
Semakin hari Alisya sudah mulai sibuk dengan bisnis yang dia jalanin, bahkan bisnis itu sudah berjalan dengan baik. Adrian sang suami juga mendukung istrinya. Meski Alisya sudah memiliki bisnis sendiri bukan berarti dia lalai akan tugasnya menjadi seorang. Dari awal Alisya sudah memutuskan untuk menfokuskan diri sebagai ibu rumah tangga. Walaupun sudah mempunyai bisnis sendiri, itu tidak mengubah niat awal Alisya menjadi ibu rumah tangga.
Alisya sudah menyiapkan sarapan untuk suaminya, Adrian keluar dari kamar dengan setelan jas yang rapi.
" Sarapan dulu." ucap Alisya.
" Iya,"
Mereka berdua sarapan dalam hening hanya terdengar suara dentingan sendok ke piring.
" Bisnis kamu lancar?" tanya Adrian selama ini jarang bertanya mengenai perkembangan bisnis istrinya.
" Lancar." jawab Alisya.
" Di kantor ada pekerjaan diluar kota. Rencananya ada pertemuan klien gitu. Kalau kamu gak sibuk, kamu mau ikut kan?" tanya Adrian kebetulan ada rencana untuk ketemu klien diluar kota, Adrian ingin Alisya ikut agar bisa menemaninya.
" Gak kok, bisnis aku cuman kecil-kecilan. Sedari awal aku udah bilang aku mau fokus jadi seorang istri." ujar Alisya tersenyum.
Adrian menatap senyuman manis dari istrinya. Bibirnya pun juga ikut tersenyum.
" Kebetulan nanti siang aku gak ada kerjaan, aku ke kantor ya. Sekalian kita makan siang berdua." ujar Alisya, setelah beberapa Minggu dirinya sibuk mengurusi bisnis barunya itu. Tanpa sadar dia sudah banyak melewati makan siang bersama suaminya.
" Iya, udah lama kamu gak bawa aku makan siang. Males tiap hari harus ditemani Jefri."
Alisya tertawa pelan, dia tahu Adrian pasti bosan setiap hari harus mendengar ocehan dari Jefri selama makan siang.
" Baiklah. Nanti siang kita ketemu lagi di kantor."
" Kalau begitu aku akan tunggu kamu di kantor. Aku berangkat dulu ya." ujar Adrian pamit berangkat ke kantor, Alisya mengantarkan suaminya sampai pintu keluar.
__ADS_1
Bunga tengah berjalan di koridor kampus, hari ini ada mata kuliah pagi. Sehingga dirinya harus tiba di kampus pagi ini. Muka bunga masih mengantuk, dia mengutuk dirinya karena tidur terlalu makan. Alhasil pagi ini dia benar-benar tidak bersemangat untuk berangkat kuliah.
" Hay bunga." Seseorang cewek menyapa bunga.
" Hay," jawab bunga dengan lesu.
" Nanti siang kamu ikut seminar gak?" tanya gadis itu yang merupakan teman satu jurusan dengan bunga.
" Seminar? Perasaan tidak ada pengumuman tentang seminar siang ini." ujar bunga karena dirinya tidak tahu bahwa akan diadakan seminar.
" Eh! kamu lupa, di Mading kampus sudah ditempel ada pengumuman tentang seminar siang ini, nanti yang mengisi seminar itu anak muda yang pengalaman bisnisnya udah maju." ujar gadis itu antusias.
Bunga menguap, karena efek kurang tidurnya itu. " Oh gitu ya, tapi siang ini aku harus masuk kerja."
" Eh! kamu mau gak ikut seminar, rugi tauk! Justru seminar itu bagus buat jurusan kita, siapa tahu kita memakai ilmunya untuk membuka bisnis." ujar gadis itu.
" Nanti aku pikirkan." Ucap bunga berlalu dengan berjalan gontai sebab masih mengantuk.
" Lebih baik aku mengundurkan diri saja dari tempat kerja. Daripada kayak aku jadi bingung." pikir bunga.
