
Kyai pun paham dengan itu, ia memilih untuk segera beristirahat di kamar yg telah disediakan. Ia merasa lelah dan juga sekaligus merasa bersalah dengan Dian. Apapun yang ia lakukan itu hanya ingin mempersatukan Dian dengan Ustadz Alfi kembali.
"maafkan kakung nduk"sesal Kyai dalam hati. Dirinya paling tak tega dengan tangisan murid sekaligus cucu dari sahabatnya.
Gus Agung, Vira dan Caca berjalan menuju ruang rapat dimana dokter Marissa bersama dengan yang lainnya sedang berkumpul. Sedangkan Ustadz Alfi sudah berada di belakang Dian yang berjalan perlahan lahan menuju kamarnya.
Grep…
Ustadz Alfi membalikkan tubuh Dian mengarah kepadanya. Dian berputar dengan pasrahnya dan mendongak melihat siapa yg menariknya sehingga berbalik begini.
"em… kau rupanya"lirih Dian.
"kau butuh sesuatu?"tanyanya.
"tidak ada. Mas ingin…"ucap Ustadz Alfi terpotong seraya menggenggam erat pergelangan tangan wanita di depannya.
"oh yaudah. Aku ingin…. Sendiri sementara waktu"seru Dian menatap tangannya digenggam begitu erat.
"bisakah kita bicara? Atau izinkan mas bersamamu. Tadi aku tidak bisa berbicara apalagi mencela gurumu, sejujurnya aku tak mau membiarkanmu terpojok seperti orang yang telah berbuat salah"mohon Ustadz Alfi.
"hmm…aku tak menyalahkanmu. Cuma aku harap kau mengerti perasaanku saat ini, bolehkah kasih waktu untukku menyendiri."balas Dian menundukkan pandangannya karena tak sanggup melihat tatapan memohon dari laki laki di depannya.
"mas hanya ingin bersamamu saat kegaduhan hatimu bukan hanya 'senangmu' saja"sendu Ustadz Alfi.
"tak apa. Aku bisa memantaskan diri. Oiya kamu boleh tidur denganku nanti, saat aku telah tertidur."lirih Dian seraya melepas keras tangan hangat yang terasa penuh menggenggam tangannya. Dian menghadap depan pintunya.
"dek jangan terpaksa, karena mas tidak memaksamu"seru Ustadz Alfi. Sungguh ia takut jika usaha yg ia lakukan akan berawal dari nol lagi atau mungkin Dian tidak menerimanya tinggal disini. Ketakutan yang mustahil terjadi membuat Ustadz begitu takut saking tidak mau kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupnya 😞.
"apapun yang kulakukan sudah dipikirkan matang matang. Jadi jangan khawatir, hatiku ikhlas jika kau tidur bersamaku"jawab Dian yang mulai menutup rapat rapat pintunya.
"dek, aku akan menunggumu"pasrah Ustadz Alfi yang menatap pintu tersebut. Ia pun menghela nafasnya dan setia menunggu di sofa. Tiba tiba handphone ada notif pesan masuk
Gus Agung : 'ustadz, ke ruang rapat saja. Kita pantau Dian lewat cctv dan bagaimana keadaannya saat ini di dalam kamar sendiri'
Begitulah pesan yang masuk dari Guz Agung. Ustadz Alfi tanpa membalas segera berjalan menuju ruang rapat dengan menetralkan wajahnya menjadi seperti biasa yaitu tenang dan ramah.
Sementara di dalam kamar.....
Dian setelah mendengar langkah kaki seseorang meninggalkan rumah ,yang tadinya menyender di pintu berlalu untuk duduk di atas kasur. Melamun adalah kegiatannya saat ini. Pikiran dan hatinya masih terus berperang sengit sebab berbeda pendapat.
Setiap bait kata bentakan, untaian kata menyakitkan dan kerasnya dirinya memperlakukan Ustadz Alfi selama disini itu sudah keterlaluan. Pantas saja kakungnya diundang kesini mencerahkan apa yang dilakukan olehnya.
__ADS_1
Kakungnya benar. Jika dipikirkan lagi, ia sangat beruntung memiliki laki laki yang sangat mencintainya tanpa syarat, tanpa ada apanya dan sabar menghadapinya. Jujur dirinya sangat tersiksa dengan semua ini dan cara mengendalikan dirinya juga begitu susah.
"astagfirullah, hentikan semua ini"pekik Dian memegang kepalanya.
Dirinya mulai tak bisa mengendalikan diri sendiri seraya berlari menyembunyikan semua benda yang memungkinkan untuk dirinya menyakiti tubuh miliknya. Dian segera terus menetralkan semuanya.
"kendalikan dirimu, jangan memberontak"ucap Dian sendiri. Terus menekan dan menahan emosi yang tidak stabil. Sampai mengeluarkan keringat dingin dan mulai menangis
(jujur Ustadz Alfi udah mau berlari saja namun dokter Marissa tidak memperbolehkannya.
