Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Semua Gara Gara Semalam


__ADS_3

Sementara Ustadz Alfi sedang mandi dan berganti pakaian, Dian pergi ke dapur untuk menghangatkan lauk dan sayurnya. Hari ini ia masak sayur sop daging dan tempe goreng beserta sambalnya. 


Ketika dirasa sudah hangat dan terasa baru lagi akhirnya ia hidangkan di meja makan. Di atas meja sudah tertata rapi ada nasi, lauk, sayur, sambal, krupuk, dan buah buahan. Dian tersenyum dengan hasil tatanan makanan di atas meja. 


Tak lama terbukalah pintu kamar, penampilan Ustadz Alfi sudah seperti biasanya memakai baju koko dan celana panjangnya menenteng ember isi cucian bersih. Dian pun menoleh ke arah laki lakinya.


"eh, mas Alfi sudah selesai mandinya? Biar aku aja yang menjemur ya"tawar Dian.


"gak usah dek, biar mas aja. Kamu buatin teh hangat tanpa gula ya dek"ucap Ustadz Alfi yang seraya mengulas senyum di depan Dian lalu berjalan ke arah tempat jemuran.


Dian langsung membuat apa yang diminta oleh suaminya. Sedangkan Ustadz Alfi yang melihat area di belakang rumah menjadi terkejut dengan apa yang dilihat. 


"di suruh tidak keluar bukannya istirahat dirumah tapi malah bebenah pantas saja semuanya beda"gumam Ustadz Alfi yang mulai menjepitkan cuciannya. 


Setelah itu sudah melihat Dian duduk di meja makan dan menanti dengan senyuman seraya menatapnya yang baru saja masuk. Ustadz Alfi yang hendak mengomel menjadi menghela nafasnya seraya tersenyum hangat.


"ayo mas dimakan dulu, maaf kalau enggak sesuai"ucap Dian melihat semua makanan di hidangkannya. 


"ini sudah lebih dari cukup dek."simpul Ustadz Alfi yang mendudukkan dirinya.


Ustadz Alfi memulai dengan membaca doa makan dan meminum sedikit teh hangat lalu menyantap dengan perlahan lahan menikmatinya. Sedangkan Dian tersenyum senyum saja seraya menyangga dagunya dengan kedua tangan tanpa henti memperhatikan suaminya makan.


Lama menikmati makanannya, Ustadz Alfi merasa seperti diperhatikan dengan seseorang menjadi melirik. Terlihat istrinya tak puas puasnya menatap dirinya sedang makan. 


"kenapa lihatin terus, memang ada yang menarik dek?"tanya Ustadz Alfi yang menyuapkan kembali makanannya.


"mamasku tambah ganteng"puji Dian yang seakan akan terpesona dengannya tersenyum senyum menatap Ustadz Alfi.


(sontak para dokter cantik, caca, vira, Agha, dan Guz Agung yang melihat itu menjadi terkekeh kecil. Sedangkan Kyai menggeleng kepalanya saja. Selebihnya yang penasaran dengan perkembangan Dian dan Ustadz Alfi hanya tersenyum penuh arti)


Ustadz Alfi yang sedang mengunyah santai menjadi terkejut sebab Dian memujinya sebegitu dalam sekali. Karena terkejut dengan ucapan itu mengakibatkan tenggorokannya sedikit tertekan lalu langsung terbatuk


"uhuk…uhuk…uhuk"


Dian langsung bertindak dengan memberikan minum yang berisi teh hangat seraya memijat mijat pelan tengkuk Ustadz Alfi. Setelah mulai tenang, ia pun mengelap sudut bibir laki lakinya dengan telaten yang terdapat sisa tempe berukuran buih itu dengan tissu. 


Mata keduanya bersitatap lama. Posisinya masih sama yaitu Ustadz Alfi duduk dengan tersenyum seraya mendongak kepalanya menatap Dian sedangkan Dian sedikit menunduk seraya melingkarkan tangan kirinya di bahu belakang Ustadz Alfi dan tangan kanannya memegang tissu.


