
Keesokan harinya…
Dian telah terbangun dari tidurnya dengan mata khas bantal. Rasanya ia tidak ingin beranjak dari kasurnya. Semalam gara gara ustadz Alfi, dirinya menjadi telat untuk tidur sesuai anjuran dokter. Benar saja, tubuhnya seperti dipukul pukul keras dari sebuah kayu.
Crek
"auw"keluh Dian saat tulang lehernya di bunyikan agar lebih terasa enak lagi tapi lumayan sakit juga.
"aku kenapa selalu suudzon terus sih sama mas Alfi? Ck, tidak mungkin kan jika kemarin itu sakit bohongan"pikir Dian.
Dian yakin dan percaya sekali jika suaminya beneran sakit lalu tidak mempermasalahkannya lagi. Namun jika ia mungkin mengetahui hal yg sebenarnya, sudah pasti akan marah marah kepada ustadz Alfi itu.
"suami"lirih Dian tersenyum kecut dengan dirinya sendiri.
"semuanya yg diharapkan belum tentu akan sesuai dengan apa yg dipikirkan"ucap Dian seraya bangkit dari ranjang.
Ia mengambil handuk dan dilampirkan pada bahunya kanannya. Sebelum melakukan mandi, dian mengingat sesuatu. Pintu kamarnya sudah dikunci apa belum ya? Ah sudahlah. Dengan tidak memikirkannya kembali, ia memulai ritual mandinya.
Sementara dengan ustadz Alfi, Ia juga terbangun dari tidurnya dengan wajah yg berseri seri walau punggungnya terasa pegal karena tidur di sofa semalaman. Namun ia tidak mengeluh sedikitpun dan ikhlas melakukannya.
Berhubung saat ini sudah kelewat 1 jam sholat shubuh. Ia pun segera membereskan bantal dan selimutnya. Kemudian membawa keduanya ke arah pintu kamar milik istrinya.
"dek dian sudah bangun atau belum ya?"pikir ustadz Alfi.
Ia nampak ragu ketika ingin mengetuk pintu. Namun ini juga tanggung jawabnya untuk membangunkan istri untuk sholat subuh sebab kemarin mereka tidur pada jam yang sama.
"dek"panggil ustadz Alfi seraya mengetuk pintu.
Tetapi tidak ada sahutan maupun pergerakan dari dalam. Dengan penasaran, ustadz Alfi menyentuh pegangan pintu lalu mencoba membukanya.
"tidak dikunci ??"heran ustadz Alfi dalam hati lalu melangkah masuk ke dalam kamar tersebut.
Kamar yg luas dengan segala perabotan penting tersusun rapi. Ada sofa, meja sofa, nakas, ranjang, meja rias, lemari dll. Begitu lengkap dan pastinya sangat nyaman. Namun ada hal yg kurang dari penglihatannya yaitu si empunya tempat.
Terdengar gemericik air di dalam kamar mandi dengan teratur. Sepertinya Dian sedang fokus ritual mandinya. Ustadz Alfi memilih mendudukkan dirinya di kursi dekat laci nakas untuk menunggu kehadiran seseorang sedang mandi lalu bergantian dengannya.
Beberapa menit kemudian, Dian telah selesai dengan mandinya lalu melilitkan handuk putih pada tubuhnya. Rambutnya yg panjang dikeringkan oleh handuk seraya membuka pintu.
Pintu terbuka, membuat netra ustadz Alfi tepat melihat Dian. Ia membelalakkan matanya dengan menatap istrinya begitu tak percaya. Rahangnya menurun sedikit dan mata yg melihat dari atas sampai bawah.
Tubuh istrinya begitu membuat jantungan saja. Putih, bersih dan harum wangi tercium dari tempatnya. Wangi khas cokelat sangat memabukkan hidungnya. Handuk menutupi bagian dada sampai pahanya saja, terlihat jelas paha mulus dan kaki jenjangnya.
Dian tidak menyadari keberadaan ustadz Alfi di kursi. Lihatlah suaminya berkeringat dingin menahan sesuatu. Dian menjepit rambutnya dengan jepitan rambut warna cokelat yang membuat lehernya begitu terekspos nyata.
Ustadz Alfi tambah tak karuan. Ia berjalan mendekati istrinya hendak membuka lemari pakaiannya. Dian seperti magnet yg menariknya tanpa sadar. Setelah sampai tepat di belakang wanitanya….
