Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Izin ke kediri


__ADS_3

Malam hari...


Dian dan ustadz Alfi sedang menghabiskan waktu bersama karena hafsa sudah tertidur sejak sehabis isya. Kebersamaan mereka tentu juga jarang saat hadirnya hafsa. Namun bukan berarti tidak senang atau tidak bersyukur, malah dengan hadirnya hafsa suasana rumah sedikit ramai.


Jika ustadz Alfi keluar tausiyah, dian jadi tidak kesepian di rumah. Apalagi saat ini ia sah menjadi mantan guru. Memang harus seperti itu, ia tidak mau menjadi orangtua yang tidak dianggap menyayangi anaknya karena kesibukannya. Sudah menjadi kodratnya seorang istri dan seorang ibu harus dirumah.


"dek, apa kau yakin resign dari pesantren?"tanya ustadz Alfi seraya memeluk dian dari belakang menatap sinar bulan di jendela kamar.


"iya mas, aku yakin."jawab dian


"bagaimana pun itu cita citamu? Sekarang sudah tercapai seharusnya dipertahankan."


"mas membebaskan untuk kamu meraih mimpi dan bekerja. Asal itu tidak membuatmu lelah. Mas tidak mau kamu tertekan akibat pernikahan kita"pendapat ustadz Alfi


"gak koq. Lagipula aku lelah harus bolak balik jakarta tanggerang. Kamu tidak memaksaku untuk dirumah. Ini kemauanku mas"balas dian.


"yasudah, aku akan mendukung setiap keputusanmu."simpul ustadz Alfi


Dian berbalik menghadap ustadz Alfi. Melihat dalam kearah mata itu, ternyata masih tetap sama. Sama dan tak berbeda. Masih mencintainya begitu tulus dan tidak memandang dirinya sebelah mata. Ustadz Alfi mengernyitkan keningnya heran melihat dian menatapnya dalam.


"kenapa hm?"tanya ustadz Alfi menoel dagu didepannya.


"tidak apa apa. Hanya melihat kearah matamu saja mas. Ternyata kamu masih tetap mencintaiku."


"oiya apa aku boleh bertanya?"tanya dian dan diangguki oleh ustadz Alfi


"harus jujur ya mas. Kamu alasan menerima perjanjian diantara almarhum mbah dan kakekmu apa mas? Secarakan kita berbeda."sambung dian


"apa yang berbeda sih dek. Kita sama. Sama sama muslim dan manusia. Aku menerimamu karena sudah yakin. Jika kamu adalah jodohku"jawab ustadz Alfi


"jodohmu"ulang dian dengan tersenyum menunduk.


"tentu. Kamu adalah jodohku yang diberikan oleh Allah. Insya Allah hatiku hanya untukmu"timpal ustadz Alfi yang melihat kalung berwarna biru hadiah darinya.


"semoga ya mas. Apa yang kamu katakan ini terbukti suatu saat nanti. Aku hanya khawatir."senyum dian menyiratkan sesuatu hal dimata ustadz Alfi.


"khawatir apa?"tuntut ustadz Alfi yang tak sabar dengan dian ucapkan selanjutnya.


"khawatir jika aku tak selamanya untukmu. Saat waktu itu tiba kamu harus berjanji kepadaku"ucap dian.


"kamu ngomong apa sih dek?"kesal ustadz Alfi yang sedikit menampilkan protes pada ucapan itu.


"mas kita kan gak tau kedepannya seperti apa. Aku mohon untuk menjaga dan merawat anak kita tanpa ku. Jangan membuatnya kecewa padamu dan kau boleh menentukan penggantiku untukmu. Saat aku sudah tiada nanti...aku.."ucap dian terhenti saat ustadz Alfi menutup mulutnya dengan jari telunjuknya.


"sstt, kamu ngomong apa sih dek. Jangan seperti itu. Jangan katakan itu lagi, mas gak sanggup. Kita rawat anak kita bersama yaa..."bantah ustadz Alfi.


Dian pun terdiam menatap wajah didepannya. Ustadz Alfi akibat perkataannya, bahkan memeluk erat dirinya dan memohon sampai meneteskan air matanya. Dirinya juga heran kenapa ia bisa mengucapkan kata kata itu dengan gamblang. Ia pun membalas pelukan itu dan merasa nyaman.


