
Alisya sedang beristirahat di kasur, setelah seharian bekerja di butik. Biasanya dia tidak pernah secapek ini, karena selama bersama dengan Adrian, Alisya bekerja secara online. Bunga yang baru saja pulang kuliah, menghampiri di kasur.
" Al, aku ada berita bagus untuk bisnis kita." ujar bunga.
" Apa?"
" Ada klien yang ingin bekerjasama dengan bisnis kita. Tetapi dia ingin kita bertemu dengannya di Surabaya nanti. Kamu mau gak? Kesempatan dong buat ngembangin bisnis kita." ujar bunga dengan antusias.
" Boleh juga tuh, tapi kenapa mesti harus ke Surabaya. Kenapa gak disini aja? Malas ah, harus jauh-jauh kesana." ujar Alisya jika diingat Surabaya menjadi saksi dimana hati Alisya sakit akibat sebuah foto perselingkuhan Adrian dengan mantan pacarnya.
" Mau gimana lagi? Sang klien ingin kita bertemu dengannya disana. Kayaknya dia ingin kita membuka bisnis disana juga deh. Jika benar, bukannya itu bagus untuk bisnis kita." ujar bunga.
" Eum, gimana ya? tawaran yang menarik sih. Boleh lah, jadi kapan kita akan ke Surabaya untuk bertemu dengannya?" tanya Alisya.
" Nanti aku akan kasih jadwalnya, aku akan hubungi dia dulu. Kebetulan klien ini juga kenalan ku kok." ujar bunga.
Bunga lalu berlalu, dia harus membersihkan diri setelah mengikuti kegiatan di kampusnya.
Saat Alisya sendirian, Alisya kembali membayangkan masa-masa dia tinggal bersama Adrian. Sudah lama dia sudah tidak hidup bersama suaminya. Ada banyak momen yang sangat Alisya rindukan. Bahkan Alisya melihat semua foto berdua bersama dengan Adrian sang suami. Sudah lama Meraka tidak lagi berjumpa.
" Apa kabarmu? Aku merindukan mu." ucap Alisya meneteskan air mata sambil memeluk fotonya yang bersama Adrian.
Disisi lain, Adrian juga melakukan hal sama. Dia menatap fotonya bersama Alisya. Menyadari kesalahannya, begitu bodohnya dia tidak menyadari perasaannya sendiri. Adrian mengambil beberapa pakaian untuk dimasukan kedalam koper. Berencana akan pergi ke Surabaya menemui kliennya itu.
" Biasanya jika ada Alisya aku tidak akan melakukan hal seperti ini. Aku sungguh menyesal, Al." ujar Adrian sendirian.
Esok harinya, Bunga membangunkan Alisya. Dia sudah memesan tiket pesawat untuk menuju Surabaya. Mereka akan berangkat siang nanti. Karena kebetulan semua pakaian Alisya sudah berada di dalam koper, jadi dirinya tidak perlu menyiapkan lagi. Karena masih ada waktu, Alisya memutuskan untuk kembali ke butik. Setidaknya butik bisa dibuka beberapa jam sambil menunggu waktu sebelum berangkat ke Surabaya.
Daffa kebetulan tidak ada kerjaan, dia juga berkunjung ke butik
Setidaknya untuk bertemu dan mengobrol bersama Alisya dan Bunga. Dan juga ingin memberitahu jika dirinya juga akan berangkat ke Surabaya bersama dengan bunga dan Alisya. Dafa sudah mengetahui rencana Bagas. Karena itu juga ide darinya, dia memang mencintai Alisya namun dia juga tidak mau egois. Karena hati Alisya masih menyimpan cinta untuk Adrian.
__ADS_1
" Hey Al," sapa Daffa saat dirinya mengunjungi butik.
" Hey, kok kesini? lagi gak ada kerjaannya ya?" tanya Alisya tersenyum saat Daffa menghampirinya.
" Iya, mau persiapan ke Surabaya juga. Bunga kemana?" tanya Dafa saat tidak melihat bunga di sekitar butik.
" Kakak mau ke Surabaya, kebetulan aku dan bunga akan ke Surabaya nanti siang." ujar Alisya.
" Berarti kita sama-sama ke sana." ucap Daffa pura-pura tidak padahal dirinya sudah tahu rencana itu dari Bagas.
" Iya kak. Kebetulan ada klien yang ingin bekerjasama dengan bisnis ini. Jadi mau tidak mau aku dan bunga harus ke Surabaya untuk bertemu dengannya." ujar Alisya.
" Oh gitu.. Baguslah setidaknya bisnis kalian berdua bisa berkembang." ujar Daffa.
