
Berpelukan merupakan hal yang menjadi jarang terjadi di antara Dian maupun Ustadz Alfi atau Hafsa. Semenjak Dian yang empat tahun menghilang dari lingkup keluarganya. Lebih tepatnya bukan menghilang tapi menghindar. Meski begitu terbukti apapun yang terjadi, Ustadz Alfi tidak berpaling sedikitpun darinya.
Rasa istimewa terus terasa dan mekar dalam hatinya. Hati yang butuh banyak perhatian dan kasih sayang ketika mendapatkan cinta dari seorang laki laki sebaik Ustadz Alfi menjadi tenang damai. Arti cinta itu sendiri di dapatkannya melalui pernikahannya dengan sang ustadz.
"ah.. aku seperti tak punya masalah apapun dengan pelukan ini. semuanya sebab kamu mas dan anak kita."batin Dian yang terus saja menerbitkan senyumannya sejak tadi saat dimana pertama kalinya di peluk.
"senyum terus dek?"bisik Ustadz Alfi tersenyum manis.
"karna kamu mas"bisik Dian seraya menggenggam erat tangan milik Ustadz Alfi. Tentu dibalas genggaman erat oleh tangan hangat itu.
"telah lama aku menunggu ini. dimana saat mereka berpelukan dan hanya senyuman yang dipancarkan."bathin Umay yang ikut tersenyum menggenggam erat tangan istrinya menyalurkan rasa bahagia akibat pemandangan di depannya. Sementara Rida mengerti akan itu dan memasang senyum indah saat matanya bertabrakan dengan suaminya.
Tak lama Dian melepas pelukannya. Ia menurunkan Hafsa yang sedang tadi tersenyum tapi merasa malu. Itupun membuat Dian mengerutkan keningnya sesaat.
"kenapa sayang?"tanya Dian
"em.. anu umi. hafsa sudah besar tentu berat. umi jangan gendong hafsa lagi nanti keberatan."ragu Hafsa seraya tersenyum malu.
"siapa yang bilang kamu berat? menurut umi masih enteng tuh. sama sekali tidak berat bagi umi"balas Dian tersenyum mengelus pucuk kepala milik Hafsa yang tidak memakai penutup apapun.
Kemudian Dian menghampiri Intan dan membuka tas bak kotak doraemon itu. Tas tersebut terbuka lalu terlihat pashmina hitam miliknya. Dian pun menuntun Hafsa untuk duduk di meja yang menjadikan tinggi anaknya setara dengannya. Dengan telatennya ia memasangkan pashmina hitam itu di kepala Hafsa.
Dian sesekali melemparkan senyumnya dan membuat Hafsa ikut membalas senyuman tak kalah manisnya. Melilit kepala itu dengan hati hati sampai menutup rambut panjang hitam legam nan indah milih Hafsa tertutup seluruhnya. Di berbagai titik, Dian memberikan peniti dan sedikit menata posisi kain itu agar enak dipandang.
"sudah selesai"seru Dian yang memperlihatkan Hafsanya agar dilihat oleh semuanya.
"terimakasih umi"ucap Hafsa yang terlihat cantik dan menggemaskan sebab dipakaikan hijab oleh Dian.
"sama sama sayang. Kamu cantik"puji Dian.
"umi juga cantik"senyum malu Hafsa.
Memang harus diakui kadar cantik milik gadis kecil itu sangatlah sangat terlihat. Apalagi matanya cokelatnya yang mendapat gen dari abinya dan senyuman manis yang mendapat kebiasaan dari uminya membuatnya mempesona. Entahlah jika dewasa nanti akan seperti apa kecantikannya.
"maaf ya abi tak bisa menutupnya"ucap Ustadz Alfi. Hafsa menoleh dan melompat memeluk abinya seperti koala membuat Dian terkekeh kecil.
"sayang, abinya bukan pohon"canda Dian membuat semuanya tertawa. Sedangkan Ustadz Alfi menggendong Hafsa dengan benar.
__ADS_1
"gak apa apa abi. Semoga dosa abi ditiadakan sama Allah karena rambut Hafsa kelihatan."ucap Hafsa mengalungkan tangannya di leher abinya.
"aamiin"serempak semuanya.
"Aamiin, terimakasih sayang"senyum Ustadz Alfi. Ia begitu bangga dengan putrinya. Tentu semuanya akibat didikannya yang tepat dan tersimpan dibenak Hafsa selalu.
Semuanya terfokus dengan interaksi anak dan ayah tersebut. Sesekali melempar senyum mereka melihat keduanya tersenyum. Ustadz Alfi dan Hafsa bagaikan pinang dibelah dua. Wajahnya atau sikapnya mirip sekali dengan Ustadz Alfi walaupun saat kecil Hafsa mirip sekali dengan Dian. Sedangkan Dian, ia merasa sangat gembira dalam hatinya melihat kedekatan antara suami dan anaknya. Tapi, ucapan Zaki membuatnya menoleh.
"umi yan, pitu tanannya meyah yaa"tanya Zaki yang tak sengaja melihat tangan kanan milik Dian memerah. Tentu itu membuat Ustadz Alfi mendadak melihat istrinya menyelidik. Hafsa telah turun dari gendongan abinya dan juga menatap Dian penasaran.
"apa itu benar dek?"tanya Ustadz Alfi yang berjalan mendekat kearah istrinya.
