
Beberapa Bulan Kemudian
Setelah kejadian mengharukan itu, Dokter Marissa sang psikolog mengatakan jika Dian berhasil sembuh total dari penyakit mentalnya. Sedangkan Rendi sudah meminta maaf kepada seluruh keluarga Dian tanpa terkecuali. Tentu saja disambut dengan baik oleh Dian, karena ia sudah damai.
Sungguh tidak menyangka jika masalah ini cepat sekali berhasil diselesaikan. Walaupun, Rendi harus berada di penjara. Laki laki tersebut bahkan sangatlah ikhlas menjalani hukumannya. Dirinya sebelum masuk penjara, pulang kampung terlebih dahulu untuk berziarah ke makam almarhum istrinya.
Dian dan Ustadz Alfi sudah kembali seperti dulu lagi. Mereka berdua sangat harmonis yang membuat Hafsa bahagia tidak terhingga karena kedua orang tuanya kembali bersatu.
Oiya Azzam dan Aisyah resmi menjadi Pasangan sah secara agama lagi negara. Begitu Pula dengan Farhan dan Dayu yang menyusul meraih ikatan hallal. Sesungguhnya jika bukan karena keinginan Dian, mereka berempat itu tidak akan jujur dengan hati mereka kepada orang tuanya masing masing.
Omong omong tentang keinginan, Dian ternyata setelah pulang dari rumah sakit pada saat Ustadz Alfi dirawat sebab demam tinggi karena peluru yang bersarang di lengan atasnya. Wanita tercinta sang Ustadz, sedang mengandung anak kedua mereka. Cuma gara gara mencium wangi khas rumah sakit, Dian langsung pingsan tak kuat mencium baunya.
Kini usia kandungan Dian sudah memasuki 9 bulan dan tentu saja beberapa hari lagi tanggal HPLnya. Ustadz Alfi selama itu sangatlah posesif jika Dian bergerak sekedar berjalan ke koperasi yang berada di ujung asrama. Bahkan Dian sampai menangis histeris gak bisa mengambil bahan membuat kuenya dan yang geger ya siapa lagi kalau bukan Ustadz Alfi sendiri hadeh hehe.
"mas Fii"panggil Dian dengan manjanya menggantungkan lengan kanan milik laki lakinya.
"apa sayang?"tanya Ustadz Alfi. Didalam hatinya berharap cemas semoga istrinya tidak minta ikut.
"em..boleh ya kl aku ikut ke acara tasyakuran itu?"ragu Dian yang menulis abstrak di telapak tangan Ustadz Alfi.
"tuhkan bener"pikir Ustadz Alfi menghela nafas.
"jangan ya dek, mending kamu istirahat aja di kamar"tolak halus Ustadz Alfi membuat Dian cemberut.
"yahh mas kamu mah gitu, aku kan pengen lihat senyuman anak didikku yang sudah lulus. Masa melewati hari bahagia mereka. Inget mas, mereka telah ku anggap saudara."Dian memberengut duduk di sofa sambil menunjuk nunjuk perut buncitnya yang berisi calon bayinya. Bahkan terlihat bergelombang sebab dedeknya lincah di dalam. Mungkin, dedeknya ingin main bersama dengan uminya. Sesekali tersenyum lalu cemberut lagi.
"dedek, abi pelit. Kan cuma beberapa langkah doang"adu Dian seakan akan bayinya mendengarnya.
Ustadz Alfi langsung merasa takut. Ingat sekali dirinya di anggurin oleh dedek didalam perut seperti gak boleh pegang pegang dan jika ia nekat mendekat Dian akan mual mual tak karuan. Membayangkan saja menjadi ngeri apalagi kl benar benar terjadi. Ia pun berniat mengizinkan saja kl Dian ikut. Ya Allah harus sabar, pikirnya.
"kamu mau ikut?"tanya Ustadz Alfi membuat senyuman terbit di wajah Dian.
"mauuu mas"sorak Dian bahagia.
"ya sudah siap siap. Mas juga mau bersiap. Ayo"ajak Ustadz Alfi.
