Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Mungkin Ini Akhirnya


__ADS_3

Langkah kaki mendekat ke arah mereka yang sedang menunggu mobil kembali lagi. Dian menoleh sebab hentakan kaki dari beberapa laki laki itu sangatlah familiar. Bagaimana tidak, suaranya hampir membangunkan para tetangga sedang tidur siang hehe. 


Itulah Komandan Agha yang sedang berjalan bersama Farel, Ridho, dan Wahyu. Raka & Brian yang melihat Komandan Agha langsung sigap memberi hormat dengan sopan.


"Komandan"kor Raka & Brian yang mengambil sikap hormat walau dengan wajah menahan ringissan agar tak keluar dari mulut mereka. Benar benar sangat menghormati atasan sekaligus kakak pelatihnya dahulu. Tanpa Komandan Agha, mereka berdua tidak akan bisa ada di posisi saat ini.


"Sudahlah, kalian sedang terluka lebih baik tidak usah. Lagipula kalian sudah kuanggap sebagai bagian dari keluarga sendiri"


"aku juga bangga dengan usaha kalian saat ini"terang Komandan Agha yang membuat senyum terbit dari wajah Raka & Brian. Senyuman mereka memang identik terlihat seperti kembar tapi kenyataannya mereka kenal sebab di asrama.


Semua melihat dengan jelas bagaimana Komandan Agha begitu memperhatikan Raka & Brian. Bahkan terlihat sekali bahwa sudah dianggap adik kandung sendiri. Maklum sekali, bahwa Komandan Agha tak punya saudara kandung karena ia adalah anak tunggal. Om Darman ikut tersenyum dan juga terenyuh di dalam hatinya. Ia tak bisa memberikan adik bagi putranya karena Istrinya sudah lama meninggalkan mereka. 


Dian ikut tersenyum juga. Selama ini ia mengamati jiwa kepemimpinan Komandan Agha tak hanya di ruang lingkup profesinya tapi juga seperti seorang kakak. Ia pun juga merasa begitu, Komandan Agha bagaikan pinang dibelah dua dengan Umay, sifat & sikap mereka berdua bagianya sangatlah mirip. Dian melihat sekeliling dan mengerutkan keningnya bingung.


"komandan, dimana caca?"tanya Dian yang melihat kesana kemari menelisik daerah sekitarnya dengan tatapan sedang mencari sesuatu. 


"loh bukannya sama kalian?"Komandan Agha malah balik bertanya. Dian menghela nafas pasrah, lalu perhatiannya menuju Melinda yang akan berbicara. 


"Kak Caca gak sama kita komandan."Melinda sedikit berpikir dan seolah olah mengingat sesuatu lalu ucapannya dibenarkan oleh Dian.


"lagipula caca dari tadi tidak kelihatan. Satu lagi, Handsfree nya tidak ada suara juga."timpal Dian yang mengecek.


"ca?"ucap Dian yang terus menerus memonitor perangkat kecil di telinganya. Tapi hasilnya nihil dan ia mengangkat bahunya yang dilihat oleh Komandan Agha. 


"Ya sudah, sepertinya aku harus kembali ke dalam."Komandan Agha melangkahkan kakinya ke dalam lagi tapi terhenti sebab Dian.


"begini saja, bagaimana jika aku yang mencari dan yang lainnya langsung kirim ke asrama segera mungkin. Nanti gantian agar lebih mempersingkat waktu juga."saran Dian.


"jangan, lebih baik kamu juga ikut sama yang lainnya dan keluargamu juga. Biar ini urusanku bersama Ayah dan beberapa orang disini."tolak halus komandan Agha.


"aku mau mencari caca."kekeh Dian.


"tapi…."komandan Agha melihat wajah tak terbantahkan dari Dian menjadi menyetujuinya. 


"baiklah kalau begitu. Apapun yang terjadi jika bisa tolong segera hubungi kami."ucap komandan Agha menyetujui walau berat hati. Ia tahu jika Dian pasti mengkhawatirkan Caca. Sahabat rasa Keluarga sedarah begitulah pertemanan istrinya. Salah satu dari mereka yang merasa sakit maka yang menangis ada 2 hehe.


