Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Tidak akan pernah berubah (flashback)


__ADS_3

"hafsa seneng. Ternyata umi berada di tangan yang tepat."ucap hafsa.


Semua memang berat dan sangat berat untuk ia hadapi. apalagi ini Adalah seorang yg telah melahirkannya membuat hafsa kecil tumbuh begitu cepat.


"Masya Allah ini anaknya siapa sih?"senyum ustadz Alfi yg begitu bangga dengan putrinya. Sudah menjadi Anak yg baik, kakak yg bertanggung jawab dan ramah dengan orang disekitarnya.


"Anak abilah. Kan abi yg buat sama umi"ucap Hafsa dengan wajah yg polosnya hohoho


Uhuk…


Ustadz Alfi tersedak salivanya sendiri. Memang benar sih, tapi anaknya ini membuat dirinya malu. Ah, ini sungguh mirip sekali dengan Dian yg pandai membalikkan semuanya.


"haha, al benar benar luar biasa"tawa azzam yg sudah tak bisa tertahan lagi.


"Emangnya Aku salah ngomong yaa?"kikuk Hafsa.


"sudah sudah. Jangan membuat duda yg kesepian ini menjadi tambah nelangsa"ledek Abi Abdurahman.


"abii...alfi bukan duda"kilah Ustadz Alfi.


"sungguh abi tak bisa melupakan kejadian tadi. untung kau menolaknya jika tidak istrimu bakal memenggal lehermu hehe"ucap Abi Abdurahman santai.


"Lagipula dek dian gak sekejam itu"ucap Ustadz Alfi yg sudah mulai muak dengan ledekan abinya ini.


"dian gak mungkin memenggal Alfi, abii. Tapi ninggalin dan nikah lagi sama laki laki lain"timpal Azzam.


"coba aja abi ngelirik wanita lain selain umii. Mungkin hafsa akan setuju dengan umi menikah lagi"ucap Hafsa yg memilih meninggalkan ruang tamu sebab tidak ingin ikut campur perbincangan orang dewasa. Ia memilih ke kamar miliknya yg di tiduri oleh zaki.


"ancamannya mah sadis ya al"ledek Azzam. Sepertinya ia tak bisa mengontrol tawa


Pletakk…


Suara itu membuat yg mendengar mendadak meringis. Sebab ustadz Alfi sudah melempar kunci mobilnya ke kening mulus milik azzam. Sungguh sudah malas di ledekin terus. 


"adduh sakit al"keluh Azzam yg mengelus keningnya.


"oh ternyata kunci mobilku mendarat di keningmu. ku kira ada di nakas sana. Naas, kuncinya nyasar"senyum miring ustadz Alfi seraya membuka kopiyahnya lalu membenarkannya


"ya allah al, gak kasihan sama sahabatnya ini. Bagaimana nanti aisyah milih yg lain"gumam Azzam membuat semuanya menatap dirinya. Aisyah yg mendengar namanya disebut menjadi salah tingkah sendiri 


"zam, tadi ngomong apa? Apa hubungannya dengan aisyah?"ucap Ustadz Alfi penasaran. Ia sebagai kakak laki laki merasa bertanggung jawab penuh dengan adiknya dan menjaga ketat dari laki laki diluar sana tak terkecuali sahabatnya.


"duhh mulut gak bisa di rem apa"batin azzam merutuki ucapannya sendiri. 


"em..enggak kok. Gak ngomong apa apa"kilah Azzam menyembunyikan perasaannya. 


Entah kenapa, aisyah merasa kecewa dengan sahabat kakaknya itu. Ia bingung dan tak mengerti kenapa hatinya sungguh sakit karena ge'er dengan ucapan azzam. 


"sebenarnya ada apa sih dengan diriku? Saat tidak melihatnya, aku rindu. Saat bertemu dengannya, aku kesal tanpa alasan. Dan sekarang kenapa aku merasa ini sakit sekali. Sudahlah aku gak mau mikirin itu lagi…."pikir Aisyah. Ia kemudian mengubah ekspresinya dengan biasa biasa saja. 


