Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Pulang


__ADS_3

Selesai dengan mengucapkan kata cinta diantara keduanya, Mereka kembali duduk bersender di dipan ranjang. Ustadz Alfi begitu senang jika Dian tak salah faham lagi dengannya. Namun ia masih bingung dengan pengirim amplop itu sehingga membuat istrinya marah gak karuan seperti tadi.


"dek, amplop itu tadi dari siapa? apakah kau tahu siapa pengirimnya"tanya Ustadz Alfi yg menatap dalam Dian. Sekilas Dian terlihat diam dan seperti sedang berpikir.


"oiya ya siapa yg mengirim? tapi jika dilihat lihat ini bukan orang biasa. bahkan bisa mengedit foto menjadi seperti itu. Cuma aku menangkap jika ini seharusnya berhubungan dengan diaa."


"yah, tentu saja itu kelakuan rendi. ia mungkin sudah berada di tanah air dan tujuannya pasti sangat penting. Sepertinya keberadaan mas alfi di Aceh sudah tak aman lagi untuknya."pikir Dian yang terdiam memikirkan sesuatu sedangkan Ustadz Alfi melihatnya dengan kening yg berkerut.


"dek"tegur Ustadz Alfi membuat Dian bereaksi terkejut.


"eh..iya mas. kenapa?"tanya Dian tersenyum kikuk.


"mas nanya siapa yg kirim amplop itu sampai kesini?"terang Ustadz Alfi kembali.


"oh, gak tahu deh mas. Soalnya ini juga berada di dekat gerbang. mungkin orang iseng saja mas"senyum Dian yg menyakinkan.


"iseng? sungguh mencurigakan"pikir Ustadz Alfi. Ia merasa jika Istrinya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"mas, em.. kamu itu berapa hari di sini?"tanya Dian ragu.


"kl itu sih gak nentu dek. Tapi mas mau disini aja. bersamamu"jawab Ustadz Alfi.


"boleh sih. cumaa... nanti hafsa mencarimu gimana? bagaimanapun jika berjauhan denganmu lama, hafsa akan sakit."ucap Dian. Ia sengaja berbicara seperti itu agar Ustadz Alfi pulang lebih awal.


"maaf yaa hafsa, umi tidak mendoakanmu sakit."sesal Dian dalam hati.


"Tapikan itu waktu kecil dek. Kl sudah seperti sekarang mungkin sangat kecil kemungkinan sakit."ucap Ustadz Alfi.


"kasihan kl hafsa tidak ada dirimu. masa dua duanya gak ada walaupun udah ada yg jaga tapi tetap saja mas."ucap Dian. Ia perlahan lahan merayu dan merayu Ustadz Alfi.


"dek, kamu mau aku pulang?"tanya Ustadz Alfi.


deg....


Dian terdiam. Sepertinya ia sudah tak bisa menyembunyikan keinginannya sekaligus kekhawatirannya terhadap suasana yg saat ini belum tentu aman jika Ustadz Alfi terus berada di sisinya. Bukan hanya dirinya yg dalam bahaya tapi semuanya jikalau benar Rendi berada di tanah air.


"iya, aku ingin kamu pulang besok bersama kakung dan mas agung. kamu mau kan mas"mohon Dian.


Ustadz Alfi gantian yg terdiam sepi. Ia baru saja merasa Dian dekat tapi sudah akan jauh lagi. Tapi ia melihat Dian seperti sangat memohon kepadanya agar pulang besok. Ia sangat tidak tega jika Dian menatapnya seperti ini apalagi menolaknya


"kl itu maumu, mas pasti akan lakukan. Iya mas besok pulang"jawab Ustadz Alfi tersenyum kemudian.


Mereka berdua beradu pandangan. Dian melihat mata cokelat yg terisi dengan sedikit rasa tak mau dan sedih ketika ia memohon hal seperti itu. Ustadz Alfi menatapnya juga dan masih mencoba coba mencari perasaan Istrinya yg sesungguhnya akan tertebak lewat mata. Tapi ternyata, Dian mengalihkan pandangannya.


"mas, bilang ke mas agung kalau besok kamu ikut mereka pulang"pinta Dian.


"sekarang dek?"ucap Ustadz Alfi terlihat menolak itu.


"hehe sekarang dong mas, masa tahun depan."canda Dian. haish, candaannya terdengar garing


"yaudah kamu istirahat dulu. mas mau keluar sebentar. assalamualaikum"pamit Ustadz Alfi.