"dek, mas ikut"seru Ustadz Alfi yang menghentikan langkah Dian yang ingin berjalan mencari keberadaan Caca kedalam. 


"mas kamu disini aja yaa, tunggu mobilnya kembali lalu segera ke asrama. Aku bisa sendiri"sahut Dian.


"tidak, mas harus ikut. Nanti kita bisa saling melindungi"ucap Ustadz Alfi yang tak mau di tinggal oleh Dian. Ia merasa khawatir yang berlebihan jika istrinya menjauh sejengkal darinya.


"baiklah mas, ayo"pasrah Dian. Ustadz Alfi tersenyum lalu mengangguk dan segera melangkah bersama Dian kearah pekarangan belakang tadi yang mereka lalui.


Sementara di gerbang hanya menyisakan Abi Abdurahman, Ayah Ahmad, Om Darman, Umay, Azzam, Farhan, Faqih, Wahyu, Farel, Ridho, Melinda, Intan, Umi Shita, Bu Mira, Dayu, Aisyah dan Para Tim Medis saja. Tapi Raka dan Brian ikut berada disana karena tubuh mereka sudah lebih baik ikut menunggu diluar menanti Dian & Ustadz Alfi yang mencari Caca.


"kita lewat sana aja mas, seperti tadi aku lewat sini. Semoga ada caca di jalan ke arah sana."Dian berjalan dengan cepat mengikuti langkah panjang milik suaminya.


"Aamiin. Caca pasti baik baik saja karena sahabatnya ini mendoakan yang baik baik"Ustadz Alfi tersenyum meyakinkan, karena ia tahu Dian sedang khawatir sekali.


"siapa dulu dong"senyum bangga Dian keluar.


"Istri yang sholehah, cantik dan manis siapa lagi yang punya kecuali mas"goda Ustadz Alfi yang membuat langkah Dian terhenti dan ia pun mengikutinya.


"mas"senyum Dian lebar tak tertahankan lagi dan menghadap Ustadz Alfi yang berada disampingnya. Lalu merapikan kerudungnya menghalau malu.


"ciee yang malu"tawa Ustadz Alfi. Wajahnya walaupun menguar tampan dan senyumnya tapi bagi Dian sangatlah menyebalkan saat ini.


"mas Alfi nyebelin"kesal Dian mencubit salah satu lengan milik laki lakinya.


"aww, iyaa maaf dek"pinta Ustadz Alfi menjauhkan tangan milik wanitanya yang jika ia sedang dipijit begitu nyaman tapi jika ia sedang dicubit terasa bon cabe level paling pedas. Di genggam tangan itu dan berjalan cepat menuju belakang mansion. Dian yang digandeng manut manut aja seperti anak kecil menurut pada ayahnya.


Mereka serentak tersenyum dan ada juga yang geleng geleng melihat aksi pasutri beranak satu itu. Dian yang nurut dan Ustadz Alfi yang hobinya godain. Yah begitulah yang menjadi ciri khas keduanya jika sedang bersama. 


Sekitar 30 menit kemudian, terlihat caca berjalan ke arah mereka dengan tergesa gesa. Caca berhenti di dekat mereka, terlihat masih saja mengatur pernafasannya yang sesak habis menghindar dari sesuatu.


"Ya Allah, Capek banget"keluh Caca yang kakinya mendadak lemas dan dengan sigapnya Intan menyerahkan botol minum berukuran sedang kepadanya. 


Caca mengucapkan terimakasih dalam tatapannya menerima botol tersebut di tangan kanannya. Lalu ia duduk di lantai kemudian membaca bismillah dan lanjut meminum dengan pelan pelan walau lama lama air itu habis tanpa sisa. Setelah itu Caca berdiri dengan terhuyung tentu saja tubuhnya langsung ditangkap oleh Komandan Agha.

__ADS_1


"kamu kenapa ca? Kok bisa begini"khawatir Komandan Agha yang masih membantu Caca berdiri dengan benar.


"aku.. Lemas mas"lirih Caca. Kemudian Dokter Paula mendekat dan mengamati wajah Caca lalu ia dapat menebak jika ada sesuatu yang membuat Caca lemas.


