
Pagi harinya….
Seperti biasanya Dian sudah terbangun awal bahkan juga melaksanakan sholat shubuh berjama'ah oleh ustadz Alfi. Setelah sholat, Ustadz Alfi memilih bersiap siap dan sementara Dian akan memasak sarapannya.
Hari ini Dian ingin memasak nasi goreng spesial alasannya karena memang pengen juga sih. Isinya ada daging ayam goreng yg dipotong menjadi bagian berbentuk kubus, telur mata sapi, serta sosis dan tempe goreng yg dipotong seperti daging ayamnya.
Aroma nasi goreng lama lama terendus juga sampai ke dalam kamarnya. Ustadz Alfi yang duduk di sofa memeriksa hpnya menjadi tak konsen dengan apa yg di cek olehnya sendiri. Semuanya buyar akan aroma yg berasal dari dapur.
"hemm, wangi banget"gumam Ustadz Alfi yang segera ke dapur dan menyimpan hp di dalam saku bajunya.
Ia berjalan dengan langkah cepat cepat lalu duduk rapi di kursi, sembari melihat seorang wanita asik dengan kegiatannya sendiri yg dilengkapi alat tempur untuk mengolah makanan tersebut.
Tak lama terdengar suara gumaman yg bernada dan terdengar halus lagi indah. Ustadz Alfi hanya tersenyum dengan tetap mempertahankan kefokusannya menatap Dian yg sedang bernyanyi nyanyi kecil demi menghalau rasa sepi (padahal mah udah ada yg duduk di belakangnya 😸)
"alhamdulillah, selesai juga"ucap Dian yg bernafas lega sebab pekerjaannya tuntas.
"mas"panggil Dian seraya membawa piring menuju meja makan. Namun ketika berbalik, ia terkejut dengan apa yg dilihatnya.
"iya"ucap Ustadz Alfi tiba tiba.
"Astaghfirullah!"kaget Dian.
Akibat dirinya kaget, genggaman tangan yg memegang piring lepas. Untung saja tidak terjatuh karena dengan sigap Ustadz Alfi menangkapnya. Dian masih syok dan menjadi diam seketika.
"dek, kamu gak apa apa?"khawatir Ustadz Alfi. Ia merasa tak enak hati membuat Dian syok dan terdiam begini.
Sedangkan Dian kembali normal seperti biasanya dan memilih duduk di meja makan. Walau begitu, ia masih merasakan tangannya bergetar hebat.
"dek, aku gak sengaja buat kamu kayak gini. Mas minta maaf ya.."sesal Ustadz Alfi.
"enggak apa apa…cuma lain kali jangan buat aku kaget. Karena gak tahu kenapa sekarang aku orangnya berlebihan menanggapinya"ucap Dian tersenyum hangat. Ia melihat Ustadz Alfi tetap dengan wajah yg khawatir dan merasa cemas.
"dek, mas gak usah kerja hari ini yaa dan temani kamu aja."ucap Ustadz Alfi yg menjadi tak tega meninggalkan Dian sendiri hari ini. Pikirannya takut akan sesuatu hal yg terjadi jika ia keluar.
"sudahlah mas. Aku gak apa apa."ucap Dian menyakinkan.
"beneran?"tanya Ustadz Alfi dan dibalas anggukkan oleh Dian.
"oh iya mas, ayo makan sarapannya. Nanti kamu kesiangan kesananya."seru Dian yg menuangkan air putih di gelas dan memberikannya ke arah Ustadz Alfi.
Akhirnya sarapan dimakan juga oleh Ustadz Alfi. Ia pamit bekerja yg terakhir untuk hari ini. Sejujurnya, ia tak mau meninggalkan Dian sebab tadi. Istrinya ini mempunyai penyakit mental dan sekarang jika apapun itu maka Dian menganggapnya berlebihan.
"mas pamit ya dek, jangan sendirian. Lebih baik kamu bersama mereka yg sedang berkumpul di ruang rapat."ucap Ustadz Alfi.
"iya mas. Hati hati dijalan"balas Dian.
"assalamualaikum dek"
"waalaikumsalam mas"
Ustadz Alfi mengulurkan tangan kanannya untuk di cium oleh Dian. Lalu setelah itu, ia akan mencium kening istrinya sekilas lalu tersenyum seraya mengelus kepala yg dibalutkan hijab. Barulah benar benar pergi dari rumah.