Tatapan mata Ustadz Alfi membuat Dian sedikit gugup apalagi keduanya sedikit lagi tidak berjarak. Sadar akan saltingnya Dian, Ustadz Alfi berniat menggodanya dengan memujinya gantian.


"Adek lebih cantik jika dilihat dari dekat begini"puji Ustadz Alfi meraih pinggang Dian agar semakin dekat dengannya.


Hati Dian berbunga bunga jika sudah di puji dengan suaminya seperti ini. Wajahnya tersenyum dan menunduk malu namun pipinya memerah samar. Ia sabar menanti Ustadz Alfi yang masih mengunyah makanan seraya memeluknya agar mendekat. 


Setelah setelah makan, piring bekas Ustadz Alfi yang hendak di ambil oleh si empunya itu langsung terhenti sebab Dian mengambilnya duluan untuk dicuci. Ia hanya bisa memaklumi itu dan memilih membantu membersihkan meja makan serta mengumpulkan piring piring lauk yang sudah habis. Kini hanya tersisa sayur sop daging dengan sambal saja.


"loh kok mas yang bawa sisanya, biar aku aja"seru Dian yang sedang mengatur piring di tempat semula. 


Tiba tiba Ustadz Alfi meletakkan tumpukan beberapa piring dan gelas di bak wastafel lalu dengan sempat sempatnya memeluk Dian dari belakang. Meletakkan wajahnya yang tampak menyiratkan sesuatu di sisi ceruk leher istrinya. 


"kenapa mas?"tanya Dian sembari melanjutkan kegiatannya. 


"enggak apa apa dek"jawab Ustadz Alfi membantu meletakkan piring yang bersih masih dengan posisi yang sama.


"ayo kita ke sofa aja mas, udah selesai ini mencuci piringnya"ajak Dian yang perlahan melepas pelukan itu sambil menggaet tangan kekar yang menurutnya tangan miliknya seperti menggenggam sesuatu yang besar.


Mereka sama sama duduk di atas sofa yang empuk. Ustadz Alfi menatap diannya dalam yang dimana menyiratkan permintaan izin untuk melakukan sesuatu. Dian yang paham merentangkan tangannya seraya tersenyum teduh. 


Segeralah Ustadz Alfi memeluk erat dan merebahkan wajahnya nyaman di ceruk leher wanitanya. Ia menutup matanya merasakan elusan di pipi hingga rahangnya lalu kemudian memijat mijat keningnya.


"mas tadi kemana, kok bisa lelah begini?"tanya Dian yang setia memijat mijat kening sesekali mengelus sayang rambut laki lakinya yang sudah terlihat sedikit panjang dari biasanya. 


"kamu tahu mas lelah dek?"jawab Ustadz Alfi malah balik nanya.


"iya jelas aku tahu habisnya kamu mau begini dan lebih tepatnya manja. Gak malu mas sama anak dirumah, mungkin kl hafsa disini pasti tertawa girang melihatmu dan minta gendong denganku. Kalian berdua pasti rebutan untuk seperti ini"senyum Dian sesekali menghela nafasnya. Ustadz Alfi membuka matanya, ia mendongak melihat Dian yang berusaha menyembunyikan sesuatu.


"kamu kangen hafsa dek?"tanya Ustadz Alfi hati hati. Ia tak mau Dian tambah sedih.


"Seorang ibu yang berjuang mengandungnya 9 bulan dan melahirkannya lalu ternyata kasih sayangku tidak cukup untuknya. Seharusnya aku ibunya menemaninya hingga bisa berbicara fasih, berhitung, mengembangkan bakatnya, mengajarkan bagaimana cara memakai berbagai kerudung sesuai syariat selain hijab instan, dan mengajarkan banyak hal…


…tentu aku sangat kangen dengannya. Tapi tidak bisa mendahului ego ku yang ingin pulang. Di sini bagaikan sangkar namun mengamankan kalian. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan tanpa bisa bersama dengan raganya."seru Dian yang tersenyum.


