
"segitukah menderitanya kamu dek, menikah denganku? seharusnya aku membahagiakanmu dan membuatmu nyaman berada di sisiku sebab aku mencintaimu. Maafkan aku"suara hati Ustadz Alfi yg seketika merasa bersalah sekaligus sakit.
"mas, jika memang benar aku bermain dukun. mungkin saat ini kamu sudah tidak ada di dunia. kau tahu, aku tak akan mengemis cinta lewat pelet kalau kau misalnya tak punya rasa padaku. tak perlu pelet segala macemnya, lebih baik kamu ku santet saja. selesai perkara"ketus Dian. Ustadz Alfi sampai menatap lekat dirinya dan hatinya bahkan terasa berdeyut nyeri akibat perkataan itu.
(semuanya yg menonton terkaget kaget dengan ucapan itu dan ikut merasa sangat sedih. Dian sepertinya sangat sakit hati dengan ocehan para netizen dan ditambah lagi dengan foto itu. Merekapun melihat jika Dian terhenyak sendiri dengan ucapannya tadi, tentu mereka memakluminya walau memang ucapan itu sangat tidak mengenakan)
Dian juga kaget dengan apa yg ia katakan dan segera bungkam lalu dengan cepat melangkahkan dirinya masuk ke kamar. Demi menghindari kemarahannya dan takut jika ucapannya tambah tambah menyakiti hati Ustadz Alfi.
brak...
Pintu tertutup dengan sedikit kencang sebab yg menutupnya terkesan buru buru. Ustadz Alfi mengambil dan mengumpulkan potongan potongan foto tersebut lalu dimasukkan kedalam amplop cokelat ditangannya. Lalu sekilas menatap kearah pintu kamar di depannya namun hanya bisa menghela nafasnya dan memberikan ruang waktu lebih untuk Dian.
Sementara dengan Dian didalam kamarnya....
Terlihat wajahnya masih menyimpan berjuta juta ton amarah yg tidak terhingga akibat foto itu. Hatinya terasa terperas peras dan terkoyak koyak hanya dengan kiriman oleh orang tak jelas identitasnya. Namun ia tak bisa menyalurkannya dengan tangisan padahal hatinya ingin menangis.
Dian berjalan jalan dan bolak balik dari sudut ke sudut dengan pikiran yg sudah entah tak tertahan mempengaruhinya. Amarah memang sulit sekali ia salurkan jika sudah terlanjur hinggap di dirinya. Apalagi jika ia menganggapnya berlebihan, itu menjadi beban berat hatinya saat ini.
Berjalan jalan tidak ada maknanya, Dian memilih untuk duduk saja di sofa. Bukannya malah reda tapi tambah tambah, bahkan ia terpekik frustasi dengan dirinya sendiri. Untung saja kedap suara jika sudah tertutup rapat namun cctv masih menyala saat ini jadi apapun yg terjadi akan di ketahui oleh dokter marissa. Dian bahkan tak menyadari jika cctv masih berjalan sampai saat itu dan masih tersambung melalui room zoom.
Duduk masih sama, ia pun mencari cara agar gimana bisa menyalurkan emosinya dan terbebas dari itu. Dian berjalan mendekati meja dan kursi di sudut ruangan dengan lemari yg ada buku buku dan alat alat sedikit berbahaya tersimpan disana, seperti cutter dan gunting. (dokter marissa mengambil ponsel namun terhenti akibat terkaannya salah)
Dian bukan mau mengambil alat alat atau benda tajam tetapi mengambil pensil dan kertas yg terkumpul di sebuah laci di meja tersebut. Dimulailah dengan menulis abstrak dan tidak jelas tapi ternyata yg ditulisnya membentuk nama orang yg ia kesali saat ini.
"Alfi"
Nama yg terus tertulis didalam kertas tersebut terus terulang sampai sampai Dian rasanya ingin berteriak histeris tapi semuanya ia salurkan dengan mencoret coret nama itu dengan segala umpatannya didalam hati. Kertas dan pensil sudah panas rasanya, mungkin jika boleh kertasnya memilih untuk mengepulkan asap saking panasnya
Tak...