Azzam pun terdiam saat melirik sekilas tanggapan aisyah tentang ucapannya. Sebenarnya ia ingin sekali mengungkapkan perasaannya kepada kedua orang tuaorangtua dari gadis yg ia sukai, namun rasanya tidak enak kepada Ustadz Alfi. Bagaimanapun sahabatnya itu harus berjuang membantu istrinya sembuh. 


"sabarlah ais, aku nanti akan meminta restu dari umi dan abi. Tapi setelah ini selesai, rasanya aku ingin memintanya sekarang namun itu sama saja akan memberatkan pikiran alfi. Mungkin nanti jika memang kita jodoh pasti akan dimudahkan sama Allah."batin Azzam. 


Gus Agung yg mengerti pun menepuk pelan bahu Azzam. Ia sudah akrab dengan laki laki itu. Seperti cocok saja. Azzam yg mendapat tepukan semangat itu pun tersenyum yakin.


"insya allah zam, berdoalah terus"bisik Gus Agung. 


"Oiya, katanya Dian mempunyai penyakit itu. Em..maksudku jiwanya terganggu. Apa ada perubahan mendasar atau sesuatu yg berbeda darinya. Sebaiknya kasih tahu, agar ustadz bisa menyiapkan diri"ucap Farhan yg akan bicara. Ia ingin berbicara sesuatu tapi tadi lupa.


"benar itu. Apakah ada Gus?"timpal Ayah Ahmad. 


"ada sih. Tapi tak terlalu jauh paman"ucap Gus Agung.


"maksudnya?"kor semuanya. 


"baiklah. Aku akan menceritakannya."pasrah Gus Agung. 


Sebelum memulai berbicara lagi, ia meminum minumannya sebab tenggorokan milik dirinya serasa seperti di padang pasir. Semuanya tersenyum dan merasa tak enak hati dengan gus Agung yg bak seseorang sedang presentasi itu.


Flashback on…


Semenjak Dian sadar dari komanya dan menjalani rangkaian penyembuhan dari fisik serta psikisnya terdapat banyak perubahannya. Seperti memilih menutup dirinya kepada semuanya kecuali Dokter marisa. 


"sudah 3 tahun Dian sikapnya kenapa berubah ya. Aku merasa asing dengannya"ucap Vira yg menghembuskan nafasnya berat.


"benar, Dian seperti tidak mempercayai kita. Padahal kan sebelum ini tidak seperti itu, mungkin sebab dirinya yg menderita penyakit jiwa"ucap Caca dengan ceplas ceplos.


"huss! Gak boleh gitu. Jangan ngeluh mulu, nanti jika Dian tak nyaman dengan kita bagaimana? Semakin menjauh saja dirinya dengan kita."ucap Agha


"sabarlah sedikit. Ya walaupun kini sudah genap 3 tahun. Tapi dibalik ia bersikap demikian pasti ada sesuatu yg membuatnya seperti ini. Bagaimanapun ia mengalami kekerasan dan perempuan pelakunya. Jadi ia tidak percaya bahwa kita ini baik baik tujuannya."jelas Gus Agung.


"nah itu, makanya ia tidak mau percaya sama orang lain. Berprasangka baiklah pada sahabat kalian. Berdoa saja apa yg terbaik untuknya"timpal Agha. 


"iya maaf"kor Vira dan Caca.


3 tahun ini, Agha sudah menyelidiki seluk beluk kejadiannya dan mereka sudah tahu siapa dalang dibalik semua ini. Namun apalah daya mereka menghadapi seorang mafia yg bahkan buronan negara. Agha bukan tak mampu tapi belum saja menemukan celahnya.


"sudahlah sebaiknya kita ke dalam"Singkat Gus Agung.


Mereka berempat membelikan makanan untuk Dian. Hari ini jadwalnya menjenguk ke rumah sakit. Pintu diketuk dan terbuka...


Terlihat dokter Marisa sedang menyisir rambut panjang milik Dian. Bahkan mereka seperti anak dan ibu. Lihatlah Senyum Dian terbit bersama dengan dokter Marisanya. Sungguh membuat mereka merasa iri dengan interaksi itu. 


"dokter, apa rambutku kusut?"tanya Dian. Ia merasa hari ini belum bisa keramas sebab sehabis operasi.


"tidak dong. Rambutmu seperti perosotan anak kecil. Licin dan kinclong hehe"jawab dokter marisa. 


