Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Berbagi Cerita Suka Duka Bersama


__ADS_3

Ustadz Alfi hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan kilahan yg dikatakan oleh Dian. Ia berpikir memang ada hal yg berbeda dari istrinya ini, seperti emosinya naik turun dan terkadang manjanya kebangetan. 


Tadi istrinya seperti singa yg sedang mengamuk tapi sekarang seperti kucing yg manja dan minta elusan kasih sayang sang majikan. Lihatlah Dian sudah beralih memeluk dan mengeratkan dirinya di lengan kiri serta menyenderkan kepalanya di bahu ustadz Alfi.


"lagi manja nih ceritanya"ucap Ustadz Alfi tersenyum senang seraya mencium kening milik wanitanya sekilas. 


"he'em, karena mas fii empuk dan hangat"jujur Dian seraya mengerjapkan matanya dan mengangguk.


"memang mas ini kasur yg empuk dan juga hangat"balas Ustadz Alfi mengerutkan keningnya lalu menatap Dian yg menatapnya juga.


"kasur empuk yg gratis hehe"ucap Dian terkekeh geli.


"gak gratis dek, bayar biaya ongkirnya"senyum Ustadz Alfi penuh akan serat makna.


"yee, dasar"ungkap Dian sedikit menjauh dari letak ustadz Alfi duduk. 


Menjauh sih memang menjauh tapi sepertinya tidak berhasil juga karena laki lakinya mendekat lagi dan lagi. Dian bergeser, Ustadz Alfi bergeser. Ekspresi laki lakinya sungguh mengamatinya seraya tersenyum senyum sendiri.


"ngapain deket deket? Jauhan gak"pinta Dian yg melambaikan tangannya seperti mengusir kucing liar.


"enggak"singkat, padat dan jelas Ustadz Alfi lakukan.


"jauhan mas"rengek Dian.


"tidak mau dek"ledek ustadz Alfi. Ia senang sekali dengan Dian yg sudah merengek rengek dengannya bak hiburan dikala lelah.


"mas kucing garong ya? Aku ngerii"ucap Dian memundurkan tubuhnya ke pojok sofa dan memeluk kedua kakinya takut. Sedangkan yg disebut kucing garong malah tertawa lepas.


(semuanya tersenyum senang akan keabsurdan pasutri tersebut. Apalagi Ustadz Alfi yang sudah jarang tertawa lepas seperti ini sebab hampir menjadi duda beberapa tahun lalu, biasanya ia akan tersenyum kecil paling seringnya tapi ketika dengan Dian, ia pasti akan tertawa lepas).


Ustadz Alfi yang sudah mendekat membuat Dian berdiri dan ancang ancang ingin berlari lalu menjauhi laki lakinya itu. Ustadz Alfi mengejar Dian yang menghindar diri dari kucing garong.


"coba tangkap aku, tuan kucing garong…wlee"ucap Dian yang menjulurkan lidahnya menantang.


"oh siapa takut, nona ikan segar."ucap Ustadz Alfi yang mengejar Dian di belakang.


Terjadilah aksi kejar kejar di antara keduanya. Dari ruang tamu ke dapur lalu ke halaman belakang. Ikan segar selalu berlari dan punya tipu muslihat sedangkan kucing garongnya selalu kalah dengan tipuan itu. 


"haha gak kena, gak kena"ledek Dian berlari seraya tertawa. 


Ustadz Alfi ikut tertawa sekilas lalu terfokus mengejar ikan segarnya sedangkan Dian berlari dengan tertawa lepas menghindari dari tangkapan si kucing garong. 


Namun akibat kesalahan teknis, Dian tak melihat jika ada kaki meja di depannya dan ia pun mengerem tapi sudah terlambat serta hampir terjatuh. 


"oh tidak"gumam Dian yang membelalakkan matanya tak percaya lalu menutup matanya pasrah jika akan terjatuh.


Ustadz Alfi dengan sigap menangkap Dian dan berhasil tubuh itu tak kena lantai marmer yg dingin. Yang ditangkap masih menutup matanya dan kemudian membuka matanya sedikit. 


