Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Kata yang dibenci olehnya


__ADS_3

Sore hari...


Sehabis sarapan Dian membuat pudding dan memasukkannya ke dalam kulkas. Tak lupa membuat topping rasa susu manis.


Pudding yang ia buat sampai 2 wadah dan ketika waktu sore maka itu tandanya sudah bisa disantap.


"dek"bisik ustadz Alfi yang memeluknya dari belakang. Menyerang pipi tembem istrinya dengan kecupan


"apa sih mas"ucap dian seraya menatap kearah lain.


"haha dek kita sudah melakukannya setiap saat. Masih malu ya"goda ustadz Alfi


"awas mas nanti tanganku kepotong"ucap dian yang mengalihkan pembicaraan


"sini biar mas aja yang memotongnya"tawar ustadz Alfi terkekeh geli akibat berhasil membuat dian mengembungkan pipinya. Menggemaskan sekali...


Dian memilih untuk segera ke ruang tamu dan menunggu pudding miliknya yang masih di potong potong oleh ustadz Alfi di dapur. Lama menunggu, dian menjadi tidak sabaran ingin menyantap.


"cepet mas, aku mau sekarang"rengek dian


"sabar dek, aku segera datang"jawab ustadz alfi


Ustadz Alfi datang dengan mangkuk besar yang biasanya untuk meletakkan sayur. Entah mengapa ia jadi ingin saat pudding yang di potongnya begitu menggiurkan. Menyisakan 1 wadah di dalam kulkas jika nanti sang istri ingin menyantap kembali.


"loh koq pakai mangkuk besar mas"heran dian


"aku mau dek. Boleh yaa"harap ustadz Alfi memelas dihadapan dian.


"ternyata suamiku ini ingin juga ya. ah ayolah mas. Kamu tambah ganteng kl begitu"gemas dian yang menangkup wajah ustadz Alfi


Wajah suaminya sungguh tampan sekali. Putih, cerah dan manis juga. Tambahnya umur ustadz Alfi yang lebih dari 21 tahun ini menjadi lebih menawan. Bahkan dian iri dengan putihnya wajah ustadz Alfi.


"aku jadi minder mas dekat kamu"sedih dian.


Ustadz Alfi heran. Bukankah tadi senyum senyum sendiri menatapnya tapi sekarang berubah suram. Perubahan temperatur bumilnya ini memang sangat patut ia bingungkan. Harus dipahami dulu apa penyebabnya.


"kenapa minder hm"tanya ustadz Alfi yang meletakkan kepala dian di dekapannya.

__ADS_1


Dian memakan puddingnya sedikit demi sedikit lalu menatap sekilas ke wajah laki laki yang dulu ia kagumi dan ternyata sekarang menjadi suaminya sekaligus ayah dari anak di dalam kandungannya.


"kamu terlalu ganteng mas. Aku merasa tidak setara saja denganmu"jujur dian


Ustadz Alfi mengernyitkan keningnya. Lalu mengelus kepala yang terbalutkan hijab segi empat berwarna hijau tosca dan cocok sekali dengan dres putihnya yang begitu kontras pada kulit tangan dian.


"jangan bilang begitu dek. Kamu adalah seorang perempuan yang aku cintai. Rela mengandung si kecil dan melaksanakan kewajibanmu sebagai istri dengan baik. Kamu cantik koq"jelas ustadz Alfi


"berarti kalau aku gak cantik kamu bakal buang aku ya mas. Trus menceraikanku kan "tanya dian yang membuat ustadz Alfi bermuka lain.


"sembarang kalau berbicara. Memangnya kamu barang yang kalau udah kusam, mas buang. Aku gak suka kamu ngomong kek gitu dek"bentak ustadz Alfi yang melepas pelukan itu


Perkataan ustadz Alfi benar dan memang ia yang suka ngomong ngelantur. Tapi dengan pelukan yang di lepaskan tiba tiba dan bentakkan itu membuat hatinya perih. Dian pun terdiam sepi dan mencebikkan mulutnya menahan lelehan air mata. Sensitif sekali mata dan hatinya.


Ustadz Alfi nampaknya keasyikan dengan acara makannya. Serius menyuapi makanan itu ke dalam mulutnya sampai sampai tidak sadar dengan dian yang sudah meneteskan air matanya sebab ustadz Alfi tidak berbicara lagi.


Tak sengaja menoleh kearah samping. Ia terkejut melihat dian menangis dalam diam seperti kemarin. Tubuh wanitanya bergetar dan menunduk. Ketika ia ingin menegur, dian malah bangkit meninggalkannya ke dalam kamar.


