Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Manisnya Cinta


__ADS_3

Sambut pagi dengan rasa bahagia yang luar biasa. Bagaimana tidak? Dian sudah mau berdekatan, berbicara dan emm.. memberikannya sesuatu hal yang selama ini tidak didapatkan sejak istrinya tidak ada. Ustadz Alfi tersenyum senyum sendiri seraya menatap keluar jendela yang menampilkan suasana asrama milik komandan Agha.


Ia masih ingat ketika kemarin jika Dian meminta maaf dengan sangat sangat dari hati pada saat telah beberapa lama saling berdiam diri dan tak ada yang memulai pembicaraan.


Flashback on… 


Di dalam kamar, sungguh seperti kuburan. Keduanya sama sekali tidak bersuara dan bingung hendak berbicara duluan. Ustadz Alfi dengan rasa masih takut dibenci sedangkan Dian ragu untuk berbicara lalu meminta maaf dengan suaminya itu.


Lama berdiam diri, keduanya serempak melirik satu sama lain lalu kemudian mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Muncul rasa gugup dan bingung mau berbicara.


Akhirnya Dian membuka suara. Sebab ia salah dan harus berbicara duluan. Meminta maaf atas semua yang ia lakukan beberapa hari ini saat Ustadz Alfi berada di sisinya. 


"mas"panggil Dian.


Ustadz Alfi menoleh ke arah istrinya dengan wajah mencoba sebaik mungkin tersenyum walau hatinya masih ragu dengan apa yang akan dikatakan wanita di depannya ini. 


"kenapa dek?"balas Ustadz Alfi


"em..aku ingin.."ucap Dian meragu. Lidahnya seakan kaku untuk berbicara. 


"apa ada masalah? Atau kepalamu pusing lagi"tanya Ustadz Alfi menatap penuh perhatian namun tak bisa memegang apalagi menyentuh. 


Dian menatap Ustadz Alfi dalam sedangkan yang ditatap hanya mengerutkan keningnya sembari menanti jawaban. Dian selalu merasakan cinta, kasih sayang dan perhatian dengan hanya menatap dalam mata cokelat nan teduh di depannya. 


Seketika bayangan bayangan kebersamaan mereka terlintas di benaknya. Bagaimana perilaku, tindakan dan sikap Ustadz Alfi menghadapinya dengan baik. walaupun memang jika suaminya ini lelah akan menimbulkan sedikit amarah kalau dirinya muncul sikap kekanak kanakan. Tapi itu tak termasuk nilai jelek dalam sosok Ustadz idolanya yang juga sebagai suaminya. 


Tiba tiba saja air matanya lolos dari singgasananya. Ia sangat sakit hati memperlakukan tidak baik suaminya yang rela untuk datang jauh jauh hanya untuk menghampirinya dan menjenguk keadaannya ke Aceh. Ustadz Alfi yang melihat itu langsung mendekat.


"kenapa menangis?"tanya Ustadz Alfi yang tidak ada balasan dari Dian. Lalu ia mendekat lagi seraya menghapus sedikit demi sedikit air mata yang melintas di pipi itu.


"jangan menangis. Jika kamu menangis hanya mengeluarkan satu tetes saja, mas menganggap diri ini sebegitu brengseknya membuatmu menangis."sambung Ustadz Alfi. Hatinya akan perih jika melihat Dian menangis namun sebaliknya hatinya akan berbunga bunga ketika melihat Dian tersenyum senang.


Sontak itu membuat hati Dian mendidih dan sekaligus terenyuh dengan ucapan itu. Sungguh tak kuat menahan lagi air yang menganak di kedua matanya. Pertahanannya jebol dan tumpahlah air matanya dengan disertai isakan. 


Posisi yang awalnya saling duduk bersama di pinggir ranjang menjadi berubah saat Dian tak bisa lagi menopang kakinya untuk duduk di kasur yang empuk itu. Ia memilih bersimpuh di lantai lalu sungkem dan sesekali mengecup lama punggung tangan yang hangat dan selalu menenangkannya. 