"dek"bisik ustadz Alfi tepat di telinga istrinya seraya memeluk pinggang ramping di depannya.
Dian terhenyak lalu tidak jadi mengambil pakaiannya. Ustadz Alfi sudah mulai mengendus endus tengkuknya menuju ke daun telinganya. Matanya terpejam dan memegang erat tangan yg memeluknya. Wajahnya sudah merah bak kepiting rebus saat kedua tangan hangat milik laki laki dibelakangnya terasa menyentuh kulit di bahunya.
"lepas"ucap Dian tahan nafas.
Ustadz Alfi tersadar sedikit sebab tangannya merasa perih akibat kuku milik Dian menggores sedikit lengannya. Ia pun melepas pelukan itu dengan beranjak sedikit jauh dari Dian yg menunduk menyembunyikan wajahnya. Ustadz Alfi menetralkan diri bertompang pada lemari tanpa menatap Dian.
"berlarilah kearah ranjang dan tutupi tubuhmu dek. Mas ingin mandi"ucap ustadz Alfi.
Dian mengangguk menuruti ucapan itu lalu berlari menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan berbaring menunggu ustadz Alfi sampai keluar dari kamarnya.
Ustadz Alfi segera masuk kedalam kamar mandi dengan tergesa gesa lalu menyalakan shower dan memastikan tubuhnya terguyur dengan air dingin itu.
"mas tidak akan menyentuhmu jika engkau belum mendekat dan bertahan di sisiku . Aku tidak ingin membuatmu tambah menjadi benci dengan paksaanku"batin ustadz Alfi.
Sedangkan Dian sudah mengintip kearah pintu kamar mandi. Ia sebenarnya tidak ingin menolak, bagaimanapun suaminya sudah berpuasa lebih dari 4 tahun.
__ADS_1
"maafkan aku mas. Menolak dirimu menyentuhku dan bahkan tahu akibatnya. Aku lebih rela berdosa menolakmu daripada membuat harapan yg tidak mungkin terwujudkan….
Kau tahu, Aku adalah wanita yg tak sempurna lagi dan diri ini takut membuatmu kecewa di kemudian hari…"batin Dian yg kembali berbaring dengan menutup seluruh tubuhnya. Tak terasa, air matanya lolos begitu saja mengingat bahwa ia tidak bisa menjaga buah hatinya di dalam kandungannya.
😐😐😐
Ustadz Alfi menemani Dian duduk diruang tamu. Mereka dilanda keheningan. Sebenarnya Ustadz Alfi ingin melakukan sesuatu sesuai proposal yg ia dapatkan dari dokter Marissa. Kini melanjutkan sesi keduanya sebab yg pertama kemarin malam sudah terlaksana dengan baik. Cctv pun dibuka dan dihubungkan kembali. Namun kini bertambah yaitu kyai sang gurunya Dian ikut bergabung.
"dek, bolehkah mas bicara"ragu ustadz Alfi terdiam sejenak untuk menyusun kata kata yg tepat.
"bicaralah"ucap Dian yg ketus. Ia masih malu dengan apa yg terjadi beberapa jam yg lalu dan marah kepada dirinya sendiri.
"em...dek, apa dirimu menyembunyikan sesuatu? Katakanlah kepada masmu ini"tanya ustadz Alfi dengan lembut dan tersenyum hangat.
"bukan urusanmu"singkat Dian yg sedikit gugup dengan pertanyaan itu. Wajahnya tetap ketus seperti pada awalnya.
"tentu saja itu urusanku juga. Kau sembunyikan apa dariku dek"balas ustadz Alfi.
"sudah ku bilang itu bukan urusanmu."kekeuh Dian tidak mau kalah dengan suaranya meningkat satu tingkat.
"aku mohon, kamu jujur dek"tegas ustadz Alfi dengan menekan setiap kata katanya. Dirinya hari ini begitu cepat tersulut api hanya dengan Dian meninggikan satu oktaf suaranya.
"apa maumu sebenarnya? Kau jangan membuatku terpaksa seperti ini. Sekarang memberimu izin tinggal di sini juga bukan keinginanku."ucap Dian juga sebab merasa di pojokkan.
"selalu membantah, Kamu berubah menjadi seperti ini itu salah. Belajar jadi durhaka"ucap ustadz Alfi meninggi membuat Dian terhenyak dari duduknya.
