
Ustadz Alfi terang terangan mendekatkan wajahnya kepada dian. Sangat mepet sampai hampir tak berjarak lagi antara wajahnya dengan wajah dian. Dian pun bekerja sama dengan ustadz Alfi padahal dalam hati, ia sangat dongkol dengan ketidakjujuran suaminya ini. Ternyata kania adalah mantan cinta yang lebih tepatnya mantan tunangan dan ia harus membasminya.
"mas, jangan nakal dong. nanti ada yang nangis"ucap dian manja dengan memegang rahang tegas milik suaminya. Omongan pedas dian berhasil Membuat air mata kania dibuat mengalir satu tetes. Hati kania terbakar oleh rasa cemburu, kecewa dan marah dengan orang yang sudah beristri.
"makan tuh. Siapa suruh berani mengusikku. Panas panas dah tuh sampai ke ubun ubun..dan...inget ya mas, aku akan buat perhitungan denganmu nanti."bathin dian seraya tersenyum penuh arti.
"ya allah kalian ini benar benar"gumam abi abdurahman yang mengurut tulang hidungnya yang tiba tiba berdenyut. Sejatinya, ia merasa dejavu dengan tindakan anak dan menantunya. Begitu persis kelakuannya dulu ketika sedang ada bahaya rumah tangga dan Istrinya pun bekerja sama.
"Cuacanya jadi panas banget yah. Umi gerah gak ?."kompor aisyah yang menggerakkan tangannya di depan wajahnya. Sedangkan umi shita jadi mendadak tersenyum malu begini sih. Wah umi inget masa muda nih sama abi π.
"kania ayo pulang nak, ikhlaskan laki laki itu. Ia sudah mendapat wanita yang tepat"ucap ibu kania yang juga merasa tersentuh dengan kalimat kalimat serang balik dari dian. Ternyata laki laki yang sempat ditolak olehnya mendapat istri yang tidak gampang nangis dan menampar tidak langsung anaknya yang terus menghina.
"aku tidak mau bu. Aku mau kak afi. Walaupun menjadi perebut suami orang lain"ucap kania.
"sudahlah, cepat kita pulang."tegas sang ayah yang tidak mau dibantah. Kania pun pasrah dengan itu tapi didalam hatinya ada dendam yang tidak mereka ketahui. Mereka pun pamit pulang dan membuat lega hati yang ada didalam ruang tamu itu.
"alhamdulillah"ucap mereka serempak. Sedangkan dian mengumpulkan hidangan teh yang hanya tinggal gelas saja. Semua merasa lega dengan masalah yang sudah selesai ini.
"makasih udah bantuin tadi dek"ucap ustadz Alfi yang membuat dian tersenyum manis tapi.... Eh tunggu deh...
"siapa yang bantuin kamu mas?"tanya dian heran berwajah dingin menatap sinis Ustadz Alfi.
"eh"ucap ustadz Alfi yang terkejut.
"jangan kegeeran yaa. Aku tidak terima harga diriku diinjak injak sama cintamu."ucap dian yang tersenyum miris lalu beranjak ke dapur. Ustadz Alfi seketika terhenyak akibat ucapan itu.
Jedder...
"hayolo kak dian marah"ucap aisyah yang melihat kakaknya menelan salivanya mendengarnya tadi. Jujur dirinya memaklumi kakak iparnya, bagaimanapun setiap wanita akan bertindak seperti itu em..lebih tepatnya moodnya tiba tiba turun.
"memangnya kamu tidak menceritakannya Alfi?"tanya abi abdurahman yang tersenyum penuh kepuasan akibat reaksi putranya.
"enggak abi"jawab Ustadz Alfi.
"yah wasallamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"ledek abi abdurahman.
"waalaikumsalam"jawab ustadz Alfi lesu yang membuat mereka bertiga tertawa. Ia pun menyusul dian ke dapur. Sedangkan yang diruang tamu hanya menonton adegan istri ngambek gara gara suaminya gak pernah bilang tentang dia si MANTAN haha...
Terlihat ustadz Alfi sedang menyusun kata kata dan terus mengikuti dian yang meletakkan gelas gelas dan alat makan yang tak sempat di cuci sebab tadi. Dian ke kanan ustadz ngikutin, dian kekiri ustadz pun ngikutin juga sampai sampai dian jengah sendiri.
"iih apaan sih mas"kesal dian yang membuat penonton jadi terkekeh.
"jangan galak galak dong sayang. nanti kamu kayak singa dek"ucap ustadz Alfi. Ia bercanda untuk menetralkan suasana tapi bukannya netral malah jadi runyam.
__ADS_1
"oh jadi aku singa ya mas? Mau coba taringku"ucap dian ngegas dan menunjuk ustadz Alfi dengan telunjuknya. Matanya pun tidak selembut seperti biasanya apalagi wajahnya sudah tidak bersahabat lagi.
Sedangkan umay dan azzam sampai gak enak mau ngucap salam dan memilih berdiri di tempat setelah membuka pintu. Mereka berdua keget mendengar suara Dian yang naik 1 oktaf dari biasanya.
"hadduh apa yang terjadi? semoga ustadz bisa membujuk singa kecilku itu yang kl sudah marah sangat susah dibujuk"bathin umay was was.
"bu..bukan be..begitu dek."ucap ustadz Alfi yang mundur dan menaikkan tangannya keatas seperti maling yang ketangkep polisi.