"Maaf..huhuhu…Maafin yan yan mass"tangis Dian yang terdengar memecah keheningan ruangan tersebut. Bahunya bergetar hebat dengan tangan yang tetap memegang erat apa yang ia pegang.


Ustadz Alfi terkejut dan tetap membiarkan Dian hendak berbicara apa. Apapun itu ia ingin menjadi pendengar yang baik dan tidak memotong kata kata yang terucap dari bibir sang istri. Selain itu, ia hanya mengusap bahu bergetar itu dengan perlahan lahan.


"aku terpaksa…. Melakukan ini… hanya…untuk keamananmu… huhu…aku takut jika hal yang di atas praduga ini…. Benar benar terjadi…"


"tapi… apa yang kulakukan membuatmu sakit hati… hiks hiks…"


"maaf….maaf….maaf…"


Begitulah Tangisan Dian tak bisa terhenti dan terus semakin menjadi jadi. Ustadz Alfi bingung harus berbuat apa sedangkan ia tak mau mengganggu tumpahan dan curahan hati dari istrinya. Tapi dilain sisi ia khawatir akan kesehatan istrinya akan memburuk jika seperti ini terus.


Belum selesai Ustadz Alfi berpikir, ia dikagetkan Dian yang hendak bersujud mencium kedua kakinya. Tentu ia panik akan itu. Ya walaupun posisinya sebagai imam tapi tanpa istrinya ia juga tak bisa berbuat apa apa. Sakit, lelah dan lain lainnya siapa yang akan melayaninya serta mengurusnya jika bukan istrinya.


"dek jangan seperti ini. Ini tidak layak untukmu. Duduk di sini saja"ucap Ustadz Alfi menepuk sebelahnya. 


Dian menuruti ucapannya dan segara duduk bersama sama lagi. Ia masih sesenggukan dan terdengar memilukan hati. 


"kenapa melakukan itu. Mas sudah memaafkannya dan sebenarnya kamu tidak usah meminta maaf kepadaku"seru Ustadz Alfi menghapus jejak jejak air mata itu.


"tapi aku sudah…"ucap Dian terpotong.


"sudahlah, Mas paham apa yang kamu lakukan demi kebaikanku. Sini"pinta Ustadz Alfi yang merentangkan tangannya.


Dian yang melihat itu, langsung saja menenggelamkan wajahnya di dekapan itu. Namun masih saja menangis dan itu pun membuat ustadz Alfi merasa tak tega dengan semua ini. Keadaanlah yang memaksa wanita kesayangannya ini berbuat seperti itu kepadanya dan posisinya juga tidak disalahkan 


"jangan menangis lagi, nanti tubuhmu akan drop dek."ucap Ustadz Alfi.


"apapun itu, mas tetap mendukung keputusanmu. Tapi aku tidak akan pernah setuju jika berpisah denganmu. Jauh darimu itu sungguh membuatku kesepian."sambung Ustadz Alfi seraya mengecup kening lalu mengelus pucuk kepala milik Dian.


"jadi mas masih tidak membenciku kan tentang aku berperilaku buruk denganmu?"lirih Dian.


"ck, dasar cengeng. Tentu tidak benci, mas mencintaimu"ledek Ustadz Alfi tersenyum renyah.


"eng..nggak tuh. Aku gak cengeng"kilah Dian yang memilih menunduk.


"loh, kan memang begitu. Lihatlah hidung dan mata mu memerah sehabis menangis."santai Ustadz Alfi. 


"iih mas Alfi gitu"cemberut Dian seraya mencubit lengan kiri suaminya dengan lumayan keras.


"aww masya allah dek.. Sakit tau, hmm kamu kdrt"keluh Ustadz Alfi yang meniup niup lengan kirinya dengan wajah yang dramatis.


"mukanya jangan di gemes gemesin gitu. Gak cocok tau gak"lirik Dian menatap aneh laki laki di depannya ini.


