Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Sakit Bersama


__ADS_3

Sudah seminggu Dian pergi meninggalkan mereka semua. Banyak perubahan pada ustadz Alfi setelah mengetahui cerita azzam beberapa hari lalu. Ia seperti bukan dirinya. Dingin, datar, mungkin rada cuek, suka melamun, tidak peka, selalu menyendiri, dan yang paling menonjol adalah tidak pernah berinteraksi dengan anaknya hafsa.


Hafsa lama lama juga merasa tidak bisa memakluminya lagi. Ia juga butuh seseorang yang bisa memeluknya, memberi kasih sayang, perhatian dan mengajaknya bermain. Bahkan hafsa tidak tidur dikamar orangtuanya dan mempelajari huruf hijaiyah berulang kali tanpa bantuan dari siapapun. Shalat, tilawah dan tadarus sudah menjadi pribadi atau sendiri sendiri.


Semua keluarga juga sangat tidak bisa membiarkan itu terjadi berlarut larut. Apalagi ustadz Alfi yang terlihat seperti tidak bertanggung jawab sebagai seorang ayah. Umay lama lama geram dengan sikap adik iparnya ini. Ia sabar sabar tapi seperti melunjak. Terjadilah pertengkaran antara ustadz Alfi dan umay saat hari ini.


"kamu itu kenapa tak memperhatikan hafsa hah!? Apa yang kamu pikirkan? dia butuh kamu saat ini"emosi umay meletus begitu saja tanpa permisi.


"aku tak bisa bang. Melihatnya saja membuat hatiku sakit, mereka berwajah mirip dan memilih untuk mendiamkannya sementara adalah pilihanku"jawab ustadz Alfi.


Bugh...


Satu bogeman mentah didapatkan oleh ustadz Alfi dari umay tanpa melawan. Sudut bibirnya membiru dan pipi kanannya terasa keram. Semuanya panik akibat serangan umay.


"alasan apa yang kamu punya untuk mendiamkannya? apa salahnya hah!?"Umay terus dengan posisi dan suasana hati yang sama yakni dibalut amarah.


"aku belum bisa menerimanya pergi dan belum bisa mengikhlaskannya."ucap ustadz Alfi.


"alfi!"ucap abi abdurahman memperingati dengan keras.


Ucapan ustadz Alfi membuat umay naik darah dan tak dapat mengendalikan dirinya. Lagi lagi umay melayangkan pukulannya tanpa disadari. Menggenggam erat kerah ustadz Alfi dengan kedua tangannya melihat tajam kearah laki laki didepannya ini.


Begitu pasrahnya ustadz Alfi tidak melawan apapun yang diperbuat oleh umay. Mungkin dirinya akan sadar dan bisa untuk ikhlas setelah mendapat bogeman ini. Ia tak merasakan sakit ternyata, sungguh hanya bisa menerima semua ini.


Ayah ahmad hanya menggelengkan kepala melihat pertengkaran keduanya. Mereka bahkan tak perduli tatapan takut dari kedua anak anak yang menatap mereka. Pukulan pun bertambah menjadi tiga, umay langsung ditahan oleh farhan dan faqih. Padahal sudah sejak tadi ditahan tetap saja memukul lagi. Saat ingin pukulan ke 4.....


"om may belhenti"tegas hafsa terdengar membuat semuanya diam. Aura ketegasan dian muncul di wajah hafsa dan membuat mereka menatap tak percaya.


Umay tersadar dan melepas pegangan erat tersebut. Wajahnya yang tadi nampak merah karena emosi kembali sejuk lagi dan urat dilehernya sudah bersembunyi. Hafsa kemudian memegang tangan kiri umay dan mengelusnya sayang.


"om may main cama apca yuk. Apca pengen"senyum hafsa yang mengajak umay dan menjauh dari abinya.


Tatapan memohon dan senyuman manis hafsa adalah kelemahan. Umay menghela nafasnya pelan dan membalas hafsa dengan anggukkan. Hafsa menarik tangan umay ke arah kamarnya dan memandang abinya dengan berbeda. Ia melakukannya hanya untuk mengancam tapi berharap semua keinginannya terkabulkan.


