
Dian membuka pintu kamarnya yang berada langsung di ruang tamu. Orang yang ia hindari malah sedang asik meminum teh jahe di sofa. Pandangannya terkunci dan tubuhnya seakan tidak mau jalan dari tempatnya. Tidak bisa mengalihkan apa yang ia pandang. Sesosok suami yang sempurna dan ia merasa paling beruntung mendapatkannya.
Ustadz Alfi yang merasa sedang di perhatikan mengerutkan keningnya dan mendongak melihat mata yang selalu ia rindukan, melihat pipi serta hidung yang selalu ia tarik untuk menyalurkan rasa gemasnya pada istrinya.
Lama mereka saling pandang memandang sampai yang sedang lesehan menyadari hal itu. Dan berdoa, bahwa ini adalah hari dimana mereka berdua tidak terbentengi oleh tembok salah faham.
"jujur aku rindu kamu mas, tapii.... "bathin Dian sebenarnya ingin mendekat.
Namun dian mengalihkan pandangannya dan berjalan kearah pintu utama. Rasanya tidak kuat terus menatap mata yang begitu tulus mencintainya. Ustadz Alfi melihat itu merasa kecewa karena gagal lagi ingin berbicara. Bagaimana mau bicara kalau dian saja tidak mau menatapnya.
Tapi tak lama dian menatapnya lagi, ia menyembunyikan rasa kecewa pada diri sendiri dengan menggunakan cara dari azzam. Tersenyum manis di depan kekasih hallalnya dan dibuat bingung kenapa dian berlari memeluk kakinya.
"mas maaf"ucap dian yang hanya terdengar oleh ustadz Alfi saja sebab dibarengi tangisan. Mencium tangannya dan meletakkan wajah di pangkuan nya. Terlihat dian memejamkan matanya dan deraslah air mata itu mengalir.
Kata maaf yang seharusnya terlontar darinya, kenapa harus dian yang mengucapkannya. Padahal ia telah membuat istrinya sakit hati dengan segala terkaan negatif namun tetap menahan amarahnya dan menghormatinya dengan melayani kebutuhan makan, minum, menyiapkan pakaian, serta merawatnya ketika sakit. Selalu menjadi seorang istri yang baik dan patuh kepadanya.
Ini semua salahnya yang menyebabkan istrinya bahkan bisa menangis dan kebingungan memilih jalan pikirnya. Istrinya tidak pernah berpikir untuk membuatnya sakit hati dan memilih bungkam dengan harapan yang tidak kunjung di dapatkan.
Banyak kesempatan yang diberikan oleh istrinya namun ia tidak manfaatkan kesempatan itu untuk menceritakan semuanya agar menemui titik terang dari duduk permasalahan yang mereka hadapi.
"jangan seperti ini dek, bangunlah"ucap ustadz Alfi.
"gak mau, sebelum mas Alfi maafin aku hiks..hiks"tangis dian yang semakin jelas terdengar.
"seharusnya yang minta maaf itu aku, bukan kamu dek"ucap ustadz Alfi kembali namun dian tidak mau melepaskan pelukan di kakinya.
"dek bangun atau mas akan bersujud di kakimu"ancam ustadz Alfi yang membuat dian melepaskan kakinya dan duduk bersimpuh di lantai menatapnya dengan hidung yang merah serta air mata yang mengalir sedikit - sedikit.
"tidak usah meminta maaf, lagipula ini salahku. Maaf buat kamu sakit hati"ucap ustadz Alfi yang meraup wajah dian lalu menghapus air mata mengalir di pipi yang dilihat lihat pipi istrinya cubby.
__ADS_1
"lagian mas Alfi gak ngomong kl mau ketemu sama dia gak sengaja"ucap dian yang mulai mereda tangisannya.
"maaf atas kelalaianku yang tidak mau cerita. Sebenarnya aku bukan menemui kania tapi sahabatku yang saat itu sudah pulang pas kamu datang"jelas ustadz Alfi.
"sekali kamu sebut nama dia, awas aja."ngambek dian yang tidak suka ustadz Alfi mengucapkan nama kania.
"loh kenapa dek?"ledek ustadz Alfi yang terseyum menatap dian yang berwajah masam.
"kamu hanya boleh menyebut namaku bukan dia. Dia itu haram hukumnya. Mas...aku gak suka"rengek dian.
