Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Pertemuan AD


__ADS_3

Pesawat komersil sudah mendarat dengan selamat di bandara internasional sultan iskandar muda. Ketiga laki laki berjalan beriringan keluar dari pesawat bersama sama. Tampilan mereka cukup menarik perhatian semua yg berada di sana.


Jaket kulit coklat sangat kontras dengan celana mereka yg sama sama hitam. Apalagi wajah yg sudah tertebak itu putih, seakan akan mereka adalah artis yg baru saja tiba di kota aceh ini.


Ustadz Alfi, Gus Agung dan Komandan Agha yg memang sudah biasa menjadi pusat perhatian pun tak akan berpengaruh dengan tatapan orang lain memandangnya. Fokus mereka hanya satu yaitu Istri.


Mereka bertiga sudah dijemput oleh mobil putih milik anak buah Komandan Agha. Memakan waktu sekitar 1,45 jam untuk ke kamp asrama melawati jalan alternatif. 


Setelah beberapa saat kemudian, Sampailah mereka di tempat tujuan. Gerbang terbuka lebar dan disambut sikap hormat untuk Komandan Agha. Saat mobil masuk sudah disuguhi oleh para anggota bibit bibit TNI baru sedang berlatih silat. Laki laki diajarkan oleh Raka dan Brian sedangkan wanitanya diajarkan oleh seseorang yg tak nampak dari penglihatan mereka. 


Sebenarnya itu adalah Dian yg duduk di kursi sebab tak boleh lama lama berdiri. Itu pun terpaksa sebab tuntutan dokter Marisa yg menyuruhnya untuk duduk toh ini demi kelancarannya untuk melatih. Ia bahkan tidak bisa membantah dengan dokter kesayangannya itu karena ada saja bujuk rayuan maut dari dokter Marisa.


Ustadz Alfi bersama gus Agung dan komandan sudah turun dari mobil. Mereka berjalan ke arah ruang rapat yg letaknya belok kanan sebelah mimbar. Otomatis melewati bagian belakang lapangan yg terdapat beberapa orang yg memperagakan gerakan silat.


"kalian harus menunjukkan kuda kuda yg kuat"perintah Dian tetap memperhatikan gerakan anak didiknya. 


Deg…


Sontak ustadz Alfi memberhentikan langkah kakinya tepat letaknya sejajar dengan Dian berdiri dari duduknya. Ia merasa hatinya mengatakan itu suara yg familiar di telinganya.


"ya allah suara ini begitu membuatku sangat senang. Dek, aku merindukanmu"batin ustadz Alfi tanpa sadar tersenyum dan menoleh kearah kumpulan barisan tersebut. 


Namun ia kembali melangkah menyusul gus agung dan komandan agha yg seperti berbincang serius dan berjalan menjauh darinya. Ia pun segera bergegas. 


Tap...tap..tap


Bunyi sepatu seseorang membuat dian menatap ke arah tubuh tegap yang memakai jaket coklat itu membuat dirinya termenung. Seakan akan langkah kaki pemilik jaket coklat tersebut seperti slow motion baginya.


Hatinya mendadak berdebar saat ia mengingat seseorang yg berada di dalam hatinya dan selalu ia sebut dalam doa setiap sehabis sholat. Rasanya begitu membuatnya merasa jatuh cinta kembali dan merasa keberadaan sang suami yg ia rindukan begitu dekat dengannya saat ini.


"ya allah aku merasa mas alfi saat ini begitu dekat. Apakah pemilik jaket coklat itu ya? Tapi itu mana mungkin. Bukankah tidak ada yg tau jika aku masih hidup. Mungkin sebab aku begitu merindukannya."batin Dian yg menatap nanar ke arah mimbar yg membuat si jaket coklat menghilang tanpa jejak.


Semuanya menatap kearah Dian. Mereka penasaran dengan arah pandang kakak pengajarnya yg terkenal dengan keseriusan saat mengajar mendadak hilang fokus menatap selalu ke arah mimbar dan tembok ruang rapat. Ini sungguh aneh. Mereka takut jika lama lama dibiarkan penyakit kakak pengajarnya akan kambuh dan langsung saja menegur.

__ADS_1


"kak"


"kak Dian"tegur mereka serempak. Dian terkejut dan tersadar kembali.


"maaf, kalian bisa lanjut lagi"kikuk Dian seraya mendudukkan dirinya di kursi. 


Intan dan melinda adalah orang yg dekat dengan Dian pangsung menampilkan wajah khawatir lalu menuangkan air minum untuk Dian. Sedangkan yg lainnya lanjut berlatih. 


"kakak gak apa apa kan?"tanya intan yg memberi gelas yg berisi air.


"tidak apa apa, aku baik baik saja."senyum Dian seraya menerima gelas tersebut. 


"kakak melihat sesuatu?"tanya melinda.


"em..ak..aku tidak melihat apa apa kok"gugup Dian. Tanpa sengaja pipinya memerah sebab benaknya terus menerus menampilkan ustadz Alfi yg tersenyum kepadanya. Al hasil membuat ia salah tingkah.


