
Gulir kehidupan terus berpola membentuk kegembiraan, kesedihan, keresahan dan kemarahan sampai semuanya pasti akan bertemu seperti transisi yang nyata di depan mata manusia.
Manusia yang hidup tentu merasakan semua transisi yang bergulir dengan berbagai pola tersebut. Mau seperti apa ciri khas Manusia maupun perilakunya selama ia masih bernafas dan berpijak pada tanah di muka bumi ini.
Salah satu transisi tersebut sedang menggambarkan suasana hati milik seorang wanita. Wanita itu terdiam menatap kertas kertas yang tersusun rapi di atas meja depan matanya. Wajahnya tampak melamun dengan dunianya sendiri tapi itu semuanya tak akan ada yang bisa menebak isi hatinya saat ini.
Pola kekhawatiran terus terukir di dalam hatinya. Banyak pikiran berserabut dalam benaknya. Setiap selesai sholat, setiap jam dan setiap detik yang dilewatinya selalu terselip doa serta harapan tak akan absen dari dalam hati maupun dari mulutnya.
Usaha yang sudah terlampau oleh waktu, tak kunjung mendapat kepastian diatas kegelisahan bahkan sakit di tubuhnya tak bisa mengalahkan rasa keingintahuan tentang kabar baiknya. Ia selalu memeriksa segala sumber demi menemukan hal yang sedang digalinya dan dibutuhkannya untuk mengurangi rasa khawatir yang terus mengukir indah dalam hati.
Ia adalah Dian. Selama 5 hari ini tak bisa tenang setiap mengerjakan tugasnya sebagai pembina. Bahkan komandan Agha sampai kadang kala turun tangan membina sebab sudah tak ada urusan mendesak lagi. Beliau sudah tidak pernah keluar untuk dinasnya dan hanya mendidik bibit perwira pembela negara.
"Hahh"
Hembusan nafas berat terdengar dari kesunyian ruangan rapat ini. Ruangan rapat memang sangatlah luas. Di sekat sekat oleh tembok untuk pembagi antara ruangan satu dengan lainnya.
Kini Dian menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Warna kulitnya sudah tak seputih dulu lagi walau hanya sedikit menurunnya tapi tetap membuatnya menjadi cantik alami. Ia terduduk di kursi yang depannya terdapat monitor komputer berlayar hitam. Di belakangnya ada monitor cctv dan mic yang nyambung ke speaker setiap tiang bangunan asrama.
"kemana kamu mas? Kenapa aku hubungi tidak diangkat sejak kemarin kemarin."pikir Dian yang menyandarkan kepalanya di kursi khas perkantoran. Saat ini Dian hanya mengurus Administrasi dan pemberi informasi di pengeras suara.
Tiba tiba suara dering dari telepon kabel merk panasonic berwarna putih mengalihkan fokus pikirannya. Dengan segera telepon tersebut diangkat olehnya.
Dian : "Hallo, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Dengan siapa, Ada yang bisa saya bantu?"
Penelpon : "Hallo sayang"
Dian : "Maaf, ini siapa yaa?"(keningnya sekarang mengerut tanda tak mengerti)
Penelpon : "apa kau sudah melupakan ku ? Aku ini suamimu"
Dian : "tidak. Anda sangatlah asing dan jarang terdengar. Saya tentu bisa mengenal siapa suami saya sendiri. Siapa anda sebenarnya ?
Sementara di sana, penelpon itu tersenyum sebab mendengar ucapan Dian. Rendi sungguh tak bisa melabui Dian dengan bentuk apapun. Sedangkan yang lainnya mendengar. Semua keluarga Dian & Ustadz Alfi benar benar terkurung di markasnya. Selain Kakek Ilham dan Kyai beserta Guz Agung yang masih tidak curiga apapun.
Rendi : "kamu pura pura lupa denganku ?"
Dian : "maaf dengan segala hormat, saya benar benar tidak mengenal anda sama sekali"
Rendi : "suaramu sangatlah indah, walau sedang kesal"
Dian : "baru kali ini saya merasa jengkel dengan penelpon seperti anda dan rasanya saya begitu menyesal mengangkat telpon ini"
Rendi : "ah.. Begitu kah? Jangan lah kesal nanti bibirmu tidak terasa manis lagi. Oiya bagaimana rasanya ?"