"apa dek? Mas gemesin? Alhamdulillah gak apa apa begini yang penting kamu cinta sama mas."oceh Ustadz Alfi.


"iih mana ada aku bilang gemes yang ada aku ilfeel sama kamu mas"ucap Dian mengalihkan pandangannya. 


"masa sih? Sayaaaang"goda Ustadz Alfi. 


Ia sungguh berubah jadi menjengkelkan bagi Dian. Melihat Dian salah tingkah dan hendak bangkit dari duduknya langsung saja Ustadz Alfi menarik tangan itu.


"kamu mau kemana dek?"bisik Ustadz Alfi seraya memeluk tubuh istrinya yang sedang duduk dipangkuannya dan membelakanginya. Sontak membuat Dian merinding akibat perbuatan mengejutkan dirinya ini. Tolong, jantungnya mencelat keluar dan hatinya terbang entah kemana. 


Flashback off….


Ustadz Alfi masih saja terkekeh geli akibat itu. Sesekali melihat jam yang sudah waktunya untuk Dian mengajar anak didiknya di asrama ini. Tadi sehabis sholat subuh dan sedang membaca ayat kursi ternyata istrinya tertidur di sajadah dengan posisi masih mengenakan mukena serta pulas seperti bayi. Namun setelahnya juga ustadz Alfi bantu melepaskannya.


Ia menghampiri ranjang. Dian begitu mempesona walau sedang tertidur seperti ini. Rambutnya tergerai, wajahnya yang manis, dan masih mengenakan dress tidur yang panjangnya di atas lutut tanpa lengan


"dek, bangun ini sudah terang"ucap Ustadz Alfi seraya memegang bahu Dian. 


"dek ayo bangun, nanti kesiangan ngajarnya. Ini hari jumat sayang, cari pahala dari sedekah ilmumu"seru Ustadz Alfi yang menoel noel pipi menggemaskan itu dan harus ditegaskan bahwa ini semua miliknya seorang.


"emm…mas. Ngapain sih ganggu aja lagi tidur"ucap Dian khas bangun tidur.


"bangun dek"seru Ustadz Alfi mengambil cardigan di nakas lalu menuntun Dian untuk memakainya dalam cara mendudukkannya paksa. Namun Dian malah ngoceh.


"aku letih, lemah, lesu, lunglai, capek, ngantuk dan males mas"oceh Dian yang masih menutup matanya.


"bukannya ini gara gara kamu mas. Ayolah aku ingin tidur sebentar aja pliss"sambung Dian yang kembali tarik selimut lalu bobok manis lagi.


"hey..ayo bangun istriku, cantikku dan bidadari surgaku. Ayoo lekas mandii. Tidak baik menunda nunda pekerjaan karena Allah tidak suka pada orang yang seperti itu. Malaaaas"ucap Ustadz Alfi yang mencubit kecil hidung bangir milik Dian.


"hmm ya iya"malas Dian.

__ADS_1


"kl udah begini kan aku jadi jalan. Hissh kena ceramah sama ustadz"gerutu Dian yang masih didengar Ustadz Alfi.


"apa kamu bilang ?"tegur Ustadz Alfi menatap tajam kearah istrinya. 


"eh enggak mas. Yaudah aku otw mau mandi"kilah Dian. 


Ustadz Alfi menghela nafasnya saja dan bersabar. Kelakuan absurd istrinya sudah muncul tapi ia bersyukur. Setelah selesai merapikan ranjangnya, ia pun menoleh ke arah seseorang yang berdiri sambil menutup matanya.


"Ya allah dek Dian Nurul Cahyaningrat, masih merem aja dari tadi"omel Ustadz Alfi membuat Dian terlonjak kaget. (yang menonton rekaman cctv menjadi terbahak bahak melihat itu yah mereka seperti menonton drama komedi sih)


"eh iya mas. Cuma lagi ngingetin materinya. Jangan marah ya peace hehe"cengengesan Dian yang malu malu dengan kelakuannya ini.