"loh aku gak jatuh yaa?"terka Dian di dalam hati. 


Matanya terbuka dengan yg pertama kali dilihatnya wajah ustadz Alfi tersenyum kemenangan. Sontak ia membuka matanya lebar dan merutuki kesalahan teknis tadi.


"wahai ikan segar, kau tertangkap"ucap Ustadz Alfi disusul dengan tepukan jidat oleh Dian. 


"masa ketangkap sih, kamu curang ya mas?"tuduh Dian.


"loh kok gitu, sudah jelas kamu tertangkap"seru Ustadz Alfi seraya menoel hidung Dian dan mendudukkannya di sofa.


"enggak, ini…gak adil. Seharusnya aku yg menang"keluh Dian yang tak mau jadi kalah. Ustadz Alfi terdiam dan tetap mendengarkan seraya tersenyum menyangga tangan kanannya bersandar di sofa.


"aku pertama kalinya kalah. Dulu aku menang terus. Kak umay dan mas agung menjadi kucing selalu kalah dan aku selalu menang menjadi ikan segar"ucap Dian yg memberengut. 


Wajahnya sangat lesu dan mengharapkan kemenangan. Dian hanya terduduk menyayangkan kakinya yg akan terjatuh sebab tersandung kaki meja. Ustadz Alfi tersenyum lagi menatap Dian.


"iya deh. Memang kamu selalu berhasil dan menang, berhasil memenangkan seluruh hatiku"ucap Ustadz Alfi membuat Dian menunduk lalu tersenyum malu.


"hish apaan sih"malu Dian.


"kenapa malu? Kan memang benar dan terbukti secara fakta dek"seru Ustadz Alfi mendekatkan Dian hingga sampai di pelukannya.


Dian terdiam. Ia memikirkan berbagai pikiran pikiran yg janggal di benaknya. Apakah suaminya akan menerimanya saat ia tidak bisa punya keturunan lagi dan perhatian serta kata manis ini adalah sebuah ketulusan atau rasa kasihan semata? 


Dian melepas pelukan itu lalu berjalan mengambil sebuah amplop putih khas rumah sakit yg selalu disimpan di laci nakas tersebut. Ustadz Alfi hanya bisa menatap apapun yg ia lihat dari istrinya tanpa berkata apapun dulu sebelum tahu apa tujuannya.


"apa ini dek?"tanya Ustadz Alfi yg menerima isi dari sebuah amplop itu. Dian duduk di sebelahnya dengan sedikit ragu.


"em… bacalah dulu"ucap Dian yg membuat ustadz Alfi mencermati kata demi kata berbahasa Inggris itu.


Ustadz Alfi menangkap jika ini ada hubungannya dengan istrinya yg bisa depresi dan mempunyai penyakit mental. Ia menjadi penasaran sekali apa yang akan dikatakan oleh Dian sekaligus bersiap membalas perkataan itu dengan sangat menyakinkan dari hatinya. Bagaimanapun ia tahu sifat Dian seperti apa dan apa yg harus dilakukannya.


"aku akan jujur kepadamu dengan apa yg pernah dikatakan oleh ku belakang ini. Sebenarnya aku… tidak bisa memberikan apa yg seorang istri berikan. Lalu aku juga tidak bisa menjaga titipan anugerah dari Allah."ucap Dian setelah menghela nafas dengan berat, baginya ini sebuah beban besar yang menghantam mentalnya sampai terlalu down.


"masalahnya dimana dek?"tanya Ustadz Alfi. Dian hanya terdiam dan berpikir dengan adanya sedikit keraguan di dalam hatinya seraya bersandar di bahu bagian kiri miliknya.


"katakanlah, cobalah untuk berbagi dan jangan pendam sendiri. Masalah akan bisa dihadapi jika bersama, maka jujurlah"ucap Ustadz Alfi menyakinkan. Dian tetap bungkam dan sibuk dengan pikirannya. 


