Mengejar Cinta Mu

Mengejar Cinta Mu
Bab 87


__ADS_3

Alisya berhasil memasukan semua pakaian dalam koper, dia menarik kopernya untuk keluar dari apartemen. Adrian terus mencoba menghentikannya. Namun, Alisya menatapnya tajam dan berkata, "Berhenti menahan ku!"


Adrian benar-benar bingung, dia tidak harus membujuk Alisya bagaimana lagi. Dia juga tidak tega bertindak kasar kepada Alisya. Air mata Alisya terus saja mengalir di pipinya. Hati Adrian teriris melihat keadaan istrinya itu. Adrian berusaha menjelaskan namun Alisya tidak mau mendengarnya lagi.


Alisya menarik kopernya keluar dari apartemen. Dibawah, Dafa sudah menunggunya dengan mobil. Adrian terus mengikuti istrinya dan membujuknya kembali. Namun, hati Alisya sudah tidak bisa luluh. Hatinya terlalu sakit untuk bisa memaafkan Adrian.


Alisya keluar melihat Dafa yang sudah menunggunya. " Kak, yuk kita pulang." ucap Alisya.


Dafa membantu menarik koper Alisya. Namun, Adrian datang dan menahannya.


" Untuk apa kamu kesini? Kembalikan koper istriku!" ucap Adrian menatap tajam Dafa dan menarik kembali koper Alisya.


" Aku yang meminta kesini!" bentak Alisya.


" Sorry Adrian, untuk kali ini aku gak bisa mentolerir lagi. Sikapmu sudah keterlaluan." ujar Dafa menarik kembali koper Alisya dia berbalik menatap tajam Adrian.


" Kak, yuk kita berangkat." ucap Alisya tanpa menengok sekalipun kepada Adrian.


Adrian hanya menatap sendu kepergian sang istri. Adrian mencoba mengejar mobil itu. Namun, tenaga sudah tidak cukup untuk membuat mobil itu berhenti.


" Aaarrrgh.. Sialan!" teriak Adrian mengacak rambutnya.


Adrian kembali ke apartemennya, mengambil kunci mobilnya. Dengan wajah yang memerah, menahan amarahnya yang ingin meluap. Adrian melajukan mobilnya menuju ke apartemen Tania, dia ingin bikin perhitungan kepada gadis itu karena sudah menyebarkan foto itu kepada Alisya.


Sesampai di depan Adrian menekan bel apartemen Tania. Namun, tidak ada jawaban dari dalam bahkan pintu tidak dibuka sama sekali sama sang pemiliknya. Adrian tidak tinggal diam, dia terus memencet bel itu berkali-kali. Tetap saja jawabannya nihil.


Karena sudah tidak ada batas kesabaran lagi. Adrian berteriak, " Tan, aku tahu kamu berada di dalam. Keluar sekarang!" sambil mengendur-ngendur pintu apartemen Tania.


Lagi-lagi tidak ada jawaban. Adrian ingin mengamuk sekarang juga. Hingga ada salah satu tetangga yang keluar. Seorang gadis bertubuh mungil, terlihat seperti masih SMA.

__ADS_1


" Maaf kak, cari kakak Tania ya?" tanya gadis itu.


" Iya." jawab Adrian dia mencoba mengontrol emosinya.


" Tadi aku melihat kak Tania udah keluar. Sepertinya dia mau pindah." ujar gadis itu.


" Pindah? secepat itu gadis itu pindah setelah menghancurkan rumah tangga ku. Apa maksudnya?" gumam Adrian.


" Eum, kalau boleh tahu dia pindah kemana?" tanya Adrian lembut.


" Aku gak tahu, belum sempat aku bertanya kak Tania udah naik mobil." ujar gadis itu.


" Terima kasih ya dek." ucap Adrian berlalu.


Dia merasa kesal karena Tania mempermainkannya. Apa yang sebenarnya Tania rencanakan. Apa yang dikatakan Tania benar? Bahwa dia hanya butuh anak dari Adrian. Namun, kenapa bisa foto dia tidur dengan Tania ada di tangan Alisya?


Sepanjang perjalanan pulang, Alisya terus saja menangis. Air matanya tidak pernah berhenti untuk mengalir. Sakit hati benar-benar membuat kacau. Dafa melirik Alisya, terlihat keadaan gadis itu begitu berantakan.


" Kak, selama ini aku berusaha bersabar hiks.. dengan harapan akan ada balasan perasaan dari Adrian. Namun, tetap saja aku kalah. Adrian tidak pernah mencintai ku. Dia hanya mencintai Tania, hanya Tania." ujar Alisya dalam tangisannya.