"ya sudah, cepet mandi terus sarapan. Nanti mas buatkan untukmu"pasrah Ustadz Alfi.


"siap mamas ganteng hehe"ucap Dian memberi hormat dan segera berlalu mandi. Sedangkan Ustadz Alfi tersenyum sambil menggeleng kepalanya.


"dasar…."gumam Ustadz Alfi berlalu untuk membuat sarapan.


🙂🙂🙂


Dian telah sarapan bersama dengan Ustadz Alfi tadi pagi. Memakan masakan karya suaminya yang sangat enak. Ia tidak menyangka jika laki lakinya bisa membuat makanan khas Indonesia itu. Atau mungkinkah saat dirinya tidak ada lalu keadaan memaksanya untuk masak sendiri? Hmm sudahlah sungguh kasihan jika diingat ingat lagi.


Kini posisinya sedang mengajarkan anak didiknya yang sudah berumur 17 tahun lebih ini. Mereka serius mendengarkan ajaran agama yang setiap jumat akan diberikan materi oleh Dian. 


Suasana Masjid di penuhi dengan lantunan ayat ayat Al-Quran yang suci. Bulan ini mempelajari Surat An-Nisa ayat 1 sampai 20. Dian memimpin bacaan dengan suara yang masya allah di dengar lalu di ikuti oleh semuanya.


"shadaqallahul adzim"serempak mereka semua.


"alhamdulillah, semoga lelah dan kerja keras kalian selama ini menjadi lillah. Ilmu yang didapatkan harus diamalkan di masa depan. Saya yakin kalian bisa sampai mendapat gelar sebagai angkatan yang melindungi negara dan warga negara dengan ikhlas serta bertanggung jawab"ucap Dian.


"aamiin"kompak semuanya.


"oiya nanti dalam acara terakhir mungkin beberapa bulan mendatang. Kalian mau hadiah apa?"tanya Dian berdiri dan menulis di papan tulis. 


"hadiah bayii"pekik semangat dari semuanya. 


"hah? Apa… bayiii?"kaget Dian.


"iya kak, kami mau melihat bayi dari pasangan terfavorit seperti Ustadz dan kakak"ucap salah satu dari mereka.


Dian terdiam dengan wajah sendu. Pikiran melayang saat mengetahui jika ia mungkin sudah tak bisa memberikan keturunan lagi. Rasanya hancur dan perih. Hatinya yang luka terkoyak lagi. Semuanya mendadak hening melihat Dian terdiam lama.


"ehm.. Semoga saja, aamiin"ucap Dian yang tersenyum lalu kemudian menulis penggalan ayat dan terjemahannya serta apa saja tajwid yang ada.


"aamiin ya allah. Aku berharap jika istri sholehah yang kupunya mendapat sesuatu berharga seperti seorang bayi lagi."bathin Ustadz Alfi seraya melihat Dian dari jauh. 


Wajar jika Dian sesedih itu sebab tidak memiliki kesempatan mendapat keturunan lagi namun baginya itu semua sudah cukup dan ia sangat memberikan nilai plus saat dirinya berhasil mendapat anak pertama. Tapi bagaimanapun seorang istri atau wanita bersuami harus punya kesempatan itu agar lengkaplah rumah tangganya.


Kefokusan Dian mengajar dan asyik menjawab semua pertanyaan dari anak didiknya tidak menyadari jika Ustadz Alfi ikut partisipasi dalam kegiatan itu. Suaminya ini tidak mau mengganggunya dan memilih duduk di paling belakang barisan kanan untuk para lelaki.


"pertanyaan kalian sudah terjawab, sekarang giliran kalian yang menjawab pertanyaanku. Tak usah menunjuk nunjuk, karena ini bebas. Siapapun yang menjawab, aku akan membuatkan Kue lebih banyak untuk kalian yang menjawab loh"ucap Dian yang sontak membuat mereka semua tak sabar menjawab. 