"Apakah aku harus lanjut jujur atau ini belum waktunya tapi hati ini ragu bahkan lebih meragukan lagi. Apa yg akan ku pilih…"pikir Dian.


"jangan bilang…kau takut kepadaku…?"terka Ustadz Alfi yg melihat dari segi lainnya. Sebab waktu itu Dian terus enggan menatapnya. Ada dua perkiraan yakni marah/benci dan Takut. Terbukti jika istrinya ini melakukannya untuk menjaganya dan masih menunjukkan sifat perhatiannya bahkan mencintainya. Lalu apa lagi selain terkaan ini, namun ia berharap jika ini hanya terkaan belaka.


"em..aku takut padamu"jawab Dian. 


Ustadz Alfi langsung menoleh kearah Dian yg perlahan melepaskan pelukannya dan menatapnya dengan wajah tak bisa diartikan apa yg dirasakannya. Ia sungguh kaget akan apa yg dikatakan oleh Dian.


"yang benar saja dek. Memangnya aku pernah menggigitmu?"tanya Ustadz Alfi tak percaya.


"pernah lah, kamu selalu gigit loh saat malam"jujur Dian.

__ADS_1


Krik…krik…krik… hening banget macam di kuburan awokawok 😸


Kesunyian melanda di keduanya, Ustadz Alfi begitu tak mengenakan dengan kejujuran Dian yg bahkan bisa saja membuat malu dan ingin bersembunyi menghilang dari bumi. Sungguh bukan itu yg dimaksudnya, haish salah pertanyaan sepertinya yaa…


"eh..bukan itu, tapi apakah aku pernah memukulmu dengan rotan? Memukulmu dengan sapu atau seperti kerja rodi?"ucap ustadz Alfi kembali.


"tidak"jawab Dian.


"lalu kenapa harus takut, mas rasa tidak pernah membuatmu seperti itu. Karena tidak ada gunanya dan tidak ada manfaatnya untuk menjadi lebih baik dari lewat kekerasan. Apalagi seorang laki laki juga harus menghargai wanita. Sebab kami terlahir dari rahim wanita yakni dan tak lain hanya dari ibu"jelas Ustadz Alfi.


"nah itu yg menjadi permasalahannya mas. Katamu laki laki terlahir dari rahim seorang ibu. Tapi aku ini wanita dan istri yg tak bisa memberimu keturunan lagi sekaligus ibu yg jahat tak melindunginya. Tidak sempurna"lirih Dian yg merasa bebannya tersalurkan bahkan sedikit meneteskan air matanya. Bukan tak ikhlas atau terus meratapi, hanya saja jika ia belum menemukan jawaban atas pertanyaannya maka belum bisa hilang dari kegelisahan hatinya.


"gak boleh ngomong seperti itu, apapun kejadian dan peristiwa bukankah itu takdir? Kita semua tahu jika Allah ingin hambanya kembali di sisinya maka akan kembali. Mungkin Allah ingin berjumpa kembali dengan calon anak kita walau kita tahu bahwa kesedihan dan kehilangan akan pasti ada"ucap Ustadz Alfi yg ikut merasakan apa yg dirasakan oleh Dian. 


"apa yang kamu takutkan dariku?"lanjut Ustadz Alfi tidak mendapat tanggapan dari lawan bicaranya. Dian yg termenung sekarang rasanya ingin mengungkapkan sesuatu dengan keberanian yg penuh.


"takut…em…kamu 'buang' mas"ucap Dian yg membuat Ustadz Alfi kaget.


"Astaghfirullah dek, kamu bukan barang yg jika sudah 'tidak sempurna' seperti awal lalu dibuang oleh ku."ucap Ustadz Alfi tidak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya ini. Apakah ini ketakutan itu, bukannya ini ketakutan semu belaka? Pantas saja istrinya memang perhatian tapi ia pertama kali bisa bertemu dari 4 tahun yg berlalu masih merasa jauh padahal ia sangat dekat.


