Mengejar Cinta Mu

Mengejar Cinta Mu
Bab 114


__ADS_3

" Hallo." Terdengar suara cewek yang mengangkat telponnya.


Alisya terkejut, dia kembali melihat nama kontak yang dia hubungi. Tidak mungkin dirinya salah jelas-jelas nama Adrian tertera diponselnya. Tapi kenapa bisa suara perempuan yang mengangkat bukan Adrian.


" Maaf, ini ponsel suaminya ku. Kok bisa kamu yang angkat, kamu siapa ya?" Tanya Alisya.


" Bu Alisya. Ini aku Bella, sekretarisnya pak Adrian."


" Kok bisa-bisanya kamu mengangkat telepon dari aku. Mana suamiku?" Alisya tak bisa menahan emosi, padahal dirinya sudah mencoba untuk tidak berpikir negatif tentang suaminya yang bekerja bersama sekretarisnya malam ini. Namun setelah mendengar suara Bella yang mengangkat telponnya, membuat bayangan-bayangan yang ingin dibuang dari pikirannya menjadi terbayang kembali. Kenapa Bella tanpa takut mengangkat teleponnya dari ponsel suaminya?


" Oh, pak Adrian tengah berada di toilet. Sedang membersihkan sesuatu, nanti aku akan sampaikan jika ibu menelpon. Kalau begitu aku matikan ponselnya ya Bu, soalnya banyak pekerjaan yang belum selesai." Ujar Bella mematikan telepon dari Alisya, tanpa mendengar suara Alisya.


Alisya menjadi kesal dengan sikap Bella yang menurutnya lancang. Padahal banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan, kenapa dia yang mengangkat telepon dari Alisya? Apa yang Adrian lakukan di toilet? Apa yang sedang Adrian bersihkan di toilet? Sebenernya apa yang mereka berdua lakukan? Mereka sedang bekerja atau? Alisya menggeleng kepalanya, dia tidak bisa jika membiarkan Bella bersama dengan Adrian di kantor sendirian. Bayangan buruk terus muncul dipikirannya membuat seorang istri yang sedang hamil itu tidak merasa tenang sendirian di rumah.


Bella meletakkan kembali ponsel bosnya itu di tempat semula, setelah mengangkat telepon dari istri bosnya. Kelakuan Bella membuat tanda tanya dari kedua karyawan yang juga berada disana. Apalagi Bella tanpa rasa takut dia malah mengangkat telepon dari seseorang diponsel bosnya. Bella kembali pada pekerjaan dengan santainya tanpa memikirkan jika kedua karyawan itu akan bertanya padanya.


" Bell, kok kamu berani banget angkat telepon di ponselnya bos." Ujar Laras yang tidak tahan dengan sikap santai Bella, padahal dirinya sudah lancang menyentuh ponsel bosnya sendiri tanpa merasa takut karena sudah mengganggu privasi dari bosnya sendiri.


" Oh itu, bos sendiri yang bilang jika dia gak ada, kalau ponselnya berdering aku boleh mengangkatnya." Ujar Bella.


" Kelihatannya kamu udah mulai dekat dengan bos. Biasanya bos selama ini selalu cuek, palingan butuh kamu hanya karena pekerjaan saja." Ujar Laras.


" Sekarang masih sih, tapi cueknya udah berkurang." Ujar Bella dengan bangga.


Adrian masuk ke dalam ruangan, nampaknya kemeja cukup basah. Dia tidak bisa melepaskan kemejanya itu sebab dia tak memiliki baju ganti. Mau tidak mau Adrian bekerja dengan mengenakan kemeja yang basah setengah.


" Pak, sepertinya kemeja bapak basah. Apa gak dikeringkan dulu?" Kata Bella melihat kemeja Adrian yang sudah basah meski cuma bagian bawah.

__ADS_1


" Gak apa-apa, biarkan saja." Ucap Adrian.


" Tapi.. nanti bapak bisa masuk angin. Biar aku bantu untuk keringkan." Ujar Bella dengan lancang menyentuh kemeja Adrian.


Adrian mendorong tangan Bella, saat dirinya melihat kedua karyawan yang bekerja dengannya memandang mereka berdua. " Gak apa-apa. Biarkan begini saja, ini cuma setengah yang basah." Tolak Adrian.


