
"oiya Ustadz mau kapan kesana nya?"tanya Agha.
"Sebaiknya harus segera, karena kita tidak perlu menunggu kapan lagi. Sebab Dian akan segera gugat cerai, ia tahu bahwa saat ini kania masih hidup"timpal Azzam yg menatap serius semuanya.
"apa?!"kaget Ustadz Alfi.
"kenapa nduk dian ingin cerai?"bingung Bu mira. Setaunya, Dian begitu bahagia menikah dan selama ini adem adem saja dengan menantunya.
"sesuai dari rekaman tadi, Akibat paksaan itu Dian berpikir bahwa dengan Bercerai itu jalan yg benar. Padahal sampai saat ini ia tidak tahu bahwa kania telah meninggal"ucap Azzam kembali. Ia begitu tak bisa move on akan kejadian pemaksaan.
"jadi kita harus segera kesana, agar Ustadz bisa membujuk dan mencoba pendekatan lagi. Aku sangat yakin. Sebenarnya perasaannya terhadap ustadz itu sama seperti awal. Hanya saja akibat kejadian itu yang membuatnya takut menimpa nyawa kita semua."ucap Agha
"ibarat Dian di posisi yg sangat membingungkan. Nah kitalah yang membuatnya galau mau pilih jalan yg mana."timpal Azzam.
"tapi apakah harus memutuskan seperti itu?"ucap Umay yg angkat suara.
"kami tidak bisa menekankan sesuatu yg membuatnya trauma. Jika tetap memaksa maka akan fatal akibatnya."jelas Gus Agung.
"lebih baik sekarang kita harus berangkat. Bukan begitu ustadz…."ucap Agha terhenti akibat yg diajak berbicara sudah tidak ada nyawanya di sofa.
"lho dimana orangnya"heran Azzam. Ia yg disamping ustadz Alfi saja tidak sadar. Hafsa berjalan bersama dengan zaki ke arah mereka.
"Abi lagi dikamar, mungkin siap siap"ucap Hafsa yg duduk di tempat Abinya tadi.
"tata, memannya abi mau temana?"tanya Zaki. Ia selalu memanggil ustadz Alfi ialah abi.
"abi mau pergi nyusul umi."jawab umay yg memberi pemahaman kepada anaknya.
"oh mao nyucul umi yan"simpul Zaki. Semuanya pun mengangguk angguk setuju dengan ucapannya. Walaupun zaki tak pernah melihat Dian namun ia mengerti dan mengenalnya lewat foto yg berjejer rapi di ruang tamu.
Ustadz Alfi membuka pintu kamarnya yg sontak membuat semuanya menoleh. Ia memakai baju koko putih dengan jaket coklat kulit dilengkapi kopiah hitam dan celana panjangnya senada.
"aku telah siap"ucap Ustadz Alfi seraya membenarkan jam tangannya. Ayah dari 1 anak itu yg sudah berumur lebih dari 30 tahun selalu saja berkharisma dan juga tampannya nggak luntur.
"lho, kok diam aja. Tadi ngajak segera"heran Ustadz Alfi dengan reaksi mereka yg berlebihan.
"yang mau nemu istri tercinta, auranya mah beda."sindir Azzam sambil terpukau dengan sahabatnya itu.
Walaupun ia juga sama sama tampan tapi kan ustadz Alfi lebih unggul sebab dagunya terawat dan bersih dari bulu. Sedangkan dirinya, terdapat sedikit bulu yg bertengger di dagunya karena tak sempat merawat dan fokus menyelidiki Dian.
"le,, kamu kayak anak remaja tanggung"ucap bu Mira memuji menantunya seraya tersenyum beradu pandang dengan umi shita yg sama sama tersenyum.
"jadi ayah sudah sangat tua maksudnya"rajuk Ayah Ahmad yg merasa istrinya memuji berlebih kepada menantu laki lakinya.
"iih, ayah sadar dong. Sudah berumur juga dan punya cucu masih aja kayak ABG baru kenal cinta"cibir Bu mira membuat semuanya terkekeh melihat interaksi pasangan itu.
"ayah tampan dan gagah kok"ucap Ustadz Alfi memuji ayah mertuanya.
"oh ya jelas dong le"bangga Ayah Ahmad yg lalu mendapat cubitan oleh istrinya.
"awwss ibu nopo tho"keluh Ayah Ahmad yg mengelus pahanya dengan menatap melas kearah istrinya.
"narsis mu mas, kurangi. Ya allah"celetuk bu Mira. Ayah Ahmad hanya menampilkan giginya yg rapi nan putih itu.
Ustadz Alfi menggeleng gelengkan kepalanya dan beralih mencium tangan kedua orang tuanya serta kedua mertuanya. Berlanjut dengan menyalami umay. Disusul oleh agha dan gus Agung.
"hati hati di jalan al, semangat"ucap Azzam mengedipkan sebelah matanya. Lalu ustadz Alfi tos atau beradu kepalan tangan dengan Azzam.
Ustadz Alfi beralih ke arah Hafsa. Putrinya terlihat berat melepas kepergiannya namun tetap mengizinkan dirinya. Ia pun memeluk dan mengelus pundak anaknya itu.
