Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Kejutan untuk Dian


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 bertepatan dengan sehabis sholat dzuhur. Ustadz Alfi dan paman wisnu sedang berbincang bincang di taman pondok. Namun terhenti saat Dian bersama dengan ustadz Fadil (teman lama dian). Mereka berdua tidak jauh dari paman wisnu dan ustadz Alfi. Bisa dikatakan saling membelakangi dan dibatasi oleh pot kerajinan botol bekas bertumpuk seperti laci.


"sedang apa mereka berdua berbicara di tempat seperti ini" pikir ustadz Alfi dengan wajah yang sangat ketara sedang tidak baik baik saja. Paman wisnu hanya bisa tersenyum tipis sebab ia sudah tau apa yang akan terjadi.


"ustadz, membawaku kesini untuk apa?"tanya Dian yang tetap stay dengan senyumnya. Bagaimana pun ia harus bisa tersenyum dengan siapa saja agar tidak dikata sombong.


"em..aku ingin berbicara sesuatu padamu. Tapi kau harus mengatakannya sesuai hatimu"ucap Ustadz Fadil begitu sangat sungkan ingin berbicara.


"silahkan jika ingin bicara, aku tidak nyaman ditempat sepi begini. Aku wanita yang selalu menjaga martabatnya."ucap Dian yang menatap taman disekitarnya.


"aku mau melamarmu..."


"aku tetap mencintaimu..."


Ucap ustadz Fadil membakar hati ustadz Alfi. Pikiran negatif langsung menyerobok akalnya, namun tetap ia tahan dan tidak gegabah. Sedangkan Dian menatap tak percaya dengan lawan bicaranya.


"Apa!?"


"kau tidak sakit kan? Kata katamu ngelantur"ucap Dian yang menahan emosinya. Entahlah tubuhnya merespon keras menolak ucapan ustadz Fadil.


"aku tidak bercanda, karena masih menyimpannya. Apa kau menolakku lagi? lagi?"ucap Ustadz Fadil yang membuat Ustadz Alfi senewen. Emosinya sangat tidak stabil. Suami mana yang gak cemburu jika istrinya dilamar orang lain, apalagi di dekatnya. Tapi semuanya tertahan dengan ucapan Dian.


"aku sangat berterima kasih atas lamaranmu ini. Namun kau tidak tau, jika wanita tidak bisa berpoligami. Buanglah rasamu itu, hatimu berhak untuk wanita yang lebih baik dariku."jelas Dian yang menolak halus lamaran tersebut.


"apa maksudmu? Apakah benar yang dikatakan kyai jika kamu.... Kamu telah menikah?"ucap ustadz Fadil.


"benar, aku telah menikah. Apa kau tidak datang? Teman macam apa kamu ini."


Ucap Dian yang memporak porandakan dan menghancurkan hati ustadz Fadil. Sakit, rasanya sakit menerima kenyataan ini. Jatuh cinta emang enak tapi putus cinta rasanya lebih menyakitkan. Apakah ia hanya dianggap teman, sedangkan ia terlalu terbawa perasaan saja.


"oh begitu, selamat atas pernikahanmu. Sebagai teman aku hanya bisa mendoakanmu. Samawa dan cepat cepat memberiku keponakan. Maaf aku tidak bisa datang waktu itu."ucap Ustadz Fadil yang tersenyum miris.


"seharusnya aku minta maaf, Maaf telah membuatmu sakit hati. Aku mendoakan yang terbaik untukmu semoga dapat wanita yang berhak kau tulis dalam hatimu dan kau sebut dalam doamu."ucap Dian yang tersenyum. Ia sangat tahu jika temannya ini telah patah hati sebab dirinya.


"aamiin, makasih atas doa mu."ucap Ustadz Fadil. Sedangkan Ustadz Alfi berlega hati dengan tindakan yang tepat diambil oleh istrinya yaitu menolak halus.


"paman, bisa bantu alfi ?"ucap Ustadz Alfi


"boleh"jawab paman wisnu. Kemudian ustadz Alfi menjelaskan apa yang akan ia lakukan kepada dian. Mereka berdua pun tersenyum misterius. Lalu menghampiri Dian & Fadil.


Tak lama, terdengar suara Ustadz Alfi....


"bagus sekali berduaan dengan laki laki lain dek. Masmu hilang ya?"sindir ustadz Alfi yang membuat Mereka berdua menatap ustadz Alfi yang bermuka datar bersama paman wisnu.