Amarah begitu menguasai hati seorang ustadz itu. Kenyataannya, Ustadz juga manusia yg bisa marah sebab dirinya ditentang oleh istrinya. Sedangkan Dian merasa sangat tertekan dengan bentakan tersebut membuatnya hilang kendali juga.
"benar, aku belajar menjadi durhaka. Aku berani menentangmu"senyum sinis dari Dian yg merasa dirinya terancam seraya menyilangkan kedua tangannya di dada.
"perhatikan sikapmu, Hormati aku sebagai suamimu"tegas Ustadz Alfi.
Suasana dalam ruangan semakin mencekam sebab keduanya timbul amarah dan belum ada yg mengalah. Semuanya yg melihat mendadak deg degan dengan apa yg akan terjadi selanjutnya. Hafsa khawatir jika kedua orangtua bertengkar dan berakibat fatal.
"caramu itu tidak termasuk rasa hormat"kekeuh ustadz Alfi.
"bagus sekali… baiklah. lihatlah aku yg sebagai istrimu. Selalu membantah, tidak hormat padamu dan kelakuanku yg naudzhubillah ini. Sekarang pikirkan baik baik saranku. Aku ingin kita pisah"ucap Dian. Ia terlanjur sakit dengan bentakan tadi dan tidak lagi peduli apapun itu. Toh ini akan membuatnya lebih tenang tentang keselamatan semuanya.
Ustadz Alfi menatap tak percaya Dian. Emosi membawanya kedalam hal yg terburuk. Dirinya menjadi buta akan sabar dan malah tadi membentak. Ia seakan akan menghina sikap istrinya yg mengalami gangguan jiwa. Sungguh ia adalah orang mengecewakan.
"dek aku minta maaf. Tadi aku…."ucap ustadz Alfi menyesal namun terhenti...
"khilaf yaa. Tidak masalah. Itu sudah menunjukkan jika dirimu sudah tidak bisa menerimaku. Menikahlah dengan yg lain dan mari kita cerai"ucap Dian. Didalam hatinya, ia merasa sangat sakit luar biasa mengatakan kata kata itu.
"semudah itu mengatakannya, astagfirullah dek hatimu terbuat dari apa"pasrah ustadz Alfi seraya memijit keningnya. Hatinya berdenyut nyeri dengan perkataan itu.
"terserah dengan apa yang kau pikirkan tentangku. Aku ingin kita hidup masing masing saja. Tujuanku dan tujuanmu sudah tak sama lagi. Pergilah dan cari wanita yg menurutmu lebih baik. Diriku adalah wanita yg tidak baik dan tidak sempurna"ucap Dian miris seraya berlalu dari tempat itu dan berjalan tanpa arah keluar rumah. Dian menekan dadanya yang terasa nyeri dan sakit.
Berjalan dengan langkah gontai. Pandangan Dian sudah mulai kosong. Baru saja 15 cm dari tempat duduknya, ia pun terhenti. Ustadz Alfi langsung saja mendongak sebab kaki yg ia lihat mendadak lemah.
Ustadz Alfi menatapnya dengan hati yang was was. Ia melihat jika Dian memegang kepalanya dengan wajah menyiratkan kesakitan dan menutup matanya. Tiba tiba Dian pingsan sebab kesadarannya terenggut begitu saja dan beralih ke alam bawah sadarnya lalu dimulailah kaset berputar tentang peristiwa penculikkan dan pemaksaan akan dirinya.
"dek, ya allah sadarlah. Buka matamu"ucap ustadz Alfi yg panik menompang Dian lalu memeluknya erat seraya terduduk di sofa.
("baiklah, kita mulai misi penyembuhannya ustadz. Aku mohon jangan panik"ucap dokter Marissa)
Ustadz Alfi mendengar suara namun tak melihat orangnya. Lalu netranya melihat kearah kamera cctv kecil disudut plafon yg bentuknya sangat kecil.
"akan ku coba"ucapnya mantap.
Dian yang tenang mulai menampilkan reaksi tak terduga duga. Ustadz Alfi sedang menetralkan keadaannya dengan menarik nafas lalu membuangnya perlahan.
"..hem..huh..gak mau...hum.."gumam Dian tidak jelas seraya tahan dengan menutup matanya.
__ADS_1
"bismillah"ucap ustadz Alfi menggendong istrinya berjalan menuju ke kamar.
(dokter Marissa mereset tayangan cctv ke ruangan kamar milik Dian. Semuanya menjadi penasaran dengan apa yg terjadi tapi tahu jika penyakit trauma itu akan diketahuinya.)