Dian : "Masya Allah, anda benar benar tidak sopan. Jika kau ingin bertanya rasa manis dari bibirku, kenapa kau tidak sekalian saja sana bertemu lalu bertanya pada suamiku. Ia tahu rasanya" (Dian nampak sudah kesal)
__ADS_1
Rendi : "Hahaha santai babe. Kau sangat sensi sekali menerima telepon dariku"
Dian : "Dasar gila"
Tut..tuuuut..tuuuut
Telpon ditutup dengan sepihak oleh Dian. Itu membuat Rendi terkekeh sebab berhasil menyebabkan Dian kesal hari ini. Ia pun menatap kearah depan yang terdapat Ustadz Alfi.
Ketika mendengar tindak kurang ajar Rendi untuk Dian, Ustadz Alfi menahan api yang terus membara dalam hatinya. Ia tak terima jika ada laki laki yang memanggil istrinya dengan sebutan sayang. Tapi ia harus menekan paksa emosinya dalam dalam, sebab dirinya tidak bisa bergerak bebas dari tali yang mengikat kuat.
"em.. Nyalakan proyektor itu. Aku ingin menghubunginya dengan cara video call."perintah Rendi kepada anak buahnya.
"baik bos"sahut anak buahnya dengan segera menyalakan proyektor.
💤💤💤
Dian merasa sangat kesal dan hampir saja telepon kabel itu melayang terbang bebas diudara. Suara di telepon memang terdengar sedikit dikenali tetapi ia lupa sebab jarang mendengar.
"sebenarnya siapa sih yang telepon? tujuannya apa coba pakai manggil kek gitu."oceh Dian yang masih tidak habis pikir dengan penelpon tadi.
"manggil sayang sayangan lagi. Jijik banget ihh. Tapii… saat mas Alfi memanggil seperti itu, aku merasa senang dan tidak kesal begini. Hahh.. Kl ingat kamu aku, jadi kangen mas"pikir Dian seraya mengambil gelas berisi air lalu meminumnya demi menghilangkan emosinya yang hampir datang bertamu di hatinya.
Layar komputer menyala sendiri dengan adanya pesan tak terduga. Isi pesan tersebut adalah link untuk melakukan video call. Siapa lagi ini yang menghubunginya ? Apakah ia sedang dikerjai seseorang ? Apakah harus menerima pesan tersebut lalu meng klik link yang ada ?
Demi menghalau rasa penasarannya yang sudah membludak dan sungguh sangat menyebalkan jika harus berpikir. Karena ia harus menghemat pikirannya untuk menyelidiki keberadaan suaminya beserta semua keluarganya. Sesungguhnya ia telah menerima kabar bahwa keadaan rumah di jakarta telah kosong dengan barang yang masih pada tempatnya.
Dian meng klik link tersebut dengan yakin. Muncullah kode sistem yang menyatakan bahwa sedang memproses semua tindakannya tadi. Sembari menunggu, ia pun mengambil gelas kosong dan meletakkannya di sudut ruangan. Lalu sedikit mengecek cctv dan sesekali melirik jam.
"sedang apa kau disana?"tanya Rendi dari video conference tersebut. Dian pun menoleh kearah layar monitor tersebut dan bergerak sedikit demi membuatnya melihat siapa yang memanggil sebab tubuhnya tertutup lemari arsip.
Kini Dian menghadap sempurna di layar komputer tersebut. Rendi terpana dengan tampilan Dian saat ini. Wanita beranak satu itu memakai blazer hitam yang dihias sedikit pola batik berwarna emas berbentuk burung cenderawasih di pinggangnya. Blazer itu sendiri menghias indah tubuh Dian yang semampai itu sampai diatas lutut. Celana nya warna hitam yang senada dengan hijab pashmina nya serta bros perpaduan flora & fauna melengkapi keanggunan yang terlihat menguar walau usianya bahkan lebih dari 25 tahun. Wajahnya ber makeup natural dan fresh menambah kecantikan alaminya.
Dian nampak terdiam mencoba mengingat siapa yang menghubungi untuk video call. Sedangkan di markas Rendi, semuanya melihat keadaan Dian masih baik baik saja menjadi lega.
"subhanallah, kamu tambah cantik dek. Mas jadi rindu. Kapan kita akan bertemu lagi sayang? Alhamdulillah jika kau telah membaik"bathin Ustadz Alfi yang menatap wanitanya di layar proyektor tersebut yang rendi sengaja melakukan itu untuk memberikan kesempatan mereka melihat Dian.
Dian terlihat sudah mengingat siapa laki laki yang menghubunginya. Ia bersedekap dada dan menatap Rendi dengan tatapan dingin. Lalu berdecak kesal tak kala harus menghadapi Rendi.