"mas"kaget Dian. Sedangkan Fadil mendadak kaku gak bergerak.


"Seorang teman yang tahu bahwa teman wanitanya sudah punya suami seharusnya lebih baik sedikit menjaga jarak."ucap Ustadz Alfi yang membuat fadil menelan salivanya.


"gawat, suaminya datang. Pasti Dian kena marah."bathin Fadil.


"ini tidak ada apa apa yang terjadi kami hanya berbicara saja. Jangan salah faham"ucap Fadil yang merasa gugup sebab efek takut. Ternyata Ustadz Alfi memiliki wajah yang begitu garang bikin mleyot haha😫

__ADS_1


"iya mas, aku hanya berbicara saja dengannya tidak ada apa apa lagi selain itu"timpal Dian yang panik juga.


"argh.. Yan jangan seperti itu. Itu sama saja membuat api yang lebih besar tau gak sih"gumam fadil dalam hati.


Wajah fadil panik banget kek ketahuan nyuri dompet orang. Sedangkan ustadz Alfi dan paman wisnu dibuat menahan tawa melihat kepanikan fadil serta tindak laku dian yang seakan akan membantu fadil tapi itu sama sekali tidak membantu.


"ayo pulang"tegas Ustadz Alfi yang menarik tangan dian menjauh dari sana. Sedangkan fadil menjadi merasa bersalah dan khawatir dengan apa yang akan dilakukan oleh Ustadz Alfi. Apakah akan di pukul atau semacamnya? (fadil korban sinetron nih🀣)


"tenang saja."ucap paman wisnu.


"hadduh bagaimana mau tenang pak kyai😭"bathin fadil menjerit guys.


"dian pasti aman. Lagipula nak ustadz itu begitu mencintainya. Dan yah satu lagi. Hari ini dian berulang tahun jadi nak ustadz mau membuat kejutan."jelas paman wisnu yang tersenyum lebar.


"huff syukurlah. Ku kira ustadz Alfi mendengar semuanya tadi."ucap Fadil yang merasa lega.


"siapa bilang gak dengar? Bahkan mau nonjok kamu."ucap paman wisnu yang begitu entengnya dan membuat mental fadil down seketika.


"oiya kl begitu saya pamit, assalamualaikum"pamit paman wisnu.


"waalaikumsalam pak kyai"balas fadil.


"tidak apa aku mengikhlaskanmu yan. Asalkan kau bahagia, aku pun akan bahagia. Buktinya ustadz Alfi begitu mencintaimu berarti kau jatuh pada tangan yang tepat. Walaupun aku harus belajar apa itu arti move on darimu"bathin Ustadz Fadil


...Γ—...


...Γ—...


...Γ—...


"mas" panggil Dian


"hm"jawab ustadz Alfi yang hanya berdehem saja.


"mas aku bisa men_"ucap Dian yang terpotong oleh ucapan ustadz Alfi.


"jangan menggangguku!"sentak ustadz Alfi yang tetap fokus dengan jalan didepannya.


Ucapan itu membuat Dian terkejut. Tidak pernah sekalipun suaminya bicara seperti itu. Hatinya berdenyut dan sangat perih mendengar kata nyelekit. Rasanya hatinya tercubit, apalagi sebab tadi.


Dian terdiam dan menutup mulutnya rapat rapat. Lalu ia menundukkan kepalanya serta meremas kedua tangannya. Sedangkan ustadz Alfi melirik dan merasa tak tega dengan apa yang ia katakan.


"maaf dek, mas gak bermaksud seperti itu. Tapi rasa itu akan terbalas dengan kejutanku nanti."pikir ustadz Alfi yang kembali fokus dengan apa yang ia harapkan. Semoga saja lancar.


****


Sesampainya dirumah...


Ustadz Alfi keluar dari mobil dan berjalan kearah pagar tanpa memerdulikan Dian yang di dalam mobil tersebut. Biasanya ia menunggu Dian masuk barulah menutup pagar. Tapi sekarang... yasudahlah Dian hanya bisa pasrah.


Dian keluar mobil dengan wajah yang sendu dan tidak bersemangat. Membuka pintu rumah dengan lesu dan segera membersihkan diri. Setelah dipastikan Dian masuk, ustadz Alfi barulah menyusul.

__ADS_1


Di dalam kamar hanya terdengar suara gemercik saja. Ustadz Alfi mengganti pakaiannya dan sekilas melihat kedua kado ulangtahun untuk istrinya. Pertama yaitu kalung yang tadi diambil dan yang kedua yaitu beberapa pashmina beserta banyaknya bros.


