
Bunyi sirine polisi dan ambulance menghiasi jalan raya di kompleks waktu siang hari. Berjalan beriringan menuju rumah seseorang. Mobil polisi memimpin laju mobil ambulance serta 2 mobil di belakangnya. Orang orang mendadak keluar rumah untuk melihat keadaannya.
"ya allah ada apa ini"
"ada ambulance menuju rumah ustadz Alfi"
Begitulah ucapan para tetangga disekitar rumah tersebut. Bahkan seorang marbot sedang membersihkan masjid jadi sedikit terhenti dengan ada 3 mobil di depan rumah ustadz Alfi karena masjid begitu pas di depan rumah tersebut.
Abi abdurahman, umi shita, farhan, ayah ahmad, bu mira, umay dan rida di dalam rumah ustadz Alfi langsung keluar melihat. Tampak faqih membuka pagar seluas luasnya dengan wajah tidak bisa terbaca. Bunyi sirine dimatikan lalu Keluarlah seorang polisi dengan baju dinasnya bersama paman irawan.
"selamat siang dan assalamualaikum semua"sapa polisi yang bername tag arjuna.
"siang, waalaikumsalam"jawab abi abdurahman seraya menjabat tangan pak arjuna di depannya. Beliau adalah polisi yang di minta bantuan olehnya untuk menemukan menantunya.
"saya disini ingin menyampaikan sesuatu"ragu pak arjuna bersiratkan wajah sedih.
Perasaan semua orang yang berada di sana sangat tidak enak. Bahkan tetangga samping kanan kiri dan kanan kiri masjid nampak bertanya tanya. Mereka adalah tetangga sekaligus akrab dengan keluarga ustadz muda ini. Pak arjuna mengeluarkan plastik kecil berisikan cincin yang sudah berwarna sedikit hitam.
"apakah ini benar cincin milik saudari dian?"tanya pak arjuna.
"be...benar. itu cincin pernikahan putriku"ucap bu mira.
Pak arjuna mengerutkan keningnya. Ia tidak mengetahui siapa wanita yang membalasnya jadi sedikit bingung. Abi abdurahman menjelaskannya. Pria berumur 35 tahun itu sedikit terhenyak. Lalu menetralkannya kembali dan menghela nafasnya.
"baiklah kalau begitu."
"ehm.. kami telah menemukan saudari dian"ucap pak arjuna yang membuat semuanya merasa senang. Tapi juga berpikir dua kali ketika melihat ambulans di belakang mobil polisi. Faqih dan tim Ustadz Alfi lainnya berniat menanyakan ke mobil ambulans tersebut.
"lalu dimana nduk Dian? apakah baik baik saja"tanya Bu Mira melihat kesana kemari mencari putrinya.
"begini buu... kami memang menemukannya namun dalam keadaan tak bernyawa karena terlibat kecelakaan di jalan alternativ kota semarang. mohon maaf jenazah juga tak bisa dikenali dan tak utuh. Mobil itu terbakar dan meledak."ucap pak arjuna yang menunduk.
Semua terkejut dengan apa yang dikatakan oleh pak arjuna. Bu mira menangis histeris melihat peti berwarna putih yang di bawakan oleh 3 orang tim ustadz Alfi dan Faqih memasukkannya kedalam rumah.
"innalillahi wa inna ilaihi rojiun"serempak semuanya yang melihat.
Setelah itu, sang marbot mengumumkannya di masjid dengan bantuan farhan. Sebagian tim membantu untuk memasang bendera kuning di sekitar lingkungan rumah dan menyusun kursi untuk para pelayat nanti.
"nduk dian hiks hiks"
"jangan tinggalkan ibu hiks hiks"
"ibu tak bisa nduk hiks hiks"tangis bu mira yang memeluk peti yang sudah diletakkan di karpet ruang tamu.
"ayah anak kita, ayah hiks hiks"racau bu mira. Sungguh seorang ibu mana yang tak sedih karna anaknya meninggal dalam keadaan seperti itu.
Sedangkan Ayah ahmad lemas menerima kenyataan bahwa putrinya telah meninggalkannya lebih dulu. Ia bahkan meneteskan air matanya yang tak tertahankan lagi dan tidak bisa berbicara. Umi shita menangis menenangkan besannya seraya mengelus bahu yang bergetar hebat akibat tangisannya.