Pensil patah terbagi menjadi dua bagian. Kekesalannya hanya berkurang sedikit dan Dian langsung melemparnya ke tong sampai dipojok dekat pintu keluar kamar dengan tepat sasaran. Emosi belum mereda akibat patahnya pensil itu jadi ia pun merobek robek kertas yg sudah penuh akan noda goresan pensil.
srak... srak... srak
Suara kertas tersobek dengan begitu nyaring dan terus saja terdengar. Kertas yg dirobek oleh Dian sudah menjadi kepingan lalu langsung saja ia menghujani tubuhnya seraya melempar kertas kertas kecil itu diatas kepalanya. (Semuanya bukannya khawatir malah tertawa akibat tingkah laku Dian yg menyegarkan dirinya dari emosi. Caranya memang sungguh berbeda dari biasanya)
Kertas yg berserakan itu kemudian ia injak injak oleh kakinya dengan rasa kesal. Ini ada kemajuan dalam penurunan emosinya sebab sudah mau ngoceh ngoceh gak jelas merutuki Ustadz Alfi di dalam kamar tersebut.
"mas Alfi kurang ajar... mas alfi ngeselin... mas Alfi bikin emosi aja.... ngapain coba bertemu sama diaa dan aku di sini bodohnya menunggu dan menunggu menanti kepulangannya."
"huhh sialan, kamu ngeseliiiin tahu mas... ngeselin ngeselin."
"pokoknya aku gak terima semua ini begitu saja dan gak mau maafin kamu. bodo amat urus dirimu sendiri, aku tak peduli"
"Dasar kau Alfi, keterlaluan... huuh keterlaluan sekali. Enak aja kau berduaan dengannya. Lebih baik aku tidak memberimu izin keluar."
"aku gak mau maafin kamu dasar laki laki... kurang ajar. pokoknya kamu harus kesandung sampai berdarah ya mas, mas alfi harus kesandung... aku gak terima... gak ridho.... gak ikhlas... kamu harus kesandung baru aku maafkan. jika aku sudah tak menghormatimu, kau sudah tak hiiih habis habisan oleh ku mas Alfii"
Oceh Dian yg benar benar menyalurkan emosinya. ia berbicara dengan menggebu gebu sekali dan sekali tarikan langsung keluar unek uneknya. Namun sepertinya ucapannya terkabulkan, sebab Ustadz Alfi benar benar tersandung wkwk parah banget Dian yaa.
__ADS_1
"Astaghfirullah"kaget Ustadz Alfi yg sudah terjatuh duduk dilantai. Ia melihat darah mengalir lewat jari jempol kakinya yg terkena pinggiran meja.
"shh sakit sekali"keluh Ustadz Alfi yg berdiri dan berjalan tertatih tatih menuju nakas yg terdapat p3k. Ia pun mencoba mengobatinya sendiri di sofa.
"biarlah aku berdarah. karena sakit ini mungkin saja tak sesakit hati dek Dian saat melihat foto yg sesungguhnya aku tak pernah berniat melakukan itu dengan orang lain"pikir Ustadz Alfi yg sudah selesai dengan kakinya.
Kembali lagi dengan Dian didalam kamar....
Ia telah menyalurkannya namun masih saja hatinya tersimpan rasa marah walau hanya sedikit. Dengan segera ia membereskan kertas yg berserakan itu lalu bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Dian baru menyadari jika dirinya belum melaksanakan sholat gara gara soal itu.
Keluar dari kamar mandi, wajahnya sudah terlihat mencerah dari yg tadi. Lalu memakai mukena dan menggelar sajadah untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang yg beragama Islam. Sholat dengan ke khusyuk an yg sangat sangat tanpa berpikir akan masalah tadi. (semuanya menjadi tersenyum hangat dengan tindakan yg benar itu, apapun yg terjadi kita tak boleh meninggalkan sholatnya)
Gerakan gerakan sholat telah lama berlangsung, Dian tiba tiba teringat akan foto itu saat ia sedang melakukan sujud di rakaat terakhir dari sholat dzuhur bahkan tubuhnya terlihat bergetar hebat tak kuasa menahan tangis yg terpendam oleh emosinya sendiri.
Bersamaan dengan Ustadz Alfi yg sudah berada diambang pintu, Dian terlihat menyampingkannya dan terlihat bahu wanitanya bergetar hebat. Dan ia yakini jika sedang menangis. Ia pun berdiam diri tanpa mau mengganggu acara aduan istrinya kepada Allah. Memang benar sekali jika Allah adalah tempat yg tepat untuk mencurahkan hati yg gundah gulana akibat dirinya.
