Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Menemuinya


__ADS_3

Pagi yang indah untuk Dian hari ini, pengennya senyum Mulu. Ia ingin menemui sang idolanya sungguh merasa tak bisa berkata kata lagi akan kebahagiaannya. Malam tidur tidak tenang, bawaannya hati berbunga bunga seperti orang jatuh cinta.


Rumahnya sepi tanpa suara Dayu bak tinggal di kuburan. Dian membersihkan seluruh penjuru rumahnya dan melanjutkan bersiap untuk pergi hari ini. Memakai atasan warna cream, celana panjang bahan warna cokelat serta kerudung senada dengan celana.


kerudung segi empat disampingkan menutup dada seperti biasanya. Entah kenapa ia suka sekali berpenampilan seperti seorang guru di sekolahnya. ia sangat tidak suka jika memakai kerudung namun masih menampilkan aurat. walaupun tak sampai memakai niqab tapi setidaknya harus memenuhi syariat agama dan tidak mengikuti trend.


tok...tok...tok...


"assalamualaikum"


ucapan salam memecah heningnya Dian yang memakai tas selempang hitam dengan gantungan boneka beruang yang lucu. Kira kira tas ini adalah hadiahnya waktu memenangkan juara tari di semarang pada saat ia berusia 15 tahun. wah awet dan bagus deh barangnya.


"dek, sudah sii__"ucap umay yang terhenti seraya tangannya mengerem tepat didepan wajah adik sepupunya. Beruntung bisa ngerem kl kagak bisa ngambek adiknya.


"waalaikumsalam"senyum ramah Dian yang kemudian menatap tak percaya dengan tangan umay sudah didepan keningnya.


"hehe, kirain gak denger tadi. saking asyik dandan mau ketemu ustadz"ucap Umay tetap meledek bertubi tubi dari kemarin. Ia menganggap Dian berdandan sebab wajah adiknya ini sangat berbeda dari biasanya alias lebih kinclong gitu.


"enggak kak...aku gak dandan"balas Dian yang mengkerutkan keningnya heran.


"lah tuh muka bisa kinclong begitu, kayaknya sih ya aura senangnya menguar jadi gak usah dandan deh. Ustadz dijamin bakal terbengongkan hihi" bathin Umay yang tersenyum sendiri dan membuat dian berniat mengerjai balik kakaknya ini.


"kak umay, itu kak rida"ucap dian tiba tiba dan umay pun mengikuti arah tunjukkan adiknya dengan patuh.


"loh gak ada?"pikir umay lalu menengok kesamping yang tak ada dian. ia pun menghela nafasnya dan baru menyadari baru saja dirinya kena tepu wkwk.


Umay pun kemudian menyusul adiknya yang sudah di dalam mobil dan menatapnya dengan tersenyum meledek. Itu membuat umay menarik pelan hidung adiknya sengaja sehingga bisa memerah jelas. Dian hanya cemberut, inilah kelemahannya yang dapat diketahui oleh keluarga inti. Kemarin sore, Dian sudah mengirim barang dan motornya ke jogja. Bahkan sudah siap dengan 1 tiket bus.


Sesampainya di tempat ustadz Alfi...


"assalamualaikum"salam umay dan Dian serempak.


Terlihat umi shita, Aisyah, farhan dan Azzam sedang duduk duduk santai di teras. mereka melihat kedatangan Dian dan Umay pun membalas salamnya.


"waalaikumsalam"kor mereka.


"wahh kak Dian datang. Aisyah kangen"ucap Aisyah dengan gembira menyambar memeluk Dian. Sempat terkejut dengan reaksi aisyah, Dian kemudian membalas pelukan itu.


"haii syah. Gimana kabarmu?"ucap Dian.


"alhamdulillah baik. kakak cantik banget, kak Alfi pasti suka."puji Aisyah. semuanya terkekeh kecil melihat reaksi yang dipuji nampak tersenyum kaku dan malu luar biasa.


"ayo kita ke dalam saja. tidak enak diluar begini"ajak Umi shita yang memboyong Dian dan Anak perempuannya ke dalam.

__ADS_1


Dian hanya mengangguk saja dan melangkah masuk disusul oleh ketiga laki laki Dibelakangnya. Didalam ada ustadz Alfi memakai masker sebab habis pergi dari jakarta barat yang duduk di sofa dengan seriusnya menatap buku hadist. Ia tak sadar dengan siapa yang datang.


Ustadz Alfi hanya melirik sekilas Kaki yang memakai celana bahan perempuan warna cokelat dengan memakai sepatu snaker. Ia pun kembali dengan bukunya namun mengerutkan keningnya mengingat sesuatu. Yang lainnya hanya menonton saja dan senyum senyum sendiri membiarkan mereka berdua.


Dian melihat laki laki yang memakai masker seperti sangat familliar sekali. apalagi ingat jam tangan yang bewarna hitam mencolok diingatannya. kemudian Ustadz Alfi mendongak dengan tiba tiba mengenal sepatu milik Dian. Matanya menatap kearah Dian membuat yang ditatap mengenal mata itu.


"Kamu ?"kor mereka berdua.


Ustadz Alfi kemudian membuka maskernya dan manaruh buku hadistnya menatap Dian. Sedangkan Dian terkejut bukan main melihat wajah sang idola.


"kamu__yang saya tabrak waktu itu?"tanya Ustadz Alfi


"i_iya."ragu Dian.


"em..begini. Ustadz kenalin ini adik sepupuku, Dian.....dan Dek Dian, ini ustadz Alfi"ucap umay menengahi mereka. Ustadz Alfi langsung menatap lekat Dian bahkan tak bisa mengalihkannya dari wajah ayu alami itu. Sedangkan Dian tersenyum malu dan membeku karena ditatap intens begini sama laki laki.