Sebuah batu besar seperti menghantam hati ustadz Alfi. Ia sadar kesalahannya dan mengakuinya jika ini keterlaluan. Tapi tatapan benci dan tersenyum miring itu mengingatkannya pada mendiang dian waktu kecewa padanya. Sakit sekali hatinya, apakah salah jika ia telah gagal move on dari sosok wanitanya.


"alfi biar umi obati wajahmu"ucap umi shita.


"biarlah seperti ini umi. Tidak apa apa, rasanya juga hambar dan tidak sakit."ucap ustadz Alfi tersenyum miris dengan keadaannya seraya berjalan meninggalkan semua keluarga diruang tamu dan masuk kedalam kamar lalu menutup pintunya.


"sepertinya nak alfi jangan diganggu dulu. Aku tahu kehilangan orang yang penting baginya itu sulit. Perasaannya berbeda dengan kita."ucap ayah ahmad yang akhirnya angkat bicara. Akhirnya semuanya hanya diam dengan posisi awal lalu terasa hening melanda.


Di dalam kamar


Perasaannya campur aduk sekarang dan bingung apa yang harus ia lakukan. Ustadz Alfi duduk disofa memerhatikan isi kamarnya yang masih sama. Harum wangi cokelat terus ada karena selalu ia semprotkan ketika hilang untuk jadi pelipur lara dan rindunya.


Foto pernikahan mereka membuat ustadz Alfi termenung. Saat itu ia sangat bahagia dan bersyukur jika doanya di ijabah oleh sang pencipta. Terlihat senyum dian secerah matahari dan langit yang akan menjadi saksi bahwa cinta mereka terikat sebuah tali suci.


Ia mengambil sebuah foto seseorang yang selalu dipeluknya saat tidur, dian yang dirindukannya setiap hari. Air matanya mengalir teringat jika dulu mereka bersama tapi sekarang terpisah oleh maut. Pesan istrinya saja tidak dilaksanakan. Bertanya tanya apakah di alam sana wanita yang ia cintai akan membencinya?


"dek, aku merindukanmu. Aku harus apa? Apakah sesakit ini saat kita berpisah jauh bahkan untuk selama lamanya. Aku tidak sanggup, aku sungguh mencintaimu dan tak bisa berpisah denganmu dek."bathin ustadz Alfi.


Ia seorang ustadz dan tau apa itu ikhlas. Tapi tak semudah yang dibayangkan jika harus ikhlas menerima takdir dan kenyataan pahit ini. Perlu diingat, ia masih terhitung muda dan memiliki ketakutan yang tak pasti. Duda, tampan, dan alhamdulillah kaya tentu menjadi incaran. Takut posisi dian tergeser walau orangnya sudah tiada. walaupun sejujurnya, ia yang mengendalikan perasaannya.

__ADS_1


Berdiri untuk meletakkan kembali. Ustadz Alfi ingin meletakkan bingkai foto itu pada tempatnya dan mulai mengambil wudhu. Namun ketika melihat kearah yang dipegang olehnya, ia pun memegang dadanya.


"astagfirullah jantungku begitu berdetak kencang. Ada apa ini?"bathin ustadz Alfi.


Rasa nyeri berkepanjangan di dadanya dan dibarengi pusing di area kepalanya membuat ustadz Alfi tak bisa menompang tubuhnya lagi. Tangannya mendadak bergetar sambil berusaha menetralkan rasa sakit itu.


Prangg.....


Bunyi benda terjatuh berbahan kaca membuat perhatian semuanya yang berada di ruang tamu mencari cari sumber suara. Sedangkan di dalam kamar, ustadz Alfi tak sadarkan diri di lantai berbarengan suara itu.


"tadi suara apa?"tanya umay yang baru muncul.


"masih bingung suara apa itu. Karena sedikit samar dan suara yang hilang begitu saja."ucap abi abdurahman. Suara samar karena pintu tertutup rapat dari dalam.


