Mengejar Cinta Mu

Mengejar Cinta Mu
SERBA SALAH


__ADS_3

Arya yang merasa tubuhnya sudah lebih segar kemudian menghubungi Wisnu.


Tetapi lagi-lagi dia harus menelan pil pahit karena Wisnu tak kunjung menjawab teleponnya.


“Kemana sih orang-orang?” tanya Arya frustasi.


“Semoga tidak terjadi apa-apa sama Tiara” .


Kalau saja kondisi tubuhnya tidak sakit seperti sekarang pasti dia bela-belain malam ini juga menemui Tiara.


Arya kemudian melihat update status teman-temannya , siapa tahu ada informasi tentang Tiara. Seperti mendapat angin segar, Arya melihat postingan Ana yang sedang bersama Tiara di rumah sakit.


Segera saja Arya menghubungi Ana.


….


“Siapa yang marahan?” tanya Ratih yang baru masuk dengan menenteng paper bag di tangannya. Oleh-oleh sang suami.


Tiara mencebik kearah Ana, sedangkan Ana hanya terkekeh lucu.


“Kak Tiara sama Kak Arya tante” jelas Ana.


“Lho kenapa?” tanya Ratih khawatir.


Tiara hanya diam saja.


Saat itu juga ponsel Ana berdering, Panggilan masuk dari Arya.


“Pucuk di cinta ulam pun tiba” kata Ana memekik.


“Kak Arya nelpon aku” imbuhnya.


“Kenapa dia nelpon kamu?” tanya Tiara sewot.


“Mana aku tahu” jawab Ana cuek. Langsung saja dia mengangkat telepon itu.


“Halo kak, Iya aku lagi sama Kak Tiara. Kenapa? Oh..,mau ngomong?” Diam-diam Tiara menguping pembicaraan Ana dengan Arya. “Ini Kak, Kak Arya mau ngomong”.


Tiara bergeming tidak mau menerima telepon itu.


“Ara, itu Arya nelpon kamu, kenapa tidak bicara?” kini Ratih angkat bicara.


Tiara mengambil telepon di tangan Ana kemudian mematikannya.


“Kamu kenapa sayang?” tanya Ratih bingung. Sedangkan Ana hanya bengong, tidak bisa membaca situasi yang terjadi.


Bukannya menjawab Tiara malah menangis tersedu.


Ratih mendekatinya.


“Kenapa nak? cerita sama Mama” tuntut Ratih.

__ADS_1


“Arya sudah gak peduli sama aku Ma, dia sudah berubah” Tiara menangis terisak.


“Kata siapa?” tanya Ratih lagi.


“Buktinya dia gak ngehubungin aku sama sekali. Padahal sekarang hari minggu Ma. Gak mungkin kan Mama belum kabari dia?”.


Ratih tersenyum kecil. Dipeluknya Tiara dengan sayang.


“Siapa bilang dia tidak peduli sama kamu? Kemarin setelah mama kabari kamu jatuh dia langsung kesini, tetapi harus balik lagi karena Pak Bram menelepon. Dia sampai tidak tidur lho nak” terang Ratih pula.


“Mama gak bohong kan?”.


“Untuk apa mama berbohong?”.


“Lalu kenapa dia tidak ada menghubungi aku sama sekali?”.


Ratih kemudian melepas pelukannya dan mengambilkan ponsel Tiara.


Saat itu juga Ponsel Ana kembali berdering.


“Kak Arya nelpon aku lagi, gimana ini?” tanya Ana.


Tiara kemudian mengambil ponsel Ana dan mengangkat telepon itu.


“Halo” 


“Halo sayang, kamu kenapa? Kenapa susah sekali menghubungi kamu? Kamu tahu gimana paniknya aku?” suara Arya terdengar bergetar.


“Kok aku yang kenapa? Kan kamu yang tidak bisa dihubungi” protes Tiara.


“Aku minta maaf soal yang hari sabtu, waktu itu aku sibuk banget, Pak Bram minta aku nyariin istrinya rujak”


“Pak Bram apa Pak Bram?” sindir Tiara.


“Maksud kamu?” tanya balik Arya.


“Bilang aja kamu sibuk karena dikunjungi cewek cantik”.


“Jangan ngarang kamu, aku beneran ngurusin Pak Bram. Mau aku minta Pak Bram nelpon kamu?” kata Arya tidak terima.


“Ngarang gimana? Jelas-jelas aku lihat sendiri Mbak Eve ke kontrakan kamu. Masih mau ngelak?”.


Arya dan Tiara malah semakin berdebat. Keduanya mempunyai pembenaran masing-masing. Sibuk dengan argumen masing-masing. Sampai akhirnya Tiara mematikan telepon secara sepihak.


