
Alisya melanjutkan pekerjaannya sendirian, sebab bunga pagi ini pergi ke kampus untuk konsultasi skripsinya. Alisya hanya mengerjakan hal kecil dengan menempelkan sedikit partikel kecil digaun pengantin itu. Tiba-tiba pintu butik terbuka, Tania datang dengan senyum merekah. Gadis itu segera menghampiri Alisya.
" Bagaimana gaunnya udah jadi?"
" Ini lihat saja. Menuruti gimana udah sesuai, kan?"
Tania mengangguk melihat gaun itu, dia tampak takjub sebab gaun itu terlihat sangat cantik dimatanya. Alisya benar-benar hebat dalam mendesign gaun pengantin seperti ini.
" Kamu mau mencoba?"
Tanpa kata, Tania hanya bisa mengangguk.
" Kamu kesini sendirian?" Tanya Alisya sebab tidak ada tanda-tanda orang bersama dengan Tania.
" Iya. Dia lagi sibuk. Makanya aku kesini sendirian."
" Seharusnya datangnya berdua, sekaligus dia mencoba pakaiannya juga. Tapi ya sudah kamu coba saja dulu ."
Alisya membantu Tania untuk mencoba gaun pengantin yang dibuatnya. Klien yang memesan gaun pengantin itu adalah Tania sendiri. Tinggal 2 Minggu pernikahannya akan dilaksanakan. Alisya begitu terpukau sebab Tania sungguh cantik mengenakan gaun pengantin itu. Tak salah gaun pengantin pesenannya memang cocok di tubuhnya. Gaun pengantin yang terkesan seksi namun elegan serta terdapat partikel kupu-kupu disetiap gaunnya membuat kesan anggunnya seorang Tania.
" Kamu cantik banget, kak." Puji Alisya sebab memang secantik itu Tania. Alisya saja begitu terpukau.
" Ah! Kamu jangan memuji ku seperti itu. Aku jadi malu." Tania begitu saat Alisya memujinya.
" Aku jamin, dia pasti terpesona melihat kakak."
Saat sedang viting gaun pengantin, tiba saja pintu butik terbuka seseorang baru saja masuk kedalam butik.
" Ada yang bisa..." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Alisya langsung tersenyum melihat orang yang datang.
" Kak Dafa?" Ucap Alisya tersenyum.
" Iya."
__ADS_1
" Kakak harus harus ikut aku." Alisya menarik tangan Dafa menuju tempat viting gaun pengantin.
"Lihatlah.." Alisya memperlihatkan Tania yang sedang berdiri didepan cermin melihat lekuk tubuhnya saat mengenakan gaun pengantin.
Dafa terpesona dengan Tania, dia begitu elegan mengenakan gaun pengantin itu. Bahkan saat Alisya bertanya padanya, Dafa tidak mendengar matanya tetap fokus memandang Tania. Tania yang menyadari kehadiran Dafa merasa malu di depan Dafa, dia tertunduk saat Dafa terus memandangnya.
" Aduh! Aku jadi baper." Celetuk Alisya karena Dafa sedari tadi tanpa kata tetapi matanya hanya memandangi Tania.
" Ah! Maaf Al.. aku.."
" Udah, gak usah dilanjutkan. Udah tahu, aku terpesona." Alisya menggoda Dafa.
Dafa hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya. " Hehe.. maaf.."
" Sekarang kak Dafa juga coba setelan jasnya. Biar aku tahu udah serasi belum nih!"
Dafa lalu mengenakan jas pengantin seperti perintah dari Alisya.
Hingga dua tahun berlalu, Dafa ingin meresmikan hubungan mereka berdua. Maka itu Alisya yang kebetulan mempunyai butik pakaian, dipercaya untuk mendesign gaun pengantin serta jas pengantinnya. Alisya sangat senang dan menerima tawaran itu, bahkan dia benar-benar tidak percaya jika Dafa akhirnya membuka hatinya untuk Tania. Ternyata penantian cinta Tania berunjung manis juga begitulah dipikirkan Alisya saat melihat pasangan itu berdiri berduaan didepan cermin.
" Wah! Kalian berdua terlihat sangat serasi." Ujar Alisya tersenyum melihat pasangan ini.
" Makasih ya Al, ini benar-benar cocok dengan kami berdua." Ujar Tania begitu senang dengan hasil gaun serta jas yang dipakai Dafa.