Betapa rindunya kepada Hafsa. Hampir tak terbendung dengan apapun. Setiap sholat ia doakan semoga anaknya selalu dilimpahkan kesehatan dan kesuksesan. Setiap momen telah ia lewatkan begitu jauh, bahkan dirinya juga tak bisa merasakannya lagi sebab sesuatu hal yang akan mustahil jika itu terjadi.

__ADS_1


Faktanya Dian yang mengalami kekerasan serta sesuatu yang merangsang keguguran apalagi beban pikiran membuat rahimnya tidak bisa memproduksi dengan baik karena sel telurnya belum tentu bisa menghasilkan sebuah janin. Namun masih bisa halangan atau tamu rutin, yah semoga saja ia bisa menghasilkan keturunan lagi walau tahu jika itu tak mungkin terjadi dan apa salahnya jika ia masih berharap. 


"sabar itu memang indah dek walau menyakitkan. Setidaknya aku yakin jika selama di sini kamu selalu mendoakan yang terbaik untuk hafsa. Jangan seperti ini terus, nanti tubuhmu drop. mas yakin kalau suatu saat nanti kita akan bersama lagi dan mungkin bisa dapat kesempatan itu. tenanglah putri kita sudah tumbuh menjadi perempuannya yang lebih dewasa walau usianya melebihi pemikirannya sepertimu. sangat persis."ucap Ustadz Alfi. 


"iya. Aku yakin hafsa juga sudah tumbuh dengan baik oleh didikan abinya"senyum Dian menatap laki laki terbaik untuknya maupun sang putri dan ia sangat bersyukur. senyumnya membuat Ustadz Alfi membelai pipi kanannya dan Dian memegang tangan tersebut.


"oiya mas, kamu belum jawab pertanyaanku tadi? Kamu kemana berangkat subuh pulang siang?"tanya Dian ulang.


"mas habis kerja sayang"balas Ustadz Alfi menangkup kedua pipi Dian gemas.


"eum…kerja."beo Dian. Ia berpikir akan kata suaminya ini.


"kerja? Ngapain mas. Kamu kekurangan uang?"selidik Dian yang menusuk tajam mata Ustadz Alfi hanya dengan tatapannya. Seketika yang ditatap menjadi merinding.


"ke..kerja bukan berarti kurang uang dek."gugup Ustadz Alfi semakin membuat Dian penasaran.


"okey, kamu kerja sebagai apa? Apakah membantu komandan Agha? Setauku ia sedang membutuhkan seseorang untuk membantunya"terka Dian yang sedikit santai berbicaranya.


"hehe…mas kerja di kebun dek. Disana sebagai tukang panjat pohon kelapa."jujur Ustadz Alfi seraya tersenyum. (yang menyaksikan mereka lewat ruang zoom mendadak terkejut mendengarnya)


"oh kerjanya begitu…(jeda).... Sebagai tukang panjat pohon kelapa"balas Dian tersenyum manis dan mengangguk paham namun sedetik kemudian. Ia kaget.


"APA ?! Pemanjat pohon kelapa"pekik Dian tak percaya sampai Ustadz Alfi kaget.


"astagfirullah dek, mas kaget ini"ucap Ustadz Alfi. Ia nampak takut takut melihat wajah garang istrinya muncul menatap sengit dirinya.


"pemanjat pohon kelapa mas! Apa kamu gila?"sarkas Dian.


"..em.."bisu Ustadz Alfi menutup rapat rapat mulutnya 😐.


"mas kamu nekat bekerja seperti itu untuk apa? Sedangkan kamu masih ada lowongan bekerja dengan layak"tegas Dian.


"untuk kamu dek, karena uang dari perusahaan belum cair bulan ini."Jawab Ustadz Alfi mencoba tenang namun sebenarnya tangannya sudah tremor dan saling memegang kedua tangan miliknya.


"tolong alasan yang lebih logis dari itu"geram Dian menatap lebih sengit kearah suaminya.


"ya mas ingin menambah pengalaman. Sekaligus ikut merasakan apa yang diperjuangkan oleh kebanyakan pencari nafkah di saat kita mudah di atas kesulitan yang mereka alami."terang Ustadz Alfi.