" Al, aku juga kecewa dengan apa yang Adrian lakukan. Tetapi, aku justru akan tambah sedih ngelihat kamu masih menangis. Hapus air matamu, kita akan segera pulang ke Jakarta." ujar Dafa lembut menenangkan perasaan Alisya.


Selama 3 jam lebih perjalanan, Alisya dan Dafa sampai ke Jakarta. Dafa membantu menarik koper Alisya. Gadis itu terlihat sangat lemah. Bunga ternyata sudah menunggu mereka, bunga mengetahui semuanya dari Dafa. Dafa yang menelponnya saat dirinya baru saja tiba di Surabaya. Bagi Dafa hanya bunga yang bisa menenangkan Alisya, terlebih mereka berdua sama-sama perempuan.


" Al." panggil bunga menghampiri Alisya dan Dafa.


Dafa mengehela nafasnya, menatap iba gadis yang dia cintainya. Terlalu menyakitkan perasaan gadis itu, berkali-kali Adrian mengecewakannya.


" Al." ucap bunga memeluk Alisya. Dia tahu apa yang Alisya rasakan. Alisya sangat mencintai Adrian. Maka, dengan itu Alisya juga merasakan sakit yang begitu dalam. Mungkin tidak seberapa dengan dirinya yang sakit hati karena diselingkuhi Aril.

__ADS_1


" Bunga hiks.." ucap Alisya menangis didalam pelukannya.


" Aku tahu perasaanmu. Kamu tenang dulu yang" ujar bunga lembut.


Bunga mengajak Alisya baik Dafa untuk singgah ke rumahnya. Rencananya beberapa hari Alisya akan tinggal bersama bunga. Alisya tidak mau pulang ke rumah, dia yakin pasti Adrian akan pulang ke rumah. Itu sebabnya dia tidak mau pulang.


Tania duduk di dalam mobil, dia bersama Bagas menuju Jakarta. Dia sudah keluar dari pekerjaan. Sebenarnya cafe yang dia kerja, juga merupakan cafe milik Bagas. Sepanjang perjalanan, Tania hanya memikirkan apa yang dikatakan Dafa. Dia begitu takut jika Alisya dan Adrian beneran akan bercerai. Jika itu benar, maka kesempatan bagi Dafa untuk memiliki Alisya.


Bagas duduk menyetir, melirik sahabatnya yang terdiam sesekali menghela nafas panjang.


" Aku tahu kamu masih memikirkan apa yang dikatakan Dafa." ucap Bagas menebak apa yang dipikirkan sahabatnya itu.


" Iya. Aku gak rela jika Alisya yang akan bersanding dengan Dafa." ucap Tania menghela nafasnya.


" Dari awal bukannya aku sudah bilang rencana ini tidak akan berhasil. Aku tahu kamu ingin membalas rasa sakit mu. Tapi, kamu sadar justru itu juga menyakiti perasaan. Dari dulu aku sering berkata seperti itu padamu. Tapi kamu nya tetap saja dengan pendirian untuk membalas rasa sakit hatimu." ujar Bagas.


" Aku sebenarnya gak bermaksud seperti itu, tapi rasa sakit ini membuat ku berambisi agar Alisya merasakan hal yang sama." ujar Tania.


" Jadi selanjutnya apa rencanamu?" tanya Bagas.


" Tapi, aku boleh menanyakan satu sama kamu?"


" Apa?"


" Kenapa kamu mau membantuku? Bukannya kamu bilang jika kamu suka dengan sahabatnya Alisya. Lalu jika sahabatnya Alisya tahu jika kita dalang dari ini semua. Yang jelas, gadis itu akan membencimu. Bagaimana tanggapan mu?" tanya Tania yang sudah tahu jika Bagas sahabatnya menyukai bunga. Tanialah gadis yang sering mendengar curhatan Bagas tentang bunga, gadis yang Bagas sukai.


" Itulah resikonya. Kamu ingin tahu kenapa aku membantu meski aku udah tahu resikonya." ujar Bagas lalu menghela nafas berat.


" Karena kamu juga sahabat ku. Aku memang sengaja membantumu. Meski aku tahu akan dibenci orang yang disuka. Tapi semata-mata aku ingin kamu dan Dafa baikan lagi seperti dulu." ujar Bagas.

__ADS_1


" Jadi aku harus gimana?" tanya Tania.


" Minta maaf dan jelaskan semua, itu yang harus kamu lakukan." ucap Bagas melajukan terus mobilnya.


__ADS_2