
Malam berganti shubuh. Suara kicauan burung telah berseru seru menyambut datangnya hari. Hari sabtu adalah hari yang menyenangkan bagi semua pada minggu ini. Tiadanya kegiatan latihan menembak yang di bimbing langsung oleh Komandan Agha.
Mereka sudah latihan di hari dimana kedatangan Kyai pemilik pesantren di Ponorogo untuk menemui murid sekaligus dianggap cucu oleh beliau. Pada saat itu juga Dian dan Ustadz Alfi kembali bersama lagi tanpa limit. Saking tanpa apapun, terlihat keduanya lengket bak ada lemnya.
Di dalam kamar….
Seorang wanita sedang tertidur dengan nyenyak. Berselimut dan memeluk sesuatu. Namun tidak sampai menunggu lama, ia terbangun sendiri sebab ganjal dengan apa yang dipeluknya.
"loh kok guling?"bingungnya. Itulah Dian, ia sangat kebingungan mencari cari seseorang yang seingatnya kemarin dipeluknya erat. Tapi kenapa sekarang jadi guling, ini sungguh aneh.
"mas?"panggil Dian.
"mas Alfi?"panggilnya lagi.
"mas Fiii"pangilnya lagi dan lagi. Oiya, Fi adalah panggilannya paling mesra untuk Ustadz Alfi dan jarang diketahui oleh orang lain. (tapi sekarang pembaca akhirnya baru tahu, aku juga hehe😁)
"apa mungkin mas Alfi sedang di masjid? ya Allah, aku harus segera sholat shubuh. Takut terlewat waktunya"bathin Dian tak sengaja melihat jam di dinding.
Membaca doa bangun tidur dan meminum segelas air putih lalu berjalan mengambil pakaian ganti serta tak lupa dengan handuknya. Dimulai lah ritual mandi dengan gosok gigi dan diakhiri dengan ber wudhu.
Selesai dengan urusan itu, Dian keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar dan kinclong. ia mengeringkan rambutnya lalu mengenakan mukena. Sholat shubuh pun dilaksanakannya dengan khusyuk.
Beberapa saat kemudian, selesailah Sholat Shubuh. Dian melepas dan melipat mukenanya lalu diletakkan di tempat semula. Beranjak menuju dapur seraya berpikir hendak masak apa hari ini.
Namun ia merasa kesepian dan merasa jika Ustadz Alfi kenapa belum pulang dari masjid sesuai apa yang di terkanya tadi. Pandangannya terhenti karena ada kertas di bawah tempat buah buahan.
"em..apa ini?"ucap Dian bertanya tanya. Ia membolak balikkan kertas putih yang terlipat itu sesekali membuka sedikit. Saat terbuka lebar…terlihatlah tulisan yang ia kenal.
Assalamualaikum dek…
Maaf mas gak sempat pamit, karena ingin pergi dan berangkat sebelum subuh tadi. Mau bangunin kamu tapi mas gak tega.
Sebelum mas pulang, kamu gak boleh keluar dulu ya. Istirahat saja di dalam, Insya allah mas pulang sehabis dzuhur.
Wassalamualaikum…
Masmu, Alfi
Begitulah isi surat yang dibacanya. Sempat heran kenapa begitu terburu buru berangkat sebelum subuh. Sebenarnya suaminya hendak kemana dan mau apa. Namun terkaan nya ia simpan rapat rapat dan nanti akan bertanya.
__ADS_1
"apapun tujuanmu dan dimanapun kamu berada mas, aku akan mendoakan setiap langkahmu"ucap Dian seraya melipat lagi surat itu dan menyimpannya di dalam kamar.
Hari ini tiada kegiatan, apa yang harus dilakukan olehnya. Namun ia teringat saat tertidur setelah memikirkan banyak hal, sehabis itu ia melihat keadaan rumah sudah rapi. Mungkinkah jika suaminya yang membereskan, jika benar ia sangat merasa tak enak hati.