"oiya hafsa mana? Bukankah sama kamu mas"tanya rida seraya menggendong zaki yang masih merasa takut dengan ayahnya marah tanpa kendali tadi.


"ada didalam sedang tertidur."jawab umay.


Ia menatap putranya yang nampak bersembunyi di ceruk leher istrinya dan segera mendekat. Melihat itu, bayi berusia belum ada 2 minggu lebih tepatnya usia 12 hari meminta perlindungan dengan menggenggam erat baju sang bunda.


"maaf ayah membuatmu takut"ucap umay lembut.


Zaki mencebik ingin menangis namun dengan segera umay menenangkannya. Putranya tenang dan kembali pada pelukan bundanya tapi umay mempunyai firasat buruk tentang adik sepupunya yang sudah meninggal. Ia pun teringat dengan ustadz Alfi.


"kenapa kamar nampak hening? Biasanya ustadz berdiam diri dan membaca Al Quran."heran umay.


Walaupun sempat marah tapi bagaimanapun umay juga ada rasa bersalahnya. Ustadz Alfi seperti itu hanya untuk berbenah hati yang tak tau kapan bisa bersihnya dari bayang bayang mendiang istrinya.Terlihat tadi ia tak dibalas dan dibiarkan memberikan pukulan diwajah putih milik ustadz Alfi. Jika dian ada, mungkin sudah histeris melihat ia brutal memukul seseorang.


Ucapan umay benar adanya. Semuanya nampak berpikir keras dengan apa yang terjadi. Entah sebab apa otak mereka seperti tak berjalan akibat merencakan sesuatu beberapa hari lalu. Kemudian umi shita berniat untuk menanyakan tentang luka diwajah anaknya dan saat membuka pintu... betapa terkejutnya ia melihat seseorang di lantai.


"hiks...hiks bangun alfi"


"ada apa denganmu nak hiks..hiks"


tangis umi shita seraya memangku kepala yang menampilkan wajah pucat dan menepuk pelan pipi itu. Hatinya resah dan khawatir dengan keadaan anaknya saat ini.


Semuanya fokus kepada ustadz Alfi sedangkan umay penasaran dengan pecahan kaca yang tak jauh dari letaknya berpijak. Mengambil kertas foto berwarna putih itu dan membaliknya. Ini foto adiknya membuat umay merasa tambah resah.


"bukankah dek dian sudah meninggal kenapa aku merasa ada firasat buruk untuknya? Atau ini hanya perasaanku saja yaa"suara hati umay yang lalu menepis semua pikirannya seraya menyimpan foto yang ia pegang kedalam laci nakas.


Ia memilih membersihkan lantai dengan menggunakan sapu setelah ustadz Alfi telah diangkat ke ranjangnya oleh ayah ahmad, farhan dan faqih. Bukan berarti ustadz Alfi berat bahkan diangkat terasa enteng dan itu artinya tubuh ustadz Alfi turun berat badannya tanpa olahraga. Makan hati tidak enak ya:(


Abi abdurahman sedang menunggu telpon tersambung dari dokter hanif yang notabenenya adalah suami dari dokter mita. Mereka berdua bahkan sudah menjadi dokter pribadi milik keluarga ustadz Alfi.


Selesai membuang sampah, umay mencuci tangannya lalu baru teringat jika hafsa ia tinggal di dalam kamar. Namun ia mendadak panik akibat hafsa mengeluh sakit dengan suhu tubuh yang panas seraya menutup matanya.


"ugh satit"keluh hafsa. Umay segera menggendong tubuh kecil sang keponakan kearah kamar ustadz Alfi.


"ada apa dengan hafsa umay?"tanya bu mira cemas.


"gak tau bibi. Hafsa menggigil dan tubuhnya panas."jawab umay meletakkan hafsa disamping ustadz Alfi.


Semua tambah panik dan cemas. Ustadz Alfi yang tak sadarkan diri sedangkan ditambah hafsa yang menggigil lalu mengigau memanggil uminya. Hadduh kenapa bisa begini, sakitnya bareng. Abi abdurahman pun meminta kedua pasangan suami istri yang berprofesi dokter itu untuk datang memeriksa keduanya.