"waalaikumsalam mas"jawab Dian.


Dian melihat lurus tubuh tegap itu sampai punggung laki lakinya hilang ditelan pintu seiring langkah kaki panjang tersebut berjalan menjauhinya. Ia mengubah ekspresinya yg tadinya tersenyum hangat menjadi layu.


"hah, tahan dulu yan. kamu pasti ada kesempatan bergabung bersama dengan mereka lagi. Insya Allah jika semuanya telah selesai."


"sabar ya mas, aku yakin kamu bisa. bisa mengerti akan maksudku ini"bathin Dian yg beralih untuk menyiapkan pakaian ustadz Alfi.


Sesungguhnya, pakaian tersebut dipaketkan sehari setelah sampainya. pakaian itu tidak ada se tas besar tapi sudah semua kebutuhan untuk Ustadz Alfi terpenuhi. hemm, laki laki memang mudah dan simple. Coba saja Wanita sepertinya, pasti tasnya akan lebih banyak diperlukan.


*


*


*


Keesokan harinya....

__ADS_1


Dian tersadar dari tidurnya. Meraba area samping yg dimana Ustadz Alfi tertidur diatas ranjang. Ia pun menjadi bingung karenanya dan seketika terdiam demi menghalau rasa pusing ketika bangun tidur. Namun tiba tiba ia teringat sesuatu....


"Oiya, hari ini mas alfi pulang. sebaiknya aku harus segera membuat kue. semoga saja keburu."ucap Dian sendiri yg terlihat terburu buru memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dian tak yakin pula apakah bisa keburu membuatkan titipannya untuk hafsa dan untuk Ustadz Alfi sendiri. Apalagi matahari sungguh hampir sempurna bersinggah di tempatnya seperti biasa. Ia pun tak pilih pilih lagi mau bikin kue karena yg pasti ia akan buat kue bolu cokelat dengan keju diatasnya.


Pagi ini terjadi keributan dan kekacauan di dapur. Karena seseorang yg sedang terburu buru membuatkan kue spesial untuk anaknya dan juga suaminya. Lihatlah bahkan seisi lemari semua keluar dan tergetak sebab kotor dengan adonan. Dian dengan sesekali melihat jam dan menunggu sabar kue yg tadi ia buat.


"ya allah selesai juga akhirnya"ucap Dian yg merasa tangannya mulai kebas sekaligus berbangga hati sebab kue buatanya berhasil masuk ke kotak bekal putih bening berukuran sedang.


"hadduh masih keburu gak yaa?, aku harus cepat cepat membereskannya"pekik Dian dalam hati segera menggiring alat alat tempur ke wastafel lalu mencucinya.


Selang beberapa menit, semua tampak kembali seperti semula lagi. Dian memasukkan 2 kotak berisi kue kedalam paper bag dan berjalan cepat menuju gerbang depan. Berharap jika mereka yg hendak terbang ke jakarta masih berada di gerbang.


Di lapangan terlihat sepi bahkan gerbang sudah tertutup rapat tak ada mobil yg terparkir membuat hatinya kecewa. Wajah gembiranya layu ditelan kenyataan yg tak sesuai dengan harapannya. Ternyata ia telat padahal sudah terburu buru membuatkannya sampai tangannya kebas tapi hasilnya nihil. Dian menatap paper bag yg ia pegang dengan tatapan yg pasrah.


"yah sudah terlambat, sepertinya kue ini tak sampai ke tujuan. lebih baik aku kasih intan dan raka brian saja deh dari pada mubazir."kecewa Dian yg melangkah kembali ke arah rumahnya.


Tak ia ketahui, ternyata ada banyak anak didiknya yg bersembunyi melihat dirinya seperti itu. Bahkan Ustadz Alfi yg sedang berjalan menuju rumah untuk pamit dengannya mendadak terpaku karena tatapan kecewa Dian yg tadi melihat arah gerbang. Sesungguhnya Ustadz Alfi bersama Vira, Gus Agung, Caca dan Komandan Agha habis berbincang bincang di teras masjid.


"dek"panggil Ustadz Alfi.


Sedangkan sisanya berdiam diri di bibir lapangan menyaksikan pasutri ini dan menanti ada apa gerangan yg terjadi selanjutnya. Anak didik yg melihatnya itu yakni terdiri dari Wahyu, Ridho, Raka, Brian, Rita, Melinda dan Intan beserta beberapa lainnya yg dipimpin oleh para dokter cantik. Oiya, Kyai sudah berangkat dari shubuh sebab ingin bertemu dengan seseorang yg ia kenali di bandara.


