
Adrian baru saja pulang setelah melakukan pekerjaan diluar kota bersama sekretarisnya Bella. Alisya masih seperti duduk santai sambil menikmati acara di televisi. " Aku pulang!" Ucapnya, namun Alisya hanya sekedar melihat namun tidak perduli dengan kehadiran suaminya. Adrian begitu bingung dengan Alisya, dia seperti tidak menyambut kehadiran suaminya pulang ke rumah.
" Al, suamimu pulang kok gak disambut." Ujar Adrian.
" Mau di sambut? Kalau begitu aku akan menyambutmu dengan sebuah pertanyaan." Ujar Alisya wajah nampak menahan amarah. Alisya sudah tidak tahan ingin menanyakan pertanyaan itu semenjak semalam dia melihat postingan di akun media sosialnya Bella.
" Kok pernyataan sih! Sepertinya biasa Al, suamimu pulang dari luar kota masa sambutannya begitu." Adrian sambil menenteng tas berjalan menghampiri istrinya yang tengah duduk di sofa, raut wajah Alisya tidak ada senyum sama sekali.
" Aku merindukanmu." Ucap Adrian duduk memeluk Alisya, namun Alisya justru mendorong tubuh Adrian. Membuat Adrian menjadi kesal, sebab baru saja di pulang,dan merasa lelah akrena pekerjaan. Sampai di rumah bukannya di sambut dengan baik, justru istrinya malah cuek dan bahkan mendorongnya.
" Kamu kenapa sih!"
" Justru aku yang nanya begitu sama kamu." Ujar Alisya.
" Kok aku! Apa yang terjadi?" Tanya Adrian dia tidak dengan perubahan sikap Alisya kepadanya, padahal dirinya baru saja pulang dari luar kota.
" Kenapa mimik wajahmu seperti itu! Kamu seolah gak merasa bersalah sama sekali!" Bentak Alisya, dia sangat kesal Adrian seolah tidak merasa bersalah dan tidak jujur kepadanya.
Adrian mencoba mengingat hal apa yang telah ia lakukan membuat Alisya murka seperti itu. Pikirannya kembali teringat akan dirinya yang lupa membawa ponsel saat bersama makan siang bersama Bella. Saat sampai di kamar hotel, dia menyadari jika Alisya terus menghubunginya. Karena capek setelah jalan-jalan bersama Bella seharian, Adrian memutuskan untuk mengabarinya besok. Namun, paginya justru dia telat untuk melakukan rapat dengan klien. Alhasil dia tidak sempat mengabari Alisya, mungkin karena itu Alisya menjadi marah kepadanya.
" Aku minta maaf, kemarin aku lupa mengabarimu." Ucap Adrian dengan mencoba menenangkan istrinya.
" Cuma itu. Gak ada yang lain." Alisya butuh kejujuran dari Adrian, namun Adrian belum juga mengatakan apa yang ingin Alisya dengar.
" Iya, cuma itu sayang. Apalagi? Kemarin aku lupa membawa ponsel saat keluar, dan saat pulang aku ketiduran dan lupa mengabarimu. Aku minta maaf ya sayang." Ujar Adrian.
__ADS_1
" Kamu pergi kemana? Dengan siapa?" Tanya Alisya.
" Kenapa pertanyaan sampai begitu sih! Bukannya aku bilang aku lupa mengabarimu. Hanya itu kan, makanya minta maaf." Ujar Adrian yang merasa jika hanya itu kesalahan yang dia lakukan.
" Adrian, aku mohon kamu jujur sama aku!"
" Aku udah jujur Alisya, apalagi!"
" Kamu belum jawab pertanyaan ku."
" Mesti harus aku jawab pertanyaan itu."
" Apa susahnya menjawab pertanyaan itu saja? Aku ini istri mu aku berhak tahu! Daripada aku harus melihat postingan orang lain dan berpikir macam-macam tentangmu. Aku butuh kejujuran mu, Adrian!" Ujar Alisya sambil menangis, postingan Bella yang dilihatnya masih terbayang. Sesusah itu Adrian jujur padanya jika dirinya pergi berdua dengan Bella, sekretarisnya itu.
Adrian menghela napas, mencoba untuk sabar. Dia tahu ini bukan saat yang tepat untuk bilang yang sebenarnya jika kemarin dia jalan berdua dengan Bella. Sebab jika dia berkata jujur, Alisya bisa saja cemburu padanya dan hasilnya mereka berdua akan bertengkar.
Alisya semakin kesal dengan Adrian, hatinya begitu sakit saat suaminya belum juga mengatakan yang sebenarnya. Bukan itu jawaban yang Alisya inginkan.
" Adrian, bisakah kamu jujur padaku." Ucap Alisya masih belum menerima jawaban dari Alisya.
" Alisya, aku capek. Baru saja aku pulang dari luar kota karena pekerjaan. Bukannya menyambut dengan baik kamu malah mengajak ribut seperti. Hah.. aku istirahat dulu.. Aku capek.." ujar Adrian memilih pergi ke kamar, dia merasa lelah dia tidak mau harus berdebat dengan Alisya hari ini.