Mereka kembali sibuk dengan bekerja, Adrian tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Apalagi di rumah Alisya sendirian, dengan kondisi sedang hamil besar. Dia sibuk membuka beberapa dokumen penting, Bella di bantu dengan dua karyawan untuk membuat powerpoint untuk presentasi besok.


" Kalian sudah selesai?" Tanya Adrian sebab dirinya sudah mengumpulkan dokumen -dokumen untuk presentasi besok.


" Belum bos, masih beberapa slide yang belum ke edit." Ujar Bella.


Adrian merasa tidak enak jika meninggalkan Bella bersama dia karyawan itu sendirian. Adrian sebenarnya ingin segera pulang, karena merasa tak enak. Akhirnya dia bergabung dengan mereka untuk membantu agar proses pembuatan powerpoint itu cepat selesai.


" Nanti aku masukan ke dalam flash agar bapak bisa mempelajarinya di rumah." Ujar Bella tanpa terasa powerpoint untuk presentasi telah usai.


" Ingat! Kita bereskan ini dulu sebelum pulang." Ujar Laras memukul Yoga yang sudah kepingin pulang.


Mereka berempat berbereskan semua kertas serta gelas bekas kopi yang mereka minum. " Kalian berdua pulang barengan atau?" Tanya Bella kepada Laras dan Yoga.


" Iya, kita pulang berdua kebetulan arah rumah kami sama. Kita duluan ya, Bella." Ujar Yoga memegangi tangan Laras untuk pulang bersamanya.


Adrian melihat Bella yang sendirian, " Kamu pulang dengan siapa?" Tanya Adrian.


" Sendiri pak." Jawab Bella.


Adrian tak berniat untuk mengantar Bella, karena dirinya ingin cepat pulang ke rumah. Namun, Adrian merasa tidak enak dengan Bella yang sudah membantunya malam ini. Karena tak enak, meski berkenan, Adrian meminta Bella untuk diantar olehnya. " Bareng aku saja." Ujar Adrian.

__ADS_1


" Tapi arah rumah kita berlawanan, pak." Ujar Bella.


Tak lama, seseorang datang menghampiri mereka. Sepertinya dia sedang berlari, terlihat sekali dia begitu ngos-ngosan.


" Jefri." Ucap Adrian melihat siapa yang datang.


" Huft... Gila! Istrimu meneleponku." Ujar jesfti dalam keadaan masih ngos-ngosan.


" Alisya? Kenapa?" Tanya Adrian dengan raut wajah mulai khawatir. Biasanya Alisya tidak pernah menelepon Jefri, apalagi Jefri datang dengan keadaan terburu-buru.


" Pake nanya lagi! Pulang sana biar Bella aku yang antar." Usir Jefri agar Adrian segera pulang.


" Ada apa dengan Alisya?" Tanya Adrian khawatir.


" Gak usah nanya!" Bentak Jefri merasa kesal dengan Adrian yang selalu bertanya keadaan istrinya. Adrian benar-benar tidak peka menurut Jefri, padahal dari dulu Adrian sudah berpengalaman dalam asmara meski baru dua orang menjalin kasih dengannya, namun tetap saja Adrian tidak peka dengan apa yang dimaksud oleh Jefri.


Bella yang berada disitu merasa kesal dengan adanya Jefri yang datang menemui mereka berdua. Lagi-lagi Jefri kembali mengacau, seolah tidak memberi kesempatan baginya. Bella dengan berat hati pulang dengan diantarkan oleh Jefri. Sedangkan Adrian sudah pergi duluan, dengan mobil yang melaju kencang karena begitu khawatir dengan keadaan istrinya.


" Ayo Bella, aku antarkan kamu pulang." Ajak Jefri agar Bella diantarkan pulang olehnya.


" Gak perlu, aku bisa naik taksi kok." Bella menolak.


" Tapi rumah kita searah, untuk apa kamu harus naik taksi segala."


" Aku mau singgah di tempat lain." Bella mencari alasan agar tidak diantar pulang oleh Jefri.


Jefri menyinggung senyum, dia tahu siapa sebenarnya pria yang ada didalam hati Bella. " Jangan pernah berpikir jika itu akan berhasil Bella, dia sangat mencintai istrinya. Berhentilah, karena semua itu akan sia-sia." Ujar Jefri menasihati Bella.

__ADS_1


" Kamu jangan sok tahu." Ucap Bella karena tahu apa yang dimaksud oleh Jefri.


__ADS_2