakit kembali dia rasakan.
" Huft... Lama banget sih! udah hampir sejam menunggu." gumam Alisya cemberut.
Alisya berjalan mengitari sekitar cafe, sambil melihat bintang diatas langit.
" Wah.. cantik banget." gumam Alisya.
Dia mengambil ponselnya dan mengambil gambar bintang yang bersinar dengan cantiknya di atas langit.
Saat sedang asyik memotret pemandangan sekitar dengan ponselnya. Alisya tidak sengaja menabrak seseorang.
" Auh, maaf." ucap Alisya menunduk.
" Ah, gak apa-apa. Eum, kamu Alisya, kan? temannya Daffa." ujar orang yang ditabrak Alisya.
" Eh, kamu si kakak pelayan itu ya." ujar Alisya mengingat orang yang didepannya kini.
" Bagas, namaku Bagas." ucap Bagas memperkenalkan diri. Karena selama ini dia belum pernah memberi tahu namanya.
" Iya kak, Maaf ya. Tapi kakak kok bisa ada disini." tanya Alisya melihat Bagas juga berada di cafe ini.
__ADS_1
" Oh itu, aku ada pekerjaan. Makanya aku mampir kesini. Kamu sendiri ngapain disini?" tanya Bagas balik.
" Ini, lagi nunggu Adrian. Dia lagi rapat sama kliennya." ujar Alisya.
" Oh gitu.. sambil menunggu aku temani kamu ya." ucap Bagas menawarkan diri menemani Alisya.
" Gak perlu kok kak, sebentar lagi juga selesai." ujar Alisya menolak. Karena merasa tidak enak dengan Bagas, apalagi jika Adrian melihat pasti Adrian akan marah karena berdua dengan pria lain.
" Oh iya? kayaknya bakalan lama deh." ucap Bagas.
" Maksud kakak?" tanya Alisya tidak mengerti dengan apa yang Bagas ucapkan.
" Ah, gak apa-apa. Bintangnya cantik ya, tapi sayang cahayanya tidak seterang bulan. Begitu juga dengan perasaan cinta, meski kamu sudah mencoba memberikan cahaya cintamu, tapi akan kalah dengan bulan yang mencintainya lebih terang." ujar Bagas menatap bintang diatas langit.
Alisya ikut menatap langit, " Iya kak. Tetapi meski bintang kalah terang dengan bulan. Dia tetap cantik dimata orang yang memandangnya."
" Hahaha.. Jadinya kita malah bahas bintang. Mau ditemani gak?" ujar Bagas menawarkan lagi.
" Gak perlu kak." ucap Alisya menolak.
" Baiklah, aku duluan ya. Kamu.." ujar Bagas terhenti, dia menatap wajah gadis dihadapannya itu. Seperti merasa iba dengan gadis dihadapannya ini.
" Aku? kenapa?" tanya Alisya tidak mengerti dengan penyampaian Bagas.
" Gak apa-apa. Aku pergi dulu ya." ucap Bagas pamit.
Alisya memandang kepergian Bagas, "Sebenarnya apa sih yang disampaikan oleh kakak itu." gumam Alisya.
Tidak berselang lama, Adrian keluar dari cafe. Alisya yang melihat Adrian tersenyum menghampiri suaminya.
" Udah selesai?" tanya Alisya.
" Hmm.." jawab Adrian dengan wajah datar.
Alisya menatap wajah suaminya, tidak seperti biasanya suaminya itu menunjukan wajah yang seperti itu.
" Apa rapatnya berjalan lancar?" tanya Alisya khawatir.
Adrian menyadari pertanyaan Alisya itu, segera merubah mimik wajahnya. Dia tidak mau jika Alisya tahu, jika dia baru saja bertemu dengan Tania.
" Baik kok. Yuk, kita pergi." ujar Adrian merangkul istrinya untuk segera menjauh dari cafe sebelum Alisya melihat Tania di dalam.
__ADS_1