"ck, ternyata kamu. Pantas saja"ucap Dian.
"sepertinya kau sudah mengenaliku sayang."senyum Rendi.
"tentu, aku mengenali siapa saja yang ku temui dalam hidupku. bahkan membekas"ucap Dian tersenyum manis tapi kemudian tampak cuek lalu berjalan menduduki kursinya.
"wahh, membekas sekali yaa nampaknya dihatimu. Hari ini kau tampak cantik"goda Rendi.
__ADS_1
"tentu saja membekas. Semua perlakuan palsumu sangat ku simpan dengan baik. Dasar murahan"ucap Dian yang kemudian kembali tersenyum penuh arti.
"haii, bukankah hanya wanita saja murahan"balas Rendi.
"hahaha… hanya wanita. Hmm… tidak hanya wanita saja loh. Laki laki juga bisa murahan. Umbar kata cinta tapi ujung ujungnya nyakitin. Umbar kata janji tapi malah ingkar. Umbar kata sayang tapi dibuang. Dan salah satu contohnya yakni kau. Laki laki murahan tak berkualitas."sindir Dian tepat menusuk jantung Rendi. Terlihat Rendi terbatuk karena tersedak salivanya sendiri.
"bagaimana dengan suamimu itu? bukankah pernah melakukan hal sama padamu. Nyakitin"ucap Rendi. Ia melempar serangan Dian kepada Ustadz Alfi.
"maksudmu mas Alfi ? kau bodoh atau kelebihan kapasitas licik di otakmu itu. Aku bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mas Alfi jelas berbeda darimu."ucap Dian.
"apanya yang berbeda. Dia sama sama laki laki sepertiku. Tentu punya rasa selain denganmu"ucap Rendi yang merasa bahwa ia sama saja dengan Ustadz Alfi.
(woy lah sadar dong ren, Ustadz sama kamu tuh beda banget. Bagaikan samudra dengan selokan wkwk 😁)
"jangan sama samain kamu sama Mas Alfi. Memangnya aku buta gak bisa bedain. Semuanya juga bisa lihat kok bedanya kamu sama mas Alfi itu banyak banget"balas Dian seraya menggeleng kepalanya menghadapi Rendi. Pliss lah kenapa harus debat sama orang gila begini…pikirnya.
"aku memang buta saat itu. Belum mengenal lebih dalam tapi sudah masuk ke dalam jeratanmu. Tapi kamu lebih picek. Kamu gak lihat ketulusanku dan cintaku. Kamu ninggalin aku begitu saja seperti sampah yang sudah diambil lalu kamu buang.… "
"Jangan kepedean. Aku move on darimu itu hanya 2 jam. Tapi aku sangat bersyukur kl bukan kamu khianatin mungkin saat ini aku gak ketemu mas Alfi atau yang lainnya. Jika aku menikah denganmu, tak akan tinggal di jakarta lagi. Alhamdulillah berkat rasa malu dan rasa sakit yang kamu berikan. Aku menikah dengan mas Alfi"
Saat mengucapkan itu terlihat Dian seperti sedang curhat. Kadang wajahnya terlihat serius, lalu bersedih dan yang terakhir tersenyum bahagia ketika nama Ustadz Alfi tersebut oleh mulutnya.
Melihat istrinya seperti itu, Ustadz Alfi bersyukur juga dalam hatinya. Dipertemukan dengan Dian yang punya karakter yang baik walau kenyataan yang baru diterimanya saat ini bahwa Dian memiliki riwayat penyakit mental sejak kecil. Namun apa pun itu, Ia tetap menerimanya dengan Ikhlas dan cintanya terus bertambah saat tahu Dian perlu seseorang yang mengerti tentang hatinya.
"Oiya, aku ingin bertanya serius denganmu"ucap Dian tampak serius kembali.
"bertanya tentang apa"ucap Rendi ikut penasaran seperti semuanya yang melihat keseriusan Dian saat ini.
"kamu menyandera keluargaku kan?"terka Dian.
"betul sekali tebakanmu"seringai Rendi.
"apa yang kau lakukan dengan mereka? Mau mengancamku lagi. Kamu mau apa dariku? Kamu mau Harta atau mau nyawaku?"tanya Dian yang membuat suasana di sana dingin tapi mencekam juga.
"Aku bukan mau nyawamu tapi aku tertarik mengajukan persyaratan kepadamu"ucap Rendi membuat Dian berpikir sejenak.
bersambung...
🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢
Hallo permirswah, gimana epsnya neh?
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,
__ADS_1
Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