"niatmu memang baik mas, tapi gak gini konsepnya"marah Dian. Ia pun tak sengaja membentak lagi suaminya, ia pusing mendengar pekerjaan sang suami dari sebelum subuh hingga siang hari begini. Ustadz Alfi hanya bisa menatap sendu.


"dek kamu tega berbicara seperti itu. Seperti menyumpahiku"ucap Ustadz Alfi hati hati dan masih dengan tatapan sendunya.


"tega mas? Kamu gak mikir yah. Gimana aku mendengar jika dirimu terjatuh dari atas pohon kelapa yang tingginya bahkan bisa lebih dari dua lantai rumah kita?...


… Jika kau baik baik saja sih, aku bersyukur. Tapi jika benar kau terjatuh, Saat aku menerima kabar dirimu tergeletak gak ada nyawa apa yang aku rasakan hah !? remuk hati ku, remuk masss"ungkap Dian yang mulai meneteskan air matanya perlahan lahan. Ustadz Alfi terdiam, ia tak bisa membalas ucapan istrinya lagi. Bisa saja tambah kencang nangisnya.


"bekerja disana taruhannya juga nyawa, emang hanya asal memanjat saja atau hanya asal sanggup badan sehat saja ? Enggak mas, disana juga udah jatuh ya mau gimana lagi kl gak nyawa melayang, tubuhmu bakal patah tulang parah…


…dengar begini saja aku sudah nyesek dan berpikir negatif. Apalagi benar adanya kamu terjatuh dari atas… belum sampai kamu dibawa ke rumah sakit aku hanya tinggal nama. Kau mau aku mati mas, karena jantungan?"omel Dian yang menghantam ustadz Alfi begitu dalam, sehingga membuat laki laki di sampingnya terhenyak. Bagaimanapun saat melihat nama Dian di nisannya sudah membuat seluruh dunianya runtuh apalagi kalau istrinya meninggal beneran lalu akibat dirinya.


"ya Allah dek, jangan berbicara seperti itu. Mas gak mau kehilanganmu lagi. minta maaf, mas gak bermaksud seperti itu"sesal Ustadz Alfi seraya menatap memohon agar istrinya tak berbicara sembarangan lagi dan meraih tangan kanan milik Dian.


"trus mau kamu apa?"ketus Dian.


"iya.. iya Sayang, mas berhenti kerja seperti itu asal kamu gak begini"bujuk Ustadz Alfi. Dian menoleh dengan wajah marahnya namun menyimpan sejuta rasa risau dan khawatir.


"baiklah aku memaafkanmu. Aku tidak akan setuju dan tidak akan mendoakan setiap langkahmu lagi jika kau nekat melakukan hal yang sama"tegas Dian tanpa mau dibantah.


"jika kau tak mendoakanku lalu bagaimana kalau aku celaka? Doa seorang istri kepada suaminya itu pasti di dengar sama Allah. Mas aman karena yakin jika kamu selalu mendoakan setiap langkah apapun itu yang dilakukan olehku dek"terang Ustadz Alfi.


"kau begitu percaya jika aku mendoakanmu selalu? Kau tak berpikir jika aku akan lalai?"penasaran Dian menatap Ustadz Alfi kembali bersahabat lagi.


"iya. Sangat percaya sekali. Kamu istri yang mas punya dan sangat mengerti adabmu. Adab seorang Istri ialah selalu mendoakan suaminya dimanapun berada, menyambut suaminya ketika pulang, tak membantah amanah saat suaminya sedang diluar rumah, melayani suaminya dengan senyuman dan masih banyak lagi….


….itu semua telah kamu lakukan untukku dek. Kenapa mas yakin meminangmu waktu itu bukan karena perjodohan yang di janjikan antara kakek dan almarhum mbahmu saja ? Karena mas tahu mana yang wanita baik budi dan mana yang buruk. Hatiku telah berdesir dan tertarik hanya dengan pertemuan pertama kita"ujar Ustadz Alfi membuat Diam terdiam. 


"jadi aku sudah melakukan yang terbaik untukmu mas?"tanya Dian dengan tatapan ingin di jawab sesuai apa yang ia pikirkan.