"yang sabar ya mba...hiks..hiks...saya juga kehilangan"ucap umi shita. Mereka berdua berpelukan dan saling menguatkan.
Umay meneteskan air matanya yang jatuh perlahan lahan dipipinya. Perasaannya sakit. Dian yang sudah dianggap adik kandung dengannya dan sekarang malah meninggalkannya. Semua orang ikut merasakan apa yang dirasakan oleh umay. Ini adalah sisi lemahnya dibalik ketegasan dan kedewasaannya yang menjadi penasehat yang lebih muda darinya.
"aku kakak yang tak baik yang membiarkan adikku pergi jauh selamanya"ucap umay yang sesekali menghapus air matanya.
"mas jangan salahkan dirimu sendiri"ucap rida menenangkan sang suami di luar. Ia bahkan tidak mengungkap rasa sedih yang bahkan tak bisa dijabarkan oleh kata kata hanya untuk menjadi kekuatan umay.
"aku baru melihat senyumnya seperti beberapa menit yang lalu. Namun kini bahkan tak akan bisa melihat senyumannya lagi"ucap umay kembali.
"takdir mengalir. Kita hanya perlu doakan yang terbaik untuk almarhumah"ucap farhan.
Larut ke dalam kesedihan. Tak lama keluarlah aisyah yang menggendong zaki dan dayu yang menggandeng hafsa. Semua mendadak beku dengan kedatangan hafsa. Dayu dan aisyah paham dengan apa yang terjadi mereka tak kuat menahan tangisnya.
"mbak"lirih dayu dengan air mata yang berderai deras menghampiri peti bersama dengan aisyah.
"kak"tangis aisyah yang memilih untuk menutup mulutnya agar tak terdengar tangisannya.
__ADS_1
Hafsa tampak berjalan kearah peti itu. Menatap dengan serius bingkai yang menampilkan uminya tersenyum. Bocah 2 tahun itu menempelkan kedua tangannya ke peti dan menundukkan wajahnya sedih. Ia mengerti apa yang terjadi lalu menatap kearah orang dewasa dengan mata yang berkaca kaca.
"tenapa cemuana nanyis? Utanna umi puyang. Ntii tayo umii itut nanyis dimana"ucap hafsa yang membuat semua orang dewasa disekelilingnya menangis dan tercubit hatinya.
Betapa tegarnya sekecil hafsa menerima kenyataan pahit bahwa uminya sudah meninggal. Abi abdurahman menyamakan tubuhnya dengan cucunya.
"hafsa"
"nak, satu hal yang kamu harus mengerti. Jika Allah sudah menakdirkan setiap hambanya sebelum lahir ke dunia untuk berpulang kembali ke sisinya. saat itu terjadi, maka hamba tersebut berpulang kembali ke tempat yang seharusnya. Untuk kita yang ditinggalkan tentu diharuskan menerima dan ikhlas."
"Tapi tak dipungkiri kesedihan itu ada karna hati kita. hati manusia semuanya seperti kayu. Bisa rapuh bahkan bisa lapuk"jelas abi abdurahman seraya mengelus bahu cucunya dan setelah itu terdengar tangisan kencang dari bocah 2 tahun tersebut.
"umii hiks hiks... umii pelgiii. hiks hiks tenapa pelgii, apca linduu"tangis Hafsa pecah. Semuanya tentu saja lagi lagi meneteskan air mata. Abi Abdurahman hanya bisa menahan agar air mata yang ada di pelupuknya tidak terjatuh bebas merembas di pipinya. Beliau menenangkan sedikit hatinya lalu menggendong hafsa yang sesenggukan dan telah terduduk di lantai.
"cucu kakung pasti kuat. jadi kekuatan buat semuanya ya nak"sambung abi abdurahman seraya membawa sambil membujuk agar Hafsa berhenti menangis. Terlihat beliau sedikit kesusahan membujuknya sebab terlanjur roboh pertahanan yang dimiliki oleh Hafsa. Jujur ada rasa tak tega tapi jika di biarkan terpendam dalam hati maka akan menimbulkan penyakit.