"apa yang aku lakukan. Kenapa aku begitu emosi dan melukai hatinya. Kau bodoh alfi, bodoh"bathin ustadz Alfi frustasi.


Membuka pintu kamarnya dan melihat dian yang menangis begitu menyayat hatinya. Pandangan mereka bertemu, dian berhenti menangis lalu membuang wajahnya dan memutuskan berbaring membelakangi ustadz alfi .


"mau apa kamu mas?"ketus dian


"aku...aku minta maaf...aku tidak sengaja dek"ucap ustadz Alfi yang terbata bata.


"maaf? Untuk apa?"senyum hambar dian


"maaf aku tidak sengaja membentak.."ucap ustadz Alfi terhenti karna dian mulai bangkit menghadapnya.


"aku tahu pertanyaanku memang sembarangan. Tapi gak usah bentak aku mas, hatiku sakit hiks hiks"adu dian yang kemudian tidak tahan dengan air matanya dan mencoba menetralkan keadaannya dengan mengelus perutnya.


"sayang maaf ya pasti membuatmu sedih juga. Namun abimu mungkin lelah dan tak sengaja membentak umi, jangan membencinya"bathin dian yang berbicara dengan si kecil.


Dengan aduan itu, ustadz Alfi membeku. Benar benar ia membuat dian menatap kecewa dirinya sekali lagi. Ia pun langsung memeluk dian dari samping dan menangis juga. Dian pun berhenti menangis.


"aku minta maaf dek... Aku tidak sengaja... Sungguh.... Aku mohon maafkan aku...maaf telah melukai hatimu lagi....aku hanya takut kehilanganmu....aku akan menjadi gila jika tak melihatmu...walau sedetik....aku menyesal..... Aku mohon dek...maaf"tangis ustadz Alfi

__ADS_1


Ia memeluk erat tubuh dian seakan akan tidak mau ditinggal. Si empunya terdiam dan merasa tak tega jika ustadz Alfi menangis memohon untuk maaf darinya. Dian memegang tangan yang memeluknya sambil menghapus air mata yang mengalir deras di pipi seorang laki laki disebelahnya


"berhentilah. Aku sudah memaafkanmu"ucap dian yang tersenyum singkat.


"benarkah?"tanya ustadz Alfi yang menatap lekat wajah dian yang ayu walaupun sehabis menangis tadi.


"iya mas. Tapi kenapa kau sampai membentakku, maaf telah membuatmu marah"sesal dian


"mas gak mau kamu sebut kata itu. Cerai adalah dosa dek. Dan aku sangat membencinya"jelas ustadz Alfi seraya mencium kening dian lalu beralih ke perut yang berisi calon anaknya bahkan akan segera lahir ke dunia.


"maaf ya sayang, abi sudah membuat hati umi perih dan gak akan mengulanginya lagi. Abi menyayangi kalian berdua."ucap ustadz Alfi yang berbicara dengan si kecil dengan mengelus lembut perut tersebut.Tiba tiba dian meringis mengelus perutnya dan mencengkram bantal miliknya.


"shh astagfirullah. Akh mas"ringis dian


"ada apa dek?"panik ustadz Alfi.


"si kecil menendang kuat di dalam"ringis dian yang mengelus perutnya sendiri lalu mengambil nafas perlahan lahan.


"mana yang antusias sekali denger abi menyapamu. Nak, Perut umi sakit jika kau terlalu kencang menendang"senyum ustadz Alfi senang memeluk perut dian dengan sayang.


"oiya beristirahatlah dek. Kl mau makan pudding ada di kulkas, tadi aku menghabiskannya karena ingin sekali. Maaf yaa"ucap ustadz Alfi.


"iya mas. Aku mau dibacakan surat al mulk mas. Si kecil pengen dielus sama abi"ucap dian yang mulai mode on manjanya.


"yang mau di elus umi atau si kecil. Baiklah sini"balas ustadz Alfi yang menyanggupinya lalu dian berbaring dan tak lupa untuk perutnya di bantali boneka yang pas sekali ukurannya.


"mas aku gak mau dibentak yaa, jangan membentakku."gumam dian yang masuk kedalam pelukannya.


"insya allah. Tidurlah, mas akan bangunin jika sudah magrib. Kamu butuh banyak istirahat dan menyimpan tenaga untuk nanti"jawab ustadz Alfi yang memulai membacakan ayat ayat Al quran.


Bersambung....


🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa

__ADS_1


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘


__ADS_2