Dian nampak gelisah dan terus berpikir secara keras demi menemukan sebuah alasan. Alasan yang tepat untuk meredakan tatapan menyelidik itu dari raut wajah ustadz Alfi. Karena jika tidak suaminya ini akan melarangnya berbuat apapun. Tatapan selidik yang diberikan bagaikan pisau tajam melayang menanti tujuannya.
"em… hehe mas kamu deket deket gini sih. Tadi kan udah kangen kangennya. Nanti aja yaa kl sudah selesai masalah ini"senyum Dian secerah matahari dan itu di balas senyum pepsodent milik ustadz Alfi. Bahkan gigi bersih nan putih milik laki laki tersebut terlihat berjejer rapi di dalam mulutnya membuat wajah tampannya terpancar.
"sini tanganmu."pinta ustadz Alfi seraya tersenyum.
"kamu mau ngapain mas? Tanganku kotor, jika kamu menyentuhnya nanti ikut kotor deh. Kamu pasti bercanda kan? Haha… Ah ternyata suamiku suka bercanda."ucap Dian tertawa manis di depan ustadz Alfi.
"mas serius"ucap ustadz Alfi yang dengan cepat berganti wajahnya menjadi sangatlah serius padahal tadi ia tersenyum.
"Jujurlah kepada suamimu nduk"begitulah tatapan mata Ayah Ahmad yang dapat dimengerti oleh Dian. Sementara Ustadz Alfi terlihat memikirkan suatu cara agar Dian memperlihatkan tangannya.
"ekhem"dehem ustadz Alfi memecahkan keheningan antara mereka.
"ah..iya mas?"sentak Dian terkaget.
"cincin yang sudah mas berikan masih ada di jarimu tidak dek? Perlihatkan padaku"senyum ustadz Alfi penuh arti namun tanpa sadar Dian mengangguk setuju dan mengulurkan tangan kanannya.
"masih ada kok. Ini mas"seru Dian.
Tangan kanannya yang berlingkar di jari manisnya itu terlihat sangat indah tapi yang dilupakan ialah telapak tangan yang diperlihatkannya untuk ustadz Alfi. Dan itu letak luka besut akibat tali tambang yang membantu Dian agar bisa ke lantai atas tanpa membuat keributan. Namun malah terjadi sedikit insiden kecil gara gara hebohnya melinda. Hadeeh
"tuhkan, tanganmu besut"omel ustadz Alfi tapi dalam matanya terdapat rasa khawatir.
Semuanya hanya bisa menonton saja dan memulihkan tenaga dengan duduk di lantai. Intan membuka tas ranselnya lalu mengambil cemilan buatan Dian untuk Zaki dan Hafsa. Terlihat kedua bocah itu sangatlah lapar apalagi tak perlu waktu lama cemilan itu tersisa sedikit. Selain cemilan, Intan juga mengambil kotak p3k yang tentu saja diterima oleh ustadz Alfi.
__ADS_1
"sini biar mas obati, kl tidak nanti bakal infeksi. Walau itu hanya luka besut"pinta ustadz Alfi seraya membuka kotak p3k.
"mas, ini gak sakit kok"tolak Dian. Ustadz Alfi mengerutkan keningnya lalu meraih tangan itu.
"tuhkan gak sakit mas"ucap Dian yang melihat suaminya memegang letak lukanya.
Ustadz Alfi tak habis pikir dan akalnya untuk mengungkap rasa yang dirasakan oleh Dian. Secara di ingat ingat olehnya bahwa istrinya ini sangatlah menutupi rasa sakit agar semata mata tidak membuatnya khawatir. Dilihat istrinya tersenyum simpul dan tidak menatap tangan yang dipegangnya, membuatnya dengan rasa tak tega menekan luka besut itu.
"awww… mas sakit tanganku. Ngilu tau oops"keluh Dian tanpa sadar langsung menutup mulutnya reflek.
Pletak,, ustadz Alfi menyentil dahinya.
"aww"pekik Dian seraya mengelus dahinya dengan tangannya yang lain.
"katanya gak sakit. Jangan bohong dek"tegas ustadz Alfi dengan telaten memulai mengobati luka itu.
Ucapannya berhasil membuat istrinya diam menurut dan melihatnya yang sedang sibuk mengobati. Setelah itu, tangan Dian telah berhasil di perban. Besut itu memang terlihat biasa saja tapi saat alkohol menyentuh luka itu ditambah telah ditekan oleh ustadz Alfi, tiba tiba saja darah sedikit demi sedikit keluar. Sekarang hanya terlihat Ikatan perban kecil seperti pita kecil telah selesai dan rapi.
"makasih mas"ucap Dian melihat perban itu tersenyum seraya menoel pipi ustadz Alfi sebelah kanan secara gemas.
"sama sama"balas ustadz Alfi menarik pelan hidung Dian.
"sebaiknya kita harus segera pergi dari sini dan sampai di titik berkumpul tadi."ucap Dian yang dianggukki oleh semuanya.
Setelah beberapa waktu berdiam diri di ruangan itu, mereka akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan keluar dari mansion ini. Dian, Intan dan Melinda memimpin jalan tapi kadang mereka sangatlah pusing menemukan jalan keluar dari mansion ini. Mansion besar dan luas seperti labirin yang tak tentu arah.
Sampailah di koridor mansion ini yang bagaikan perempatan jalan. Mereka berjalan perlahan lahan sesekali melihat situasi. Dian menghentikan langkahnya sebab terdengar langkah kaki yang tampak mencurigakan.
"berhenti"pinta Dian membuat semuanya ikut berhenti.
bersambung…
🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢
Hallo permirswah, gimana epsnya neh?
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
__ADS_1
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,
Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