Dian menyelesaikan sholatnya dan berhasil menyelesaikannya dengan baik. Wajahnya memang lebih rileks dari yg tadi namun matanya selalu mengalirkan aliran sungai yg meluncur tanpa henti merembes ke pipinya. Sesaat, tangisannya semakin menjadi jadi dan memilih memeluk dirinya sendiri dengan masih menggunakan mukena.
"hiks hiks hiks, sakit hati ini ya Allah"
Suaranya terdengar sangat jelas. serak dan sungguh menyayat hati. Ustadz Alfi merasa semakin amat bersalah akibat itu bahkan hatinya terasa sakit melihat air mata dari Dian yg tak pernah ia lihat sebegitu derasnya akibat dirinya. Ia sungguh tak tahan lagi dengan diamnya. Langsung saja ia segera mendekati dan memeluk Dian dengan cepat.
...****************...
Rasa yg telah membuat hati sesak sebab sudah kepenuhan dengan emosi sekarang akan terus berkurang kurang dan disertai air mata yg mengalir terus menerus membasahi mukena. Tiba tiba ada tangan yg memberikan rangkulan pelukan hangat dari seseorang. Sebentar, terasa sangat nyaman dan menenangkan serta dengan pasrahnya menyenderkan kepalanya di bahu milik si pemeluk. Tak lama, Dian memperlihatkan matanya melihat siapa yg memeluknya.
"dek, kamu masih marah?"tanya Ustadz Alfi hati hati.
"mas tidak melakukan apa yg ada di foto itu dek. aku hanya kesana ingin mengambil pesananku dan tidak sengaja berpapasan dengannya lalu aku langsung pergi. aku telat sebab membantu kerja bakti di perkebunan."
"bisakah kamu percaya dengan itu dek?"jelas Ustadz Alfi sejujur jujurnya. Tapi tetap saja Dian tak mau memutar tubuhnya menghadap dirinya. Itupun membuatnya kembali merasa perih.
"dek, mas minta maaf. Pukullah aku jika itu perlu dan jangan seperti ini."bujuk Ustadz Alfi. Ia berharap Dian bersedia dan menerimanya kembali.
Nihil. Dian bahkan tak mau menoleh sedikit saja. Ustadz Alfi menghela nafasnya berat karena bujukannya tak berhasil. Kemudian ia bangkit dari duduknya dan memberikan waktu lagi. Jujur saja, Tubuhnya sangat lelah seharian beraktifitas dan tiba tiba di rumah mendapati istrinya tengah marah marah. Namun, dirinya harus sabar menunggu Dian agar mau memaafkannya.
Sedangkan Dian yg mendengar langkah kaki yg menjauh darinya langsung saja menoleh. Lalu menjinjing bawahan mukenanya dan segera berlari menyusul Ustadz Alfi yg baru saja ingin meraih pegangan pintu. Ia pun memeluk laki lakinya dari belakang.
"kamu jahat"rengek Dian. Ustadz Alfi nampak masih terkejut dengan pelukan mendadak ini dan memilih untuk diam mendengarkan.
"aku gak mau lihat kamu sama diaa. kamu milikku."rengek Dian dengan masih posisi yg sama. Ustadz Alfi berbalik menatap Dian yg telah terlepas tangannya darinya dengan paksa sebab dirinya yg menghadap kearah wanitanya ini.
"memang mas hanya milikmu. jangan marah lagi ya"ucap Ustadz Alfi yg masih membujuk dengan sabar.
"aku gak marah. cuma... aku... aku cemburu. aku gak bisa lihat kamu sama orang lain seperti itu. sedangkan aku menjaga hatiku selama ini. aku sudah konsisten dan aku mauu.... kamu juga komitmen dengan sifat egoisku yang satu ini."sendu Dian yg menampilkan matanya yg berkaca kaca.
Senyum halus Ustadz Alfi terbit begitu saja lalu dengan perlahan lahan dituntunlah Dian menuju ranjang sampai wanitanya terduduk. Sedangkan dirinya berlutut dilantai dan meraih kedua tangan Dian sesekali mengelusnya lembut.
"terimakasih"ucap Ustadz Alfi yg membuat Dian terheran heran.
__ADS_1
"untuk apa? kamu seneng aku marah marah kayak tadi"bingung Dian.
