Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : 8 bulan


__ADS_3

Tak terasa waktu begitu berlalu seperti menjauh namun teratur. Kandungan Dian sudah tumbuh dengan baik dari trimester 1, kedua dan yang terakhir saat ini. Alhamdulillah lancar dan semoga saja sampai persalinan nanti.


Kesabaran ustadz Alfi teruji saat keinginan aneh istrinya gak masuk akal. Ia diminta untuk membeli gorengan tidak boleh digoreng, membeli sate tapi gak mau dipanggang dsbnya. Dian sesungguhnya merasa kasihan dengan ustadz Alfi. Ngidam anehnya hanya terjadi 3 kali saja dan selanjutnya normal tapi juga nyusahin. Malem malem suruh beli makanan yang enggak ada diwaktu malam.


Ustadz Alfi tidak pernah sedikitpun membentak bahkan marah. Hanya ada kesanggupan dengan wajah penat disembunyikan untuk tidak membuat istrinya tidak enak hati meminta apapun kepadanya.


Semua telah berkumpul. Ada kak rida yang ternyata meliburkan diri karena ingin melihat keponakannya. Lalu ayah ahmad dan bu mira serta dayu yang tinggal di rumah umi shita yang banyak kamarnya. Tentunya sama tujuannya untuk mendampingi menuju lahiran.


Kini usia kandungan dian 8 bulan lebih, kira kira sekitar beberapa minggu lagi sudah melahirkan. Perubahan pada tubuhnya sangat ketara. Perut membesar, pipinya yang gembul namun tubuhnya menjadi berisi dan berat badannya sudah jangan ditanyakan lagi.


Dian sedang berjalan hati hati kearah dapur untuk mengambil es krim rasa cokelat cup di freezer kulkas. Namun yang dicari tidak ada. Sepertinya habis dan harus beli. Ia pun kembali kearah ustadz Alfi di ruang tamu.


Ustadz Alfi yang sedang membaca buku  hadist menjadi terhenti akibat dian kembali dengan wajah yang cemberut mengadu kepadanya. Di dalam kulkas selalu stok es krim karena dian memakannya rutin sehabis jarak antara sarapan dan makan siang.


"koq gak jadi dek? Makan es krimnya"tanya ustadz alfi


"bukan gak jadi tapi habis mas"singkat dian yang kecewa dan hanya mengelus perutnya.


"habis ? Yaudah mas beliin"ucap ustadz Alfi yang bangkit dari duduknya bersiap untuk mengendarai mobil memesan beberapa stok es krim.


"aku ikut mas"cegah dian.


"tapi..."ucap ustadz Alfi yang terhenti akibat wajah memelas dengan pupy eyes andalan dian.


"baiklah, ayo"ajak ustadz Alfi yang menuntun dian keluar dan memasuki mobilnya.


"mau kemana itu ? Jangan sering sering keluar"ucap umi shita yang sedang berbincang dengan azzam namun terhenti


"mau beli es krim umi. Persediaan dirumah tiba tiba habis"jawab dian.


"ustadz biar azzam aja yang nyetir okey"tawar azzam yang disetujui oleh ustadz Alfi


"umi kami pamit"ucap dian yang ingin naik kedalam mobil.


"iya hati hati di jalan. Cepet pulang"balas umi shita.


"assalamualaikum"


"waalaikumsalam"


Mobil bergerak menjauh area pelataran rumah ustadz Alfi. Dian meminta untuk membelinya satuan saja karena sudah mulai bosan juga sih, ini adalah es krim terakhir katanya. Sambil menunggu dian mengeluarkan boneka kucing tersebut dari dalam tas.


Di dalam mobil ada boneka sebab pagi tadi habis pemeriksaan terakhir sebelum hpl. Jadi belum sempat diambil dari mobil. Ustadz Alfi menatap dian yang anteng dengan boneka kucing itu. Sungguh seperti anak kecil saja tapi itulah yang membuatnya gemas.


Sesampainya di kedai es krim dekat cafe z, dian turun bersama ustadz Alfi sedangkan azzam menunggu di parkiran cafe sambil membaca Alquran kecil di dalam mobil. Dian duduk di salah satu meja dan ustadz Alfi membeli es krim cokelat di cup kesukaannya.


"mas gak mau?"tanya dian yang menikmati eskrim sudah di depannya.


"enggak. Kamu aja dek"jawab ustadz Alfi.


"oiya jangan kemana mana ya. Mas mau kedalam mau mengambil kentang."senyum ustadz Alfi yang mencolek pipi tembem dian. Dian hanya membalas dengan senyumannya lalu memakan es krim sampai habis.