"cinta kita tidak akan terpisah mas. Insya Allah"ucap dian menenangkan


"aamiin"singkat ustadz Alfi


"kecuali, terpisah oleh maut"bathin dian.


Ia menyenderkan kepalanya di dekapan itu. Rasanya tidak bisa dirangkai dengan kata kata rasa nyaman di dekapan suaminya ini. Lama mereka berpelukan. Akhirnya ustadz Alfi tenang dan air mata itu dihapusnya. Dian terkekeh melihat ustadz Alfi.


"mas kamu cengeng ternyata hahaha"tawa dian sedikit tertahan takut hafsa terbangun.


Ustadz Alfi menatap tawa dian begitu tanpa celah. Seakan akan hanya ia yang boleh melihatnya. Egois memang tapi dian begitu berarti untuknya. Kedatangan istrinya di dalam hati membuat kehidupannya penuh warna. Apalagi ketika ia membuat pipi dan hidung milik dian memerah atau membuat kesal. Tawa itu terhenti saat telpon dari seseorang di ponsel dian.


"sebentar ya mas"pamit dian sedikit menjauh.


Dian : Assalamualaikum mba din


Mba dinda : (....)


Dian : Apakah itu tidak mendadak mba?


Mba dinda : (....)


Dian : Oh baik mba. Insya allah aku datang. Tapi aku harus izin terlebih dahulu. Wassalamualaikum


Mba dinda : (.....)

__ADS_1


Tampak dian menggulir layar ke lingkaran merah tanda berakhirnya telpon. Ustadz Alfi jadi penasaran dengan apa yang terjadi. Dian pun meletakkan ponselnya di dalam laci nakas lalu menatap ustadz Alfi.


"telpon dari siapa malem malem?"tanya ustadz Alfi.


"tadi telpon dari mba dinda yang ada di jogja."jawab dian yang diangguki oleh ustadz Alfi


"em...mas?"ucap dian kembali


"iya"sahut ustadz Alfi yang mulai merebahkan tubuhnya di sebelah dian. Sedangkan dian mulai merebahkan diri di tengah mereka karena hafsa dipinggir dan sudah di batasi guling.


"yan yan boleh izin gak mas. Kl besok sore berangkat ke kediri"sungkan dian.


"untuk apa? Kamu sama siapa? Ngapain kesana?"tanya ustadz Alfi bertubi tubi


"ada acara penghargaan yang aku tunggu tunggu mas. Aku sudah menanti penghargaan pelestarian budaya jawa. Rasanya jika ku tolak bukankah itu sayang. Aku pergi sendiri kesana"jawab dian


"mas ikut"singkat ustadz Alfi


"jangan mas. Kl gak ada kamu siapa yang ada untuk hafsa. Hafsa tidak boleh kesana karena sungguh belum terbiasa bepergian jauh. Kl gak ada kamu lalu bagaimana jika hafsa sakit"tolak dian.


"masa kamu sendiri sih dek. Mas khawatir kl sampai terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Sama mas aja atau sama bang azzam kesana"ucap ustadz Alfi.


"gak boleh gitu mas. Bang azzam ada kegiatan bagaimana. Aku bisa pergi sendiri. Aku kesana cuma 5 hari saja"tolak dian lagi.


"bang azzam gak ada kegiatan."singkat ustadz Alfi.


"tapi mas..."ucap dian yang terhenti.


"Berangkat sama bang azzam atau mas gak akan izinin kamu sama sekali"tegas ustadz Alfi.


Ditinggal saja berat apalagi jika dian tak ada yang jaga. Ia tak mau tau pokoknya jika ia tak ikut maka azzam menjaga. Dian ingin menolak namun ragu karena ustadz Alfi sudah mengatakan seperti itu jadi ia hanya menurut.


"baiklah mas"balas dian yang setuju.


Kemudian dian mulai bangkit lagi dan memasukkan keperluannya untuk ke kediri. Ustadz Alfi ikut membantu meringankannya dengan mengambil koper di kamar satunya lagi. Saat ustadz Alfi keluar, dian langsung memberitahukan mba dinda bahwa ia akan datang bersama bang azzam.