"bisa saja. Lihat dek, mas akan menjawab semua pertanyaanmu agar aku bisa mencicipi kue buatanmu hehe"suara hati Ustadz Alfi yang senyum senyum sendiri.


Tampak Dian menulis dengan cepat ayat 19 di Q.S An-Nisa yang menurutnya sudah diajarkan minggu lalu tapi bertambah ilmunya sekarang ini. Ia pun menandai 2 penggalan ayat saja


"baiklah siapa yang ingin menjawab lebih awal?"ucap Dian menawarkan.


"saya"jawab Ustadz Alfi. 


"point pertama silahkan dijawab. Apa hukum tajwidnya di huruf yang dilingkari ini ?."tanya Dian yang fokus menghadap papan tulis. 


"hukum tajwidnya adalah Mad 'iwadh. Kenapa disebut Mad 'iwadh? karena ha berharakat fathah tanwin dan ada tanda waqaf. Cara membacanya tanwin dihilangkan dan panjangnya 2 harakat."jelas Ustadz Alfi.


"bagus. Bagaimana cara bacanya jika hukum tajwidnya Mad 'iwadh? Dari awal ayat sampai tanda waqaf"puji Dian yang tersenyum sangat manis. Ia merasa senang ketika dijawab pertanyaan oleh mereka ini.


"Audzubillahiminasyaitonirrojim.


Bismillahirrahmanirrahim….yaaa ayyuhallaziina aamanuu laa yahillu lakum ang tarisun-nisaaa-a kar-haa....shadaqallahul adzim"baca Ustadz Alfi dengan tersenyum penuh arti menatap Dian yang sumringah.


"Okey kita lanjut yaa. Siapa yang mau menjawab point kedua?"Ucap Dian.


"saya"


Lagi lagi Ustadz Alfi menjawab. Tadi sepertinya sudah cukup berpura pura, sekarang ia akan membacanya dengan asli cengkoknya. Dian pun hanya mengangguk setuju saja, tidak salah menjawab 1 tapi lebih bagus menjawab lagi. Yang menjawab bagian belakang dan itu adalah titik dimana seseorang tidak akan terlalu paham. Wah, ia sangat senang bukan main. 


"hukum tajwidnya adalah Ghunnah. Karena nun bertanda tasydid dan cara membacanya dengan dengung serta ditahan 3 harakat."Jelas singkat Ustadz Alfi.


"oke, silahkan dibaca sampai selesai ayatnya."pinta Dian.


"wa laa ta'dhuluuhunna litaz-habuu biba'dhi maaa aataitumuuhunna illaaa ay ya-tiina bifaahisyatim mubayyinah, wa 'aasyiruuhunnna bil-ma'ruuf, fa ing karihtumuuhunna fa 'asaaa ang takrohuu syai-aw wa yaj'alallohu fiihi khoirong kasiiroo"baca Ustadz Alfi. 


Semuanya terpaku dengan bacaan itu. Dian juga berpikir ini adalah suara suaminya namun apakah mungkin sedangkan suaminya tadi pamit untuk menemui kakungnya. Benarkah ini?


"siapa yang membaca tadi?"tanya Dian sembari melihat dengan lebih dekat dan hanya berjalan sedikit menuju shaf laki laki. Hanya sedikit


"parah banget kamu dek, gak ngenalin suara masmu ini"bathin Ustadz Alfi seraya menekuk wajahnya.


"kak?"panggil melinda.


"ya ada apa?"balas Dian yang melenggang lagi kearah shafnya.


"em…kita tetap akan kebagian kue kan kak hehe"seru melinda yang malu malu.


"iya, cuma bagi yang jawab tadi kasihnya lebih banyak. Kenapa mendadak malu malu gitu mel, kan biasanya begitu"senyum Dian.


"iya nih kak. Biasanya juga malu maluin"ledek Intan yang mengundang tawa diantara mereka.