Dian yg terduduk di kursi roda hanya menyunggingkan senyum dan sesekali terkekeh kecil mendengar ocehan dokter kesayangannya. Kaki serta tubuhnya belum membaik, apalagi sehabis operasi.


"assalamualaikum"salam agha,gus agung, vira dan caca.


"waalaikumsalam"jawab Dian yg kembali berwajah ketus.


"pagi dok"sapa mereka lagi.


"pagi.... Silahkan kl mau berbicara dengannya, aku akan keluar"ucap dokter marisa yg sontak membuat Dian bereaksi dengan menahan tangannya.


"dokter jangan pergi"cegah Dian saat dokter Marisa ingin pergi keluar ruangan.


"apa kabar mu?"tanya Vira tersenyum ramah seraya mendekat sedikit ke arah sahabatnya.

__ADS_1


Dokter Marisa seperti sport jantung melihat vira nekat mengelus tangan kanan Dian lalu menatap lembut seperti biasanya mereka berteman. Padahal ketika sudah sadar, Dian galak dan ketusnya minta ampun.


Dian yg diperlakukan seperti itu mendadak terdiam melihat tangannya di elus. Ia merasa seperti begitu diperhatikan dan disayangi oleh vira.


"um..baik"jawab Dian membalas dengan ragu ragu menyentuh tangan vira.


Semuanya merasa sungguh bahagia dengan kemajuan itu. Dian sudah tak segalak waktu itu lagi yg bahkan tak segan membentak vira ataupun caca. Tapi sekarang ia sudah sedikit melunak dengan hanya perhatian kecil. 


Dokter marisa menyimpulkan bahwa Dian butuh banyak perhatian. Ia sudah merencanakan sesuatu untuk kesembuhan pasiennya. 


"oiya kamu gak istirahat"ucap caca basa basi.


"bosan istirahat terus."ucap Dian singkat.


"kan baru habis operasi. Jadi harus istirahat dulu"nasehat vira. Namun Dian meminta dokter Marisa untuk membawanya keluar.


"dokter aku mau keluar"rengek Dian yg memelas.


"tapi kan…"ucap dokter Marisa terhenti sebab Dian terdiam sepi membuatnya tak tega.


"baiklah. Hanya sebentar saja, kita ke taman"ajak dokter Marisa yg beralih mendorong kursi roda tersebut. 


Gus Agung hendak berbicara dan mencegah keluar sebab Dian sama sekali tidak memakai penghalang di rambutnya. Ia bahkan hanya melirik sekilas wanita yg sudah dianggap adik olehnya. Ia galau dan takut nanti bagaimana ustadz Alfi tahu istrinya membuka hijab lalu berani keluar. 


Sementara itu…


Dian dan dokter Marisa telah sampai di tamanditaman yg letaknya di lantai dasar. Dari ruangannya, hanya perlu menggunakan lift sebentar sudah sampai. 


Taman rumah sakit sungguh membuat hatinya tentram. Apalagi pemandangan pagi hari berlatar belakang kota yg letaknya seperti jauh di ujung taman. 


Dian senang akhirnya bisa keluar dan itu diizinkan oleh dokter Marisa. Sebab sebelum ini ia bahkan tak kau keluar dan tak mau berinteraksi dengan orang lain. 


Puas melihat lihat tanpa ingin beranjak. Dian tersenyum menatap hamparan bunga bunga yg berbagai macam warnanya. Pikiran dan hatinya menjadi sinkron kembali. Ia pun tersadar bahwa sampai detik ini ia merasa sepi tanpa beribadah. 


"Astagfirullahaladzim, aku sungguh sudah jauh darimu ya allah"gumam Dian. 


"Tuhanmu pasti sangat menyayangimu. Bahkan kau juga masih berkesempatan melihat keindahan di dunia. Jadi sekarang harus sangat bersyukur kepada Nya dan cobalah mendekatkan diri lagi."nasehat dokter Marisa.


"terimakasih dokter. Akan ku coba"ucap Dian. 


Jujur hatinya tidak merasakan apa apa sebelum ini. Bahkan ia sudah tergolong jauh. Tapi dirinya sadar, jika seseorang yg jiwanya terganggu akan sulit merasakannya. Apalagi ditambah hilang ingatan.