Ustadz Alfi pergi meninggalkan dian sebentar. Dian pun sendiri dan iseng dengan ketidak adanya ustadz Alfi. Ia memainkan boneka kucing seperti di lihat secara menyeluruh.

__ADS_1


Lama menunggu akhirnya dian memilih untuk menyusul ustadz Alfi kedalam. Ketika ia bangkit ternyata ada seseorang tidak dikenal menyenggolnya. Posisi kursi  dian sangat mepet ke arah pinggir jalan raya. Saat tersenggol untung saja ia tidak terjatuh namun salah satu boneka kucingnya berada di jarak 30 cm dipinggir jalan yang dilintasi pengendara.


"ya allah aku ambil atau tidak yaa. Tapi aku ragu."bathin dian melihat sekeliling nya.


Kendaraan tidak melintas dan terhitung jarang. Ia pun berpikir untuk mengambilnya sebentar bukankah tidak bahaya. Segeralah dian mengambil boneka itu dengan kesusahan dan berhasil mendapatkannya. Ia pun jalan dengan berhati hati.


Ustadz Alfi yang sudah selesai dari toilet ingin memesan kentang menjadi tidak memesan sebab melihat dian berada di jalan raya dengan hati hati melangkah. Ia langsung menghampiri dian. Entah sengaja atau tidak, ia tertabrak oleh laki laki yang membawa kardus.


"maafkan saya. Saya tidak melihatmu"ucap ustadz Alfi


"iya tidak masalah. Tadi saya tersenggol dengan laki laki yang sudah hilang entah kemana"ucap laki laki tersebut.


Dian berhenti sebab merasakan kebas di kakinya. Tanpa bisa berjalan kembali. Ustadz Alfi segera kembali menghampiri dian. Namun netranya melihat mobil dengan kecepatan lumayan bergerak kearah dian.


"dek! Awas!!"panggil ustadz Alfi yang membuat dian menoleh kearahnya dan ia langsung berlari untuk membawa dian kearah pinggir.


Jarak sudah terkikis, barulah dian menyadari kedatangan mobil tersebut. Berusaha bergerak tapi sedikit susah. Seakan pasrah dengan apa yang terjadi ia pun menutup matanya.


Brakk!!


Dian terkejut namun tidak merasakan sakit. Tubuhnya seperti tergeser sedikit kearah pinggir oleh seseorang. Kemudian perlahan membuka matanya, aneh kenapa ia tidak mengalami luka. Terlihat semua orang berlari kearah lain dan ia pun melihat kearah tujuan mereka.


Deg....


"itu tidak mungkin, ini mimpikan... Tidak mungkin ya allah aku ..."bathin dian.Ia melihat ustadz Alfi tergeletak di jalan raya yang jauh darinya terlihat kesakitan dengan keningnya berdarah lalu menutup matanya lama.


Dian menatap arah lain dan menutup matanya berharap semua ini mimpi tapi ternyata ini sungguh nyata. Hatinya mencelos dengan apa yang ia lihat, tubuhnya membeku, tatapannya kosong, matanya sudah terdapat embun embun air yang siap meluncur di pipinya.


Pandangannya beralih dengan ustadz Alfi yang mencoba untuk berdiri menghampirinya. Azzam kaget. Temannya mengalami luka di kening dan terlihat darah sedikit demi sedikit mengalir kebawah. Tiba tiba ustadz Alfi sudah berada di depannya dengan menahan pusingnya.


"apa yang terjadi ?"tanya azzam yang masih menatap tak percaya.


"aku ...aku baik baik saja."jawab ustadz Alfi yang menahan pening di kepalanya tapi tangan dan kakinya baik baik saja.


Azzam jadi rada laload dan mencerna semuanya dengan mentah mentah. Sedangkan dian yang menangis dalam diam membuat ustadz Alfi menoleh kearah istrinya itu. Rasanya pandangannya mulai kabur dan keseimbangan tubuhnya juga tidak dapat menompang lagi.


Akhirnya dian pingsan yang sontak membuat ustadz Alfi reflek menompang tubuhnya. Namun juga ikut terduduk menahan dian. Ustadz Alfi melihat wajah pucat pasi dian tentu saja panik luar biasa dan peningnya malah hilang akibat itu.


"bangun dek. Bangun"


"dek, bukalah matamu "


"sayang, mas takut"


Ucap ustadz Alfi panik dan mencoba membangunkan dian. Tapi hasilnya nihil, wajah pucat dan tangan dingin milik dian membuatnya takut bukan kepalang.


