
Siang hari…
Seluruh anak didik mereka sudah memperagakan gerakan yg 3 hari lalu di ajarkan. Dian melirik jam di tangannya yg sudah menunjukkan pukul setengah 10. Mau diterusin tapi dirinya merasa cukup karena latihan sudah dilaksanakan tepat pukul 5.30
"baiklah, sepertinya ini sudah cukup."ucap Dian memperhatikan semua anak didiknya sudah lelah dan mengeluarkan keringat sebutir jagung.
"apa kami harus mengulang lagi minggu depan kak?"tanya melinda.
"tidak. Kalian sudah bagus, minggu depan kita akan menambah gerakan baru. Em..seterah kalian sih untuk minggu depan silat atau latihan menembak"ucap Dian yg diangguki oleh Raka dan Brian.
Semuanya berdiskusi dengan khidmat dan tanpa suara. Hanya terdengar lirih di telinga. Sesaat kemudian, intan pun mengangkat tangannya.
"kak"panggil Intan.
"silahkan"sahut Dian.
"minggu depan kita latihan menembak saja"ucap Intan yg menyampaikan hasil diskusi pihak wanita.
"kl yang laki lakinya gimana nih?"tanya Dian.
"kami setuju kak. Asal menembak ke hati kakak"ucap wahyu menggombali Dian.
"huuuu"sorak semuanya.
Sedangkan Dian hanya menggeleng-geleng kan kepalanya. Lalu tersenyum penuh arti dan menimpali ucapan wahyu si ahli gombal.
"memangnya kamu suka sama saya?"tanya Dian seraya menampilkan senyumannya.
Wahyu pun mendadak ke ge'eran sebab ucapan itu. Semuanya juga merasa bahwa Wahyu diterima namun tidak dengan Intan, Melinda, Raka dan Brian yg hafal betul sifatnya Dian ini.
"iya kak. Kak Dian suka gak sama saya?"ucap Wahyu yg menjawab pertanyaan lalu mengutarakan pertanyaan juga. Wajahnya sumringah dan berbinar menatap Dian di depannya. Seakan akan jaraknya begitu dekat.
"oh makasih ya sudah suka sama saya."ucap Dian terhenti dan menunggu reaksi Wahyu. Lihatlah si wahyu sudah malu maluin hehe.
"tapi sayanya gak suka sama kamu"ucap Dian wajah yg serius seraya memegang daftar nama anak didiknya dan jurnal kegiatan.
"emphht, HAHAHA"Semua orang yg tadi menahan tawa mendadak tertawa dengan kencang. Beruntung ruang rapat diredam suaranya kalau tidak, mungkin ada yg panas hatinya mendengar gombalan itu.
(ustadz Alfi tuh cukup cemburuan apalagi tahu kl yg gombalin tuh anak baru kenal apa itu nikah. Wah merasa tersaingi hehe)
"aduh hati adek sakit mba, sakitnya tuh disini...ambyaaar"oceh Wahyu dengan gaya absurdnya itu.
"sakit hatinya biasa tapi malunya luar biasa hahaha"ledek Brian masih tertawa geli melihat reaksi Wahyu yg seperti di buat buat itu.
"sudah, kalian segera meninggalkan tempat…"ucap Dian yg sudah meletakkan jurnal tersebut di meja dekat kursinya. Namun mereka masih saja tertawa terpikal pikal dan akhirnya ia pun meraih rotan lalu…
Cetarrrrr
Bunyi rotan yang nyaring membuat semuanya terdiam sepi dan menatap Dian yg memasang wajah garangnya. Mereka pun menelan salivanya kasar.
"kalian masih menghormati saya disini? Atau saya akan lapor ke pimpinan kalian dan yg mengajar agar beliau saja"tegas Dian.
"ma..masih kak, ja..jangan kak"gugup mereka semua.
Komandan Agha jika mengajar lebih menegangkan sebab beliau seperti mendiang kakeknya yg kl marah mengalahkan guntur di langit (umpama lho yaa😂). Mereka senang jika diajarkan oleh Dian sebab walaupun punya emosi yg tinggi tapi jika sedang belajar tidak tegang tegang amat dan enjoy bawaannya.
"kembali atau punggung kalian kena tampar rotan"ucap Dian yg sudah merasa emosinya naik signifikan. Namun mereka masih mengatur rasa terkejutnya.
"SEKARANG"bentak Dian.
Semuanya berlari cepat menuju asrama mereka masing masing. Raka dan Brian mendadak mleyot sama bentakan itu. Sedangkan Intan dan Melinda yg bertanggung jawab langsung mendekat perlahan lahan ke arah Dian. Ia terlihat sedang menenangkan dirinya sendiri.
"kak kamu baik baik saja ?"ucap Intan seraya mendekat ke arah Dian yg terduduk memijat keningnya. Bahkan tangan yg satu masih memegang rotan dengan kuat.