Senyuman Dian terus mengembang sebab melihat anak kecil sedang bermain dengan lucunya. Namun ia kecewa pada dirinya sendiri yg tidak becus menjaga baik baik buah hatinya. Kemudian ia mengalihkan netranya menelusuri seluruh taman, dan mengalihkan pandangan karena ada yg menatap kepadanya mendamba.


"risih sekali ditatap seperti itu, aku jadi tidak nyaman disini"gumam Dian.


"dokter, ayo kita kembali"ajak Dian yang menghindari tatapan itu dengan menggerakkan kursi rodanya memutar.


"loh katanya mau disini tadi. Baru saja 45 menit"heran dokter Marisa.


"em..aku ingin ke dalam ruanganku saja dok."ucap Dian dengan wajah yg tampak menghindari sesuatu.


"yakin?"ragu dokter Marisa. Dian pun mengangguk.


"okey."singkat dokter Marisa seraya mendorong kursi roda tersebut menuju lift. 


Dian nampak begitu risih ketika melewati resepsionis yg letaknya dekat dengan lift. Sepertinya hatinya sudah mulai melunak dan ia berniat untuk kembali ke jalan Nya. 


"Assalamualaikum"salam Dian.


"waalaikumsalam"jawab ke empat orang didalam ruangannya.


"lho udah yan? Tadi katanya mau ke taman"bingung caca.


"gak mau deh, habisnya ada singa kelaparan"oceh Dian yg mengadu dengan caca dan semuanya.


"singa kelaparan?"ulang mereka termasuk dokter Marisa.


"di taman aku diliatin terus sama laki laki asing. Ia menatapku begitu mendamba dan aku risih diperlakukan seperti itu"ucap Dian.


"oh begitu, bagaimana jika kamu memakai hijab yan?"saran vira.


"sepertinya memang harus. Aku risih sekali ditatap begitu. Tapi aku tidak punya hijab ataupun penutup aurat lainnya"lesu Dian. 


"jangan risau, aku akan membelikanmu hijab"ucap Gus Agung.


"aku juga akan membelikanmu gamis"kor vira dan caca.


"aku akan membelikanmu sepatu dan kaos kaki"ucap dokter marisa. Ia sedikit paham tentang ketentuan berpakaian secara syar'i karena mengingat foto di instagram ustadz Alfi yg banyak memperlihatkan istrinya sedang endorse pakaian syar'i bersamanya. 


"haduh aku mau beli apa dong"bingung Agha yg membuat semuanya terkekeh kecil.


"beliin peniti atau bross aja. Kan pas tuh"ucap gus Agung memberi saran.


"boleh"ucap agha manggut manggut setuju. Semuanya terdiam sejenak dengan senyuman yg masih terbit.


"oiya, aku membawa makanan nih untukmu"ucap vira memberi berupa satu kotak nugget, satu kotak salad buah dan satu kotak nasi & lauk pauk.


Dian yg diberikan 3 tumpukan kotak merasa bingung. Ia sudah sarapan tadi dengan makanan dari rumah sakit lalu temannya memberikan ini dan membuat dirinya bimbang dan galau sendiri.


"em..aku sudah makan tadi. Bagaimana jika aku menerima salad buahnya saja"ucap Dian yg ragu seraya menatap sungkan ke arah pemberinya. Semuanya terdiam yg semakin membuatnya tak enak hati. 


"ya sudah aku terima saja deh"simpul Dian yg kemudian beranjak keluar dan menutup pintu ruangannya.


"apakah Dian akan membuangnya?"terka caca.


"itu tidak mungkin"jawab Gus Agung.


"kenapa mas?"heran vira.


"lagipula Dian itu sudah dilatih mandiri dan tidak boleh mubadzir sama makanan sejak dini. Jadi mungkin kita beri waktu saja dan lihat keadaannya sekarang"ucap Gus Agung mulai keluar dan duduk di kursi tunggu sambil memperhatikan Dian yg terdiam bingung.


Semuanya pun ikut dan ikut memperhatikan Dian terdiam itu. Mereka jadi kasihan membuat Dian berpikir begitu keras untuk makanan pemberiannya.


"ini aku ambil saja mungkin yaa. Kasihan dian yg jadi begitu sebab tak enak hati"ucap vira.