"yey ayoo"sahut Dian. Ia dituntun menuju kamar oleh Ustadz Alfi. Padahal kan ia mampu berjalan dengan baik tapi kl protes yang ada gak jadi ikut. Diam sajalah hehe.
__ADS_1
Ustadz Alfi memakai baju koko berwarna biru dongker dan tak lupa memakai kopiah nya sedangkan Dian memakai gamis biru muda dengan polkadot putih di beberapa bagian dan hijab pashmina biru dongker.
Dian memakai make up yang natural dan memakai sedikit wewangian. Ia masih sibuk dengan memutar tubuhnya seperti seorang model di cermin. Merasa diri dengan berat badan yang naik drastis jika sedang hamil dan itu membuatnya sedikit tidak percaya diri.
Namun ia ingat, bahwa dedek bayi butuh nutrisi yang banyak untuk pertumbuhannya dan mengesampingkan keadaan tubuhnya. Karena kesehatan dedek bayi nomor satu dan urusan berat badan naik itu nomor kesekian. Dengan kasih sayang Dian mengelus perutnya yang membuncit dan tersenyum.
"dedek sehat sehat ya disini, umi selalu menantimu lahir sayang"lirih Dian. Kemudian, ia terkejut sebab tiba tiba ada yang memeluknya dari belakang.
"Astaghfirullah"Dian spontan dan terlonjak kaget dengan mengucap istighfar sedikit keras.
"abi juga menantimu lahir"seru Ustadz Alfi dari belakang lalu mengelus perut buncit istrinya. Dian tersenyum dan menyandarkan kepalanya di dada bidang yang selalu ia pakai juga menjadi tempat terfavorit ketika bersantai.
"kamu udah siap dek? Kita harus segera berangkat karena acara sebentar lagi dimulai"tanya Ustadz Alfi yang sekilas melihat jam dinding di atas cermin setinggi tubuhnya.
"udah,,, kita berangkat ya mas"jawab Dian yang kemudian sedikit mencomot keripik singkong di toples lalu mengunyahnya.
"dek, kl makan duduk"tegur Ustadz Alfi. Sungguh sering jika ia menasehati Dian versi anak kecil begini, sangat menantang adrenalin kesabarannya. Jadi, ia harus banyak menegur dengan lembut.
"hehehe, maaf mas"sahut Dian yang mulai berjalan keluar kamar mencari ponselnya yang ternyata masih di nakas dekat Ustadz Alfi berdiri.
"Ya Allah, istri hamba"gumam Ustadz Alfi menggeleng kepalanya sambil terkekeh geli melihat Dian yang mondar mandir mencari ponselnya diluar kamar. Kemudian ia mengambil ponsel milik istrinya lalu menutup pintu kamar.
"ayo dek"ajak Ustadz Alfi yang menarik pelan tangan kanan Dian. Tentu saja membuat istrinya mengoceh kembali.
"ponselku mass, aku cariin gak ada. Ponsel aku lari gak tahu kemana"oceh Dian yang terlihat lelah mencari. Kemudian, Ustadz Alfi tersenyum simpul.
"ponselmu lari ke kantong celanaku dek. Sudahlah, ayo kita harus segera sampai ke aula"santai Ustadz Alfi yang mulai menggandeng Dian keluar rumah setelah menutup pintu. Sedangkan Dian menghela nafasnya dan merutuki suaminya yang tadi tidak memberitahu.
"hish, kasih tahu kek. Kan aku gak perlu lelah mondar mandir"gumam Dian yang masih terdengar oleh telinga laki laki yang menggenggam tangannya.
"kan kamu gak nanya dek"ucap Ustadz Alfi yang tersenyum dengan manis membuat Dian cemberut dan tentu saja dihadiahkan olehnya sebuah elusan di atas pashmina yang menutupi rambut istrinya.
"menyebalkan"pikir Dian.
