
Sesampainya dirumah, dian segera masuk ke dalam rumah dan mengobati lukanya agar tidak infeksi. Tangannya terluka tapi motornya tidak apa apa jadi kemungkinan tidak ada yang tahu perihal tadi.
Mengobati lukanya sambil meringis kesakitan akibat luka itu. Tampak menggores lebar tangan kirinya yang membuat lengan bajunya terkoyak. Selesai nya dengan luka itu, ia pun membersihkan diri. Sehabis itu ia memasak makan siang yang tadi pagi diminta oleh ustadz Alfi.
Azzam dan ustadz Alfi telah sampai di depan pagar rumah. Dengan tergesa gesa ustadz Alfi masuk ke dalam rumah mengecek keberadaan dian. Sedangkan azzam membuka pagar itu dan memarkirkan mobil yang ditinggal begitu saja sama si pemilik. Setelah azzam memarkirkan mobil itu, ia keluar ingin memberikan kunci mobil tapi langkahnya berhenti.
"astagfirullah, kenapa ada darah? tapi apakah Dian terjatuh dari motor" pikir azzam kaget sekaligus bertanya tanya. Ia melihat dimotor dian ada bercak darah yang menetes dari pijakan namun sudah luntur akibat tetesan hujan yang mengguyur motor tersebut. Ia mencoba berpikir positif tapi tak bisa bisa. Azzam sungguh khawatir dengan Dian yang sudah dianggapnya saudarinya sendiri.
"assalamualaikum"salam ustadz Alfi yang melihat seisi rumah tampak senyap. Ia pun begitu khawatir. Apakah istrinya tidak pulang akibat tadi? Semua terkaannya hilang dengan dian yang keluar memegang keranjang cucian dan menjawab salamnya.
"waalaikumsalam. Mas alfi sudah pulang?"tanya dian yang tersenyum seperti biasanya menyambut kepulangan ustadz Alfi. Namun di dalam hatinya masih terasa sakit akibat perkataan kania tadi dan dugaan jika suaminya ini berani membohonginya. Ia kemudian meletakkan keranjang itu di lantai.
"apakah kamu gak marah dek pada diriku? Atau kau sudah memaafkanku"pikir ustadz Alfi yang sejenak terdiam dengan perilaku istrinya itu.
"kamu gak apa apa dek?"tanya ustadz Alfi begitu sungkan dan malu sekali menanyakan perihal rasa sakit yang ia torehkan sendiri.
"tidak apa apa. Gantilah bajumu mas nanti aku akan mencucinya."jawab dian yang melihat bagian atas dari baju ustadz Alfi basah akibat langsung menerobos hujan tadi dari luar pagar sampai rumah.
Ketika hendak mengangkat keranjang cucian, ia lupa bahwa lengannya ada luka dan malah mengangkatnya terlalu kencang sebab keranjang itu lumayan berat lalu terbentur lemari kecil di dekatnya.
"aww"keluh dian yang respect memegang tangan kirinya.
"ada apa dek?"tanya ustadz Alfi yang ikut memegang luka yang terbalut oleh lengan baju dian.
"aww sakit mas, jangan di tekan"keluh dian yang merasa ngilu akibat lukanya di pegang oleh ustadz Alfi. Sedangkan ustadz Alfi kemudian membuka lengan baju itu. Terlihatlah perban yang terdapat luka sekitar 6 cm di tangan kiri itu menimbulkan banyak darah yang tercetak.
"astagfirullah ada apa dengan tanganmu? Kamu terjatuh dari motor dek?"ucap ustadz Alfi yang terlihat begitu khawatir. Ini luka tidak asing untuknya karena sebelum bisa nyetir mobil ia juga pernah belajar naik motor. Luka ini pun sama seperti dirinya waktu terjatuh akibat belajar naik motor dulu bersama azzam.
Dian diam. Ustadz Alfi pun menuntun dian sampai di sofa lalu pergi mengambil p3k di dalam kamar. Dengan telaten, ia membuka perban yang penuh akan darah yang belum kering namun basah kembali akibat sentuhan. Membersihkan luka itu lalu memberikan rivanol. Karena tadi sudah di berikan obat merah oleh dian. Setelah itu ia pun membungkus luka itu lagi dengan perban yang bersih dan baru. Kotak p3k diletakkannya kembali ke dalam kamar sekaligus mengganti pakaiannya.
"dek, biar mas aja yang mencucinya."tawar ustadz Alfi.
__ADS_1
"mas kamu lebih baik makan saja. Aku sudah membuatkan apa yang kamu minta tadi dan diletakkan di meja makan."tolak dian.