Alisya menahan amarahnya, hari begitu sakit. Lagi-lagi Adrian menyakiti perasaannya, tanpa perduli dia berlalu seolah tidak merasa bersalah. Alisya menangis sesenggukan, hatinya kembali merasakan sakit yang sama. Alisya kembali menyesali keputusannya dulu, seharusnya kesempatan kedua itu tidak ada. Alisya terus menangis, dia tertunduk lesu di sofa.
Adrian berada di kamar, mendengar suara tangisan istrinya. Dia tahu kali ini dia yang salah sudah membuat Alisya menangis seperti itu. Tapi bagi Adrian ini juga demi kebaikan mereka, memang kenyataannya dirinya menemani Bella jalan-jalan tapi bukan saat ini dia berkata jujur. Sebab Alisya tengah tersulut emosi apalagi dirinya sedang mengandung anak mereka. Adrian takut jika Alisya semakin meluapkan emosi tanpa memikirkan janin yang sedang dia kandungi. Adrian membaringkan tubuhnya memandang ke langit-langit kamar tidurnya. Rasanya begitu menyesakkan di dadanya, Alisya sudah mulai berubah sikap semenjak dirinya tengah mengandung. Padahal selama ini Adrian sudah mencoba mengerti namun Alisya selalu saja menyalahkannya bahkan sekarang Alisya mulai curiga akan dirinya dan Bella. Padahal sudah jelas hubungan mereka hanya sebatas bos dan sekretaris.
__ADS_1
" Setelah tenang, besok aku akan menjelaskan semuanya padanya." Ujar Adrian menutup matanya seolah mentransfer energinya kembali setelah bekerja seharian kemarin.
Begitu menyesakkan bagi Alisya, dia tidak tahan berada di dalam rumah ini. Apalagi harus berhadapan dengan Adrian. Alisya bangkit, dia berniat menemui Dafa dan Tania. Dia ingin mencurahkan semua isi hatinya. Capek bagi Alisya terus menahan tanpa ada penjelasan bahkan pengertian dari Adrian sama sekali. Alisya mengambil tasnya di dalam kamar, tidak perduli dengan Adrian yang sudah terlelap di kasur. Alisya memutuskan untuk segera keluar.
Pergi dengan menggunakan taksi, selama perjalanan gadis itu mengelus perutnya yang mulai membesar itu. Berusaha menenangkan buah hati dengan perasaannya yang sakit. Sesampainya di rumah Dafa dan Tania, Alisya mengetuk pintu dengan harapan jika pasangan suami istri itu tidak kemana-mana. Pintu terbuka, Tania begitu terkejut dengan kehadiran Alisya yang tiba-tiba ke rumahnya.
" Alisya? Ada apa?" Tanya Tania melihat raut wajah Alisya, jika ditebak gadis itu pasti tengah ada masalah dengan suaminya.
" Bolehkah aku masuk kak." Izin Alisya.
" Boleh kok, ayo masuk." Ucap Tania mempersilahkan gadis itu masuk ke dalam rumahnya.
" Ada apa?" Tanya Tania lagi, dia tahu Alisya kesini pasti menceritakan masalahnya.
" Aku gak ngerti kak, sikap Adrian mulai berubah. Dia mulai sibuk dengan pekerjaannya, bahkan pulang ke rumah selalu tengah malam. Aku berusaha untuk memaklumi itu, tapi kali ini aku gak bisa. Kemarin saat dirinya pergi ke Bandung dengan alasan pekerjaan. Adrian gak pernah mengabari aku sama sekali, dan aku malah melihat postingan Bella sekretarisnya itu sedang bersama dengan Adrian." Cerita Alisya mengeluarkan semua rasa yang selama ini dia pendam.
" Mungkin ada alasan dibalik itu, Al. Cobalah untuk mengerti." Ujar Tania agar gadis itu tidak gegabah dalam berpikir.
" Aku memintanya jujur namun dia gak berkata jujur." Ucap Alisya.
" Dia mungkin capek, Al. Kamu coba deh tanya baik-baik padanya. Dia pasti cerita kok. Mungkin kamu juga tersulut emosi makanya dia memilih untuk menghindar sementara." Ujar Tania.
" Tapi dia berbohong, kak." Ucap Alisya.
" Al, kalian suami istri. Cobalah untuk memahami satu sama lain. Jika kamu gak suka dia kerja pulang malam, coba bicarakan. Jangan memendamnya, gak bagus loh. Coba bicara satu sama lain biar kalian bisa mengerti." Saran Tania.
__ADS_1
Alisya terdiam, selama ini mungkin egonya terlalu besar. Dia bahkan tidak berbicara baik-baik dengan Adrian. Dan apa yang dikatakan Tania, juga ada benarnya. Seharusnya dia lebih terbuka, mungkin Adrian bisa terbuka padanya.
" Aku bikinin teh anget ya." Ucap Tania tersenyum.