"abi hati hati, sembuhkan dan kembalilah bersama umi"ucap Hafsa yg semakin mengeratkan pelukannya. Muncullah sikap manjanya dengan abinya. Maklum lah anak tunggal.
"iya sayang. Dirumah jangan nakal ya. Nurut sama uti, kakung, anty, om, bunda sama ayah. Abi sayang hafsa"seru ustadz Alfi seraya beralih mengelus pipi kanan anaknya setelah mengurai pelukan mereka.
"hafsa juga sayang sama abi"sahut Hafsa bergelayut di leher abinya. Semuanya terharu dengan kedekatan keduanya.
__ADS_1
Ustadz Alfi kemudian berjalan keluar bersama agha dan Gus Agung. Mereka sudah berpenampilan seperti orang asing. Pakai jaket kulit warna coklat dan tak lupa kacamata hitam yg masih bertengger di saku jaket mereka.
"kl begitu kami pamit, assalamuakaikum"pamit ketiga laki laki yg sedang menyamar dan terlihat kece badai gayanya.
"waalaikumsalam"kor semuanya yg mengantar kepergian 3 serangkai itu.
"ya allah hatiku tak sabar ingin melihat istri yg bahkan hamba susah move on darinya. Mudahkanlah langkahku untuk membuatnya tetap bersama hamba sebagai suaminya"batin ustadz Alfi.
🌴🌴🌴
Sebuah kota di negara Indonesia yg dikenal sebagai titik nol alias sabang yaitu daerah Nanggroe Aceh Darussalam. Kota ini juga dikenal dengan kota serambi arab. Aceh adalah wilayah yang sangat konservatif (menjunjung tinggi nilai agama). Persentase penduduk Muslim-nya adalah yang tertinggi di Indonesia dan mereka hidup sesuai syariah Islam. Berbeda dengan kebanyakan provinsi lain di Indonesia, Aceh memiliki otonomi yang diatur tersendiri karena alasan sejarah.
Kota yg kenal dengan kenangan pahitnya di tahun 2004 silam yg terjadi Tsunami ini begitu banyak objek wisata tak terhitung loh. Apalagi masjid baiturrahman yg terkenal itu merupakan tempat favorit semua orang yg berkunjung di aceh.
Sumber : wikipedia
Petang menjemput datangnya malam, suasana di kamp asrama TNI tampak lenggang. Tak ada kegiatan latihan karena mereka bersiap siap sholat magrib.
Asrama ini memiliki letak yg luas, bertempatan di sekitar daerah pegunungan. Di belakangnya terdapat sungai yg jernih dan taman bunga. Dilengkapi dengan gerbang, kamar mandi, lapangan, tempat persediaan bahan makanan, koperasi, Aula, masjid dan masih banyak lagi.
Asrama laki laki terletak di sebelah masjid sedangkan asrama perempuan terletak di sebelah koperasi. Mereka terpisah dengan sebuah peraturan yg menghindari fitnah dan zina.
Sedangkan Rumah besar milik Komandan Agha berada di tengah tengah mimbar yg sebelahnya terdapat perpustakaan dan tempat rapat pertemuan.
Gudang yg disulap menjadi rumah setelah Dian genap satu tahun di singapur. Dibangun lengkap dengan dapur, ruang makan, ruang tamu dan satu kamar yg berisi kamar mandi. Dian menempati tempat itu yg bisa nembus dari rumah besar milik Agha.
(ini rekayasa yaa, jangan dianggap kl tempatnya nyata😉)
Tok...tok...tok…
Seseorang wanita sedang mengetuk ketuk pintu sebuah kamar. Ia menunggu dengan sabar namun lama lama tidak sabaran.
"yan buka pintunya"kesal Caca yang sudah menanti dengan sabar tapi si empunya pintu tak kunjung membuka.
"haish, ca jangan kesal begitu iih. Lagian Dian mungkin lagi mandi."ucap Vira yg sudah pusing dengan ocehan caca ini.
"vir kl dian macem macem gimana"oceh caca.
"astagfirullah… jangan bilang begitu ca gak boleh"nasehat Vira. Ia paham kl caca itu khawatir dengan Dian namun caranya berbeda.
"Dian"panggil Vira dengan mengetuk pelan pintu tersebut.
Caca menarik vira hingga bergeser dengan posisi membelakangi pintu tersebut. Vira yg dibuat seperti itu menjadi menyipitkan matanya. Sedangkan bibi Mur mendadak terkekeh kecil sebab kelakuan mereka berdua lalu melanjutkan menyapu teras diluar. Beliau inilah yg membantu bebenah rumah saat Dian sehabis operasi.
"Dian buka pin…"ucap Caca yg terhenti sebab pintu telah terbuka menampilkan Dian berdiri di ambang pintu dengan mencebik ingin menangis.
"ya allah maaf yan"panik Caca yg menjauhkan tangannya dari kening sahabatnya.
"tuh kan benar, kan sakit kena getok sama tangan kamu ca."protes Vira. Ia pun menuntun Dian untuk duduk di sofa agar tenang.