Dian memilih untuk membereskan rumah dengan mencopot apa yang harus dihilangkan. Setelah beres mencopot, lanjut dengan mengatur ulang keadaan rumahnya. Yang pertama tama menyapu lantai terlihat jelas dari jangkauan mata lalu menggeser barang barang ke tempat yang telah tuntas dibersihkan barulah menyapu bagian yang sulit terjangkau dan mulai mengepel lantai
Setelah bersih, Dian membersihkan tangannya di wastafel seraya memikirkan sesuatu yang harus diambil. Lalu dengan langkah santai menuju kamar hendak mengambil gorden, taplak meja, kain keset kaki. Ia ingin mengganti sesuatu di ruang tamu dan ruang lingkupnya.
Untuk mengusir rasa sunyi diantaranya, Dian bersholawat dengan suara yang ia resapi begitu indah dan semata mata membuat tentram hatinya sendiri. Selesai dengan ruang tamu dan lain lainnya, ia beranjak ke dalam kamar untuk menyarungi bantal, guling dan kasurnya.
"akhirnya telah selesai. Kini waktunya untuk mencuci cuci yang kotor"ucap Dian yang berjalan ke arah kamar mandi didalamnya sudah menggunung cuciannya. Padahal 3 hari sekali mencuci, tapi yang penuh hanya pakaian Ustadz Alfi dan yang baru saja ia letakkan menjadi banyak.
Srek… srek… srek… srek… srek…
Terdengar suara sikat yang sungguh dipakai oleh Dian dan sepertinya mengeluarkan segenap tenaganya untuk mencuci semuanya. Ia melakukannya dengan gembira dan tanpa mengeluh sama sekali. Apalagi sesekali memainkan busa sabunnya.
Lihatlah bajunya sudah basah. Dari kerudung sampai celana panjangnya tak luput terkena busa sabun atau air. Ia sebenarnya memang seperti itu dari kecil dan tak sadar menjadi kebiasaan. Namun saat telah menikah dengan Ustadz Alfi, ia ketahuan bermain dengan itu dan tidak diperbolehkan
"hehe Mas Alfi izin yaa. Aku ingin bermain air sekali saja."ucap Dian dengan nada yang biasanya membujuk Ustadz Alfi ketika ia ingin sesuatu yang diidam idamkan (tapi ini bukan ngidam ya 😆)
"ekhem..iya dek, bermainlah sepuas puasnya"ucap Dian yang meniru ucapan Ustadz Alfi lalu diakhiri terkekeh kecil karena perilakunya sendiri. Haish sungguh sangat berdosa sekali dirinya ini.
"Apa ada yang membicarakanku ya? Hiss, jadi merinding. Ah sudahlah biarkan saja jika ada yang membicarakanku pasti sangat mengagumiku. mungkin saja sudah stadium akhir rasa kagumnya"pikir Ustadz Alfi seraya mengangkat bahunya tidak peduli dan melanjutkan pekerjaannya.
Jika ia tahu yang membicarakannya ialah Istrinya apa tanggapannya tentang itu. Pasti rasanya ingin segera pulang dan mencubit hidung bangir itu sampai merah.
Kembali lagi dengan Dian yang sudah selesai mencuci semuanya hingga bersih bahkan sampai mencuci sepasang baju yang tadi ia pakai. Keluar menggunakan handuk dan segera memakai pakaian.
Pakaian telah terpakai dengan beserta kerudungnya. Dirumahnya ini ada pintu menuju halaman belakang yang biasanya untuk menjemur pakaian. Membawa ember satu persatu menuju belakang rumah lewat pintu dari dapur.
Terdiri dari 3 ember besar dan 2 ember kecil yang berisi pakaian yang sudah tercuci dan wangi molto. Saat melihat sekitar, Dian sedikit mengagumi halaman belakang ini. Hamparan Tanaman dan pohon yang berjejer rapi membuat nyaman siapapun melihatnya.
Letak jemuran berada di tempat sesuai dengan sinar mataharinya dan hanya di sekat pagar kecil di ribuan pohon dengan disertai tanaman hias dari botol ataupun barang bekas lainnya begitu memanjakan mata. Selain itu, bisa dilihat dari kamarnya melewati jendela.
Dian cekatan menjepit cuciannya yang sudah di peras seperti membariskan pasukan saja. Yang panjang menjulur akan membentengi yang pendek ditengah. Begitulah peraturan yang ia ciptakan sendiri. Setelah selesai dengan cucian, ia berlanjut menyiapkan bahan masakan saat ember ember telah di masukkannya kedalam kamar mandi lagi.