Dian sudah mau keluar, cepat cepat ustadz Alfi duduk di tepi ranjang yang bersebelahan dengan meja rias serta berpura pura cuek dengan kedatangan dian menghampirinya. Dian menyisir rambutnya dan memakai kerudung instan dengan perasaan yang sangat sedih. Tak lama kedua bola matanya berkaca kaca bahkan langsung menangis dengan menutup seluruh wajahnya.


Ustadz Alfi pun sudah tak tahan mendengarnya. Tapi jika begitu terlalu mudah dan tidak kelihatan bahwa ia marah. Namun hatinya seperti teriris iris melihat dian menangis


Akhirnya ia memutuskan untuk menghampiri istrinya, sudah cukup seperti itu saja mengerjai wanitanya. Dian sedikit terhenyak dan membuka mata melihat cermin. Terlihat ustadz Alfi memeluk dan menenangkannya.


"... Mas marah ya?...maaf...maaf"ucap dian terbata bata sebab tangisannya menimbulkan isakkan yang tidak bisa berbicara dengan lancar.


"kenapa minta maaf?"tanya ustadz Alfi yang begitu lembut tapi berefek kepada dian. Ia pun membalikkan tubuh mungil yang sekarang sedang terisak isak akibatnya.


"shuut... Jangan nangis. Kamu gak salah apa apa koq"


Ustadz Alfi menghapus jejak air mata dian yang mengalir deras di pipi putihnya itu. Dian pun membelakangi ustadz Alfi dan berusaha menghapusnya sendiri. Tiba tiba ia dibisikkan sesuatu...


"barakallahu fii umrik zaujatiku. Selamat ulang tahun sayang."bisik ustadz Alfi yang mengeluarkan kotak kado dan diletakkan di meja rias tepat di depan dian.


"mas ini...ini.. Masya allah"ucap dian terharu dengan kejutan ulang tahunnya itu. Walau hadiahnya hanya pashmina dan bros, Dian sudah terharu. emm bagaimana dengan kado kedua ya..


"oiya dek, lihatlah kearah cermin."pinta ustadz Alfi yang dituruti oleh dian. Kemudian ia memperlihatkan kalung yang sudah digenggam dan memasangnya pada leher sang istri. Sedangkan Dian tidak bisa berkata kata lagi dan berhambur memeluk ustadz Alfi.


"kamu suka hadiahnya dek?"tanya Ustadz Alfi.


"iya...aku sangat suka... terimakasih mas. ini hadiah yang berharga dan sangat berarti bagiku"jawab Dian yg masih sesenggukkan. Ustadz Alfi tersenyum senang, hadiahnya disukai dan terus memeluk demi menenangkan istrinya. Tiba tiba...


"kejutan"


Semuanya masuk kedalam kamar itu. Ternyata ustadz Alfi sudah menyiapkan semuanya. Bahkan dibantu oleh umi shita, aisyah, caca dan vira. Sedangkan abi abdurahman, umay, farhan dan azzam menunggu diluar.


"berdoalah sebelum memotong kuenya"ucap umi shita. Kemudian dian pun memejamkan matanya.


"ya allah aku berterimakasih terhadap engkau. Aku berharap dengan bertambahnya umurku akan tambah sayang sama keluarga dan laki laki yang kucintai ini. Aku ingin tetap selalu bersama dengannya dan menyaksikan senyum keluargaku tak pernah luntur. Aamiin"


Lalu dian memotong kue dan memberikan suapan pertamanya untuk ustadz Alfi. Mencolek sedikit cream dan menempelkannya di hidung ustadz Alfi.


"dek"tegur ustadz Alfi


"itu buat kamu yang ngerjain aku mas haha"tawa dian lepas bersama dengan yang lainnya dan begitu bahagianya memberikan potongan kue kepada umi dan dilanjut dengan aisyah lalu kedua temannya. Ustadz Alfi berulang kali merasa senang bahwa dian sangat puas dengan kejutannya.


"kamu tersenyum saja membuatku merasa sangat bahagia dek. Apapun demi kamu, mas pasti akan melakukannya selagi aku mampu" gumam ustadz Alfi didalam hati lalu senyumnya mengembang dan menyusul dian keluar membagikan potongan kue tersebut.


bersambung...


🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒


Hallo semuanya, Salam sehat >_<


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan selamat membaca... Bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya, Terimakasih 🌷

__ADS_1


__ADS_2