Udah tahu kl Dian akan menangis jika sesuatu mendarat di keningnya yg menimbulkan sakit. Walaupun pelan tapi Dian merasa seperti ingin pecah. Si caca malah gak sengaja getok, emang Dian itu pintu yaa.
Saat sudah mulai tenang, Dian pun baru bicara...
"kenapa mengetuk pintu dan berteriak begitu? Aku sedang mandi"ucap Dian yg mengelus keningnya. Perban masih melekat di kepalanya dan menunggu esok hari saat dokter Marisa datang ke rumahnya ini.
"em..kukira sedang berbuat macam macam di dalam sana."ucap Caca.
"tidak, aku sedang mandi sekaligus membersihkan kamar mandi yg sudah licin. Kan tadi sore sudah ku bilang"ucap Dian.
"yah aku lupa yan. Tapi sekali lagi maaf yaa"sesal Caca. Vira hanya memutar bola matanya malas.
"eh iya kamu menggemaskan tau yan saat mencebik begitu. Kl ada ustadz mungkin dah dicium sebab gemas"goda Caca
Tuk..
__ADS_1
Vira langsung saja membalas perbuatan caca yg tak sengaja menggetok kening milik Dian. Sekarang Caca lah yg kesakitan dengan tindakan Vira tidak sengaja tapi Niat.
"aww viraa"keluh Caca.
"bodo amat"sungut Vira.
Sementara Caca dan Vira beradu argument alias debat tak disengaja, Dian hanya bisa mengangkat bahunya cuek. Namun tersenyum simpul mendengar caca menyebut suaminya
"bagaimana kabarnya sekarang? Apakah sudah bahagia mas. Aku rindu…"batin Dian seraya beranjak dari sofa menuju kamarnya lagi.
Sesampainya di dalam kamar, Dian duduk di pinggir ranjang lalu menatap kearah nakas kecil. Membukanya dan mengambil bingkai foto yg ia simpan tanpa ada yg tahu.Tersenyum sekilas seraya menyentuh foto itu.
Inilah semangatnya untuk hidup. Ia rela untuk berkorban apa saja demi orang yg berada di dalam foto. Foto yg berisi Ustadz Alfi nampak tersenyum dengan bahagia memeluknya dari belakang.
"Aku memilih seperti ini juga demi kamu. Apa kau percaya bahwa aku rindu dan masih dengan rasa yg sama. Mas, kamu selalu di hatiku sebab itulah aku tak rela jika dirimu dalam bahaya. Maafkan aku yg juga tidak becus menjaga buah hati kita"batin Dian yg tak sengaja meneteskan air matanya.
Itupun dilihat oleh kedua sahabatnya di ambang pintu. Sebenarnya mereka sudah lama mengamati Dian yg tiba tiba meneteskan air mata lalu kembali semangat menjalani harinya. Namun mereka tak mau mengusik Dian dan mungkin besok akan melihatnya saat sahabatnya ini keluar melatih anak asrama silat.
Dian yg merasa ada mengawasinya langsung saja menyimpan foto tersebut di dalam laci nakasnya. Lalu bersikap normal seperti biasanya.
"ekheem"
"kalian sedang apa disana?"tanya Dian yg tersenyum lembut.
Hati Caca dan Vira terenyuh saat menatap mata tersebut yg menyimpan sejuta luka dalam dirinya. Dian tersenyum namun matanya menyiratkan kesedihan. Dan mirisnya dikubur dalam dalam tak mau berbagi dengan mereka.
"bersiaplah untuk shalat magrib berjama'ah di masjid. Ayoo"ajak Vira.
"duluan saja"ucap Dian yg mencari mukena, sajadah dan Al Qur'annya.
"yaudah, kami menunggu di masjid saja. Duluan assalamualaikum"pamit caca seraya menutup pintu tersebut.
Mereka berdua berjalan kearah rumah milik suaminya caca ini. Mengambil peralatan sholatnya lalu berjalan keluar rumah. Namun langkahnya terhenti sebab ada telpon rumah berdering.
Caca : Assalamualaikum. Halo ini siapa
Agha : Waalaikumsalam. Kamu lupa sama suami sendiri
Caca : Eh mas agha, maaf. Oiya ada apa sih nelpon, aku mau sholat magrib nih
Agha : Oh okey. Mas cuma bilang, besok suruh dokter Marisa kumpul dulu di ruang rapat. Ustadz bersama kami sedang perjalanan kesana
Caca : Wah bagus itu mas, okey deh
Agha : Hmm..assalamualaikum
Caca : Waalaikumsalam mas.
"kenapa ca?"tanya vira
"mas agha, suamimu dan ustadz bakal kesini vir"binar bahagia caca yg menulari siapa saja melihatnya.
"wahh, gak sabar buat besok. Pengen ketemu mas Agung, aku kangen berat"senang vira tersenyum sendiri.
"sama aku juga kangen sama mas agha. Semoga Dian mau menerima ustadz"harap caca. Vira mengangguk dengan sangat berharap sekali.
Bersambung...
🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢
Hallo permirswah, gimana epsnya neh?
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,
__ADS_1
Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