Pukul 1 siang hari…
Ustadz Alfi sudah berada di gerbang depan. Ia tersenyum dan menyapa Wahyu yang kebetulan mendapat giliran menjaga hari ini. Terlihat wahyu masih saja merasa sungkan dengannya dan mempersilahkan masuk.
__ADS_1
Hari ini Ustadz Alfi merasa lelah dengan bekerja namun ia merasa telah merasakan apa yang dirasakan oleh sebagian orang pekerjaannya sebagai tukang panjat pohon kelapa.
Apalagi pak rangga bercerita jika dulu kebunnya memiliki satu ekor monyet yang pandai memanjat dan memudahkan pekerjaan semuanya tapi entah karena apa hewan itu hilang bagai ditelan bumi. Ada yang mengatakan jika sudah tertembak sebab pemburu yang diam diam masih datang ke tempat tersebut. Dulu hanya ada pekerjaan distributor, pembersih kebun, dan penyusun kelapa di truk maupun mobil bak. Sekarang pekerjaannya bertambah menjadi pemanjat pohon.
Semua orang melihatnya seraya tersenyum dan menyapa yang dibalas pula dengannya. Hanya saja tampilannya yang membuat heran tapi tak enak jika harus bertanya seperti sekarang karena nampak Ustadz Alfi kelelahan dari raut wajahnya yang tertutupi oleh senyuman.
"assalamualaikum"salam Ustadz Alfi yang telah sampai di depan pintu. Pintu rumah di depannya tertutup dan tak lama terdengar suara Dian membalasnya.
"wa'alaikumsalam mas"balas Dian dari dalam rumah. Ia segera membuka pintu dengan penuh tersenyum menyambut suaminya pulang.
Saat pintu terbuka, Dian terkejut melihat penampilan Ustadz Alfi yang termasuk aneh. Ia pun menatap laki laki di depannya dari atas sampai bawah kaki.
Ustadz Alfi memakai kemeja cokelat bergaris dengan celana panjang hitam yang tak lupa memakai kopyahnya. Wajahnya terdapat sedikit tanah yang menempel di kening dan pucuk hidungnya. Pakaiannya, celananya, tangan dan kakinya tak luput dari tanah.
Bertanya tanya tentang keadaan Ustadz Alfi yang tiba tiba berpenampilan seperti itu dalam benaknya. Namun kemudian menghentikannya dengan tersenyum manis yang adalah tujuan utamanya. Tanpa aba aba Dian mencium punggung tangan laki laki di depannya dengan takzim tanpa ada rasa risau sekalipun dengan kotornya yang ia cium.
"eh..dek. tangan mas kotor"cegah Ustadz Alfi tapi percuma saja karena sudah terlanjur.
"ayo mas, masuk. mandi lalu makan. Adek sudah menyiapkan gantinya di atas ranjang"senyum termanis dari Dian.
"iya dek"jawab Ustadz Alfi yang terlihat bersemangat seakan akan lelahnya menguap begitu saja. Dengan tersenyum senyum, ia masuk kedalam kamar untuk mandi.
Sedangkan Dian tersenyum manis sampai punggung tegap itu hilang ditelan pintu. Senyum itu hilang dengan rasa penasaran bukan main.
"kok pakaiannya kotor dan dari atas sampai bawah terdapat tanah? Sebenarnya mas Alfi kemana. tampilannya seperti…seperti…em kuli bangunan"pikir Dian yang terus bertanya tanya dalam dirinya.
"tapi apapun itu yang penting sekarang aku harus menyiapkan makanan dan bertanya nanti saja"ucap Dian seraya menepuk keningnya sebab sudah penuh dengan pikiran pikiran.
Namun baru saja berjalan menuju dapur, saat melewati cermin terlihat keningnya terdapat sedikit tanah. Mungkin dari tangan Ustadz Alfi tadi sebab ia mencium tangan tersebut. Dengan terkekeh geli, ia menghapusnya dengan tissu basah di lemari kecil.
bersambung....
🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢
Hallo permirswah, gimana epsnya neh?
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,
__ADS_1
Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