Dian yg melihat Ustadz Alfi menjauh, ia langsung menutup pintunya dan berjalan menuju ruang rapat. Disana terdapat banyak orang dan berbincang bincang dengan asiknya. Kyai belum pulang dari sana dan akan berniat untuk pulang ke jakarta esok hari bersama guz Agung, anaknya.
"nduk, kamu tidak berniat untuk pulang kerumah hanya sebentar saja?"tanya Kyai
"em..niat tentu ada kakung. Insya Allah 2 bulan lagi aku sudah bisa pulang sebentar"jawab Dian.
__ADS_1
"ya sudah, kakung hanya ingin kamu menjenguk anakmu. Bagaimanapun seorang anak akan tetap merindukan ibunya dan tetap mencari keberadaannya."seru Kyai.
"iya bener itu, kau tahu yan. Hafsa mencarimu saat dimana ia tahu bahwa dirimu sudah tidak ada. Aku sih kasihan dan juga salut dengannya. Ketegaran dan kesabaran Hafsa menghadapi ujian yg menimpanya begitu menyentuh hati yan."ucap Vira.
"ketika Ustadz Alfi merasa tak sanggup menatap hafsa karena wajahnya sama denganmu, anak itu sangat menahan rindu dengan kasih sayang dari orang tuanya namun tak bisa berbuat apa apa."ucap Caca.
Dian terdiam. Ia juga merasakan hal yg sama. Rindunya sudah meluber jika dihitung dari 4 tahun lalu. Hatinya ingin merasa dekat dengannya tapi juga susah. Ia bahkan menganggap dirinya sendiri bukan ibu yg baik.
"hafsaa, umi rindu"batin Dian terasa berdenyut nyeri.
"oiya, mas agung ingin pulang sama kakung besok?"tanya Dian.
"iya tentu saja, karena usaha yg ada di jakarta benar benar harus diperiksa juga. Kenapa, apakah kau ingin menitipkan sesuatu ?"ujar Guz Agung.
"tidak ada"singkat Dian.
Semuanya menukar pandangan secara serempak. Di pikiran mereka juga sama sama memperkirakan apa yg ada di benak Dian yakni ingin ikut tapi tidak bisa. Dian yg mereka kenal sekarang akan merasa sungkan bicara mengungkapkan isi hatinya kepada semuanya tak terkecuali pada sahabatnya.
Skip…
Siang hari sudah datang dengan teriknya matahari. Di ruang rapat masih terjadi perbincangan antara para dokter, vira dan caca yg un faedah topiknya. Sementara dengan Guz Agung, ia sedang berbicara dengan komandan agha dan abinya sesekali bercanda.
Dian duduk di sofa bagian lebih pojok dari lainnya. Ia sedang menatap ke arah jendela luar dan terdiam sepi. Tiba tiba ia rindu sekali dengan Ustadz Alfi dan merasa aneh kenapa ingin selalu memeluknya. Belakang ini merasa jika dirinya tidak bisa paham akan perasaannya sendiri dan itu membingungkan.
Perhatiannya teralih ke arah 3 orang yg sudah berada di ambang pintu yaitu intan, miranda dan raka. Mereka sepertinya ingin berbicara sesuatu terlihat dari raut wajah mereka.
"assalamualaikum"
"waalaikumsalam"
"ada apa kalian bertiga kesini?"tanya komandan Agha.
"kami kesini ingin memberikan amplop cokelat ini komandan"jawab raka.
"untuk siapa?"tanya komandan Agha.
Semuanya hanya menyimak pembicaraan ke empat orang itu. Intan yg melihat Dian sedang duduk santai di sofa sendirian saja. Ia pun menjawab pertanyaan komandan agha.
"untuk kak Dian,komandan"seru Intan.
Pandangan semuanya melihat Dian yg merasa terpanggil akibat itu. Tampak sekali Dian berpikir siapa yg mengirimnya surat tapi ia tetap menerima uluran itu.
"ini kak"ucap Intan seraya menghampiri Dian.
"iya terimakasih"seru Dian yg menerimanya.
Dian masih berpikir siapa yang mengirimkannya seperti ini. Biasanya jika Nessa akan langsung menelponnya dan tidak repot repot kirim surat apapun apalagi jika penting. Ia memutar posisi surat untuk dilihat lihat tapi hanya bertuliskan namanya.
"Dian" Itulah tulisannya.