"aku merasa seperti itu yaa takut saja. Apalagi kamu itu pernah berkata jika ingin memiliki sepasang anak. Tapi aku kan tidak bisa lagi, aku takut kamu memilih wanita lain yang bisa memberimu 'itu' atau sama saja membuangku mas"timpal Dian lebih diperjelas lagi.


"hilangkan pikiran itu. Memangnya jika aku menikah lagi dan membuangmu seperti apa yg kamu pikirkan akankah Allah mengasih rezeki lewat wanita lain? Menurutku jika aku memilih itu tandanya aku tidak bersyukur dengan rezeki yg telah diberikan dan menyakiti artinya sakit hatimu sebab ku buang adalah penghambat rezeki itu. Sungguh Allah tidak akan meridhoinya."


"sekarang begini saja, jawablah pertanyaanku dek kecuali jika kau kecewa atau marah kepadaku. Apakah kamu pernah tidak menuruti perintahku?"tanya ustadz Alfi.


"tidak"


"apakah pernah kamu tidak melakukan kewajibanmu memenuhi hak ku sebagai seorang suami?"


"tidak"


"apakah pernah kamu tidak memberikanku perhatian walau itu perhatian kecil?"


"tidak"


"apakah kamu pernah meninggalkan sholat?"


"sejak bersamamu, aku tidak pernah melakukan itu"


"apakah kamu pernah tidak membaca atau menghafalkan minimal 5 ayat beserta tajwidnya dalam seminggu?"


"aku selalu melakukannya itu tanpa berhenti untuk tidak melaksanakannya"


"apakah kamu pernah membentak, memukul dan melukai anak kita?"


"demi allah aku tidak rela melakukan itu, dia adalah darah dagingku sendiri"


Pertanyaan ustadz Alfi terjawab satu persatu oleh Dian. Namun dalam jawaban itu, tidak ada yg membuat nilai seorang ibu dan istri berkurang sekecil apapun. Lalu apa masalahnya? Ustadz Alfi terdiam sejenak lalu tersenyum meneduhkan ketika Dian meliriknya. 


"tapi mas… aku masih merasa takut"resah Dian.


"bolehkah aku bercerita sedikit dan ini bukan tujuanku untuk membuka sebuah masalah orang tuaku. Hanya saja mas ingin menyakinkanmu dan tolong cermati"ucap Ustadz Alfi yg menghela nafasnya untuk hanya memulai bercerita. Dian pun mendengarkannya seksama.


"dulu ketika aku berusia 6 tahun, pernah umi keguguran dan kehilangan calon adikku sebelum aisyah. Betapa sedihnya umi saat itu dan kami juga semua ikut merasakannya…."


"umi setelah itu menjadi sosok yg berbeda dimata abi. Biasanya umi sangat mudah mengumbar senyum, canda dan perhatiannya untuk abi. Tapi saat saat dimana itu terjadi, umi berubah renggang dengan abi namun tidak denganku…."


"aku hanya bisa mendengarkan apa yg dikatakan ummi tanpa bisa ikut menyelesaikannya. Umi bercerita bahwa ia sangat takut jika abi sampai sampai membuangnya seperti rasa takut dirimu dek. Beliau bahkan merasa bahwa dirinya sangat jauh berbeda dari abi…"


"penyebabnya adalah dulu umi ta'aruf dengan abi pada masa statusnya sebagai santriwati yatim piatu di pesantren. Bayangkan saja pikiran umi sudah kemana mana, abi seorang guz yang dihormati dan umi hanya santriwati yang mendapat kesempatan berpendidikan di pesantren milik kakek… umi sangat risau dengan keadaannya sendiri…"


"selang beberapa waktu, umi jatuh sakit sebab terlalu banyak pikiran dan itu pun membuatku sakit juga. Karena mas ketika bayi sampai sekarang, kontak bathin dengan umi sangat sangat tajam dan luar biasa sekali. Apapun yg umi rasakan pasti akan terasa…"cerita ustadz Alfi terjeda sedikit.