Kembali lagi dengan Dian. Ia terhenti sejenak karena merasa ada yg memanggilnya di belakang. Namun sepertinya itu angin lalu saja sebab ia terlalu berharap. Aish, Dian takut mengaharapkan yg tak pasti wkwk.


"mungkin karna terlalu kecewa dan berharap mas Alfi masih berdiri menungguku"pikir Dian yg meneruskan langkah kakinya.


"dek, dipanggil kok malah pergi"tegur Ustadz Alfi melihat Dian malah pergi menjauh.


Dian terhenti dan berbalik....


"sini, masa mas manggil sampai dua kali tetep pergi."ucap Ustadz Alfi.


Dian menajamkan penglihatannya dan benar ternyata Ustadz Alfi berdiri sambil menatapnya. Ia pun menghampiri laki lakinya dengan tersenyum. Padahal didalam hatinya sangat senang luar biasa bahagianya.


"kamu masih di sini, ku kira sudah berangkat ke bandara mas"ucap Dian yg telah sampai di depan Ustadz Alfi.


"bu..bukan begitu mas"rengek Dian. Ustadz Alfi pun terkekeh kecil namun tatapannya melihat wajah Dian yg terdapat sedikit tepung.


"itu apa di dagu, di hidung dan di pipi?"tanya Ustadz Alfi yg menahan tawa. Sedangkan Dian, ia baru saja ingat jika belum membersihkan wajahnya gegara takut telat.


"em..ini tepung. Tadi buru buru bikin kue buat hafsa, nanti sampai sana jangan lupa di hangatkan lagi karena aku taruhnya di kontak yg bisa di masukkan ke oven."jelas Dian.


"oh okey dek. cuma apa hanya hafsa saja yg dibuatkan, mas tidak"ucap Ustadz Alfi yg bersedih sebab mengira tak dibuatkan.


"aku buatin kok mas. Ini didalam paper bag ada 2 kotak kue."senyum Dian bak semanis gula yg menjadi bahan membuat kue itu.


"alhamdulillah kl gitu. Dek angkat wajahmu"pinta Ustadz Alfi. Dian hanya menurut saja.


Ternyata Ustadz Alfi membersihkan tepung yg mengotori wajahnya. Dengan sesekali terkekeh sebab posisinya tepung yg membuat Dian tampak lucu dan menggemaskan dimatanya. Sedangkan Dian terdiam seraya memegang lengan tangan atas milik Ustadz Alfi dan menatap mata cokelat didepannya yg akan ia rindukan lagi.


"udah dek... lain kali bersihin dulu. jangan sampai tampilanmu nanti seperti kucing akibat tepung"canda Ustadz Alfi. Dian hanya cemberut sekilas.


"ini kuenya mas"ucap Dian yg memberikan paper bag ditangannya dan Ustadz Alfi terima.


"terimakasih dek"senyum Ustadz Alfi.


"oiya, mas pamit. jangan lupa istirahat yg cukup dan nurut sama dokter. jaga dirimu baik baik dek. assalamualaikum"pamit Ustadz Alfi.


"Waalaikumsalam"jawab Dian yg mencium tangan kanan suaminya kemudian ia mendapat elusan di kepala. Lalu Ustadz Alfi berbalik untuk meninggalkannya.


"mas fii"panggil Dian dengan nada ragu ragu seraya memainkan ujung hijabnya.


"ya dek ?"balas Ustadz Alfi yg menoleh dan kembali di posisi awalnya. Ia memerhatikan Dian yg tersenyum malu dan melangkah menuju kearahnya membuatnya heran.


Namun tak lama ia dikejutkan dengan sesuatu. Dian melangkah pasti menuju kearahnya. sesampainya dihadapannya, Dian menjinjit dan mengangkat kepalanya lalu mengalungkan kedua tangan dileher miliknya. Dan...


Cupp

__ADS_1


Ustadz Alfi membulatkan matanya akibat kecupan di sudut bibirnya. Jantungnya menjadi menggila hanya dengan kecupan itu dan itu ulah Dian. Istrinya yg membuat dirinya tak mau pergi dan membawanya ke dalam kamar. Hampir saja paper bag itu terlepas dari tangannya. Selain dirinya, Semua yg melihat menjadi kaget. Apalagi Intan yg sedang merekam kedua pasutri itu menjadi tremor dan hpnya hampir melompat dari tangan wkwk


"dek.."lirih Ustadz Alfi yg tersenyum secerah matahari saat ini.