"bukan itu. mas ucapkan terimakasih karena kamu cemburu dan itu tandanya kamu masih mencintaiku dek"jawab Ustadz Alfi.
Kedua terdiam dengan kegiatannya masing masing. Ustadz Alfi sibuk dengan kantong celananya. Ia berusaha keras demi mengeluarkan sesuatu yg katanya telah dipesannya. Sedangkan Dian hanya diam dengan pikirannya yg masih bertanya tanya sebab kegiatan laki lakinya ini.
"ini bukalah"ucap Ustadz Alfi seraya mengulurkan tangannya yg terdapat kotak cincin kepada Dian.
"mas ini..."ujar Dian yg menerima uluran itu dan menatap tak percaya apa yg dilihatnya. Kemudian ia pun membuka kotak itu dan terharu dengan isinya.
"dek, apa kamu tidak suka? em maaf mas hanya punya uang gaji tadi yg cukup hanya bisa membeli itu. cincin untuk mengganti cincin mahar yg waktu itu telah rusak. kl tidak suka, mas janji akan beli yang kamu mauu"ucap Ustadz Alfi yg sudah berkecil hati.
"bukan tak suka. aku hanya terlalu senang. lihatlah mas, model ini sangatlah indah"ucap Dian yg nampak senang dengan cincin yg bermahkota berlian kecil yg berwarna biru.
Ustadz Alfi ikut senang jika pilihannya disenangi oleh Dian. Tiba tiba ia mengingat perkataan Gus Agung beberapa tahun lalu. Bahwa beruntunglah ia mendapat wanita seperti istrinya ini. Bahagia dengan hal sederhana. Ia pun memasangkan cincin ditangan yg lama kosong akan tanda saklar dalam cintanya lalu disusul Dian yg juga memasangkan cincin satunya lagi di jari nya.
Ustadz Alfi mencium kening Dian lama lalu menutup matanya. Tak terasa air matanya lolos begitu saja mengingat betapa hancurnya ia jika saja Dian tak ada didunia ini dan kesempatan saat ini tidaklah ada. Suasana haru menyelimuti mereka berdua sampai sampai yg menyaksikan di dalam cctv yg aktif itu ikut merasakannya.
"loh kok mas Alfi nangis"tanya Dian dengan mata yg berkaca kaca dengan menghapus buliran bening yang jatuh dari pipi laki lakinya.
"eh, kok kamu ikut nangis sih dek"ucap Ustadz Alfi yg melihat Dian ikut meneteskan air matanya juga tapi ditekannya agar tetap tersenyum namun tetap saja malah semakin deras dan terisak isak.
"kamu cengeng mas"ucap Dian serak dan masih saja usil mengatai Ustadz Alfi dengan air mata yg masih turun satu per satu.
"kamu juga dek.. hiks...hiks... hidungmu merah hehe"tangis bahagia Ustadz Alfi yg melihat Dian sangat lucu dan menggemaskan dimatanya saat ini.
"ah.. mas alfi gituu"ucap Dian yg menahan untuk tidak menangis. Ia sangat malu jika saja hidungnya terlihat memerah terang yang masih saja sensitif dengan apapun.
Dian menyembunyikan wajahnya dengan memilih untuk memeluk erat Ustadz Alfi yg sudah tertawa renyah akibat wajahnya yg menahan tangisannya. Lalu tak lama, mereka berdua sudah tertawa bersama sama akibat ke cengengannya tadi.
"aku mencintaimu mas"seru Dian
"aku juga dek"balas Ustadz Alfi mendaratkan tangannya mengelus bahu kuat wanita yg ia punya ini.
"aku lebih mencintaimu mas"tatapan dalam Dian yang tentu saja tanda bahwa dirinya sangatlah mencintai suaminya lebih dari apapun. Bahkan nyawa menjadi taruhannya.
"aku lebih dalam mencintaimu, saking dalamnya sampai membuatku tak bisa berpindah hati darimu dek"balas Ustadz Alfi kembali yang sama sama memancarkan tatapan penuh cinta dengan senyuman menenangkannya. Ia sangat mencintai wanitanya sedalam palung laut sehingga susah sekali untuk dirinya memunculkan diri di permukaan laut.
Masya Allah, betapa indahnya Cinta yang Halal π
π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’
Hallo permirswah, gimana epsnya neh?
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,
Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. SayangΒ²nya akyuu.... Mwuach π
__ADS_1