Bunga berencana mengunjungi untuk mengajukan pengunduran dirinya dari tempat kerjanya. Meski sangat disayangkan, namun ini resiko dari bekerja sambil kuliah maka salah satunya harus mengalah.
Bunga sampai di cafe, Bagas tidak ada disana. Dia mendekati salah satu karyawan cafe itu, " Kak Laras, Bagas kemana?"
" Oh Bagas, dia ada keluar jadi hari ini dia izin gak bekerja." ujar gadis bernama Laras itu.
Bunga merasa bingung, sebab jika Bagas keluar maka yang menggantikan Bagas adalah dirinya. Tetapi hari ini dia memutuskan untuk keluar. Bunga merasa kasihan dengan Laras, namun dia juga tidak mau meninggalkan seminar di kampusnya.
" Ada apa nanya kak Bagas?" tanya Laras.
__ADS_1
" Ah itu! aku mau mengundurkan diri. Soalnya beberapa hari ini aku sibuk dengan kegiatan kuliah belum lagi aku juga ada kerja bisnis dengan teman ku. Dan hari ini aja aku ada seminar jadi bertabrakan dengan jadwal kerjaku. Aku juga gak enak harus izin terus. Jadi aku ingin memtuskan untuk mundur." kata bunga alasannya mencari Bagas.
" Kalau begitu kamu beritahu aja ke kak Bagas lewat telfon." ujar Laras.
" Kamu gak apa-apa ngurusin cafe sendirian?" tanya bunga tidak enakan melihat Laras harus mengurusi cafe saat dia dan Bagas tidak ada.
" Gak apa-apa, sudah biasa kok." ujar Laras tersenyum, seoalah dirinya sudah biasa menghadapi hal itu.
Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 11, Alisya tahu sebentar lagi akan jam makan siang. Dia segera menyiapkan bekal makanan untuk suaminya. Alisya segera keluar dari rumah, tak lupa dia mengunci pintu rumahnya.
Alisya menaiki taksi menuju kantor, sebab mobil hadiah dari ayahnya dia jual untuk dijadikan modal bisnisnya.
Sesampainya di kantor, tak perlu harus resepsionis dia segera menuju ke ruangan kerja suaminya. Bella yang berada di ruangannya kaget melihat Alisya berjalan melewatinya. Bella awalnya berfikir jika hubungan Alisya dan Adrian mungkin sedang tidak baik-baik saja. Sebab Alisya tidak lagi datang ke kantor. Namun, hari ini gadis itu muncul kembali membawakan bekal makan siang.
Alisya membuka pintu ruangan kerja Adrian, saat sang suami tengah sibuk dengan ponselnya.
" Baru aku mau menghubungi kamu, kamu udah tiba saja." ujar Adrian menghampiri istrinya.
Adrian memeluk istrinya itu, sebagai bentuk melepaskan lelahnya akibat bekerja hari ini. Tiba-tiba pintu dibuka, yang ternyata adalah Bella. Bella terkejut melihat adegan mesra dihadapannya. Alisya segera melepaskan pelukan Adrian, saat tahu Bella memasuki ruangan.
" Maaf jika aku lancang, aku mau memberikan dokumen ini." ujar Bella.
Raut wajah Adrian agak kesal, sebab kemesraannya harus dihancurkan akibat kedatangan Bella. " Letakkan saja dokumen itu di meja. Lain kali ketuk pintu, dan juga ini jam makan siang. Setelah makan siang kamu baru memberikan dokumen itu juga bisa."
" Maaf pak, tapi aku harus segera memberikan dokumen itu karena itu dokumen untuk perjalanan bisnis bapak keluar kota nanti. Bukannya bapak sendiri yang bilang harus segera diselesaikan." ujar Bella.
" Kalau begitu kamu boleh keluar." ucap Adrian.
Bella menurut dan segera keluar dari ruangan. Alisya yang sedari tadi disitu merasakan pengaruh dari suaminya. Dimana suaminya begitu tegas terhadap karyawannya.
__ADS_1
" Jangan terlalu kejam dengan sekretaris mu, dia bekerja sesuai dengan perintah mu." ujar Alisya menasihati suaminya.
" Habisnya menganggu." ucap adrian kembali memeluk istrinya.