Lalu dian hanya bisa menghembuskan nafasnya untuk mengatur emosi dan mencuekkan ustadz Alfi dengan menyusun piring kembali. Dian hanya ingin sendiri dahulu agar emosinya hilang, entahlah moodnya yang hancur tak bisa ia kembalikan seperti semula lagi.
"psst..umay. dian segalak itukah?sampai ustadz pun kalah telak. Benar benar singa"bisik azzam.
"husss"balas umay.
Setelah selesai membereskan piring dian pun nyelonong pergi meninggalkan ustadz Alfi. Hampir sih, soalnya si ustadz nahan tangannya.
"apa?"ucap dian malas bahkan enggan menatap ustadz sedikitpun.
"maaf mas tidak bercerita sebelumnya. Bisakah aku menjelaskannya dek?"ucap ustadz Alfi memohon yang membuat dian menatap nya.
"harus dong. Siapa kania? Bagi hatimu"tanya dian yang duduk dikursi menunggu penjelasan.
"em.. Kania itu temanku saat kuliah di mesir. Dia itu dekat juga denganku. Aku pernah.."ucap ustadz Alfi tampak ragu.
"iya sih"jawab ustadz Alfi tanpa sadar membuat semuanya menenggok kearahnya dan abi abdurahman merutuki ucapan itu.
"iya?"suara dian meninggi hampir menggebrak meja. Hatinya cemburu dan terasa panas dengan jawaban itu.
"eh bukan dek"ucap ustadz Alfi mengelak dan berwajah panik.
"oh yaudah"singkat dian yang tak ingin memperpanjang lagi.
"jangan marah itu semua masa lalu dek"timpal ustadz Alfi.
"masalalu yang bisa membuat hatimu bimbang terus aku diarsipkan"ucap dian yang bangkit kembali dari duduknya membuat ustadz Alfi kalang kabut. Ia pun memikirkan caranya untuk bagaimana bisa dian luluh kembali. Sungguh ia tidak ingin seperti ini terus.
"dek."
Panggil ustadz yang hanya dijawab deheman oleh dian. Istrinya ini sungguh marah dan bahkan menghempaskan tangannya halus dari pundak itu. Ia merasa takut jika istrinya benar benar tak mau lagi di sisinya. Sebuah ide melintas di benaknya...
"tau gak dek, kamu itu makanan dan minuman sekaligus untukku"tanya ustadz alfi
"apa hubungannya?"tanya dian memunggungi ustadz Alfi kearah mereka yang menonton. Wajahnya tertekuk bahkan sangat sangat ketara sekali cemburunya. Ia menyangga dagunya dengan mata yang menyiratkan rasa panas di hatinya, sayu bak bunga yang telah berhenti diberi air.
__ADS_1
"kamu itu makanan untukku. Karena dengan adanya dirimu menambahkan nutrisi untukku. Kamu itu minumanku. Karena ketika aku pulang dari manapun yang tadinya haus di jalan menjadi segar ketika melihat senyumanmu. Seger banget seperti air terjun"jelas ustadz Alfi yang membuat dian tersenyum sekilas
"gombal ku masih ada mas di dapur"balas dian ketus namun mengulum senyumnya dan menunduk memainkan ujung kerudungnya. Sedangkan sang ustadz tersenyum karena berhasil membuat dian salting.
"dek kenapa aku lebih nyuruh kamu bikin teh yang sedikit gulanya? Tau alasannya gak?"ustadz Alfi cengengesan membuat semuanya mengerutkan dahinya sedangkan dian berbalik menatap ustadz alfi penasaran.
"memang kenapa?"tanya dian yang mulai mencair.
"kl gulanya tidak sedikit aku bisa diabetes. Karena yang buat aja udah manis"jawab ustadz Alfi tersenyum memandang dian.
"ya allah gustiii."keluh dian yang membuat tawa semuanya tidak bisa ditahan lagi.
"pokoknya malam ini kamu tidur diluar mas"ucap dian yang beranjak meninggalkan semuanya. Jujur ini membuatnya malu.
"yah gak mau dek"bantah ustadz Alfi memohon.
"gak mau ya? Oh berarti nanti dikamar aja deh."
"alhamdulillah"ucap syukur si ustadz.
"biar aku yang diruang tamu, kamu tidur meluk guling aja sana"kesal dian
"jangan dong. Kamu itu guling ku dek. Guling yang bisa di peluk, bisa di cium, dan mmph"ucap ustadz Alfi yang terpotong sebab tangan dian menutup mulutnya sebelum ucapan ngelantur lainnya keluar.
"hadduh terserah deh. Kamu tidur sama aku ya mas dan gak akan diluar.paham?"ucap dian dengan senyum termanis dan hanya di balas anggukkan oleh ustadz Alfi.
"umi kami pamit assalamulaikum"ucap dian yang sudah merona parah dan menggeret ustadz Alfi pergi dari sana. Sementara, Ustadz Alfi tersenyum puas diam diam melihat Dian yang salah tingkah.
"yess berhasil, aku tidak akan tidur disofa. alhamdulillah"bathin Ustadz Alfi seraya mengikuti Dian selalu. Dirinya tak mau terpisah walau sedetik saja.
"waalaikumsalam"serempak semuanya lalu....
"hahahahahaha"tawa pun pecah di ruang tamu tersebut.
bersambung....
π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’
Hallo semuanya, Salam sehat >_<
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan selamat membaca... Bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya, Terimakasih π·
__ADS_1