Semuanya melihat kearah Dian, mereka penasaran sekali akan isi dari suratnya itu. Rasanya ingin cepat cepat melihat apa yg dikirim oleh seseorang yg terasa misterius itu.
Dian akhirnya membuka amplop tersebut dengan sesekali memperhatikan segala sudutnya. Amplop benar benar terbuka dan ia mengeluarkan sedikit isinya.
Deg….
Deg….
__ADS_1
Deg…
Dian terhenyak dari duduknya lalu menatap sengit isi dari amplop itu. Bahkan tangannya nampak terkepal erat meremas angin dan itu membuat semuanya heran sekaligus bertanya tanya.
Semua masih dengan rasa penasaran yg tinggi akan apa yg Dian lihat saat membuka amplop tersebut. Dengan langkah cepat, Dian meninggalkan tempat itu menuju rumahnya bahkan tanpa salam. Mereka penasaran dengan apa yg terjadi cuma tak bisa memaksakan kehendak.
"kenapa dengan dian? aku merasa khawatir dok bagaimana ini"risau Vira.
"aku tidak tahu. tapi kita tak boleh memaksakan atau menuntut dian untuk menyalurkan dan berbagi dengan kita. aku pun merasa sangat khawatir"ucap dokter Marissa.
"benar kata dokter. Bagaimana pun dian tidak mau menyampaikan perasaannya kecuali dengan ustadz Alfi saja walau hanya baru sebagian."timpal dokter Paula.
"tapi kapan dian mau berbagi dengan kita? sedangkan aku dan vira adalah sahabatnya."sendu Caca.
"kalian harus sabar. bukan berarti nduk dian sudah tak menganggap kalian berdua sahabatnya lagi tapi berpikirlah secara positif. mungkin saja nduk dian tak mau membuat kalian berdua sedih dan ikut merasakannya."nasehat Kyai.
"benar aku setuju kata abi"simpul Guz Agung.
Komandan Agha manggut manggut saja lalu berjalan mengaktifkan layar monitor yg biasanya untuk memantau dian dari jauh. Semuanya akhirnya memfokuskan diri menatap layar. Kebetulan Azzam meminta untuk menyambungkannya sebab Hafsa kangen dengan wajah uminya.
😐😐😐
Sementara dengan Dian….
Ia berjalan cepat cepat lalu membuka pintu dengan segera dan menutupnya lagi. Setelah itu terduduk di sofa dan memegang amplop yg ia lihat tadi isinya. Sesekali menatap jam di dinding yg sudah menunjukkan waktu pulang kerja Ustadz Alfi kemarin.
Dian mendengus kesal. Ternyata suaminya benar benar ingkar, bukankah seharusnya sudah pulang seperti apa yg dikatakan kemarin malam. Tapi nyatanya tidak sesuai dengan ucapannya. Pokoknya ketika pulang nanti ia harus menanyakan kejelasannya.
Menit demi menit terlewati
10 menit sampai 30 menit lebih tak kunjung kembali
Rasa hati kian berdenyut nyeri
Kapan sih suaminya pulang kemari
Tak lama Ustadz Alfi sudah berada di dekat gerbang dan masuk kedalam membawa sesuatu di dalam kantung celananya. Tersenyum menyapa orang yg ia lewati dan tanpa sadar sudah ada di depan rumahnya.
Tok..tok..tok.
"assalamualaikum… dek"salam Ustadz Alfi yg membuka pintu. Lalu menghampiri Dian yg duduk di sofa. Ia masuk, hawa dingin menyebar dan menghempas raganya. Suasana cenderung sangat mengintimidasi namun ia masih saja berpikir positif dengan istrinya.
"Wa'alaikumsalam"jawab Dian yg bahkan tak mau menatap lama lama Ustadz Alfi didepannya.
Ustadz Alfi duduk disebelah Dian namun baru duduk istrinya pindah di sofa single, itupun membuatnya sudah merasa ada yg tidak beres disini. Ada yang aneh dengan istrinya, biasanya menyambutnya dengan senyuman dan menghampirinya untuk mencium tangan kanannya. Tetapi hari ini tidak dan lebih parahnya lagi ia di cueki seperti ini.
"ada apa dengannya? Kenapa acuh tak acuh denganku"pikir Ustadz Alfi.
bersambung....
🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢
Hallo permirswah, gimana epsnya neh?
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,
__ADS_1
Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