Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Hidup Tanpa-nya


__ADS_3

4 tahun kemudian....


Kehidupan akan selalu berjalan sesuai rodanya. Tidak ada kehidupan yang akan berhenti sebab seseorang pergi untuk selama lamanya. Tidak ada kehidupan yang akan terhenti sebab manusia sekalipun tak akan bisa mengubah kehidupan sebelum Allah menghentikan semuanya saat hari kiamat nanti.


Begitu pula kehidupan Ustadz Alfi. Ia memang masih merasakan sangat kehilangan. Itu semua berasa ketika Istrinya meninggalkan dirinya selama lamanya. Biasanya ada yang menemaninya, mengurus anak dan mengurus dirinya sendiri.


Ustadz Alfi sungguh kewalahan mengurusnya sendirian. Hafsa sangat perhatian dan tanggap jika abinya tak bisa selalu menemaninya bermain seperti biasanya. Bahkan ia mengerti harus melakukan apa agar tak merepotkan abinya yang sendirian mengurusnya.


Kata Rindu memang selalu ada, Kata Cinta memang selalu terucapkan dan Kata Doa selalu terlampirkan hanya untuk Almarhumah. Tak ada yang bisa menggantikkannya di hati keluarga, saudara, anak dan ustadz Alfi sendiri. Dian itu istimewa.


Hari ini Ustadz Alfi membuatkan sarapan untuknya dan hafsa. Awalnya memang sulit ternyata belajar masak makanan indonesia sama uminya dan di bimbing oleh bu mira. Namun lama lama, ia terbiasa. Bahkan makanan buatannya sudah tingkat profesional hehe


"Alhamdulillah, akhirnya selesai"ucap ustadz Alfi.


Makanan sudah terhidang di meja makan. Ustadz Alfi melepas epron dan mencuci tangannya di wastafel. Ia pun memanggil hafsa yang masih sibuk membersihkan meja ruang tamu.


"hafsa"panggil ustadz Alfi seraya menghampiri anak perempuannya.


Hafsa yang sibuk dengan meja ruang tamu, nakas kecil, majalah dan bingkai foto yang ia bersihkan. Langsung menengok kearah abinya yang siap memberondong pertanyaan.


"kenapa hafsa membersihkan itu? Kamu kan sudah mandi"tanya ustadz Alfi yang mengomel bak seorang ibu. Hafsa pun cengengesan diatas sofa dengan memainkan bagian bawah hijabnya.


"maaf abii, tapikan debunya minta di mandiin."jawab Hafsa terkekeh kecil.


"debunya emang bisa mandi?"pikir ustadz Alfi dalam hati. Ia pun menggeleng. Koq malah ikut ikutan anaknya ini.


"Hafsa ini yaa. Huff"ucap Ustadz Alfi menghela nafasnya dan menatap tak percaya kepada hafsa. Yg ditatap malah menampilkan giginya yg rapi.


"Ya sudah bersihkan tanganmu dulu sebelum makan. Karena tanganmu pengen mandi"ucap ustadz Alfi seraya menggandeng tangan kecil itu ke arah dapur yang dibalas tawa oleh anaknya ini.


Sesampainya di dapur, mereka berdua cuci tangan lalu bersiap untuk sarapan. Ustadz Alfi membuatkan susu rasa cokelat untuk Hafsa sebab masih masa pertumbuhan juga jadinya harus banyak banyak minum susu.


Susu sudah selesai dibuat, akhirnya diberikan kepada hafsa. Ustadz Alfi ingin mengambil nasi dan lauknya namun pergerakan hafsa membuatnya terhenti.


"abii mau seberapa? Apa ini cukup"tanya hafsa seraya menuangkan nasi dan lauk pauk dipiring sedikit kesusahan tapii....


Ustadz Alfi sejenak termenung, ia menjadi ingat setiap saat jika hendak makan dirinya pasti dilayani dengan baik oleh Dian. Kini Hafsa menjadi pelipur rindu untuknya, sangat membuat hati tersentuh dengan perlakuannya. Rasa bangga dengan hafsa pun tak bisa diungkapkan dengan kata kata.


"abii?"panggil Hafsa heran karena abinya tidak menyaut pertanyaannya tadi.


"pasti abii ingat umi yaa?"senyum Hafsa yang mengelus tangan ustadz Alfi di atas meja. Seketika saja membuat orang termenung itu, sadar.

__ADS_1


"eh...hafsa. maaf tadi abi bengong"balas ustadz Alfi yang tersenyum hangat dengan anaknya ini.


"abii, jujur hafsa kangen juga sama seperti abi. Kadang berharap waktu itu hafsa sakit dan umi tak jadi pergi"senyum simpul Hafsa yg membuat ustadz Alfi tak enak hati sebab mengingatkan bahwa anaknya ini sudah tidak memiliki umi.


"Sayang, semua sudah terjadi. Kita hanya bisa mengingat dan terus mendoakannya. Memang kata rindu sudah menggunung seperti saat ini. Nak, kita hadapi bersama sama"ucap Ustadz Alfi seperti menekan rasa hampa yg hafsa rasakan tanpa-nya.


"em...sebaiknya kita makan dulu yuk. Nanti keburu dingin"sambungnya membuat perhatian hafsa teralihkan.


"abii segini aja kan?"tanya hafsa sudah ceria kembali.