"bagaimana ini?"bisik Melinda sampai sampai Dian tidak mendengar. Intan hanya mengangkat bahunya saja.
__ADS_1
Tiba tiba teringat anjuran dokter Marissa dan Intan mempraktekkan kepada Dian yg telah hampir lepas kendali Emosinya. Ia berani mendekat sebab Dian menutup matanya tanpa melihat siapapun.
Intan terus mendekat seraya menggenggam halus tangan yg masih saja kuat menahan rotan. Lalu Melinda juga mendekat kearah Dian namun disebelah kirinya mencoba memegang bahu tersebut untuk menenangkannya
"kakak harus sabar ya"ucap Melinda yg mengusap usap punggung Dian dengan penuh perhatian.
"Istighfar kak dan jangan terlalu lama menutup mata"ucap Intan berusaha melepaskan rotan dari tangan Dian.
Usaha mereka berdua pun berhasil yg membuat Raka dan Brian bisa bernafas lega. Intan pun tersenyum saat Dian melihat kearah sekelilingnya.
"Aku dimana?"tanya Dian yg seperti orang linglung.
"kakak tadi habis mengajar kita latihan silat. Lalu kakak menyuruh kami ke asrama agar beristirahat."seru Melinda.
"iya kak. Lihatlah lapangan ini kosong kan"yakin Intan. Dian pun kembali normal lagi dan bisa tersenyum menanggapinya.
"yg lain udah kembali. Lebih baik nyonya beristirahat"ucap Brian yg bercanda dan langsung saja mendapat sikutan oleh Raka.
"kl ngomong di jaga"geram Raka sambil berbisik.
"haha bisa saja kamu, kl begitu aku mau istirahat"tawa Dian.
Mereka berempat hatinya lega saat Dian mengucapkan salam lalu berjalan menuju rumahnya. Brian pun cengengesan mendapat lirikan tajam dari Raka. Sedangkan Intan dan Melinda tersenyum lalu pamit.
"kami pamit ya kak, assalamualaikum"pamit kedua gadis tersebut.
"iya silahkan, waalaikumsalam"jawab Brian dan Raka.
Dian berjalan melewati mimbar menuju ke rumah besar milik Agha namun ia tidak menemukan seorangpun.
"loh katanya mau ketemu aku tapi dokter marissa tidak ada, bahkan mereka semuanya tidak ada di rumah"pikir Dian.
Dian keluar dari rumah itu lalu sekedar berkeliling sekitar mimbar dan melihat ruang rapat lebih terang dari sebelumnya. Ia pun berjalan menuju ke ruang itu.
"assalamualaikum"salam Dian di ambang pintu.
Deg…
Hatinya berdetak lebih kencang dari biasanya dan dunianya mendadak berhenti dengan seiring netranya menatap ke arah mata coklat yg ia rindukan. Sedangkan Ustadz Alfi yg baru melihat wujud asli istrinya masih hidup dengan mata kepalanya sendiri nampak terpaku juga melihat ke arah wanita yg ia cintai.
"dek"panggil Ustadz Alfi sedikit serak menahan rasa haru nya yg baru saja menemukan istrinya
Ucapan itu semakin membuat Dian galau lagi. Pertahanannya hampir runtuh hanya dengan dipanggil begitu oleh ustadz Alfi yg menatapnya penuh cinta seperti biasanya saja tak tahan ingin memeluknya erat.
"mas"suara Dian yg hanya bisa di dalam hati.
Dian membisu dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah yg lainnya. Ustadz Alfi tadinya sedang tersenyum menjadi tersenyum kaku dengan mata yg tetap menyiratkan sebuah kerinduan tapi juga kekecewaan. Huf,sabar pikirnya.
"kenapa ia berada disini? Apakah mereka yg mengatakannya?dasar semua orang tak bisa dipercaya"batin Dian
"ck"decak kesal Dian yg merasa dirinya sudah dibohongi.
Dian berbalik lalu langsung pergi sebab tak terima jika mereka semua berbohong kepadanya. Tadi ia sudah terlanjur emosi dan itu membuatnya cepat kesal hanya masalah sepele. Ustadz alfi segera menyusul seraya menenteng jaketnya yg sempat ia lepas tadi.
Koridor mendadak menjadi tontonan ala film India bagi mereka yg melihat aksi kedua pasangan suami istri tersebut. Ustadz Alfi terus mengikuti langkah Dian kemanapun arahnya.
"dek, tunggu."ucap Ustadz Alfi berlari lebih cepat
"dek, mas mohon."ucap Ustadz Alfi namun Dian memilih berjalan ke arah Rumah. Mereka berdua menghilang dari pandangan Intan, Melinda, Wahyu, Raka, Brian, Bi Mur, dan Rita yg kebetulan sedang berjalan kaki.
"wah itu siapa yg mengejar kak Dian?"tanya Rita.