"obat bius"ungkap Dokter Paula yang di anggukki oleh 3 rekannya.


"apa? Obat bius"kor semuanya.


"em.. Sebenarnya tadi aku diberi obat bius trus dikurung dalam gudang. Tapi aku bisa keluar lewat jendela. Tujuannya untuk menjadikanku taruhan dan umpan untuk Dian"lesu Caca yang menceritakan semuanya.


"Ya Allah, Dian dan Ustadz Alfi dalam bahaya"simpul Komandan Agha yang menyiapkan pistolnya lalu berlari mencari pasangan suami istri tersebut. Begitu pula dengan Wahyu, Farel, Ridho, Raka & Brian melakukan hal sama mempersiapkan pistol mereka masing masing. Semuanya ikut melangkah di bagian belakang mencari keberadaan keduanya dan Caca pun dibantu oleh Aisyah bersama Dayu.


😐😐😐


Sementara Dian dan Ustadz Alfi masih menyusuri belakang mansion besar ini dengan seksama melihat sekeliling. Sejak tadi tak ada tanda tanda Caca disini sama sekali. Hampir saja Dian menyerah dengan hasilnya tapi Ustadz Alfi terus mensupport dengan terus menerus. Bahwa semuanya akan baik baik saja dan Caca bisa ketemu dengan mereka. 


Jujur dari lubuk hati terdalam, mereka berdua merasakan firasat buruk yang akan terjadi. Namun masih berusaha berpikir positif serta berbaik sangka dengan apapun. Hati Dian yang sangat tidak enak sekali sampai terasa nyeri walau karena detak jantungnya sendiri. Ia pun berusaha terus mencari tanpa mengungkapkan bahwa dadanya terasa nyeri pada suaminya yang fokus melihat lihat.


"akhirnya kalian berdua berada di sini, sungguh kebetulan sekali"suara bariton yang disertai senyuman remehnya. Dian dan Ustadz Alfi sontak melihat ke belakang. Betapa terkejutnya, Rendi dan anak buahnya mengepung mereka.


"apa yang kau lakukan?"tanya Dian yang melihat anak buah Rendi mendekat dan bersiap siap menyerang mereka berdua. Ustadz Alfi dan dirinya langsung pasang kuda kuda bersiap melawan.


"hanya sedikit bermain main."senyum Rendi penuh arti. Tangannya menginstruksikan anak buahnya untuk segera menyerang. 


Dian dan Ustadz Alfi mau tak mau harus melawan apapun yang terjadi. Mereka berdua belum ada persiapan apapun apalagi dilihat lihat mereka kalah banding dengan anak buahnya Rendi. 2 orang melawan 15 orang membayangkan saja sudah merasa kurang percaya diri untuk bisa lolos dari serangan itu. Tapi Dian dan Ustadz punya tekad besar dengan hanya mengingat perjuangan mereka akan terbayarkan berkali kali lipatnya jika berhasil membawa keluarga besar mereka dengan selamat.


Bugh, Bugh, Bugh


Srek, Sreet, Bugh


Srek, Gedubrak 


Begitulah suara perkelahian mereka. Dian masih saja fokus dengan serangan dan gerakannya dominan sedikit menurun, mungkin dirinya sudah mulai lelah juga karena sakit di perut atau dadanya yang nyeri hilang timbul membuatnya kurang lihai. Ustadz Alfi dengan gesit mengandalkan bantingan dan melumpuhkan lawannya satu persatu. Sesekali mengawasi keadaan Dian maupun sekitar.


Rendi tersenyum smirk dengan keuletan pasangan itu. Ia memiliki rasa iri dan dendam dengan kebahagiaan Dian tanpa sebab. Apalagi melihat mereka saling melindungi satu sama lainnya. Ia mengambil peluru yang sudah dilumuri sesuatu dan memasukkannya ke dalam senjata tajamnya. 10 orang sudah berhasil tumbang oleh Dian maupun Ustadz Alfi kini hanya tersisa 5 orang yang kekuatannya dapat diacungi jempol.