"em..hati hati dijalan, aku mencintaimu mas"lirih Dian.


"apa dek?"tanya Ustadz Alfi sengaja.


"aku mencintaimu"ucap Dian dengan suara sedang.


"apa sayang? mas gak denger"goda Ustadz Alfi yg melihat pipi istrinya memerah.


"hish, aku mencintaimu mas"pekik Dian lalu berlari dari tempatnya. Tapi masih sempat menoleh sekilas dan tersenyum malu dan benar benar berlalu sambil menepuk nepuk kedua pipinya yg panas.


"gus, itu dek dian kan. Istriku sungguh berani melakukan itu padaku. Masya Allah"heboh Ustadz Alfi yg tersenyum girang alias tersenyum kemerdekaan saat Dian telah benar benar masuk kerumahnya. Semuanya yg melihat menjadi terkekeh akan reaksi sang Ustadz 😁😸.


...----------------...


Singkat Cerita....


Akhirnya Ustadz Alfi sudah sampai di bandara Soekarno Hatta dan bahkan telah duduk di dalam mobil yg Umay kendarai. Didalamnya terdapat Farhan disebelah umay dan Azzam yg mengernyit horor menatap sahabatnya disebalahnya ini.


Lihatlah Ustadz Alfi tersenyum senyum sendiri memegang area yg tadi dikecup oleh Dian. Ia bahkan tak bisa melupakan itu padahal sudah terlewat beberapa jam berlalu. Itupun membuat Azzam tak tahan ingin meledek.


"cieilah, yg habis ketemu istri senyum senyum mulu. kesambet setan cinta yaa al"ledek Azzam.


"biarin aja sih zam, sirik aja. Ustadz sedang kasmaran dan merasa kembali seperti awalnya. sedang jatuh cinta lagi"balas Farhan terkekeh


"biarin zam, jangan ganggu gitu."timpal umay.


"iya bener bang, lagi jatuh cinta lagi sepertinya. Senyumnya bagaikan candu apalagi hehehehe"ucap Ustadz Alfi senyum senyum lagi membayangkan tadi.


"hiih"ngeri Azzam yg beralih menatap ponselnya. Sedangkan Umay dan Farhan tak tahan untuk tertawa bersama.


Sesampainya dirumah....


"Tin..tin...tin"


Bunyi klakson terdengar membuat Umi Shita, Abi Abdurahman, Ayah Ahmad, Bu mira, Hafsa, Aisyah dan Dayu menoleh kearah pagar. Hafsa langsung saja tersenyum gembira akibat kedatangan Abinya. Walaupun ia berharap uminya ada bersama abi pulang dari Aceh sana datang ke rumah. Dayu membuka pagar itu dan masuklah mobil tersebut ke dalam. Tak lama terbukalah pintu mobil yg menampilkan Ustadz Alfi menenteng sesuatu...


"assalamualaikum"salam Ustadz Alfi


"waalaikumsalam"kor semuanya. Tanpa aba aba Hafsa meloncat kearah abinya dan Hap ditangan Ustadz Alfi.


"abii"senang Hafsa yg memeluk erat abinya.


"haii sayang"balas Ustadz Alfi yg memegang erat Hafsa digendongannya. Anaknya ini sudah 'mantap' kl di gendong hehehe.


"Alhamdulillah le, sudah sampai dengan selamat"ucap Bu Mira yg dibalas senyuman oleh Umi Shita.


"iya bu"balas Ustadz Alfi yg kemudian menurunkan Hafsa lalu memberikan paper bag titipan Dian.


"ini. Kue buatan Umimu"ucap Ustadz Alfi.


"wahhh, kuee boluu cokelat kejuuu"pekik Hafsa yg kemudian berlari menuju kerumah segera menghangatkannya. Itupun membuat semuanya tersenyum bahagia.


"oiya alfi, masuk dan istirahatlah. kau pasti lelah"pinta Umi Shita.


"enggak lelah umii. Oiya alfi izin ingin nyusul Hafsa kedalam."seru Ustadz Alfi yg berjalan kedalam rumah seraya tersenyum senyum seperti orang yang sedang kasmaran.


"jelas lah gak lelah, orang dari tadi senyum senyum mulu. Dapet booster dari Dian"celetuk Azzam membuat semuanya tertawa bersama.


bersambung....


🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa

__ADS_1


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘


__ADS_2