Dian menatap hafsa. Ia jadi tak tega meninggalkan hafsa. Namun selain itu, ia juga ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda di kediri. Mba dinda awalnya juga tak enak hati tapi hanya dian yang bisa ia minta tolong membuat video lagu bersama dan memimpin mengirim doa untuk almarhum orang tuanya di kediri. Dian bisa untuk menghadiri dan memimpin doa untuk 1 tahun selametan.


"aku mencintaimu dek"ucap ustadz Alfi seraya menutup matanya seakan akan ia hanya mengigau


"aku juga. Aku mencintaimu ustadzku karena Allah ta'alla."senyum dian yang kemudian tertidur dengan rengkuhan itu. Ustadz Alfi kembali membuka matanya.


"sebenarnya aku berat melepasmu dek. Yang aku inginkan nanti tolong jaga dirimu. Pulanglah dengan sehat dan akan ku sambut rasa bahagia serta senyummu nanti." bathin ustadz Alfi


"mas aku berat meninggalkan kalian dirumah. Aku hanya ingin selama aku tak ada, jagalah hafsa. Maaf untuk kali ini aku tak bisa menolak permintaan tolong dari mba dinda" bathin dian


πŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•Š


Pagi harinya, hafsa sudah rapi dengan pakaiannya. Recananya hari ini mereka jalan jalan ke mall dan taman. Dian sudah bilang kepada hafsa jika nanti akan berlibur bersama lalu sebagai kompensasi agar hafsa tak sedih ketika di tinggal olehnya.


Sehabis shalat dhuha ternyata ustadz Alfi tertidur kembali. Posisinya tengkurap dengan memeluk bantal di depannya. Hafsa yang melihat itu langsung cemberut. Katanya iya iya tapi malah abinya tertidur.


"aabiiii"ucap hafsa yang terdengar nyaring membuat dian yang mengambil handuk untuk dijemur menjadi terjengkit kaget.


"ada apa? Kenapa teriak teriak sama abi, hafsa"tanya dian


"huhu...abii eunda banun. Apca mau jayan jayan. Ntii umi tan mau pelgi"cebik hafsa yang mulai ingin nangis.


"em..coba umi bangunkan"ucap dian


"mas bangun"ucap dian namun tak diedahkan oleh ustadz Alfi.


Sampai 5 kali dibangunkan tapi gak ada hasilnya juga. Dian pun mulai rada emosi dibuatnya, ia pun tersenyum smirk dan hafsa hanya menatap polos uminya serta memiringkan kepalanya nampak berpikir.


"kau akan bangun mas hehe"bathin dian.


Dian pun sedikit berbicara sama hafsa lalu anak itu tampak mengerti dan menunggu abinya bangun. Dengan posisi di pinggir kasur dan berakting ingin pingsan.


"adduh mas, kepalaku pusing"keluh dian yang pura pura ingin terjatuh.


Ustadz Alfi langsung terbangun akibat suara dian yang seperti beneran saja. Tanpa aba aba ia menarik tangan dian dan alhasil tubuhnya ditindih. Semburat merah di pipinya dan mata yang terbelalak karena malu milik dian menatap ustadz Alfi yang tersenyum.


"mau coba bohongin yaa. Dek, mas mu akan mengambil keuntungan ini"bisik ustadz Alfi yang mendekatkan wajahnya dan bibir mereka menyatu.

__ADS_1


Dian mendadak membeku seraya menggenggam erat baju bagian bahu milik laki laki di depannya sedangkan ustadz Alfi semakin gencar memperdalam ciumannya. Hafsa terbengong sepi menatap itu. Ya ampun matanya melihat apa ini


"abi cama umi ladi apa?"tanya hafsa


Sontak dian berdiri bersamaan ustadz Alfi yang duduk. Dian nampak menetralkan detak jantungnya. Sungguh ini hal yang memalukan mana kenakalan ustadz Alfi yang ia takutkan dilihat oleh hafsa.


"manis dek"ucap ustadz Alfi tersenyum lebar. Akhirnya setelah sekian bulan gak dikasih hehe.


Clekit...