Saat Dian lengah sebab mengatur nafasnya, Rendi bersiap mengarahkan senjata apinya kearah Dian tepat sekali di titik yang berbahaya jika telah berhasil tertanam peluru tersebut. Laki laki pendendam ini sudah mulai menggunakan senjatanya dan itu tak luput dari pandangan Ustadz Alfi. 


"Dek"panggil Ustadz Alfi menghampiri Dian saat Peluru itu sudah siap melayang di udara menuju sasarannya. Saat itu juga Dian menoleh dan tubuhnya terasa terdorong sedikit dengan tubuh Ustadz Alfi menggantikan posisinya tadi. 


DORR…


Suara itu sangatlah kencang dan menggema ke seluruh bangunan. Semuanya mendengar itu langsung berlari ke arah sumber suara. Tapi niat mereka menolong telah pupus sebab melihat secara langsung bahwa Dian terkejut dan terlihat syok berat.


"MAS"Pekik Dian melihat peluru menancap tepat di lengan kanan bagian atas dan membuat Ustadz Alfi merasa panas di sekitar area tersebut.


"argh"keluh kesakitan Ustadz Alfi. Darah sudah mengalir dengan menjatuhi lantai. Wajahnya mulai pucat dengan buliran keringat di keningnya, rasanya langsung lemas dan tubuhnya terhuyung sesaat. 


Semuanya menatap dengan rasa terkejut bukan main. Bahkan Dian sudah tak sanggup menahan air mata yang sudah menganak di kelopak matanya. Antara sedih, panik, marah dan hancur secara bersamaan membuatnya merasa tak bisa mengaplikasikan cara dokter marissa kepadanya. Ia berbalik dan dengan cepat menyeret Rendi lalu membantingnya seperti barang yang tak digunakan lagi.


Bugh


Rendi bahkan tak siap dengan serangan tersebut langsung saja tubuhnya menghantam lantai dengan kencang. Anak buahnya yang tersisa bahkan tak berani mendekat sebab aura dari Dian sangatlah berbeda seperti kerasukan. Dian benar benar gelap mata saat ini bahkan menyerang Rendi tanpa henti.


"Bangun!"teriak Dian


"mana keberanianmu mengusikku, HAH! DIMANA! TUNJUKKAN"bentak Dian.


Hendak menghentikan Dian tapi Ustadz Alfi lebih membutuhkan. Bahkan Umay yang menganggur tidak menghentikan tindakan brutal adiknya menyerang tanpa ampun. Rendi berdiri dan kemudian menyerang balik tapi tak bisa sebab Dian bisa membaca gerakannya yang selanjutnya. Bahkan perutnya seperti di obrak abrik sebab mendapat puluhan kali tendangan keras.


"arghh"Rendi merasa semua tulangnya hampir remuk sebab serangan bertubi tubi dari Dian.


Wanita itu sangatlah kuat sampai sampai tak akan ada kesempatan membalas. Tubuhnya di pukul lalu di buat tengkurap di lantai. Tangan maupun kaki dari wanita itu digunakan semuanya. Membuat tubuhnya terasa tidak bertenaga lagi.


"Haii, hentikan pukulanmu. Kamu bisa membunuhnya"ucap Azzam. Ia melihatnya saja sudah merasa ngilu.


"aku tak mau berhenti sebelum apa yang aku pendam keluar semuanya"bantah Dian menyeret tubuh Rendi ke tembok rekat vas bunga berbaris rapi.


Azzam bukanlah merasa kasihan dengan Rendi tapi ia khawatir tindakan Dian akan membuat perkara di kepolisian dan membuat Dian benar benar berada di penjara. Hanya saja, ia tak mampu menghentikannya. Bahkan Ayah Ahmad & Umay tidak bereaksi apapun. Kedua laki laki itu beranggap tindakan Rendi yang menembak sungguh sudah keterlaluan. 

__ADS_1


"cukup sudah aku bersabar denganmu. Dengarkan baik baik, Perkataanku ini tak ada siaran ulang lagi. Kau harus tahu sebelum aku membuat perhitungan nyata."