Wajah ayu Dian begitu membuat jantung ustadz Alfi tak normal lagi. Bola mata hitam cerah, hidung yang bangir itu dan senyuman malu malu karena ditatap olehnya, baginya senyuman itu bak manis seperti gula yang membuat dirinya tak bisa mengendalikan diri untuk tak menatap.


"Cantik"gumam ustadz Alfi seraya tersenyum hangat yang masih terdengar oleh semuanya.


"cieee"sorak para penonton di belakang. Umi shita tertawa kecil dan bukannya mengingatkan anaknya untuk berhenti menatap Dian tapi malah membiarkannya saja. Naluri seorang ibu mengatakan jika anak laki lakinya tertarik dengan gadis manis yang pernah menolongnya waktu itu.


"cantik?, maksud ustadz a..apa?"ucap dian terbengong tak percaya dengan ucapan itu.


"ah maksud saya, bukan begitu"kilah ustadz Alfi salting dan mengalihkan pandangannya. Dirinya ini sudah dosa dan sangat malu tujuh turunan kl begini. Baru pertama kali ia memuji lawan jenis apalagi tersenyum hangat didepannya.


"kenapa kalian tertawa? apa aku salah bicara yaa"heran Dian.


"tidak ada yang salah dek. Cuma kamu gak peka sama pujian dari...."ucap umay terhenti dengan ustadz Alfi.


"oiya, bukannya kamu ingin menemui saya?"ucap ustadz Alfi memotong pembicaraan umay. Yang membuat Umay menggeleng kepala saja.


"iya benar. karena mau bertanya tentang hadist yang tak bisa coba untuk menghafalnya. bolehkah ustadz memberi solusi?"balas Dian.


"boleh, silahkan."seru ustadz Alfi.


Terlihat Dian membuka buku hadist yang sama. Ia menanyakan hadist yang begitu panjang dan tak mudah di Hafalkan. Ustadz Alfi menandai dimana dian harus berhenti untuk memudahkan mengingat. ia melihat kembali wajah manis tersenyum didepannya. kemudian menundukkan pandangannya kembali lalu tersenyum simpul.


"ya allah semoga ia jodohku"suara hati ustadz Alfi yang sudah menyadari perasaannya.


"ya allah terimakasih telah mempertemukanku dengan ustadz Alfi. aku jadi bertambah ilmu tentang hadist lebih lanjut lagi." suara hati Dian yang tersenyum sumringah.


(waddoh guys, beda aduannya wkwk)

__ADS_1


🌻🌻🌻


"saya mau ucapkan terimakasih kembali sebab waktu itu kamu telah menyelamatkan umi"ucap ustadz Alfi yang memberikan buku hadist baru miliknya.


"sama sama ustadz. tapi ini tidak perlu, kan hadiahnya sudah"tolak Dian halus mendorong kembali buku tersebut diatas meja. ia berpikir sudah banyak hadiahnya, bahkan mau menolak hadiah waktu itu. namun tak enak sama umi shita.


"itukan hadiah dari umi, tapi buku ini hadiah dari saya khusus buat kamu"balas ustadz Alfi menyakinkan dengan tersenyum manis membuat Dian menundukkan wajahnya sebab dari tadi jantungnya berdegup kencang


"terimakasih"balas Dian yang balik tersenyum manis dan berbinar senang sebab diberi buku hadist


Tak Disadari oleh mereka berdua, sejak tadi azzam memfoto Keduanya pada saat momen tersenyum saling pandang.


"kl begitu kami pamit. karena dek dian besok berangkat jadi hari ini harus bersiap."ucap Umay


Umi shita pun membawakan makanan ringan untuk bekal Dian besok. Aisyah merasa tak rela Dian pergi ke jogja dan akan sangat jarang bertemu.


"assalamualaikum"kor umay dan Dian.


"waalaikumsalam"serempak semuanya.


"dek bagi dong"ucap umay yang berada di dekat pintu berjalan keluar. semuanya menoleh.


"gak mau, ini punya aku"kekeuh Dian rada menjauh dari Umay. Umay pun mendekat sedikit lagi melirik ada makanan kesukaannya.


"ayolah cuma satu, yang rasa cokelat itu. kakak minta yaa"bujuk umay dengan tatapan memohonnya.


"diih...gak mau. ini kesukaanku kak. beli saja sendiri wlee"ucap Dian yang menjulurkan lidahnya lalu memeluk plastik pemberian dari umi shita seraya cemberut.


"ck, iya deh. aku bercanda"senyum umay yg mengusap pucuk kepala Dian.


"kak umay. kerudungnya berantakan"rengek Dian mengundang kekehan kecil dari ustadz Alfi dibelakang mereka. kekehan kecil itu terdengar sampai di telinga Dian yang kemudian membuatnya bergegas pergi kedalam mobil sedangkan umay tertawa. keduanya pergi dari tempat itu dan hanya menyisakan beberapa orang saja.


"Alfi, mintalah sama Allah jika kamu menginginkannya . umi tahu kamu punya perasaan dengannya"ucap umi shita tersenyum.


"apa sih umi"ucap ustadz Alfi tersenyum memilih kedalam seraya membetulkan kopyahnya. tetapi di dalam hati akan melakukannya. semuanya tersenyum melihat reaksi ustadz Alfi.


Sungguh ketara jika si Ustadz sudah membenarkan kopyahnya pasti ada sesuatu yang membuatnya seperti itu entah itu Gugup, menetralkan diri, Bosan atau Malu.


bersambung...


🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒


Hallo semuanya, Salam sehat >_<

__ADS_1


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan selamat membaca... Bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya, Terimakasih 🌷


__ADS_2