"intan"keluh Melinda yang mengkerucutkan bibirnya. 


"hehe just kiding"ucap Intan yang masih tersenyum senyum sendiri.


"ya sudah sudah, jangan diledekin terus."cegah Dian.


"oiya, sudah dicatat yang tadi? Kl sudah kalian pelajari lagi. Jika ada yang kira kira kurang atau memang gak paham, boleh tanya lagi"ucap Dian mengambil Al Qurannya dan membaca baca ayat yang tadi dalam hati dan serius.


"kak?"panggil Wahyu. 


"mau gombal tuh keknya"bathin semuanya selain Ustadz Alfi yang sedang membaca buku hadist milik perpustakan yang di punya oleh asrama ini. 


"iyaa?"sahut Dian.

__ADS_1


"kak saya mau bertanya nih tentang sesuatu"ucap Wahyu yang sok misterius.


"apa itu"balas Dian.


"ini kan surah An-nissa yang artinya perempuan. Nama surah ini juga cocok buat anak perempuan yang cantik dan menggemaskan. Kayak kak Dian kan ?"ucap Wahyu yang tetap menggombal tanpa melihat kearah belakang. Waww, berani banget nggombalin istri orang di saat suaminya tepat ada di belakangnya ini mah.


"hooooo"sorak semuanya. 


Dian berdiri lalu wajahnya kaget bukan main melihat Ustadz Alfi yang hendak berjalan kearahnya melewati tengah tengah mereka. Semuanya tahan nafas melihat sang Ustadz bersedekap dadanya tetap mendengarkan celotehan Wahyu.


"berbicara unfaedah..emm gak takut apa ketahuan"gugup Dian yang mencoba tersenyum tapi lebih tepatnya meringis melihat Ustadz Alfi mukanya sudah beda.


"ketahuan sama siapa?"polos Wahyu.


"wahyu, udahan yaa gombalannya. Kita ini sudah sesak nafas begini."bisik temannya yang duduknya di belakang wahyu mencolek colek bahu yang berada di depannya ini.


"gw tau lo gak sepolos itu yee, lihat belakang cepet"lirih melinda yang menunduk dan terus memaksa wahyu untuk melihat ke belakang.


Wahyu yang heran sekaligus penasaran langsung menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya ia melihat Ustadz Alfi yang notabenenya sebagai suami kakak pembinanya.


"gilaa merinding lihat tatapannya"suara hati Wahyu yang ditatap selidik oleh Ustadz Alfi.


"eh..hehehe ada Ustadz"kikuk Wahyu.


"teruskan"singkat Ustadz Alfi yang membuat Dian gigit jari dan bertambah deg degan nya.


"emm.. Gak mau deh. Ustadz saja"ucap Wahyu lalu menutup mulutnya dengan rapat rapat.


"belajar yang bener jangan bisanya cuma berbicara unfaedah."tegas Ustadz Alfi.


"hadduh tolong wehh, gw lemas dan mleyot ini 😫"teriak Wahyu dalam hati.


"mas sedang apa disini?"tanya Dian mengalihkan tatapan tajam dari suaminya untuk wahyu.


Ustadz Alfi menoleh menatap Dian yang tersenyum kikuk, ia pun mencoba tersenyum teduh agar istrinya tidak segugup tadi.


"numpang lewat dan gak sengaja duduk di paling belakang. Trus jawab pertanyaanmu"senyum Ustadz Alfi menatap Dian seperti biasanya.


"berarti yang tadi itu mas yang jawab? Pantas saja"seru Dian.


"inget ucapanmu yang tadi dek."ucap Ustadz Alfi.


"iyaa mas."


"oiya, Sepertinya cukup sampai disini saja yaa. Tadi penjelasan dari Ustadz juga lebih dari cukup."ucap Dian


"kami pamit, assalamualaikum"pamit Ustadz Alfi dan Dian. 


"waalaikumsalam"serempak semuanya. 