"almarhum istrimu yang ditabrak oleh mobil dan mobil itu adalah milik dari rekanmu, Kania"jelas Dian membuat semuanya ikut mendengarkan sekaligus terkejut.


"a..apa maksudmu?"ringis Rendi menahan sakit. Kini keadaannya sangatlah tidak memungkinkan karena lehernya bahkan digenggam kuat oleh tangan Dian.


"ck, aku mengatakan ini tentu berdasarkan laporan penyelidikan yang diurus oleh Nessa. Dan ia menemukan fakta bahwa nomor seri pada mobil yang menabrak istrimu sama dengan yang membawaku ke jurang waktu itu. Kesimpulannya… kania adalah pelaku sebenarnya dan kau mau dibodohi olehnya. Atau kau memang bodoh"sarkas Dian.


"jadi selama ini…"Rendi tercekat dengan kenyataan yang sebenarnya padahal Dian telah melepas genggaman tangan di lehernya tapi setelah tahu bahwa Dian apalagi keluarganya tidak bersalah rasanya dendam yang selama ini membara sudah redup dengan sendirinya. 


"baiklah, kau sudah mendengarnya bukan dan bahkan kau sudah berulang kali mengusikku. Kau tahu apa yang akan aku lakukan kepadamu ? Tentu harus sama persis dengan apa yang ku alami waktu itu"Dian melangkah menjauh sedikit dari Rendi dan mengambil vas bunga yang jika ia pegang dianggap lumayan. Sedangkan Rendi, laki laki itu terduduk pasrah dengan hukuman yang diberikan untuknya.


"bersiaplah, setelah ini kau dan dan aku anggaplah tidak pernah mengenal satu sama lainnya"ucap Dian yang menampilkan wajah geram hanya melihat Rendi terduduk lemas. Seperti dirinya yang pasrah ketika waktu itu. 


"mungkin ini akhirnya"bathin Rendi bersiap dengan menutup matanya. 


Dian terlihat mengangkat vas bunga itu dan ingin melemparnya dengan keras tepat dimana luka yang pernah dideritanya. Semuanya tampak ingin mencegah tapi tak bisa. Sementara dengan Ustadz Alfi, ia mencoba berdiri dan menghampiri Dian.


"mungkin ini akhirnya, aku ingin masalah selesai dan kita tak punya urusan lagi"lirih Dian. 


Prang….


Vas bunga itu terjatuh menjadi pecahan pecahan abstrak. Bunga mawar yang indah kini berantakan dengan warna berbeda. Rendi mengerutkan keningnya sebab ia tak merasakan apa apa. Ketika membuka mata…


Ternyata Ustadz Alfi melempar vas bunga itu dan menarik Dian sedikit menjauh darinya. Sedangkan Wahyu, Farel dan Ridho dengan sigap membawa anak buahnya bersama Raka dan Brian turut membawanya. Ia pasrah diboyong ke kantor kepolisian.


Sementara dengan Ustadz Alfi dan Dian, terlihat Ustadz Alfi menahan rasa sakit di lengannya sebab begitu kuat membanting vas bunga tadi. Dian terdiam menunduk siap di marahi oleh Ustadz Alfi. Tapi….


"Dek.."panggil Ustadz Alfi yang menangkup kedua tangan milik istrinya. Di tangan itu terdapat luka besut lagi sebab terkena apa saja. Dian merasakan elusan di tangannya mendadak terpaku tapi tak berani mendongak.


"sudahlah jangan mengungkit tentang hal itu lagi. Cobalah berdamai dengan hatimu dan berikanlah hatimu rasa kebebasan. Mas yakin semuanya akan lega dan ikhlas dengan apa yang terjadi saat itu"Ustadz Alfi menjelaskannya secara lembut namun tegas. 


Dian yang menduga jika akan dimarahi ternyata tidak, membuatnya terpaku sesaat. Setelah itu, air matanya meluruh dengan terus berputarnya ingatan ingatan buruk saat waktu itu. Betapa ia merasa sangatlah rapuh, runtuh dan hancur berkeping keping saat itu. Kehilangan malaikat kecilnya membuatnya tertekan secara mental.