"okey"singkat melinda. Raka dan Brian yg melihat itu langsung tersenyum penuh arti. 


"pasangan suami istri ini punya kontak batin yg luar biasa"puji Raka dan Brian dalam hati. 


☘️☘️☘️


"apa kabar komandan Agha"ucap dokter Marisa


"baik alhamdulillah"jawab Agha


Didalam ruang rapat sudah ada ustadz Alfi, Gus Agung, Vira, Caca, dokter Marissa dan dokter Rinnai. Di meja sudah terdapat proposal upaya penyembuhan serta rekap perkembangan Dian selama ini. 


"di dalam ini adalah berkas proposal yg bisa dibaca oleh ustadz"ucap dokter Marissa yg menggeser map itu ke arah ustadz Alfi. Di dalam hatinya bahkan sudah tak karuan sebab jiwa fansnya meledak ledak dihadapkan idolanya begini namun para dokter selalu menjaga sikap dan profesional dalam bekerja.


"ustadz harus banyak bersabar dengan perilakunya yg mungkin akan membuat hati sakit mendengar. Namun percayalah bahwa Dian masih punya rasa di hatinya untuk ustadz."ucap dokter marissa. Ustadz Alfi mengangguk seraya menatap barisan kalimat di berkas tersebut.


"kl menangani masalah penyakit yg kadang kambuh tak tentu waktu. Tindakan ustadz harus tenang dan jangan panik. Jika ustadz panik maka Dian tambah tambah. Karena di dalam dirinya jauh terdalam ia takut pada reaksinya sendiri. Nah rasa takut yg berlebihan membuatnya menyakiti dirinya sendiri dan memilih menyendiri"ucap dokter marissa kembali.

__ADS_1


"lalu cara yang membuat paham saat penyakitnya kambuh, apa bisa terlihat tanda tandanya ?"tanya ustadz Alfi yg meletakkan berkas itu di meja lalu menatap lurus tanpa menatap kedua dokter tersebut.


"ustadz harus memahami gejalanya. Jika tiba tiba Dian pingsan lalu bergumam tidak jelas itu tandanya baru masuk ke dalam traumanya. Saat itu tuntunlah ke kamar lalu tidurkan. Pastikan segala benda tajam seperti gunting, cutter, jarum, pisau ataupun kaca langsung di sembunyikan. Nah saat tidur, Dian akan mencari dan memanggil manggil nama ustadz berulang kali. Hal yg dilakukan ustadz ya harus jujur jika ustadz akan menemani dan katakan ini akan baik baik saja. Jika dian pulas maka ia akan terlewat dari penyakitnya."terang dokter Marissa.


"lho kok ini lebih mudah dok?"tanya caca bingung.


"benar. Karena setiap kambuh kalian tidak ada yg boleh mendekat selain kami. Kl sudah tertidur pasti alam bawah sadarnya akan terus memanggil nama suaminya."jawab dokter rinnai. 


"Dian setelah itu akan sadar. Namun kami tak memprediksikan akan seperti apa setelah itu. Karena kami hanya membuatnya tertidur sampai pagi dengan menahan kaki dan tangannya agar tidak beranjak dari ranjang. Jadi apapun yg terjadi kami berharap besar kepada ustadz selalu perhatian dan beri ia kasih sayang banyak banyak walau ucapannya melukai hati"ucap dokter marissa yg menambahi ucapan rekannya. Itu peristiwa sehabis operasi dan seringnya di singapura jika Dian kambuh. Sekali disini membuat semuanya kerepotan sebab dokter marissa menangani sendiri dan akhirnya intan serta melinda yg membantu.


"baiklah saya paham. Terimakasih atas kedua dokter dan rekan kerjanya yg telah berusaha penuh untuk penyembuhannya."ucap ustadz Alfi.


"sama sama ustadz. Semangat dan optimis selalu akan tugas selanjutnya untuk masa penyembuhan. Semoga Dian cepat sembuh dan dapat berkumpul kembali dengan keluarga"ucap dokter Rinnai yg disetujui oleh dokter Marissa.


"aamiin"kor semuanya.


"oiya, lihatlah ini ustadz. Setiap kali Dian memandang bingkai foto ini, ia akan menangis lalu kembali semangat dalam hariannya."ucap dokter Marissa yg menggeser bingkai foto yg posisinya tengkurap itu. Dokter Marissa mengambilnya di dalam laci nakas saat Dian mandi dan bersiap untuk melatih anak didiknya 


Ustadz Alfi pun mengubah posisi bingkai sehingga membuat semuanya melihat. Betapa terkejutnya ia melihat bingkai foto tersebut. Terlihat ia yg memeluk Dian dari belakang dan mereka sama sama tersenyum manis. Hatinya semakin mantap untuk membuat Dian kembali ke sisinya. 


"owalah ini ternyata hihihi"ucap Vira yg terkekeh kecil akan apa yg ia lihat. Semuanya jadi ikut terkekeh kecil sedangkan Ustadz Alfi tersenyum senyum sendiri.


"assalamualaikum"salam Dian di ambang pintu.


Deg


Bersambung….


🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa

__ADS_1


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘


__ADS_2