"biarlah Dian berpikir keras dengan menggunakan otaknya dan itu akan mengurangi gegar otak yg dideritanya."ucap dokter Marisa. Terlihat Dian berbicara pada dirinya sendiri dan mereka dapat mendengarkannya.


"jika aku paksa memakan ini semua, bisa saja ini membuatku muntah. Tapi jika aku buang rasanya tidak sopan begini"ucap Dian seraya melihat terus ke arah kotak kotak yg ada di pangkuannya.


Keadaan hening dan Dian hanya mampu memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Pusing rasanya jika harus berpikir kuat tapi inilah terapi. Tak lama seorang bapak paruh baya terlihat sedang membersihkan lantai….

__ADS_1


"bapak"panggil Dian.


Laki laki paruh baya itu menoleh kearah siapa yg memanggilnya. Dengan memegang berbagai alat kebersihan, ia menghampiri wanita yg tengah duduk di kursi roda. Bahkan mengetahui siapa itu Dian.


"ada apa nak? Ada yg bisa saya bantu"tanya Bapak tersebut.


"bapak sejak kapan bekerja membersihkan lantai disini?"tanya Dian


"sudah 10 tahun bekerja disini. Saya awalnya tki di negara jepang tapi disana tidak betah apalagi jauh dari negara sendiri"jawab bapak itu.


"lama juga ya. Tapi baru pertama kali aku lihat bapak…"ucap dian terhenti sebab tak tau nama bapak di depannya.


"Murdi"bantu pak murdi.


"oh pak murdi"simpul Dian tersenyum. 


Pak murdi sudah melihat bagaimana Dian mempertaruhkan nyawanya di ruang operasi beberapa tahun lalu. Bahkan ia mengenali siapa Dian dan bagaimana perubahan perubahan yg dialami oleh Dian. Masalah menangis sendiri, tertawa sendiri dan emosi sendiri sudah di dengar olehnya. Namun yg ia lihat sekarang justru sangat membahagiakan karena sudah membaik.


"bapak udah makan?"tanya Dian yg sudah masuk ke tujuannya.


"belum nak. Bapak biasanya makannya nanti jam 9. Soalnya sehabis shubuh sampai saat ini harus kerja dulu. Jika sudah selesai barulah makan di kantin rumah sakit"ucap pak murdi.


"bapak kerjanya di gaji hanya uang makan saja"sedih Dian yg tiba tiba.


"tidak nak. Digaji perbulan dan di gaji perhari untuk makan."kilah pak murdi yg seketika khawatir jika Dian bersedih hanya masalahnya.


"bapak koq sendirian saja?"tanya Dian kembali.


"em..iya. awalnya saya bersama istri namun 6 tahun lalu sudah tiada"ucap pak murdi tersenyum getir.


"innalillahi, maaf ya pak."ucap Dian tak enak hati. Bayangan ustadz Alfi pun terlintas di benaknya.


"bagaimana dengan reaksi mas Alfi mendengar aku tiada yaa? Em sudahlah, mungkin saat ini ia sudah bahagia"gumam Dian pelan.


Ia tak tahu jika kania sudah meninggal dunia yg jasadnya di semayamkan di makam atas nama dirinya. Bahkan karma begitu instant dialami oleh wanita yg ia sumpahi itu. Namun negatifnya, ia bahkan berusaha melupakan kenangannya dengan ustadz Alfi sebab tak mau membuat kania tambah nekat karena nya. Sebenarnya, kania kalah start sebab sudah wafat.


"pak, terima ini"tawar Dian. Pak murdi kaget.


"lho tak usah nak. Itu untuk dimakan sama kamu saja"tolak pak murdi halus.


"tapi aku udah kenyang dan temanku memberi ini"ucap Dian. Ia pun terdiam lagi sebab tahu pak murdi akan terus menolaknya dengan pemberian makanan darinya.


...Ting💡...


Bak ada lampu di atas kepalanya, Dian tersenyum penuh makna. Ia melihat bahwa di depan ruangannya sedikit kotor dan berniat untuk menyuruh pak murdi membersihkannya. Haha sungguh ide yg bagus, pikirnya.


"maaf ya pak aku tak bermaksud menyuruh atau dzalim terhadapmu. Tapi ini demi bapak menerima pemberianku"batin Dian bahagia.