"lalu apa yg terjadi mas?"tanya Dian penasaran. Ustadz Alfi tersenyum.


"abi bingung harus memilih yang mana. Mau rawat umi atau mas? Sedangkan abi raganya cuma satu dan akan keteteran jika harus merawat kedua duanya. Akhirnya kakek membawa mas ke pesantren sampai kesehatan umi membaik."


"ternyata, setelah itu abi lama lama kesal dengan sikap umi. Beliau memang merawat namun tanpa berkata dengan dibarengi wajah datarnya dan itu tambah membuat umi merasa sakit tapi juga merasa senang akibat abi tidak terlalu memperhatikannya untuk berjaga jaga kuatkah hatinya jika memang benar ketakutan itu terjadi.."jeda ustadz Alfi yang meminum air mineral yg memang tersedia di meja.


Dian sedikit tertegun, ini kenapa seperti yg kurasakan saat ini. Cerita yang didengarnya bagaikan sebuah untaian untaian sekelumit kisah yg serasa dejavu. Ia hanya bisa terdiam namun tetap menyimak kelanjutan cerita itu.


"akhirnya karena mas menceritakannya ke kakek masalah tanggapan abi akan sikap umi terselesaikan. Abi selanjutnya merawat umi dengan penuh perhatian bahkan membuat umi membuka suara untuk jujur. Setelah itu seingat mas, umi pingsan dan dibawa kerumah sakit. Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya?"ucap ustadz Alfi tersenyum manis seperti antusias mengatakannya.


"apa ?"tanya Dian.


"umi dinyatakan keguguran namun untuk janin yg satunya. Tapi janin lainnya tidak, entahlah ini mungkin buah dari suatu masalah. Allah benar benar menyelamatkan umi dari ancaman akhir dari rumah tangganya. Subhanallah, ternyata di rahimnya tumbuh janin calon adikku yg lainnya yaitu Aisyah, dek"ucap Ustadz Alfi mengakhiri ceritanya.


"jadi aisyah punya kembaran?"tanya Dian.


"iya, jika diprediksi oleh dokter katanya kalau ingin tahu saudara kembar yg telah menghadap Allah lebih dulu maka lihatlah aisyah. Ia sebagai pelipur rasa takutnya dan penyembuh hati umi. Namun dokter tak bisa mengidentifikasi apakah kembar identik atau tidak identik. Karena usianya yang masih tergolong dari rentang 1 hingga 5 minggu"jawab Ustadz Alfi.


"kesimpulannya, jauhi rasa takutmu. Mas gak akan berpaling dan bukankah terbukti dek. Saat kau dinyatakan meninggal aku tetap menduda dadakan dan meresahkan… yaa begitu sebutan abi untukku"ucap Ustadz Alfi sedikit menyindir sebab ia tahu jika kamera cctv terus tersambung dari tadi.


("ck anak itu ngadu ternyata"bathin abi abdurahman yg menangkap sebutan untuk Ustadz Alfi dimana itu anaknya sendiri wkwk.


Sedangkan umi shita hanya bisa tersenyum ketika putranya ini masih ingat dengan kejadian waktu itu. Ia bahkan tak akan menganggap itu sebuah aib tapi kenangan yg tersimpan rapi dalam buku riwayat hidupnya. Sementara dengan lainnya menyimak dengan serius cerita tadi.)


"sungguh mas?"ucap Dian yg mendongak bak menilai ketulusan dari mata laki lakinya.


"iya"yakin Ustadz Alfi. Dian pun tersenyum manis sekali seakan akan bebannya telah hilang.


"oiya dek, kenapa sih kamu selalu saja berpikir itu setiap kali ada kekurangan dalam dirimu. Padahal menurutku tidak ada alasan untuk melepaskanmu sama seperti waktu memintamu kepada keluargamu kan"tanya Ustadz Alfi penasaran


"orang ketiga…orang ketiga di rumah tangga. Aku sangat membencinya seperti kamu yg membenci kalimat perpisahan antara kita mas"jawab Dian jujur.