"benar sekali. Justru mas sangat beruntung mendapatkanmu dek. Kamu bagiku seperti Ibu, Kakak, Adik, Ayah, teman, sekaligus istri. Kamu selalu tanpa segan meluruskan apa yang aku sembunyikan atau salah jalan. Bahkan sekarang bertambah menjadi ibu dari anakku. Bangga sekali memiliki, menghormati, memuliakan, menyayangi dan mencintaimu"Ucap Ustadz Alfi yang mengelus pipi Dian dan menatap Dian penuh cinta seperti biasanya.


"subhanallah mas. Makasih atas pengakuanmu. Jangan salahkan aku begitu cerewet, kadang marah, kadang bentak dan masih banyak lagi. Itu semua hanya bentuk perhatian dariku. Maaf jika aku tak bisa menghilangkan rasa perhatian yang menurutmu mungkin tak biasa"balas Dian.


"em.. Iya mas paham"simpul Ustadz Alfi. 

__ADS_1


Kemudian keduanya menukar senyum sambil terkekeh kecil. Mereka bagaikan seorang gadis dan seorang laki laki yang sedang pacaran dengan memancarkan rasa cinta. Seperti pacaran karena Ustadz Alfi membantu Dian menghapus air mata sisa di sudut matanya dan Dian hanya melihat lantai dibawahnya seraya tersenyum malu malu.


(semuanya lega. Inilah mereka yang tak akan bisa lama bertengkar atau sedikit renggang karena masih saja pihak satu mengalah dan pihak satu marah karena cinta. Namun belum selesai sepertinya heehee😥)


Dian terpaku dan menatap tajam tangan Ustadz Alfi yang terulur untuk menghapus air matanya. Awalnya romantis menjadi ambyar guys sebab Dian menemukan luka besut di punggung tangan suaminya. Dirinya tadi tak sadar dengan tangan itu dan hanya memerhatikan wajah suami saja tanpa melihat yang lainnya.


"loh itu apa mas?"sindir Dian. 


Ustadz Alfi yang menyadari langsung menyembunyikan lukanya di bagian belakang tubuhnya. Sedangkan Dian menyodorkan atau menodong jari telunjuknya seraya mendekat dengan cepat hendak melihat luka itu.


"hehe…sayang ngapain deket deket. Kangen yaa di peluk"gugup Ustadz Alfi yang semakin mundur sampai mentok di ujung sofa. Ia pun menghalangi dengan menekuk kakinya.


Sepertinya, memang Ustadz Alfi ketiban tangga milik tetangga yaa. Sudah mulai adem tapi akibat luka menjadi runyam lagi deh. Dian yang melihat itu langsung saja menggertak giginya dan menatap ustadz Alfi dengan senyuman misteriusnya. 


"wah luka besutnya indah yah mas mencetak 'jelas' di tangan dan kakimu. Kenapa bisa seperti ini, Jawab jujur sayangku"tuntut Dian dengan halus seraya tersenyum ramah sekali.


"em..haha dek. Ini mas sebelum subuh coba manjat trus karena gelap jadi merosot deh hehe"cengengesan Ustadz Alfi yang meragakan dirinya merosot dari pohon yang masih setengah dari tinggi seutuhnya dengan tangannya. Lihatlah tangannya yang kanan tergerak licin menuju bawah dan tangan kiri menjadi pohonnya. Seraya tersenyum menatap Dian yang tersenyum tak mengenakan begini.


"oh begitu ya, kasihan sayangku. Sini di elus mas lukanya, sedikiiiit aja"senyum Dian penuh arti seraya menggoda sang suami agar sedikit lebih dekat. 


Ustadz Alfi menurut saja. Emang dasar Ustadz modus, jadinya di modusin balik sama istrinya. Dian mengganti senyum manis menjadi senyum devil dengan tiba tiba menjewer dengan kencang tanpa ampun dan si Ustadz dah terlanjur mendekat. Jadilah begini…


"oh bagus yaaa mas… masih berani bilang gak apa apa dan gak ada luka dengan isyarat senyuman tapi hasilnya begini. Lihatlah mamas ku, cintaku, suamiku yang ganteng tujuh turunan trus tujuh tanjakan trus tujuh tikungan dan tujuh polisi tidur."