"tapi bukankah masih sakit dek. Emangnya sekarang sudah baikan?"tanya ustadz Alfi yang ingin membantu.
"enggak mas, aku bisa. Lagipula ini luka kecil"jawab dian yang berdiri dan mengangkat keranjang itu ke mesin cuci di dekat kamar kosong itu.
Sedangkan ustadz Alfi pasrah dengan itu, ia pun berjalan ke dapur untuk memakan makanan buatan dian. Jika ia tidak makan dan memilih terus berusaha untuk membantu mencuci, bukankah itu sama saja tidak menghargai usaha istrinya yang capek bahkan kesakitan melakukan sesuatu karna lagi terluka.
Terlihat dian sangat serius dengan acara cuci cuci baju bersama mesin cucinya. Ustadz Alfi sembari makan tetap melihat gerak gerik dian yang berbeda. Tidak seperti biasanya yang menemani bahkan makan satu piring berdua dengannya. Karena kesibukan berpikir, ia pun tersedak suapan terakhir.
"uhuk......uhuk........astagfirullah...uhuk...uhuk."
Dian segera mematikan mesin cuci lalu berlari mengambil minum untuk ustadz Alfi. Dengan penuh perhatian, ia mengurut tengkuk ustadz Alfi lalu memberinya minum. Setelah mereda barulah ia kembali lagi dengan cuci baju yang belum kelar.
"ternyata kamu masih perduli denganku dek, tapi kenapa aku merasa jauh?"bathin ustadz Alfi yang membersihkan sisa makanannya.
Skipp...
pikiran dan hatinya tidak mau sinkron sama sekali. bagaikan saling menolak pendapat lalu terjadi peperangan debat panjang. Dian melamun di ranjang seraya menyelimuti kakinya dan bersiap ingin tidur namun tak bisa.
Salah satu caranya ialah mencurahkan seluruh bingung, galau dan merananya di buku diary miliknya. Buku itu masih ada di nakas karena tadi sore ingin menuliskan isi hatinya namun selalu tak jadi.
Akhirnya ia pun menulis semuanya dan luruhlah satu per satu butir air matanya yang tertahan tadi. Rasa cemburu melebihi apapun rasa sakit ditangannya. Semuanya seakan terhenti sejak ia menulis buku diary tersebut.
tap...tap...tap
terdengar suara langkah kaki dari luar diduga ustadz Alfi ingin masuk kedalam. Dengan cepat dian berlari menyimpan buku diary didalam lemari pakaiannya. lalu bergegas masuk kamar mandi dan akan menyendiri terlebih dahulu.
ceklek...
pintu terbuka lalu tertutup kembali. Ustadz Alfi meletakkan ponselnya di nakas. Netranya memerhatikan pulpen kesayangan istrinya itu. ia heran kenapa ada dibawah ranjang.
__ADS_1
"kenapa ini ada disini? apa dek dian habis menulis sesuatu"pikirnya.
Suara gemericik air di dalam kamar mandi miliknya. Ustadz Alfi pun memilih menghampiri, sebab ia yakin jika dian berada didalam sana. Saat mendekatkan dirinya, ustadz Alfi sayup sayup mendengar suara isakan tangis didalam sana. Ia menjadi panik.
"dek?!, kamu baik baik saja didalam."
"sayang buka pintunya"
panggil ustadz Alfi yang mengetuk ngetuk pintu dengan nyaring. Sedangkan Dian didalam terlonjak kaget. Segera mengatur nafasnya dan suaranya agar tidak terlalu terdengar serak habis menangis.
"dek kamu kenapa? buka pintunya. mas khawatir."sendu ustadz Alfi yang sangat berharap pintu tersebut terbuka. hanya ada seruan dian tanpa terbuka pintu kamar mandi ini.
"aku gak apa apa mas"seru Dian.
"beneran?"balas ustadz Alfi yang memastikan.
"iya mas aku gak apa apa koq. cuma aku lagi pakai sabun muka trus perih matanya"bohong dian yang terpaksa.
"perih hatiku mas, kenapa kamu gak menjelaskannya? aku akan memberimu waktu"jerit hati Dian yang sudah bisa lega sebab ustadz Alfi tidak menanyakannya lagi.
Ustadz Alfi masih terpaku dan menyenderkan tubuhnya bersamaan dian didalam melakukan hal yang sama seperti saling bertolak belakang hanya berbataskan pintu kamar mandi.
"sepertinya aku harus meminta saran dari seseorang."bathin ustadz Alfi
bersambung...
π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’
Hallo semuanya, Salam sehat >_<
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan selamat membaca... Bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
__ADS_1
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya, Terimakasih π·