Alisya mengangguk, " Makasih juga ya, udah mempercayaiku untuk mendesign pakaian pengantin kalian berdua. Aduh! Aku benar-benar masih gak percaya sahabat kecil ku ini bakalan nikah."
" Emangnya kamu doang yang menikah? Aku gak boleh?" Ujar Dafa tidak terima dengan penuturan Alisya.
" Soalnya kak Dafa sangat mencintai pekerjaannya, gak nyangka saja akhirnya menikah." Ujar Alisya tertawa.
Setelah selesai viting pakaian pengantin, Tania menghampiri Alisya. Entah kenapa dia sangat berterima kasih kepada Alisya. Berkat dia, cinta berunjung manis seper ini. " Al, makasih banyaknya... Atas semuanya."
" Kak Tania, jangan sekarang deh.. nikah dulu ya." Ujar Alisya terkekeh.
__ADS_1
Lagi-lagi pintu butik terbuka sepertinya ada orang yang datang. Alisya segera menuju ke depan, namun yang datang bukan pelanggan melainkan suaminya sendiri. Adrian masuk ke dalam butik dengan membawa kantong kresek berisi makanan.
" Saatnya makan siang." Ujar Adrian memperlihatkan kantong kertas yang dibawanya.
" Ya ampun, Adrian! Aku nanti bisa ke kantor mu. Kenapa kamu harus kesini segala?"
Dafa dan Tania keluar dari ruangan viting pakaian. Dafa lalu menyapa Adrian, " Hey Adrian!"
" Hai Daf, kalian berdua kesini ya?"
" Mereka mau mencoba pakaian pengantin mereka. Makanya mereka berdua kesini." Ujar Alisya.
Adrian mengangguk sebagai tanda mengerti kenapa Dafa dan Tania berada di butik istrinya. Meski sudah dua tahun berlalu, Adrian masih belum bisa berdamai dengan Tania. Bukan karena masih cinta, namun rasa kecewa karena sudah dibohongi hampir beberapa tahun. Bahkan saat Alisya mencoba mendamaikan mereka, Adrian selalu menghindar. Malahan setiap pertemuan diantar mereka Adrian hanya cuma mengantar dan menjemput Alisya, dia tidak pernah bergabung dengan mereka karena dia tidak mau bertemu dengan Tania.
" Wah gak nyangka kalian berdua bakalan menikah." Ujar Adrian.
" Justru aku gak nyangka, hari ini kamu tidak menghindar saat ada Tania disini." Ujar Dafa karena dia tahu Adrian selalu tidak mau bertemu dengan Tania karena dia sangat membenci gadis itu.
Adrian justru jadinya gelagapan karena pertanyaan Dafa. Mungkin karena kebetulan jadi dia tidak bisa menghindarinya atau bisa saja dirinya sudah mulai memaafkan kesalahan Tania di masa lalu.
" Aku yakin Adrian sudah memaafkan kak Tania. Iya, kan sayang?" Ujar Alisya tersenyum menggandeng mesra tangan suaminya.
" Aku gak tahu.. dulu aku sangat kecewa. Aku merasa jika diriku sudah dibodohi sepenuhnya oleh mu. Tapi Alisya selalu menguatkan ku dengan mengatakan jika itu udah takdir dan kamu sudah menyesali semuanya. Mungkin itu juga menjadi alay dibalik pertemuan tidak terduga ini, aku mungkin sudah memaafkan mu, Tan." Ujar Adrian untuk berdamai dengan masa lalunya.
Tania begitu terharu, selama ini dia benar-benar merasa sangat bersalah. Dia tidak tahu harus dengan cara apa agar Adrian bisa memaafkannya. Namun, disini Tania menyadari jika Adrian sungguh beruntung memiliki istri seperti Alisya.
" Adrian.. Asal kamu tahu, dan perlu kamu syukuri. Kamu benar-benar pria yang paling beruntung mendapatkan Alisya." Ujar Tania tersenyum.
" Aku juga beruntung memilikimu." Ucap Dafa memegangi tangan istrinya dengan lembut.
" Aduh! Yang bentar lagi mau nikah. Jadi baper ngelihatnya." Alisya terbawa perasaan saat mendengar ucapan dari Dafa.
" Ingat! Ada suami disamping." Gumam Adrian pelan namun masih terdengar. Alhasil membuat mereka bertiga tertawa.
__ADS_1