__ADS_1


"umi...umi"


"umi...umi yan"


"umi apca tanen"


Keluhan hafsa terdengar begitu menyayat hati siapa saja. Namun semua orang dewasa mengemasi hati mereka masing masing dan tak akan bersedih. Karena fokus mereka pada ayah dan anak ini yang sedang di periksa. Ustadz Alfi ditangani oleh dokter hanif sedangkan hafsa ditangani oleh dokter mila.


"bagaimana keadaan alfi ?"tanya umi shita


"keadaannya harus istirahat total. Perhatikan pola makannya dan tidurnya. Nanti hanya diberi obat nyeri, demam dan vitamin umi"jawab dokter hanif


"lalu bagaimana dengan hafsa. Cucu kami baik baik saja kan?"tanya bu mira.


"baik baik saja. Hanya demamnya dan Mungkin berimbas dari abinya yang sakit. Dari di dalam kandungan juga seperti itu bu, jika abinya tidak enak badan maka pasti ia juga ikut merasakannya."jelas dokter mila.


"nanti diganti aja dulu umi, bu. Bajunya basah akan keringat"saran dokter mila yang membuka kerudung hafsa. Bu mira dan umi shita mengangguk mengerti


"cepat sembuh ya sayang. Jangan buat sedih kakung, utii, om dan aunty. Jaga kesehatan selalu"ucap dokter mila seraya mengelus kepala hafsa dengan lembut.


"iya anty doter"lirih hafsa yang larut dalam tidurnya namun masih bisa menjawab. Semuanya mengulum senyum akan itu dan senang jika hafsa baik baik saja.


Dokter mila dan suaminya pamit dari rumah itu. Semua mengucapkan terimakasih banyak dan akan mentransfer uangnya ke rekening mereka berdua. Abi abdurahman mengantar keduanya sampai depan pintu lalu kembali kedalam.


Diperjalanan...


Dokter hanif fokus mengendarai mobilnya sedangkan dokter mila fokus terdiam. Sibuk dengan pikirannya dan membuat suasana mobil jadi hening. Dokter hanif pun menoleh sekilas kearah istrinya.


"ada apa denganmu sayang?"tanya dokter hanif namun tak dijawab.


"ya allah kasihan sekali hafsa. Uminya sudah meninggal sedangkan abinya masih terpuruk dengan kepeninggalan istrinya dan mendiamkan sementara hafsa"bathin dokter mila.


"hai, koq gak jawab pertanyaanku. Kau sedang ada masalah?"seru dokter hanif kembali. Membuat dokter mila kaget.


"em..gak ada masalah sayang. Aku baik baik saja"balas dokter mila.


"beneran? Ceritakan padaku. Apakah ini soal hafsa?"terka dokter hanif. Dokter mila menghela nafasnya berat seperti melepaskan beban terberat.


"iya sih. Aku merasa hafsa terlalu dini untuk mengalami ini semua. Usianya masih 2 tahun akankah harus kehilangan salah satu orang tuanya"sedih dokter mila.


"kau benar. Tapi ini semua adalah takdir. Aku tadi memeriksa keadaan ustadz Alfi, tubuhnya lebih kurus. Kau tahu sayang, jika kita ditinggal seperti apa yang dirasakan oleh ustadz Alfi pasti akan merasa tertekan bathinnya. Hafsa di diamkan karena anak itu begitu mirip dengan wajah ibunya. Apalagi rasa cintanya pada almarhum istrinya sangat besar dan Ini semua sulit untuk dilupakan."jelas dokter hanif.


Dokter mila pun terdiam. Ia juga tak menyangka jika mantan bumil yang ia tanggung jawabkan meninggal begitu cepat. Bahkan saat pertama kali di posting instagram milik ustadz Alfi, tim dakwah dan akun kepolisian yg memposting kabar duka membuatnya kaget. Kabar duka yang menggunjang media sosial sangat membuat geger netizen hmm...


Bersambung....


🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,

__ADS_1


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘


__ADS_2