"iyaa mas gak akan sebut koq"ucap ustadz Alfi yang membuat dian tersenyum menatapnya.
"mas peluk"pinta dian yang merentangkan kedua tangannya ke depan.
"sini"jawab ustadz Alfi.
"aww....sakit"keluh dian yang memegang perutnya sambil menunduk.
"dek kamu kenapa?"panik ustadz Alfi yang melihat dian tak kunjung berhenti mengeluh sakit dan bahkan menunduk terus.
"mas sakit...hiks...hiks"tangis dian yang membuat para kaum pria di teras langsung masuk. Sedangkan ustadz Alfi melihat wajah istrinya pucet pasi setelah mendongak mengadu kesakitan padanya jadi merasa sangat khawatir.
Dian kemudian ingin bangkit namun tidak bisa. Akhirnya ustadz Alfi menggendongnya agar bisa dibawa ke kamar untuk mengobatinya mungkin. Dayu tak sengaja melihat darah di area bawah pinggang mbaknya.
"mbak koq ada bercak merah di belakangmu? apa sedang halangan"tanya dayu yang membuat para wanitanya melihat kearah kain yang memang berdarah.
"aku udah telat 2 bulan tidak halangan"jawab dian yang menahan sakit mengakibatkan wajahnya keringat dingin dan tambah pucat.
"ya allah, cepat antar dian kerumah sakit alfi. Umi takut itu pedarahan keguguran"panik umi shita yang membuat semuanya tercengang. Sebab ia pernah mengalaminya. Dian yg mendengar itu langsung panik dan tambah menangis.
__ADS_1
"mas"pekik dian yang merasa takut itu sampai memegang erat baju bagian bahu ustadz Alfi. Ustadz Alfi yang tahu betapa lukanya hati umi shita waktu itu kehilangan calon adiknya dulu membuat ia langsung berjalan cepat kearah mobil bersama gercepnya umay mengambil kunci mobil itu.
Yang lainnya bersiap untuk berangkat ke rumah sakit tujuan. Sedangkan rumah akan dijaga oleh azzam, ayah ahmad dan abi abdurahman.
Perjalanan menuju rumah sakit besar memakan waktu 2 jam ke arah kota. Belum lagi kelok keloknya yang rawan kecelakaan. Jadi umay ekstra hati hati namun nyatanya walaupun tampak tenang dan fokus tapi di dalamnya, jantung bahkan berdetak lebih cepat.
Terlihat dibelakang ustadz Alfi terus berusaha menenangkan dian yang sudah merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. Ia memangku dan memakaikan sorbannya di sekitar noda di area belakang istrinya.Di mobil miliknya bahkan ada pakaian dan kopyahnya. Sorban pun tersedia di belakang.
"ya Allah jika aku diizinkan oleh mu untuk menggantikan rasa sakitnya, aku tentu sangat bersedia bertukar jadi dirinya"bathin ustadz Alfi seraya menghapus keringat yang mengalir sebesar biji jagung di wajah pucat tersebut.
Dian hanya bisa menahan semuanya dengan menggigit bibirnya dan meringis sesekali. Tanpa mau menyalurkannya ke orang yang memangku dirinya.
"dek jangan di gigit nanti bisa berdarah. Genggam tanganku jika perlu cakar saja"ucap ustadz Alfi yang melarang dan kemudian memberikan tangan kirinya.
Al hasil tangannya di genggam erat sampai terasa sakit dan mungkin saja lecet akibat kuku jari lentik tersebut. Namun sepertinya dian tidak lama mencakar lalu berhenti dan menangis kembali akibat efek sakit yang berkepanjangan di dalam perutnya.
"mas sakit hiks...hiks... Aku gak kuat"keluh dian yang beralih memeluk ustadz Alfi.
Didalam mobil rasanya sangat sangat menegangkan. Ustadz Alfi merasa kasihan melihat Dian merintih kesakitan seperti ini. Entah rasa bersalahnya terus teringat dibenaknya. Sesekali ia menciumi kening Dian menyalurkan rasa ketenangan. tapi kayaknya gak bisa juga deh
bersambung...
π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’
Hallo semuanya, Salam sehat >_<
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan selamat membaca... Bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya, Terimakasih π·
__ADS_1