"orang ketiga dari kamu atau dari aku sendiri mas. Jika ada potensi maka aku akan selalu merasakan ketakutan itu. Mau berbagai alasan apapun."sambungnya

__ADS_1


"dek, inikah sebabnya? Apakah dahulu pernah merasakannya?"tanya Ustadz Alfi yg mengulik kebenarannya untuk mempercepat kesembuhan mental Dian. Jika ini selesai maka lebih cepat pula keluarganya berkumpul lagi seperti dahulu dengan tanda jika istrinya harus bercerita tentang masalah hatinya yg terpendam lama maupun baru.


"sebenarnya ada 2 faktor aku takut seperti itu. Salah satunya dari masalah keluarga yakni seperti dirimu mas. Aku menyaksikan pertengkaran ayah dan ibu dengan nyata ketika aku berumur 2 tahun."ucap Dian.


Ustadz Alfi kaget bukan main tentang ini. Ia yg usianya 6 tahun saja merasa seperti sedihnya bukan main, apalagi Dian yang menyaksikannya saat dimana ia sedang pembentukkan karakter dasar em..istilahnya itu golden age.


Golden age atau periode emas adalah tahapan pertumbuhan dan perkembangan yang paling penting pada awal kehidupan seorang anak termasuk pola pikirnya di syaraf otak.


(ayah ahmad dan bu mira masih mengingat itu mereka hanya tak mengira dan lupa akan golden age Dian saat itu hingga ada penyesalan tapi bukan malu hanya saja mereka berdua menyayangkan tindakan kekanakan yg membuat itu semua terjadi. Semuanya pun tahu, kenapa Dian pendiam dan kadang jutek, cuek bahkan se bodo amat sama yg namanya orang lain tapi akan perhatian dan memberi rasa hormat terhadap keluarganya. Dokter marissa merasa ini adalah sebuah momentum dimana kejujuran itu memang diperlukan saat seseorang sedang tertekan.)


"disebabkan oleh apa dek?"tanya Ustadz Alfi.


"ibu kecewa dengan ayah. Yg kuingat hanya perkataan ibu, beliau berkata 'perempuan lain' sampai terekam jelas dalam ingatanku. Ayah memang membenarkannya tapi bukan berarti apa yg dikecewakan oleh ibu itu benar."


"selama itu ibu menjadi kurang perhatian denganku. Hanya ayah yg ada kesempatan mengajakku berbicara setelah beberapa waktu aku terdiam bisu, tapi saat itu aku masih bisa tersenyum ceria seperti biasanya…"


"lama lama, ayah dan ibu semakin hari semakin menjauh satu sama lainnya. Ayah bingung menjelaskan masalahnya sedangkan ibu tetap diam tanpa sanggup berbicara lagi karena saat dimana sebelum aku tak sengaja mendengar, sempat beradu argumen dan bentakan. Jadi ibu tak mau semakin membuat semuanya berantakan, em lebih memilih diam dulu beberapa waktu…"


"oiya 5 hari kemudian, ayah mendapat telepon dari seorang perempuan yg terbilang cukup muda dari ibu. Ia bahkan memanggil ayah seperti ibu sebutan itu 'mas'. Aku sedang bermain dengan angklung kecil milik mbah kakung tepat di dekat pintu samping yg sekarang bisa dilihat sebagai jendela dekat ruang tamu."


"iya mas tahu, lalu apa yg terjadi dek?"tanya Ustadz Alfi kembali seraya mengingat bahwa memang benar jika berkunjung kesana terakhir kalinya hanya ada jendela bukan pintu samping.