"sebaiknya kita bawa kerumah secepatnya ustadz, pasti dian kaget jadi pingsan"ucap azzam.


Ustadz Alfi langsung mengangkat dian menuju mobil. Ia memang ketabrak dan ada luka dikeningnya namun sakit itu sudah tidak berarti lagi jika melihat dian seperti ini. Azzam menghubungi dokter mita dan menyalakan mobilnya menuju rumah.


Dirumah...


Azzam memberhentikan mobil tersebut di depan pagar dan betapa sialnya tertutup. Dengan berlari, ia menggeser pagar secara cepat sehingga terdengar begitu keras. Semua yang di dalam jadi kaget dengan suara tersebut.

__ADS_1


Mobil sudah terparkir di depan rumah. Ustadz Alfi membuka pintu mobil dan mengangkat dian menuju ke dalam. Semua kaget dan terkejut banget melihat bercak darah yang berada di kening ustadz Alfi apalagi dengan keadaan dian pingsan.


"ada apa ini alfi ?"tanya umi shita yang khawatir.


"nanti alfi ceritakan umi. Bang, dokter mita sudah dikabari"ucap ustadz Alfi yang membetulkan posisi dian di gendongannya.


"sudah, sedang di perjalanan"jawab azzam. 


Umi shita dan aisyah membantu membukakan kedua pintu yang setelah itu segeralah ustadz Alfi masuk kearah kamarnya. Dibaringkannya dian di ranjang, lalu ia melepaskan sendal tersebut dan menyelimutinya.


Tak lama dokter mita datang. Ia memeriksa keadaan dian dengan seksama. Dokter mita adalah dokter yang di rekomendasikan dokter permata untuk menemani dian sampai ke persalinan.


"dok bagaimana keadaannya?"tanya ustadz Alfi


"em...tidak apa apa. Hanya kaget dan itu berdampak sekali. Tensinya langsung naik dan tubuhnya merespon berlebih. Jadi harus istirahat. Jangan membuatnya kaget atau menangis, karena bisa menurun kesehatannya. Apapun yang dirasakan ibu pasti akan dirasakan oleh si kecil didalam kandungan, usahakan kejadian seperti ini tidak terjadi kembali"jelas dokter mita yang menutup tas alat kedokterannya.


"alhamdulillah."kompak semuanya.


"oiya ustadz harus bersihkan lukanya nanti infeksi"ucap dokter mita.


"nanti saja"singkat ustadz Alfi yang membenarkan bantal yang di tiduri oleh dian.


"tadi itu kenapa sampai kamu terluka dan dian pingsan. Jawab alfi"tanya umi shita yang menuntut.


"sebenarnya tadi aku ingin membeli sesuatu dan meninggalkan dek dian sebentar. Namun tiba tiba aku ingin ke toilet. Setelah keluar, dek dian sudah ada di jalan raya dan membawa tas berisi boneka ini."jelas ustadz Alfi searaya menunjuk keranjang yang berisi 4 boneka kucing kecil disusun rapi oleh azzam tadi.


"lalu ada mobil yang kencang menuju posisi dek dian saat itu. Jika alfi tidak menggeser sedikit mungkin dek dian tidak selamat."sambung ustadz Alfi yang memijit keningnya.


"alfi sini biar umi obati dulu keningmu"ucap umi shita yang tidak tahan dengan luka di kening putranya.


"aku mau mengobatinya umi"pamit ustadz Alfi keluar dari kamarnya menuju ke kamar satu lagi.


Kepalanya sangat terasa pusing sekali seperti ditusuk tusuk. Ustadz Alfi terbentur pinggir trotoar akibat tabrakan. Berdenyut terus yang hanya dikurangi dengan pijitan. Tiba tiba ustadz Alfi ambruk karena tidak kuat melawan pusingnya.


"astagfirullah"kaget semua


"ayo biar ayah bantu, nak"ucap ayah ahmad yang menompang lengan menantunya.


Akhirnya ayah ahmad dan umay mengantarkan ustadz Alfi yang sangat lemah ke kamar lainnya bersama bu mira membawa kotak p3k untuk mengobati luka di kening. Sedangkan umi shita dan aisyah serta dayu menunggu dian karena memantau infusan. Yaps dian dipakaikan itu. Abi abdurahman menunggu diluar bersama azzam. Mereka mendiskusikan sesuatu hal yang penting.


"sepertinya ini bukan sesuatu hal yang wajar. Siapakah orang dibalik semua ini?"azzam & abi abdurahman.


bersambung...


🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘

__ADS_1


__ADS_2