Berjalan menuju aula tidaklah perlu menghabiskan waktu lama sehingga kini mereka berdua telah sampai. Di aula sudah banyak kursi kursi dengan penghuninya yang terdiri dari beberapa wali dari anak didik di asrama ini dan orang orang yang tentunya ia kenali. Keduanya yang telah masuk membuat semua fokus teralih sejenak dari mc yang akan memandu acara tersebut.
"assalamualaikum"salam Ustadz Alfi dan Dian bersamaan
__ADS_1
"waalaikumsalam"kompak semua yang berada dalam ruangan.
Acara dimulai dari pembukaan oleh MC lalu diikuti dengan acara lainnya. Dari awal mula sampai acara terakhir terjadi dengan lancar dan sesuai pengharapan. Dan saat ini adalah waktu makan bersama. Semuanya menikmati dengan tenang dan terjalinlah tali silaturahmi.
Silaturahmi memiliki makna mendalam dalam kehidupan Muslim, karena wajib bagi kita untuk menjaga tali persaudaraan baik saudara sedarah maupun kerabat jauh dan juga sahabat. Hubungan yang dijaga dengan teman sangat ditekankan dalam agama kita.
Mempererat silaturahmi dengan saudara, kerabat, atau sahabat, keutamaannya bahkan setara pahala memerdekakan budak. Hal tersebut menjadikan silaturahmi sangatlah penting. Sesuai hadist…
“Beribadahlah pada Allah SWT dengan sempurna jangan syirik, dirikanlah sholat, tunaikan zakat, dan jalinlah silaturahmi dengan orangtua dan saudara.” (HR Bukhari)
Sumber : Google
Kembali lagi di aula asrama….
Dian dan Ustadz Alfi terpisah. Jika Dian bersama dengan Hafsa sedangkan Ustadz Alfi bersama dengan para laki laki lainnya. Hafsa melihat uminya nampak terdiam dan tadi hanya mengambil makanan untuknya saja membuat terherankan.
"loh, umi gak makan?"tanya Hafsa yang melihat hanya ada satu piring untuknya. Dian tersenyum hangat seraya mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang dan mencoba memberi pengertian.
"enggak sayang. Dedeknya gak mau makan, nanti kl umi paksa nanti ngambek di dalam perut sini"Dian berbicara dengan sesekali merapikan hijabnya yang bergeser.
"memangnya dedek bisa ngambek dalam perut? Bagaimana caranya umi, kan dedek belum lahir"polos Hafsa tengah memecahkan teka teki di dalam otaknya. Sungguh tidak paham dengan ucapan uminya.
"hehe, dedeknya ngambek setiap kali dan Hafsa sudah melihatnya kok. Ya seperti nasib sarapan umi yang kebuang sia sia waktu itu"jelas Dian dengan tertawa sedikit tapi kemudian mengernyit dalam merasakan ada pergerakan dari calon bayinya di dalam perut.
"umi baik baik saja?"khawatir Hafsa dan berhenti makan sebentar.
"shh, umi gak apa apa sayang. Oiya, kamu disini saja ya. Umi mau keluar sebentar, kayaknya dedek bosan disini"Dian kemudian berdiri perlahan dari duduknya. Hafsa merasa kurang setuju dengan ucapan tersebut tapi bagaimanapun ia tetap mengiyakannya karena mungkin memang benar adanya.
"ya sudah umi, hati hati dan jangan lama lama diluar. Hafsa akan menyusul saat makanan ini telah habis"ucap Hafsa sambil melihat piring yg belum ia habiskan dan masih setengah bagian lagi.
"iyaa, nanti nyusul saja dan ketika abi nanya dimana umi jawab saja di depan aula. Habiskan dan makan pelan pelan. Kl begitu, assalamualaikum"pamit Dian.
"waalaikumsalam"Jawab Hafsa melihat tubuh uminya bergerak menjauh dari jangkauan penglihatannya dan berlanjut memakan makanannya sampai tandas.
🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢
Assalamualaikum,
__ADS_1
Alhamdulillah bisa up extra partnya nih. kira kira hanya 2 saja yaa. Insya Allah sudah sangat cukup untuk melengkapi kisah Ustadz Alfi & Dian.
See You Again di Next Epsnya...