"ayah berkata sangat kesal kepada perempuan itu mas. Karena menyebabkan ibu tak mau berbicara dengannya lagi. Sampai aku menangkap bahwa 'orang ketiga' itu meminta ayah ke rumahnya yg hanya ada dia dengan alasan sedang membutuhkan bantuan ayah. Aku pun tak terima, entah mengapa waktu itu bisa berpikir buruk dengan apa yg terjadi…"


"pikiranku hanya ada 'nanti ayah akan dapat musibah jika pergi'. Aku memilih berdiri merambat tembok untuk cepat cepat menghampiri ayah yg tak menyadari keberadaanku. Sampai akhirnya memegang pintu samping terbuat dari bambu itu yg nyatanya gak terkunci atau gak terkancing dengan balok kayu kecil penyangganya…dan…"


"tubuhku terasa melayang mas. Aku terjatuh. Lalu kepalaku terasa mau pecah bahkan menangis pun tak bisa. Kepalaku bagian belakang terbentur batu dengan keras dan setelah itu aku tak melihat apa apa"ucap Dian terjeda dahulu.


"katanya kak umay, setelah itu mbah kakung yg berada di atas pohon mangga segera turun sebab pekikan terkejutnya mbah putri yang jelas banget melihatku jatuh lalu menutup mata. Ayah pun menoleh dan segera melihat sedangkan ibu berlari dari dapur lalu menggendongku dengan menangis histeris."


Ustadz Alfi tiba tiba merasa pening dan tenggorokannya kering begitupun dengan semuanya yg mendengarkannya. Sementara Dian begitu santai berbicara kek gak ada beban guys ya allah 😥🙏


"ekhem, lalu selanjutnya?"ucap ustadz Alfi duduk dengan tidak nyaman serta terlihat berkeringat di keningnya.


"lalu dibawa kerumah sakit mas. Mbah kakung melarang ayah atau ibu menjenguk berdua/bersama. Boleh menjenguk tapi harus masing masing. Karena jika sudah terjadi kejadian aku sampai jatuh, mbah merasa tertantang menantang sejauh mana ayah dan ibu memikirkanku dahulu. Sebenarnya aku koma tapi masih bisa mendengar perkataan mbah kakung bahkan mendengar mbah putri melarang untuk tindak tegas itu."cerita Dian.


"sekitar 1 minggu, aku katanya masih betah tidak mau sadar saat ayah atau ibu menjenguk masing masing dengan waktu yg berbeda tapi di hari yg sama. Aku sadar ketika banyak suara berkumpul menjadi satu dan membuka mataku lalu melihat banyak orang. Ada ayah, ibu, mbah kakung, mbah putri, kak umay, mas agung, kakung (kyai), dan utii (bu nyai). Aku senang tentu tapi tak tahu kenapa tidak bisa mengungkapkan rasa senang itu."


"kesimpulannya, sejak itu aku tak suka dan benci dengan 'orang ketiga' ditambah saat umurku 17 tahun. Rasanya dikhianati bangun kembali. Makanya sebelum menerimamu, aku bertanya seperti apa yg aku tanyakan kepada siapa saja laki laki melamarku mas."


"kenyataannya, malah membuatku menutup diri dan sedikit jutek"ucap Dian yg mengakhiri ceritanya seraya tersenyum. 


"aku paham apa yg kau takuti dek. Bahkan kita sama sama mendapatkan itu. Secara tak langsung faktor pertama yaitu dari keluarga sendiri dan dari rasa sakit ditolak lamarannya…."


"cuma bisakah untuk terbebas dari semua itu? Tak terkecuali kamu atau mas. Coba sama sama untuk menyakinkan bahwa itu semua dorongan yg akan membawa kita menuju bahagia."ucap Ustadz Alfi menanggapinya.


"boleh, namun hanya waktu yg menjawabnya"balas Dian tersenyum simpul.


"ah..iya dek. Apakah sebab 2 faktor kemiripan masalah masa lalu jadi kita ditakdirkan sampai saat seperti ini. Hitung hitung melewati pernikahan.."senyum Ustadz Alfi.


"mungkin saja iya. Tapi gak tau juga, kan Allah tidak memberitahu kita tentang takdir selanjutnya mas. Kl dikasih tahu bukan lagi namanya plot twist dan kita akan menghindari dimana letaknya kesedihan kita. Wahh dunia serasa seperti monoton saja"ucap Dian terkekeh kecil.