"Saya dan sejajar polisi mengucapkan turut berduka cita akan meninggalnya almarhumah saudari dian. dan juga memohon maaf kami juga harus menutup kasus."ucap pak arjuna.
Ia memberikan sebuah pulpen untuk ditanda tangani oleh abi abdurahman. Menyerahkan hafsa yang tiba tiba pendiam seraya menatap terus ke arah pak arjuna. Mereka berdua sudah menandatangani surat dan kasus sah ditutup.
Kemudian para perawat dan polisi pamit. Sebelum benar benar pamit, pak arjuna menghampiri hafsa. Beliau mengusap lembut kepala hafsa seakan memberikan sebuah kekuatan untuknya. Ia pun sudah merasakan hal sama bahkan ia tidak memiliki orangtua lagi. Jadi sungguh mengetahui apa yang dirasakan oleh bocah 2 tahun itu.
Kemudian hafsa meminta untuk mendekat kearah mbah utii dan kakungnya yang sedang bersedih akan kehilangan uminya. Ia pun duduk dan tampak ragu untuk mendekat serta menunduk di dekat peti tersebut.
"begitu cepat anak kita pergi ayah"ucap bu mira yang mencoba tegar di pelukan ayah ahmad. Walau air mata sudah seperti air terjun mengalir deras.
"umur memang tak ada yang tahu bu. Doakan saja nduk dian tenang disana"ucap ayah ahmad.
Kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah hafsa yang duduk termenung menghadap mereka namun enggan mendekat. Ayah ahmad kemudian memberikan senyuman lembut kearah hafsa.
"cucu kakung ingin dipangku?"tanya ayah ahmad membuat hafsa mendongak menatapnya.
"endak tatung. Utii yebih utuh tatung."jawab hafsa dengan sungkan dan menautkan jari telunjuknya persis seperti dian. apalagi tatapan matanya yang sendu dan memerah sebab menangis.
"tatung. Apca cayang umi. Tapi dimana cayanya tan umi udah nindalin apca"tanya hafsa yang sesekali menatap kearah bingkai foto diatas peti tersebut.
"kl hafsa sayang umi, tentu bisa dengan cara mendoakannya nduk. Doa seorang anak sholehah In Syaa Allah akan terkabul."jawab ayah ahmad.
"belalti doanya begini ya tatung 'ya Allah, Ijinin umi ndak ninggalin apca' ditabulin ndak cama Allah"tanya Hafsa. Ayah Ahmad menukar pandangan kearah semuanya dan mencoba menerangkannya dengan perlahan lahan.
"tidak seperti itu juga nduk. kamu harus mendoakan keselamatan umi agar ditempatkan di sisi Allah atau bisa juga dengan cara lainnya"jelas Ayah Ahmad.
"belalti apca halus beldoa cama allah beditu dan teyus apalin al qulan juda. Apca penen tasih mahtota emas buwat umi. Tata abi, tayo apca bica apal cemuana, apca bica tasih maktota di tepala umi nanti"simpul hafsa. Membuat semuanya lagi lagi tertegun akibat perkataannya.
"iya nduk. Terus belajar dan buat bangga umi yaa"ucap ayah ahmad yang mencium pipi hafsa.
"oiya, abi mana? Tok eunda puyang "ucap hafsa yang mencari ustadz Alfi seraya melihat sekelilingnya.
***
Sementara dirumah sakit....
Bunda nis, ratih, razwan dan azman sudah sampai di ruangan azzam. Terlihat ustadz Alfi begitu setia menunggu sahabatnya yang terbaring lemah di brangkar. Semuanya menjadi tak enak akibat itu.
"assalamualaikum"salam mereka.
"waalaikumsalam"sahut ustadz Alfi yang menoleh langsung mencium tangan bunda nis.
"maafin alfi bunda"sesal ustadz Alfi.
"tidak apa apa nak. Jangan menyalahkan dirimu."ucap bunda nis yang tersenyum menatap sahabat putranya.
Beliau menghampiri azzam lalu mencium kening tersebut. Bunda nis menatap seluruh tubuh azzam yang tampak kurus dari biasanya.
"oiya Al, apakah hpmu mati? Tadi saya mau menghubungi tidak bisa"tanya razwan.
__ADS_1
"iya kak. Hpnya mati karna lowbat"jawab ustadz Alfi.
