
Tamu undangan memenuhi aula utama pesantren. Dian dan caca sudah siap mengiringi gus Agung dan vira menuju pelaminan. Gerakkan silat diperagakan oleh mereka berdua mengantar sang ketua di perguruan yang dian menuntut ilmu. Tepukan dari para tamu terdengar dan decakan kagum dari mereka berdua.
Sesampainya di depan pelaminan, dian dan caca kemudian memberhentikan gerakan yang sudah diperlihatkan untuk memboyong kedua pengantin baru. Senyum terus terbit dari wajah vira dan gus Agung.
Dian dan caca berganti pakaian bak srikandi menjelma menjadi tuan putri hehe. Dian memakai kebaya bewarna biru dan caca memakai dress yang senada dengan kebaya dian.
"selamat ya vira, akhirnya nyusul dian. Aku sendiri deh"ucap caca yang memeluk vira dan berpura pura sedih.
"semoga sahabatku ini mendapatkan jodohnya tapi jangan sekarang seharusnya tahun depan hehe"canda vira yang malah diaamiinkan oleh dian di belakang.
"iih dian kenapa diaamiinkan?"rengek caca.
"harus dong, setiap doa terbaik kita mengaminkannya. Ya walaupun doanya juga seperti itu"ucap dian dengan santai membuat vira tertawa bersama gus Agung. Caca pun turun dengan wajah cemberut dan berjalan menuju meja makanan.
"selamat vira dan mamas jangkung"ucap dian yang yang tersenyum mengucapkan nama sahabatnya tapi sebutan gus agung dengan sangat malas.
"ya allah dek hidung merah. Sendiri aja sih, makanya sensi"ledek gus agung.
"mas agung kl bukan vira istrimu, aku udah pukul kamu mas. Dasar mas jangkung jangkung jangkung"kesal dian yang membuat vira terkekeh geli melihat sahabatnya ini.
"kamu jualan jagung dek"tanya gus agung yang membuat tamu dibelakangnya tertawa akibat perdebatan antara mereka berdua.
"mas agung aku aduin kakung loh"ancam dian.
"hehe bercanda , jangan dianggap serius. Oiya mau mas beliin hidung merah martabak"bujuk gus agung yang panik kl sampai dian ngadu ke abinya waduh gawat deh urusannya. Adik seperguruannya ini memang benar benar tiada akhlak.
"ha? Serius mas. Mau martabak rasa keju"antusias dian yang sudah lupa dengan ancamannya.
"okey. Nanti yaa, ira yang kasih nanti"ucap gus agung yang melirik istrinya.
"sipp, aku doakan mas agung dan vira langgeng tanpa adanya halangan."ucap dian yang tersenyum lalu turun dari pelaminan.
"aamiin."kor mereka berdua.
"mas gak boleh gitu, kasihan dian.kamu bohong yaa"ucap vira.
"lagipula dian itu sudah ku anggap adik jadi aku tidak bakal berbohong dan membelikannya martabak nanti."ucap gus agung yang tersenyum menatap sang istri.
__ADS_1
Acara demi acara sudah terlalui dengan baik. Akhirnya selesai juga di jam 1 siang. Mereka berkumpul di ndalem dan berbincang bincang bersama.
"nduk kamu kayak ngidam aja, apa sudah isi?"tanya bu nyai istri dari kyai yang melihat martabak keju dibelikan putra bontotnya. Karena dian tidak pernah suka jika martabak keju pasti harus ada cokelat untuk setengahnya.
"Aku belum. 4 bulan lalu periksa hasilnya negatif terus utii"ucap dian sendu. Semuanya pun ikut terdiam dengan jawaban dian.
"maaf ya nduk, mungkin belum rezekinya. Berdoa selalu"ucap bu nyai yang merasa tidak enak hati.
"hehe gak apa apa utii"ucap dian yang tersenyum agar utiinya itu tidak merasa bersalah telah menanyakan hal itu.
"oiya utii, kakung. Mas, mbak semua aku mau pamit dulu."ucap dian yang mengambil kunci motornya di meja ruang tamu.