Ratih yang cukup mengerti pun kembali mendekati Tiara dan memberikan ponselnya.


“Ara, jangan seperti anak kecil. Dengarkan dulu penjelasan Arya. Jangan mencari pembenaran sendiri”.


“Bukannya gitu Ma, jelas-jelas dia yang tidak menghubungi aku. Tapi dia bilang aku yang susah dihubungi” sungut Tiara.


Tiara membuka ponselnya berniat memperlihatkan pada Ibunya kalau memang benar Arya tidak ada menghubunginya. Seketika itu juga dia teringat kalau dia ternyata memblokir nomor Arya.

__ADS_1


“Astaga” batinnya malu sendiri.



Arya melempar ponselnya di tempat tidur begitu Tiara mematikan telponnya secara sepihak.


“Kenapa dia tidak mau dengerin penjelasan aku dulu?” kata Arya seraya menyugar rambutnya kasar. Kalau tidak karena besok dia harus pamitan dengan pemilik kontrakan, pasti saat ini juga dia sudah meluncur ke kota B. Menyelesaikan permasalahan antara dirinya dengan Tiara.


Arya membaringkan tubuhnya. Kemudian memjiat pelipisnya yang begitu pening. Arya berteriak kesal. Seperti kehilangan separuh hidup Arya kembali mendudukkan dirinya. Tidur salah, duduk salah berdiri pun salah. Arya merasa dirinya serba salah.


Arya kembali mengambil ponselnya yang tadi dia lempar mencoba menghubungi Wisnu.


Untungnya sekarang langsung diangkat.


“Halo” sapa Wisnu malas-malas.


“Kamu dimana? Aku perlu bantuanmu Nu” mohon Arya.


“Apalagi sekarang?” Wisnu ternyata belum mendengar kabar tentang kecelakaan Tiara. Dia sedang berlibur dengan kekasihnya di kota D.


“Bantu aku ngomong sama Tiara ya, dia block aku. Aku cemas sama keadaannya. Apa dia baik-baik saja setelah operasi ?”.


“Operasi?” tanya Wisnu . Matanya sudah membola kaget, “Tiara Operasi kenapa?”.


“Iya, Tiara kecelakaan kemarin” jawab Arya.


“Aku lagi di luar kota bro, tante Ratih sama Om Kristian gak ada info aku” kata Wisnu kemudian.


“Iya gak apa-apa nu, nanti aku coba hubungi Mama lagi”.


Arya pun mengakhiri panggilan teleponnya.


Arya merenung. Kembali mengingat ingat kata-kata Tiara.


“Bilang aja kamu sibuk karena dikunjungi cewek cantik”.


Cewek cantik apa maksudnya? batin Arya.


Sepertinya Arya lupa dengan kedatangan Eve.


“Oh ya ampun, dia pasti mikirnya aku sengaja gak angkat telponnya karena Mbak Eve datang. Kamu salah yank”.


Arya memijat-mijat kepalanya. Ternyata perempuan cemburu itu sangat menyusahkan dan bikin ribet. Dia sendiri sekarang tidak pernah yang namanya cemburu. Untuk apa cemburu? Karena dia sangat yakin Tiara tidak mungkin mengkhianatinya.


Apa Tiara tidak bisa merasakan bagaimana cintanya untuk Tiara? begitulah kira-kira isi hati Arya. Susah payah dia memendam perasaan selama ini karena mencintai Tiara dalam diam, dan sekarang setelah cintanya terbalas tidak mungkin dia menyia-nyiakannya. Dia akan menjaga dan memupuk cinta itu sehingga semakin subur. Sayangnya dia memang bukan pria romantis. Tetapi dia tunjukkan semua cintanya dengan pembuktian dan kesetiaan kalau dia serius dan ingin menjadikan Tiara sebagai miliknya seutuhnya dengan menjadikan Tiara sebagai istrinya.


Kata orang cemburu tanda cinta memang. Tapi bagi Arya tidak selalu begitu. Bagaimana dia bisa cemburu sedangkan dia sangat yakin cinta Tiara begitu nyata adanya. Tapi berbeda dengan Tiara, Tiara lebih banyak memakai perasaan, dia akan cemburu dengan hal-hal kecil sekalipun. Arya merasa senang bila Tiara cemburu padanya tapi bila cemburunya sampai mengganggu keharmonisan hubungan mereka rasanya cemburu itu sudah berlebihan.


“Bagaimana mungkin dia bisa cemburu dengan Mbak Eve?” Arya hanya geleng-geleng kepala.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2