"aku yakin. Dian sudah mulai bisa membuat dirinya terkendali. Sudah waktunya melatihnya seperti ini"terangnya)
Dian menangis dengan memeluk kakinya dan menatap sekeliling. Ia sangat minder serta sendirian di ruangan tersebut. Akhirnya memutuskan untuk mengambil sesuatu di bawah ranjang.
Sebuah handphone yang diberikan oleh dokter marissa saat itu di singapura. Ia menekan layar sentuh itu lalu menekan tombol berwarna hijau dan diletakkannya pada lemari kecil (semuanya bingung, kenapa Dian bisa menggunakan hp dan menelpon seseorang. Bahkan dokter marissa juga heran, bukankah saat itu Dian menolak).
"hallo assalamualaikum"suara perempuan terdengar begitu jelas sebab Dian melospekernya.
"wa'alaikumsalam"jawab Dian serak.
"ada apa dengan dirimu yan? Apa yang terjadi, suaramu terdengar habis menangis"tanya Nessa khawatir.
"hm..ceritalah. aku siap menjadi pendengar yang baik. Apapun itu untuk sahabatku"ucap Nessa menyakinkan dan Dian masih terdiam.
"oiya gimana tentang kesehatanmu? Kudengar Ustadz menyusulmu. Apa kau sudah bertegur sapa dengannya?"tanya Nessa.
"ya benar"jawab Dian singkat. Air matanya rembes lagi sebab Nessa menyinggung hal yg akan ia curahkan.
"em..kau akan berlaku seperti biasanya kan?"ragu Nessa.
"tidak hiks hiks"jawab Dian yang tak tahan menangis dalam diam.
"kenapa? Jika tidak, itu sangat aneh yan. Bukankah selama kita bertukar kabar setelah kau ingat diriku, kau rindu dengannya"ucap Nessa.
"memang…sangat sangat rindu…tapi… laki laki brengsek itu mengancamku hiks hiks hiks. Aku tak punya pilihan lain"tangis Dian.
"huhuhu aku membentaknya, aku juga yang terluka… sesak ketika diri ini rindu tapi mengecewakannya… tapi aku sudah berjanji dengan kania untuk merelakan apa yang aku punya"tangis Dian yang kian lama kian terasa.
"tunggu yan, kania?? Kania sudah meninggal, setelah mendorongmu ke area bebatuan itu. Ia mengalami kecelakaan tragis dan tubuhnya terbakar."ucap Nessa membuat Dian terkejut bukan main.
"ha? Apa itu benar"Kaget Dian tak percaya.
__ADS_1
"iya. Sepertinya sumpahmu itu kenyataan mungkin malaikat tak sengaja mendengar itu lalu langsung mencatatnya. Lagipula kau terzalimi."ucap Nessa.
"tapi aku tak sungguh sungguh Nes"balas Dian masih dengan posisi dan keadaan sedang menangis.
"itulah, ucapan adalah Doa yan. Jika kau diancam dan takut maka ya sudah jangan dibahas lagi. Ketika kau tak sengaja terucap hal yg ditakutkan dan semua itu terkabulkan kan itu adalah masalah yang besar"ucap Nessa.
"apa yang kau pilih tak salah tapi apa yang kau lakukan untuk jauh darinya itu salah besar. Yan, bagaimanapun Dia suamimu. Dosa, sungguh berdosa memperlakukannya seperti yang kau katakan. Seharusnya kalian menghadapi ujian ini dengan usaha bersama dan Allah memang sedang menguji seberapa besar cinta kalian."terang Nessa.
"cinta, kesetian, kepercayaan, yakin, keikhlasan dan sabar itu sangat diperlukan membentuk suatu kesatuan yang utuh. Kl kau menganggap dirimu tak mampu tapi ada Ustadz yang melengkapi kekuranganmu. Hal yang biasa jika digabungkan yang luar biasa akan menjadi hal yang sempurna."sambung Nessa kembali.
"jadi aku salah ya hiks hiks hiks"ucap Dian yang masih sesenggukkan menghapus air matanya.
"yah kamu salah besar. Ayolah jadi yan yan yang manja dan mudah tersenyum dengan ustadz. Kalian kan seperti lem yang berkualitas khasiatnya tak mudah terlepas."ucap Nessa dengan disertai candaan.
"Nessa…. Kamu mah"rengek Dian.
"hahaha uhuk uhuk. Ekhem…"tawa Nessa sampai terbatuk batuk.
"sukurin"kesal Dian.
"iih kamu gak sayang banget sih sama sahabatmu."ngambek Nessa.
"aturan tuh kamu. Orang lagi serius tapi bercanda. Gak ada akhlak"kesal Dian.
"hihihi peace yan. Maaf yaa, tapi kamu sudah paham dengan apa yang ku katakan ini kan"ucap Nessa.
"paham. Terimakasih Ness. Aku tahu apa yang harus kulakukan."ucap Dian tersenyum sekilas.
bersambung...
🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢
Hallo permirswah, gimana epsnya neh?
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,
Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 🤩
__ADS_1