"lho koq pamit dek kan kita semua juga masih ingin berkumpul seperti ini sangat jarang sekali"ucap putra sulung kyai.
"yah padahal pengen sharing buat kue bolu. Udah pulang aja dek"ucap istri dari putra kyai yang pertama. Ia menimpali ucapan suaminya sebab sangat ingin dian berbagi resep dengannya. Katanya buatan dian sangat enak.
"jangan ditahan tho, nduk dian pasti lelah. Mau kakung antar"ucap kyai yang melihat wajah dian sudah sangat lelah akibat tadi di acara pernikahan putra bungsunya.
"ndak usah kakung. Dian kan bawa motor."tolak dian yang menyalimi kyai dan bu nyai.
πππ
Dian sudah sampai dirumah dengan selamat. Ia bahkan tampak cantik walaupun memakai riasan natural. Terlihat di dalam rumah hanya ada yang perempuan saja. Sedangkan yang laki laki lagi pergi entah kemana bersama ayah ahmad.
"assalamualaikum"salam dian.
"waalaikumsalam"jawab semuanya
Dian pun menyalimi umi shita dan bu mira. Bahkan ia membuat kedua yang dianggap ibu olehnya berdecak kagum. Sedangkan dian sesudah itu langsung membuka martabak pemberian gus agung tadi.
"masya allah mantu umi cantik banget sih, kalah dong pengantinnya tadi"puji umi shita.
Dian hanya membalas dengan senyuman dan melahap habis martabak itu. Membuat bu mira menggeleng kepalanya.
"nduk bagi aisyah atau umi shita."tegur bu mira.
"hehe lupa bu"ucap dian cengengesan.
__ADS_1
"tidak apa apa, dian juga sepertinya sedang ingin sekali."ucap umi shita yang terkekeh geli melihat mantunya melahap habis 1 kotak kerdus martabak.
"segera mandi nduk, habis dari luar gak baik."perintah bu mira yang membuat dian menghormatkan diri lalu bergegas mandi dan membawa kardus kosong itu agar di buang pada tempatnya.
"ya allah anak itu"ucap bu mira yang mengundang tawa umi shita, dayu dan aisyah.
Beberapa jam terlewatkan...
Ustadz Alfi dan lainnya sudah pulang dari balai desa. Entah ingin melakukan apa disana. Umay, azzam dan farhan memilih untuk bersama dengan ayah ahmad sama abi di teras.
Sedangkan umi shita, bu mira, aisyah dan dayu bersenda gurau di karpet lesehan. Ustadz Alfi sedang meminum teh jahe, sebab perutnya merasa tidak enak. Padahal karena bau duren saja langsung Mual tapi tidak sampai muntah sih.
Dian keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju kamarnya lewat pintu yang dekat dapur. Di dalam kamar ia menyisir rambutnya dan menguncirnya. Lalu memakai hijab instan bewarna biru muda dengan baju dan celana panjang. Lemarinya hanya punya baju seperti itu dan tidak ada gamis sebab hanya gamis di jakarta saja yang dibelikan ustadz Alfi.
Ngomong ngomong tentang suaminya, sejujurnya Dian masih merasa bersalah atas ucapannya waktu itu. Ia tahu bagaimana perasaan ustadz Alfi ketika mendengarnya. Jadi sedikit menghindar apa itu boleh?
Ketika membuka pintu....
Deg ....
Deg...
Deg...
Dian membuka pintu kamarnya yang berada langsung di ruang tamu. Orang yang ia hindari malah sedang asik meminum teh jahe di sofa. Pandangannya terkunci dan tubuhnya seakan tidak mau jalan dari tempatnya. Tidak bisa mengalihkan apa yang ia pandang. Sesosok suami yang sempurna dan ia merasa paling beruntung mendapatkannya.
Ustadz Alfi yang merasa sedang di perhatikan mengerutkan keningnya dan mendongak melihat mata yang selalu ia rindukan, melihat pipi serta hidung yang selalu ia tarik untuk menyalurkan rasa gemasnya pada istrinya.
Bersambung...
π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’
Hallo semuanya, Salam sehat >_<
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan selamat membaca... Bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya, Terimakasih π·
__ADS_1