"iya, nanti abi bisa gendut dong kl banyak banyak."canda ustadz Alfi.


"kl abii gendut, hafsa tetap cinta koq."balas Hafsa.


Seketika keduanya tertawa bersama lalu kemudian membaca doa makan dan memulai menyantap hidangan sarapannya. Hanya ada bunyi dentingan sendok beradu piring. Hafsa dan Ustadz Alfi duduk bersebelahan serta saling melempar senyum jika beradu tatapan.


"oiya abii, hafsa mau ke rumah utii dulu yaa. Katanya hari ini ada bunda rida, ayah umay dan dik zaki"ucap Hafsa.


Mulai beberapa tahun lalu, panggilan hafsa sudah lama berubah untuk umay dan rida. Mereka berdua pun tak masalah dengan panggilan itu, apalagi khusus rida yang merasa sangat bertanggung jawab akan hafsa sebab sebutan bunda.


"boleh. Tapi harus jagain zaki dengan benar yaa. Abi menunggu di rumah saja, kan nanti kesini juga."ucap ustadz Alfi.


"waalaikumsalam."balas ustadz Alfi yg mengelus kepala hafsa dengan lembut.


Namun ketika ingin keluar, Hafsa mendadak terpekik girang yg membuat Ustadz Alfi kaget bukan main di dapur untung saja piringnya tak jatuh ke lantai. Ia pun keluar keruang tamu juga.


"abiii"pekik Hafsa senang.


"jangan teriak teriak hafsa, kamu itu perempuan harus lembut sayang."nasehat Ustadz Alfi yg dibalas senyuman oleh semua orang.


Hafsa terpekik gembira sebab kedatangan keluarga besar. Ada ayah ahmad, bu mira, anty dayu, kak rida, kak umay, zaki, umi shita, abi abdurahman dan anty aisyah. Ustadz Alfi pun tersenyum dan mencium tangan kanan kedua mertuanya.


"ish abii, lembutnya entar aja lagi. Aku kangen berat sama kakung. Kangen itu berat abii"cibir hafsa yg sudah gelayutan di kaki ayah ahmad.


Ustadz Alfi mendelik tak percaya dengan ucapan anaknya itu bak sedang menggombal. Ia pun merasa jika anaknya ini terkontaminasi bahaya virus pergombalan yg di sebarluaskan melalui gennya. Ustadz Alfi memijit keningnya lalu beristigfar didalam hati.


"kamu siapa yang ngajarin seperti itu nak?"tanya Ustadz Alfi tersenyum penuh arti.


"Abii lah. Kan abi gurunya"jawab Hafsa yang tanpa dosa dan mengerjap polos. Ustadz Alfi mengolongo dan semuanya tertawa.


"haha sudahlah le, biarkan saja."timpal ayah ahmad yang sudah mensejajarkan dirinya dengan hafsa.

__ADS_1


"ya sudah deh... oiya silahkan duduk dulu"ajak ustadz Alfi kepada semuanya untuk duduk di sofa.


Semuanya pun duduk dengan rapi dan teratur. Ustadz Alfi kemudian membuatkan minuman untuk mereka. Hafsa sangat asyik dengan kakungnya. Bu mira menggeleng gelengkan kepalanya akibat kemanjaan tak ada obat yg dimiliki oleh sang cucu.


"Apca kangen kakung"manja Hafsa yang terus menempeli ayah ahmad seperti ada lemnya.


"iyaa kakung juga. sehat kan nduk?"ucap ayah ahmad.


"alhamdulillah, sehat. kakung juga kan?"tanya hafsa kembali.


"alhamdulillah sehat."jawab ayah ahmad.


Mereka larut dengan obrolan masing masing. Ustadz Alfi berbicara dengan farhan dan umay. Azzam selama 4 tahun ini tak muncul setelah keluar dari rumah sakit, entah kemana perginya karena tidak ada yang tahu bujang itu berkelana kemana.


"bang farhan, apakah sudah tahu dimana perginya azzam"tanya ustadz Alfi dengan wajah yg khawatir.


"kami tidak menemukannya, apalagi azzam itu ahli IT dan keberadaannya pasti tak bisa dilacak. Ustadz kita juga sudah lama tidak menemukan Faqih. mereka berdua seperti bekerja sama kesuatau tempat bersama."jelas Farhan


"Ya allah mereka berdua kemana? ini sudah 4 tahun tak bertemu"sendu Ustadz Alfi.


"Emm..maaf ustadz. Belakangan ini selalu diganggu banyak orang yaa?"sungkan umay.


"iya bang. mereka semua memaksaku"balas Ustadz Alfi tambah lesu selesu lesunya.


"memaksakan apa?"selidik Ayah Ahmad tiba tiba. Beliau tak sengaja mendengar percakapaan tadi. Sedangkan ketiganya langsung terlonjak kaget... berefek rasa kecurigaan dari Abi Abdurahman.


"kalian menyembunyikan apa?"sengit Abi Abdurahman.


"innalillahi wasalam riwayat kita"bathin ustadz Alfi, Farhan dan Umay. mereka bertiga berkeringat dingin sebab ditatap selidik oleh semuanya selain Hafsa dan Zaki yang sedang bermain di ayunan didekat teras.


bersambung....


🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘

__ADS_1


__ADS_2