Sesampainya di ranjang, ustadz Alfi langsung membaringkan Dian. Melihat lagi wajah pucat dan keringat dingin itu seraya menyelimuti tubuh istrinya lalu bertindak untuk memasukkan segala hal yg mungkin membahayakan seperti pesan dokter Marissa.
Bunyi sesuatu benda yg nyaring akibat gerakan cepat ustadz Alfi tidak bisa membangunkan Dian dari tidurnya. Sebenarnya ia tidak tidur dan ia sangat menderita dengan ingatan ingatan yg menjurus kearah dimana dirinya hampir kehilangan nyawa serta janinnya keguguran. Ustadz Alfi yg selesai dengan kegiatannya langsung kearah Dian kembali. Ia mengamati dengan seksama.
Dian terlihat mengeratkan tangannya mencengkram selimut. Tubuhnya bergerak gelisah sedikit demi sedikit. Yang membuatnya kaget yaitu gerakan tangan dian yg mencekik lehernya sendiri.
"Astagfirullahalazim"pekik ustadz Alfi yang dengan cepat menahan tangan itu lalu hendak melepaskannya.
"uhuk...uhuk...uhuk"
Dian sampai terbatuk batuk dengan tangannya sendiri. Kakinya pun tak bisa diam, bahkan sudah berteriak histeris. Ustadz Alfi terus tetap tenang dengan keadaan yg terjadi. Dengan memeluk wanitanya dan mencoba melepas hijab yg akan berbahaya jika terus bergerak.
"sakit uhuk..uhuk..uhuk.. Sakit huhuhu"tangis Dian yg terus merasa sakit.
"sabar yaa dek, sebentar lagi Mas akan berusaha"ucap ustadz Alfi yg sedang mencoba melepas hijab tersebut dengan kepayahan.
Akhirnya terlepas juga kain penutup itu. Kini ustadz Alfi melepas juga kalung berwarna biru pemberiannya dan berusaha melepaskan tangan di leher Dian.
"sayang istighfar dan jangan menyakiti dirimu sendiri."ucap ustadz Alfi dengan sedikit membisikkan kalimat kalimat dzikir.
Ustadz Alfi terus memeluk dan mengelus rambut milik Dian. Ia tetap membisikkan kalimat dzikir terus menerus dengan perasaan campur aduk. Bahkan mencoba tidak menangis menanganinya.
(semua melihatnya dengan air mata yg tidak tertahankan lagi. Bahkan komandan Agha begitu meresapi sampai tangannya harus menyeka air matanya berulang kali.
"ini diluar perkiraanku"ucap dokter Marissa)
"mas hiks hiks aku rindu"tangis Dian yg gelisah dan masih mencekik lehernya sendiri.
"iya dek, mas tetap akan berada didekatmu. jadi bisakah kau kendalikan dirimu sayang. sungguh mas takut"balas ustadz Alfi lembut dan penuh kasih sayang.
Perlahan lahan tangan itu berhenti dan melemah dengan sendirinya. Tangan kanan itu menggenggam erat pakaian ustadz Alfi seperti tangan mungil hafsa kecil baru lahir menggenggam erat pakaiannya waktu itu.
"alhamdulillah"lega ustadz Alfi seraya mengintip sekilas wajah Dian. Ia melihat bahwa istrinya ini tertidur pulas bak bayi dan begitu nyaman dengan dekapannya.
Ustadz Alfi membaringkan Dian di tempatnya kembali dengan hati hati. Namun tangan Dian tak mau melepas pakaiannya.
"uhm gak mau ditinggal"gumam Dian seraya menggelengkan kepalanya.
"mas gak akan meninggalkanmu, tapi tidurlah dengan nyaman"balas ustadz Alfi.
Ia terkekeh kecil sebab wajah menggemaskan milik istrinya ini sungguh ia rindukan. Dian pun melepaskan pelukannya dan tertidur lagi.
"kau membuatku gemas dek"ucap ustadz Alfi terseyum gembira menyenggol hidung milik Dian dengan telunjuknya.
Dian pun membuka matanya dan mengerjap menatap ustadz Alfi didepan wajahnya. Seketika membuat ustadz Alfi menelan salivanya.
"gawat ketahuan"batin ustadz Alfi.
Bersambung...
🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢
Hallo permirswah, gimana epsnya neh?
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,
Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘
__ADS_1