Hpnya mati. Jadi ia tak bisa lihat apapun di hpnya tersebut. Bahkan tak tau jika grup keluarga ramai akan kabar duka istrinya. Semuanya saling pandang, ustadz Alfi begitu menampilkan wajah lelahnya.
"kamu pasti lelah? Apakah tidak pulang lebih dulu..."khawatir ratih.
"em..sedikit sih kak. Tapi sebelum bunda nis dan kakak datang mana mungkin alfi meninggalkan azzam sendiri"balas ustadz Alfi.
"seharusnya juga perhatikan kesehatanmu nak. Pulanglah lebih dulu, bunda disini bergantian menjaga azzam. Bukan untuk mengusir tapi bunda tak tega melihatmu kelelahan."pinta bunda nis yang diangguki oleh ustadz Alfi.
"oiya nak, gimana kabar tentang istrimu?"tanya bunda nis lagi.
"belum bunda."sedih ustadz Alfi.
Bunda nis kemudian mengelus pundak ustadz Alfi. Beliau tahu jika seorang laki laki didepannya mempunyai beban yang berat. Ustadz Alfi pamit untuk pulang dan akan kembali lusa karna ingin menjaga hafsa. Takut anaknya itu sakit jika ditinggal lama.
"baiklah. Tidak apa apa. Bunda titip salam untuk semuanya."ucap bunda nis.
"assalamualaikum"pamit ustadz Alfi.
"waalaikumsalam"jawab semuanya.
Dengan langkah pasti, ustadz Alfi berjalan kearah parkiran. Mengendarai mobilnya menuju rumah. Selama diperjalanan ia sangat penasaran akan isi hpnya. Apakah hafsa tak mencarinya? Ini akibat lupa mengecash hpnya. Bagaimana inget hp jika segala masalahnya belum terselesaikan.
"huff...kapan aku menemukanmu dek? Rinduku sudah tidak terhingga lagi."bathin ustadz Alfi.
Mobilnya sudah sampai di gardu. Diperjalanan banyak orang orang memakai pakaian hitam. Bendera kuning juga ada di tiang listrik setiap gang. Lama semakin lama, ia sampai juga di depan rumah dan memberhentikan mobilnya. Umay menyadari ustadz Alfi sampai pun berdiri dari duduknya lalu berjalan kedalam untuk memberitahu.
"umi, ustadz sudah pulang"bisik umay
Umi shita terkejut. Ia langsung berdiri dan keluar rumah. Ustadz Alfi tampak heran dengan keadaan rumahnya. Kenapa ada orang yang seperti sedang melayat? Bahkan ada bendera kuning yang tadi ia lihat. Sayangnya ia tak perhatikan tadi.
"assalamualaikum"salam ustadz Alfi seraya mencium tangan umi shita.
"waalaikumsalam"kor semuanya.
"umi, ini ada apa?"tanya ustadz Alfi.
Semua bungkam dan membiarkan umi shita yang menjelaskannya. Wajah lelahnya menjadi semakin jadi, ustadz Alfi juga merasa tidak enak menatap rumahnya.
"umi, siapa yang meninggal?"tanya ustadz Alfi begitu gusar.
"eum... Alfi. Bagaimana keadaan azzam?"ucap umi shita yang mengalihkan dulu pembicaraan sekalian mempersiapkan kata kata. Bahkan ia menahan tangisnya dan memaksa senyum dihadapan putranya.
"azzam masih koma umi. Bunda nis sudah berada disana untuk menunggu. Oiya, Umi belum menjawab pertanyaanku yang tadi"ucap ustadz Alfi
Ia berjalan yang di dahului oleh umi shita yang siap memberitahukan hal sebenarnya. Melepaskan sandalnya dan melihat kedalam lalu terdiam. Ia melihat bu mira dengan berlinangan air matanya di dekat peti orang meninggal. Begitu juga dayu dan ayah ahmad. Lebih parahnya lagi ada bingkai foto milik dian yang tersenyum diatas peti tersebut.
Deg...
Deg...
Deg....
Bersambung....
π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’
Hallo permirswah, gimana epsnya neh?
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,
Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. SayangΒ²nya akyuu.... Mwuach π
__ADS_1