"mana aku tahu"jawab Melinda.
"pacarnya kak Dian?"terka Wahyu.
__ADS_1
"hey jangan asal nebak ya"kesal Intan yg hampir menjitak kepala laki laki fans fanatik kakak pelatihnya.
"dari perawakannya kok kayak ustadz terkenal itu ya? Em..Ustadz Alfi?"ucap Intan yg menajamkan ingatannya.
"iya itu ustadz Alfi, suaminya pelatih kalian"jawab Brian dengan diangguki oleh Raka.
"APA!? Suaminya kak Dian"ucap mereka kaget sebab baru tahu jika kakak pelatih yg selama ini digombalin oleh Wahyu sudah punya suami.
"oh tentu saja. Mereka sudah punya 1 anak"timpal Raka.
"wah gak nyangka ya, kak Dian terlihat muda loh tapi sudah punya anak"simpul Intan.
(bukannya Istirahat eh mereka malah gosip haha)
😐😐😐
Sehabis Dzuhur…
Dian dan Ustadz Alfi sholat masing masing. Dian ditegur pun tidak mendengarkan perkataan Ustadz Alfi. Bukan karena membenci namun, Dian menjaga jarak sebab masih berpikir bahwa Ustadz Alfi sudah bahagia bersama Kania. Em..seperti sudah membangun rumah tangga.
Mereka berdua hanya berdiam diri di dalam satu atap tapi seakan jauh. Ustadz Alfi tidak bisa memaksa begitu saja dan Dian memilih diam. Rasanya sangat sepi dan sunyi.
"kamu kenapa ada disini?"tanya Dian yg tanpa menatap wajah laki laki di sebelahnya.
"aku ingin mengunjungimu dek"jawab ustadz Alfi mantap tanpa gugup.
"kau tahu apa konsekuensinya bertemu denganku?"ucap Dian sedikit naik satu tingkat suaranya. Ia takut jika ustadz Alfi kesini dan sampai ketahuan oleh pihak musuh. Bukan hanya ia yg dalam bahaya tapi semua orang yg telah membantu atau dikenalnya.
Tanpa disadari sekarang interaksi mereka terekam cctv dan sedang tersambung lewat Rapat Online yg ditonton Oleh keluarga mereka. Bahkan sampai serius dan ikut tegang sebab suasananya. Namun ustadz Alfi menjawab dengan tenang.
"tahu sekali. Tapi mas kan ingin melihat keadaanmu. Apakah kamu baik baik saja dek?"ucap ustadz Alfi yg mau memegang tangan kiri Dian. Kemudian malah ditepis.
"aku gak butuh perhatianmu. Tolong perhatikan dirimu sendiri saja"ketus Dian. Ustadz Alfi tersenyum manis, ia menangkap jika istrinya ini secara halus memperhatikan dirinya.
"makasih atas perhatianmu dek. Mas senang ternyata kamu masih saja seperti biasa"balas ustadz Alfi.
"diih kepedean banget, memang kamu itu penting"kilah Dian seraya memutar bola matanya malas menatap ustadz Alfi yg dulu ia idolakan ini.
"Alhamdulillah, kamu masih menganggap mas penting."balas ustadz Alfi. Sontak Dian menatap tajam dirinya lalu seolah tak percaya akan ucapannya.
"kamu…"ucap Dian yg menunjuk jari telunjuknya di depan ustadz Alfi dengan emosinya. Namun tiba tiba menguap begitu saja saat tatapan dan gelengan kepala suaminya menanggapi ucapannya. Ia pun menghela nafasnya lalu pergi menuju kamarnya.
"lho kok mas ditinggal sih?"tanya lembut ustadz Alfi lalu…
Bruk…
"astaghfirullahalazim"ucap ustadz Alfi yg terkejut sebab pintu ditutup dengan kencang. Sampai ia terlonjak kaget dari duduknya lalu mengelus dadanya yg hampir saja jantungan.
bersambung....
🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢
Drama kecil dibalik layar....
Ust. Alfi: Kamu kenapa emosian mulu sih dek ?
Dian: Bodo amat! Diam kamu 😒
Me: Ustadz yg sabar ya, udah bagus kok senjata pembaliknya. Pepet terus Dian nya stadz biar klepek klepek lagi. 😂
Ust. Alfi: wiih itu mah pasti, tunggu tanggal mainnya aja. Pasti klepek klepek sama pesona si Duda meresahkan. eh...😣
Dian: beraninya kamu bilang Duda. Lalu aku sekarang siapa? setan yaa😑
Ust. Alfi membisu 😐
__ADS_1
Intan & Melinda: yasudahlah guys mereka tuh belum ada manis manisnya. Nah jadi kalian harus dukung Ustadz Alfi yg mengejar Dian dengan cara ....
Raka & Brian: like, vote dan hadiahnya jangan sampai kendor yaa......