"aww sakit dek"pekik ustadz Alfi yang merasa kesakitan di pinggangnya akibat cubitan maut.


"manis manis. Kamu gak liat ada hafsa. Ya allah gustiii. Kamu nakal banget mas suer "omel dian.


"cecian deh abii di ubit cama umii. Matana danan nacal"nasehat hafsa yang membuat senyum dian terbit seakan menang lotre.


Ustadz Alfi meringis dan mengangguk akibat ucapan hafsa. Anaknya memang benar, jangan coba coba membangunkan singa betina yang gak maen maen rasa cubitannya. Masih beruntung ia tak di plak sama dian.


"sekarang pergi ke kamar mandi dan aku tunggu."ucap dian yang mulai tenang dan nampak menghela napas sabarnya.


"hehe sayang maaf yaa. Umii cantik deh masya allah"puji ustadz Alfi memelas memohon seraya menarik pelan baju bagian bawah milik dian. Itupun membuat dian mendelik tak percaya sedangkan hafsa tertawa terpikal pikal melihat abinya.


(kalah deh ya sa. Abi ngalahin manjanya hafsa ke umi heheπŸ˜‚)


Kemudian mereka bertiga siap siap untuk pergi. Kini senyum terbit diwajahnya hafsa selalu terlihat. Namun hatinya juga sedih, uminya mau pergi. Mungkinkah jika ini adalah jalan jalan untuk membujuknya.


Diperjalanan hafsa berceloteh terus mengajak uminya berbicara dengannya. Jika dian mulai diam, hafsa langsung meminta makanan atau minuman. Baginya, hari ini harus puas bersama sama abi maupun uminya.


Sesampainya di tempat tujuan...


Hafsa bermain di tempat taman bermain. Senyum dan tawa terus ada mengiringi dian dan hafsa. Sedangkan ustadz Alfi menunggu di kursi taman dengan menatap fokus kearah mereka berdua.


Setelah puas dengan bermain di taman, mereka berpindah ke dalam mall. Melihat lihat dan ujung ujungnya minta ke playground. Ini kesempatan bagus untuk memfoto hafsa dan dian. Feelnya dapet jika tadi tidak. Karena banyak orang.


Jepretan mencapai 5 kali dari kamera yang menggantung di lehernya. Seakan tak puas dengan foto pertama atau keduanya. Ustadz Alfi merangkap atau beralih profesi menjadi photografer. Hafsa dan dian baru menyadari jika ustadz Alfi tak bersama mereka bermain.


"umi, abi mana?"tanya hafsa


"umi gak tau deh. Tadi masih ada di antara kita"jawab dian


Tiba tiba ustadz Alfi sudah berada di belakang mereka dengan kameranya. Dian yang merasa ada seseorang dibelakang mendadak waspada. Lalu dengan tanpa aba aba langsung berbalik dan hendak menyerang. Sebelum itu terjadi, ustadz Alfi sudah melipat tangannya di perut sambil tersenyum menatap tangan yang hampir melayang.


"eh mas alfi"ucap dian yang menghentikan tangannya lalu menaruhnya dibelakang.


"hmm...keasyikan bermain sehingga melupakan ku."senyum ustadz Alfi penuh arti. Sedangkan dian dan hafsa kompak tersenyum malu lalu menunduk


"hehe maaf abii"kor mereka berdua.


"okey, kali ini dimaafkan. Sekarang kita akan kemana lagi?"tanya ustadz Alfi yang mulai menggaet lengan dian. Sedangkan hafsa mendadak berhenti dari tangan uminya.


"grrrrr"


Bunyi kokokan ayam nyasar di mall sudah terdengar jelas. Hafsa sebagai pelaku tersenyum malu lagi. Dian menoleh dengan menahan tawanya akibat itu.


"waw suara apa itu ? Perasaan di dalam mall tidak ada ayam?"ledek ustadz Alfi.


"eum...umii,abiii. Apca lapal"sungkan hafsa


"oh ternyata anak abi lapar. Ayo kita ke food court dulu"ajak ustadz Alfi yang kemudian menggendong hafsa dan menggandeng dian.


"hoyee! Matan ayam goleng cama entang"girang hafsa


Bersambung....


🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘

__ADS_1


__ADS_2