"alhamdulillah"kor semuanya saat kedua pasutri itu sudah keluar dari masjid. 


Mereka bisa bernafas lega dan baik lalu mulai keluar satu persatu. Sedangkan wahyu mendapat tatapan tajam dari semuanya dan hanya bisa cengengesan saja menanggapi semua itu.


Sementara dengan Ustadz Alfi dan Dian…


Berdua sambil berjalan kearah taman dan mendudukkan mereka di kursi taman. Ustadz Alfi menggenggam tangan kiri Dian lalu mulai berbicara.


"dek, tadi kemampuanmu dalam tajwid sudah membanggakan Mas"puji Ustadz Alfi.


"alhamdulillah mas"balas Dian yang tersenyum malu dan menunduk.


"masih ingat gak jika mas menjanjikan sesuatu saat kamu telah bisa menguasai beberapa hukum tajwid dan cara membaca yang benar?"tanya Ustadz Alfi.


"em memangnya apa mas?"jawab Dian yang malah balik bertanya.


Ustadz Alfi berdiri dari duduknya lalu berjalan kearah bunga bunga yang terhampar dan melakukan sesuatu. Sedangkan Dian hanya terdiam heran melihat itu.


Tak lama Ustadz Alfi menghampirinya dengan senyum yang merekah. Terlihat ia seperti menyembunyikan sesuatu darinya. Ketika sudah saling berhadapan….


"mas kamu tadi sedang apa? Apa yang ada di belakangmu"tanya Dian penasaran.


"ini untukmu"ujar Ustadz Alfi seraya mengulurkan 5 tangkai bunga tulip merah yang di bungkus kain miliknya dan diikat seutas tali dibagian bawah.


"ini buatku mas ?"tanya Dian dengan menatap binar kearah bunga kesukaannya dan tanpa sadar berdiri dihadapan tubuh tinggi milik suaminya.


"iyaa, ini hadiah untukmu yang telah berhasil dengan hukum tajwid yang menurutmu susah untuk dipelajari."jawab Ustadz Alfi meletakkan bunga itu di tangan Dian.


"mas ini sungguh indah"haru Dian yang meraih makhota bunga dengan hati hati.


"maaf mas gak bisa beli dan memberikan bunga yang banyak. Maaf tidak sesuai dengan janjiku"ucap Ustadz Alfi dengan sedikit lesu.


"tak apa apa. Tidak usah beli dan cukup memetiknya lalu menghiasnya seperti ini, sudah membuatku senang."balas Dian masih saja menatap dengan gembira bunga di tangannya.


"makasih mas"seru Dian seraya berjinjit mencium pipi kiri milik laki lakinya. 


Ustadz Alfi yang mendapat serangan mendadak menjadi tersenyum malu dan ia pun mengangkat Dian hingga tingginya melebihinya.


"ya allah mas"pekik Dian kaget sambil memegang erat bahu Ustadz Alfi.


"kamu takut tinggi hemm"ledek Ustadz Alfi.


"bukan…tapi apa aku gak berat mas?"malu Dian.


"enggak. Kamu tetap sama seperti sebelum sebelumnya ketika mas menggendongmu tapi tetap berisi dimataku dek"senyum Ustadz Alfi penuh arti


"mas pliss jangan mulai lagi"keluh Dian yang menjewer telinga suaminya dan tak lupa wajah cemberutnya.


"hehe hanya bercanda sayang. Itu bibirnya jangan cemberut nanti mas cium loh"ucap Ustadz Alfi yang tertawa kecil. 


"mau marah tapi sayang, huff"ucap Dian pasrah. Lihatlah Ustadz Alfi sekarang, ia tersenyum manis sekali seperti gula.


"iihh baper akut"bathin si penguntit alias Intan, Melinda, Rita dan Dokter Marissa. Sedangkan Caca dan Vira hanya terkekeh geli sambil saling menukar pandangannya.


Bersambung….


🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa

__ADS_1


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘


__ADS_2