"pak, disana sedikit kotor. Apakah bapak bisa membantu membersihkannya."ucap Dian memohon.


"baik nak"jawab pak murdi yg menurut saja dengan Dian. 


Gus agung, vira, caca, dan Agha mendadak syok dengan Dian yg menyuruh pak murdi begitu saja. Sedangkan dokter Marisa yg peka dan paham dengan pasien bak anaknya itu hanya menggeleng gelengkan kepala seraya terkekeh kecil.


Dengan telaten dan sabar, pak murdi membersihkan lantai itu dengan senang hati. Setidaknya Dian akhirnya mau menyuruhnya bekerja lagi dan ia juga tahu apa tujuan yg terpikirkan oleh Dian tadi. 


"tidak akan pernah berubah"pikir pak murdi yg tersenyum sekilas. 


Akhirnya selesai membersihkan lantai sesuai apa yg dikatakan Dian, pak murdi kemudian pamit dengan Dian. Namun ditahan…


"pak jangan pergi dulu dong. Kan bapak sudah bekerja dengan baik trus masa gak di kasih hadiah."


"nah ini hadiah kotak nasi dan lauk untuk bapak."senyum ceria Dian seraya mengulurkan tangannya di depan pak murdi.


"lalu kamu makan apa nak?"tanya pak murdi yg terus mengikuti alur dari wanita di depannya ini.


"bapak kebagian nasi dan lauk. Berarti aku kebagian nugget dan salad buahnya"sahut Dian.


"Masya allah senyumannya"batin semua orang yg melihat senyum Dian begitu menular siapa saja yg melihat.


"hanya bisa memberi kepada sesama, dian sudah bahagia. Syukurlah ya tuhan"batin dokter Marisa. 


"terimakasih ya nak."ucap pak murdi.


"sama sama. Oiya, kita makan bareng yuk pak disini."seru Dian. 


Awalnya pak murdi ingin menolak tapi melihat Dian sedang happy sekali, ia tak sampai hati merusak suasana hati tersebut. 


"baiklah ayo, baca doa dulu sebelum makan"ucap pak murdi yg meletakkan alat alatnya dan mencuci tangan di wastafel. Lalu duduk di kursi tunggu yg berhadapan dengan Dian dan bersama dengan semua orang yg mengawasi gerak gerik Dian.


Terlihat Dian muncul nafsu makannya dan perlahan membuka kotak nugget. Di dalamnya terdapat saus yg ia taburi di atas tumpukan nugget tersebut dan memakannya dengan menggunakan garpu. 


"kita tak boleh soudzon dengannya, kasihlah perhatian perhatian kecil agar nyaman bergaul dengan kalian."ucap pak murdi yg menasehati mereka dan memilih makan pemberian Dian. 


Pak murdi sudah lama mengurusi lantai yg Dian tempati. Bahkan sudah pengalaman berhadapan dengan orang orang seperti Dian ini. Namun setelah berinteraksi dengannya, mereka para pasien akan menurut dengan apa yg dikatakan suster atau dokter penjaganya.


Flasback off…


"beliau adalah orang yg luar biasa"ucap Gus Agung mengakhiri ceritanya.


"subhanallah, beliau memang sangat baik ya jika sampai orang yg sedang mengalami gangguan jiwa bisa melunak dengan interaksi bersamanya"simpul Ustadz Alfi.


"karena beliau memiliki istri yg sama mempunyai penyakit itu. Dan kemudian harus berduka atas kepergian mendiang istrinya yg tertabrak di depan rumah sakit sebab kabur dari RSJ yg tak jauh dari sana. Itu sih kata dokter rinai"sambung agha.


"innalillahi, mungkin ini hikmah dari suatu peristiwa"ucap Abi Abdurrahman.


"oiya Ustadz mau kapan kesana nya?"tanya Agha.


"Sebaiknya harus segera, karena kita tidak perlu menunggu kapan lagi. Sebab Dian akan segera gugat cerai, ia tahu bahwa saat ini kania masih hidup"timpal Azzam yg menatap serius semuanya.


"apa?!"kaget Ustadz Alfi.


bersambung...


🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,

__ADS_1


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘


__ADS_2