"tapi aku tak bisa menerimanya. Diaa dan temannya itu telah merenggut anak ku mas. aku tidak ikhlas."Ujar Dian yang menangis namun dimatanya ada sedikit rasa tidak terima.


Ustadz Alfi merasa ikut merasakan kesedihan itu. Rasanya ia juga harus berdamai dengan apa yang terjadi dan sama sama memulai hidup baru serta suasana baru. Ia melihat ke arah Dian. Wanitanya bahkan sudah terisak dengan menutup mata merasakan apa yang dirasa oleh hatinya.


"kita harus ikhlas dek, anak kita hanyalah sebuah anugerah. Jika Allah menghendaki untuk kembali, maka akan kembali. Aku juga sama dek, sangat berat menerimanya."Nasehat Ustadz Alfi yang terus membujuk.


"Aku gak bisa mas"ucap Dian masih saja semakin meningkat seraya memukul dadanya sebab sangatlah perih. Bahkan tubuhnya bergetar hebat dengan air mata yang mengalir pasti di pipinya.


"kamu pasti bisa, ikhlaskan mas mohon"bujuk Ustadz Alfi lagi dan lagi. Dian pun terdiam dengan tangisan disertai lantunan dzikir tiada henti dari bibirnya.


Lama lama Dian menjatuhkan dirinya di lantai dan membuat Ustadz Alfi mengikutinya juga. Dian mendongak menatap laki lakinya dengan wajah yang khas sedang menangis. Ia berpikir, apa yang dikatakan oleh suaminya sangatlah benar dan ia juga merasa jika terus meratapi anaknya yang telah tiada. Bukankah itu adalah dosa. Kini ia bertekad dan Pikiran serta Hatinya kembali terbuka dengan perlahan lahan.


"mas… Aku ikhlass"ucap Dian. Hatinya terasa sangat lega dan terasa plong. Perlahan runtuhlah pertahanannya selama ini.


"Tabarakallah, Alhamdulillah Mas bangga sama kamu dek"balas Ustadz Alfi.


Dian terus menangis kencang dan langsung mendapat pelukan dari Ustadz Alfi. Mereka berdua saling menguatkan dan menyakinkan bahwa semuanya terjadi tentu sudah takdir dari Yang Maha Kuasa. Yakin Allah memberi cobaan kepada hambanya karena hambanya tersebut mampu melewati segala ujian darinya.


Tess...


Air mata semuanya tak tertahan lagi. Mereka merasa bangga dan bersyukur sekaligus telah berhasil mengenal siapakah itu Dian. Semuanya tidak mudah dilalui oleh wanita itu, seberapa tahannya ia menekan kuat kuat perasaannya yang hancur, lalu bersikap seperti seolah olah telah lupa akan penderitaannya. Dimana kehilangan apa yang ia dambakan itu tenyata menyisakan luka yang masih hinggap di sanubarinya.


TAMAT


🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢


"Ikhlas bisa di ungkapkan secara teori tapi jika mempraktekkannya akan terasa sulit. kenapa? sebab setiap manusia pasti akan ada rasa ingin membalas walau kemungkinan hanya sekecil semut. Jadi, apapun itu kita hanya perlu yakin bahwa Allah selalu adil membalas perbuatan hambanya yang baik maupun buruk tanpa terkecuali"


Nah sekian dari kisah Ustadz Alfi dan Dian. Semoga dengan tamatnya kisah ini, membuat kakak kakak semuanya puas akan akhir yang seperti ini hehe.


Oiya gimana sih menurut kalian untuk episode pertama dan sampai di titik ini ? Apasih yang membuat kalian suka sama perjalanan kisah cinta Ustadz Alfi & Dian ? kira kira ada gak nih hikmah yang dapat dipetik ? Kasih Komentar yaa...


Mohon maaf jika masih ada typo yang bertebaran dimana mana. Jika ada kesamaan Tokoh, Alur Dan Lain lain, mohon dimaklumi yaa.


Jangan ada plagiat diantara aku dan kamu eaa nanti dosa loh wkwk. Ingat ambil baiknya dan buang buruknya

__ADS_1


Wassalamualaikum, Salam hangat dariku untuk kalian yang sudah mampir 😘


__ADS_2