"hehe benar sekali, apalagi kl mau dek. Mas gak mau milih ngizinin kamu pergi waktu itu. Tidak akan ada tuh yg namanya 'si duda meresahkan' dan tak ada lagi yg ngejar ngejar sampai seperti ulat keket begitu dek"ucap Ustadz Alfi tertawa membayangkan itu.


"enak ya di jadiin pohon sama ulat keket gitu?"ucap Dian dengan berpura pura cemberut dan menampik lengan yg tadi ia peluk saat sekilas saja.


"enggak, enggak sama sekali. Malah mas jadi risih "ucap Ustadz Alfi.


"beneran tuh? Mas alfi ini lewat jalan raya dan pernah pulang malam terus emangnya nggak lihat tuh yg di jalan sepi itu ada yg cuma pakai baju minim bahan. Oiya ketat lagi, hish masya allah pasti menggoda imanmu ya mas"ucap Dian tersenyum penuh arti. 


Waktu itu pernah sekali saat bersama suaminya itu dari acara tausiyah di 4 tempat dan pulang sekitar jam 12 malam. Lalu gara gara bensin habis lalu bang azzam sedang mencari bersama bang farhan menaiki motornya kak umay dan meninggalkan Dian dan Ustadz Alfi berdua. 


Ustadz Alfi keluar mobil demi menghirup udara segar karena lama lama dalam mobil itu seperti sesak terus mual gitu. Sedangkan Dian tetap. Tiba tiba ada wanita seksi melewati mobil mereka dari depan dan menghampiri seorang laki laki sendirian saja. 


Wanita itu menggoda ustadz Alfi dengan cepat memegang dagu sampai dada bidang itu dan berbicara manja. Ustadz Alfi bahkan tidak bisa bergerak dan hanya tahan nafas berharap istrinya keluar dari mobil lalu menolongnya.


Dian memang melihat itu lalu segera keluar dengan wajah marahnya menghampiri mereka berdua. Tanpa aba aba, sepatu selop miliknya yg dibeli untuk seserahan dari ustadz Alfi langsung mendarat di kening wanita ganjen bin dedemit itu. Kening itu tampak mengeluarkan sedikit darah dan membiru. Lah wong melemparnya bak memukul bola golf guys, kenceng banget. Saking nafsunya melempar dan akibat cemburu bahkan sepatu selop itu sudah di museumkan di pembuangan karena bagian bawahnya sudah terbuka lebar.


"hahahahaha masya allah, mas rasa itu hiburan dikala penat saat kamu beraksi membasmi wanita itu dek."tawa ustadz Alfi sungguh tak tertahan ketika mengingat itu.


"ya allah ya rob hahaha, perut mas sakit dek"tawa ustadz Alfi yg memegang perutnya. 


"heem, lagian bukannya dorong aja kamu malah diam seperti anak bebek ketinggalan induknya"ucap Dian.


"hehe,jangan dek nanti mas salah pegang kan bisa berabe. Bukan kening wanita itu saja yg kena, bahkan kamu bisa mematahkan tanganku"senyum ustadz Alfi menekan tawanya. Diam hanya kesal saja mengingat itu.


"tapi kl masalah asal sentuh dimanapun asal itu kamu…seperti kucing melihat ikan segar, mas pasti mau"ucap Ustadz Alfi menarik Dian diatas pangkuannya.


"tolong dibersihkan isi kepala anda tuan ustadz dengan sabun yg bersih dan air jernih. Boleh juga pakai pewangi agar sudah bersih, kinclong dan segar."seru Dian yg duduk kembali di sofa.


"wah boleh tuh, nanti saya kasih tipnya deh."timpal Ustadz Alfi. 


"apaan sih mas, tambah ngaco"ucap Dian mengerutkan keningnya. 


Namun kemudian mereka berdua tertawa bersama dan dengan hitungan detik ustadz Alfi menidurkan diri di paha milik wanitanya. Dian pun mengelus lalu sedikit memijat mijat kening itu.


Bersambung…


🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘

__ADS_1


__ADS_2