Setelah pertemuan di butik, Dafa terus menemani Alisya. Baik dalam menjaga butik bahkan sampai butik itu di tutup karena jadwal keberangkatan mereka ke Surabaya.
" Al, kalau begitu kita sama-sama saja ke bandaranya." ujar Dafa.
" Gak apa-apa kok. Kebetulan bawaanku cuma sedikit." ujar Dafa.
Daffa melajukan mobil menuju rumah bunga untuk mengambil koper serta menjemput bunga menuju bandara bersama.
Di bandara, tidak disangka Adrian melihat Alisya turun dari mobil bersama dengan Dafa dan bunga. Awalnya Adrian begitu marah dia tidak terima melihat Alisya harus bersama dengan Dafa. Namun, saat dia ingin menghampiri, Adrian malah mengundurkan niatnya. Dia tidak mau membuat kekacauan di bandara.
Selama keberangkatan, Alisya tidak tahu jika dirinya satu pesawat dengan Adrian. Beruntungnya, tempat duduk Adrian paling belakang jadi Alisya tidak melihat Adrian satu pesawat dengannya.
Di Surabaya, Alisya dan bunga harus berpisah mereka berdua memilih memesan hotel padahal Dafa sudah menawarkan tempat tinggal sementara untuk mereka. Namun, Alisya malah menolak dia tidak ingin merepotkan Dafa lagi. Sedangkan Adrian, hanya melihat mereka dari jauh. Dia melihat Alisya dan bunga sudah tidak satu jalur dengan Dafa. Niat Adrian ingin mengikuti dimana Alisya tinggal. Setidaknya dia bisa memantau keadaan istrinya itu.
Saat Alisya dan bunga ingin pergi ke hotel untuk check-in. Tiba-tiba telfon bunga berdering, yang ternyata dari Bagas.
" Hallo." jawab bunga.
__ADS_1
"Kalian tinggal dimana?" tanya Bagas dalam telfon.
" Rencana kita bakal check in di hotel dekat tempat ketemu nanti. Ada apa ya kak?" tanya bunga.
" Sementara kalian tinggal di hotel. Sebenernya udah ada rumah yang akan kita tinggali bersama. Tapi aku takutnya Alisya tidak akan mau karena ada Tania disini. Kalau begitu kita ketemu saja besok, aku akan kirim alamatnya." ujar Bagas dan mengakhiri telfonnya.
Alisya yang duduk disampingnya bunga bertanya, " Siapa yang menelepon mu?"
" Klien kita. Dia menanyakan kita sudah sampai Surabaya atau belum. Katanya pertemuannya di tunda besok. Nanti dia akan kirimkan alamatnya." ujar bunga.
" Oh, baiklah." ucap Alisya.
Disisi lain, Tania sudah sampai di Surabaya duluan bersama Bagas. Dia sepertinya merasa khawatir. Dia memikirkan bagaimana dia akan memulai menjelaskan kepada Adrian dan juga Alisya. Bagas menyadari sahabatnya itu. Dia menghampiri sahabatnya dan berusaha menenangkannya.
" Tan, kamu gak usah pikirkan. Kamu tinggal bicara sesuai dengan apa yang kamu bicarakan." ujar Bagas.
" Tapi aku takut jika Alisya dan Adrian akan membenciku." ucap Tania.
" Itulah resikonya Tan. mau tidak mau kamu harus menerimanya." ujar Bagas.
" Bagaimana kita mempertemukan mereka?" tanya Tania.
" Disini. Di rumah ini kita akan mempertemukan mereka. Kamu siap untuk menjelaskan semuanya." ujar Bagas.
Tania menarik nafasnya, menghembuskan dengan perlahan. "Semoga." ucapnya.
Tidak berselang lama, bel rumah berbunyi. Bagas sudah tahu siapa yang datang. Dia adalah Daffa dengan menjinjing tas berisikan pakaian. Pria itu berdiri didepan pintu sambil menunggu sang pemilik membukakan pintu untuknya.
" Akhirnya kamu datang juga, aku pikir kamu bakal menolak ideku ini." ujar Bagas.
" Meski idemu gak masuk akal. Tapi aku juga tidak mau ketinggalan melihat Alisya kembali berdamai dengan Adrian. Meski begitu aku ingin melihatnya tersenyum." ujar Dafa.
__ADS_1
Tania berdiri menyambutnya dengan tersenyum meski dalam hati ada rasa sakit saat mendengar omongan dari Dafa. Namun, kali ini dia tidak mau mengacaukan semuanya. Dia ingin berdamai dengan dirinya dan menerima luka itu.