"Haiii! Lihat tanganmu dan kakimu terluka, lecet, besut trus ada darahnya lagi walau sedikit. Kamu nakal banget sih mas udah dibilangin kan, bahaya bahaya tapi lihat sendiri hasil karyamu ini Ustadz Alfi Yusuf Al Fahri yang terhormat"oceh Dian tak henti hentinya menjewer telinga kanan Ustadz Alfi sampai membuat laki lakinya memiring ke kanan juga.


"aw aw aw aw sakit dek sakit. Ampun sayangku ampun istriku yang manis. Ampuuun awwws sakit tau, telinga masmu akan putus jika seperti ini dek hiks hiks"keluh Ustadz Alfi yang sedikit melow gara gara sakit bahkan kebas dan gak berasa.


"huh!"sungut Dian yang melepasnya lalu bersedekap tangan di dadanya. Dengan meniup udara dan merapikan hijabnya. Sejatinya ia tak mau berbuat begitu tapi suaminya sangat menjengkelkan baginya.


"shh.. Sakit sekali ya Allah telinga hamba panas"keluh Ustadz Alfi yang ekspresi seperti ini '😥' dan diam sampai merasa normal lagi di telinganya. (sontak bukannya terkejut tapi semuanya tertawa dengan ekspresi Ustadz Alfi begitu. Antara gak enak tapi sia sia kl gak diketawa in.) Setelah reda, ia menatap Dian yang beranjak dari duduknya.


"mau kemana"melas Ustadz Alfi seraya menahan tangan Dian agar tak pergi. Terdengar helaan nafas panjang dan pasrah.


"mau ambil kotak p3k untuk mengobati lukamu."ucap Dian kembali lembut.


"kamu gak marah kan dek? Maaf ya"sesal Ustadz Alfi.


"iya aku udah maafin"balas Dian kemudian mengambil kotak p3k di nakas kecil dekat kamar. 


Kemudian kembali duduk di samping Ustadz Alfi seraya menyelonjorkan kedua kaki yang terluka itu. Lalu dengan telaten mengobatinya sampai kedua tangan yang terluka. Ustadz Alfi nampak diam memperhatikan Dian merapikan kotak p3knya.


"mas boleh bekerja besok untuk terakhir kalinya. Cuma bersih bersih kebun aja dek trus nyusun kelapa buat dikirim"izin Ustadz Alfi.


"boleh mas. Gini dong mas, biar aku juga gak banyak pikiran."ucap Dian.


"kan mas selalu izin. Buat yang tadi juga loh pas malam kamu meluk mas"sahut Ustadz Alfi.


"ha? Yang bener mas? Kok aku gak merasa begitu?"bingung Dian. 


("nah kan masalahnya disini"kor bathin mereka semua)


"jadi kamu gak denger pas mas ngomong dek?"kaget Ustadz Alfi dan di balas gelengan kepala saja.


"oiya kamu inget gak ? Mas nyuruh kamu dirumah aja?"ucap Ustadz Alfi lagi dan lagi lagi mendapat gelengan dari Dian.


"trus kamu kl gak baca surat mas di atas meja bakal gak tahu mas kemana dan amanah apa yang diberikan olehmu?"tanya Ustadz Alfi tak percaya.


"iya mas. Emang kenapa?"polos Dian.


"astaghfirullahalazim ya allah dek dek. Pantes kamu marah tadi ternyata gak denger kl mas udah izin kemarin malam."keluh Ustadz Alfi yang tersenyum lemas seraya mengusap wajahnya sedikit kasar.


"eh, lagian kamu juga ngomongnya malem pas aku udah tidur dan lihat kamu aja gak terlihat jelas. jadi itu salah kamu dong."kilah Dian yang tak mau kalah. Ya sudahlah wanita selalu benar, inget itu ya stadz wkwk.


Bersambung…


🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,

__ADS_1


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘


__ADS_2