
Pagi disambut dengan sapaan sinar matahari yang menembus kaca. Lampu sudah dimatikan sejak shubuh tadi. Dian terbangun karena tirai yang sedikit menampilkan sinar dari luar.
Matanya mengerjap dan menyeseuaikan cahaya yang ditangkap olehnya. Membaca doa bangun tidur lalu meregangkan pergelangan tangannya kekanan dan kekiri.
Pandangannya terpaku di sofa yang terletak tas sedang isi pakaian dan keperluannya di rumah sakit. Hatinya merasa tenang sebab yang ia cari masih tertidur di sofa dengan bantalan sajadah.
Dian mencoba untuk berdiri dan ternyata perutnya sudah rada mendingan daripada kemarin kemarin tetapi masih belum kuat untuk keluar dari ruangan tersebut. Berjalan perlahan dan berhati hati serta tanpa suara agar tidak membangunkan ustadz Alfi yang tertidur pulas.
"pulesnya abimu nak. Pagi sayang, nanti kita makan sereal yuk. Sesuai keinginanmu"ucap dian yang tersenyum seraya masuk ke dalam kamar mandi.
Membersihkan diri lalu berganti pakaian dengan memakai kerudung pashmina yang ada di dalam tas tersebut. Dian membuka kemasan sereal gandum yang jika dicampur air hangat secukupnya akan menjadi bubur. Setelah itu, ia mencuci tempat makan dan sendok tersebut dan kembali berjalan menuju brangkarnya.
"hmmm, bosen. Enaknya ngapain ya?"gumam dian yang membuka hpnya.
"nonton pinguin kayaknya bisa ngurangi bosen"ucap dian yang memutar video di youtubenya dan menyaksikan dengan seksama.
Dari yang serius, rasa gemas kepada pinguin sampai tertawa melihat aksi lucunya. Dian memang sangat menyukai itu dan menyimpannya di playlist. Terdapat lebih dari 40 film favoritnya yang rata rata film hewan dan kisah kisah teladan.
Lama lama ia pun merayap ke video youtube milik ia bersama caca dan vira yang masih deket deketnya serta komplit. Dian tersenyum melihat vlog yang dibuat, dibalik layar dan lain lainnya. Rindu sekali dengan kedua temannya itu. Vira sudah ada suaminya sedangkan caca sibuk dengan pekerjaannya di jakarta lalu ia juga sudah bersuami dan bahkan berbadan dua.
"aku rindu kalian, berharap kita ngumpul kembali seperti dulu. Walaupun tidak sering."ucap dian yang beralih ke musik dan memutar murotal quran dan sholawat ustadz Alfi yang ia download diam diam.
Kan kalau ada hal keinginan mendesak tidak mengganggu aktifitas ustadz Alfi termasuk tidak enak bangunin seperti saat ini. Menyenderkan tubuhnya dan memakai handset lalu mengelus perutnya yang masih rata namun berisi. Dengan mendengarkan ini saja membuat hatinya tentram dan damai.
Beberapa jam kemudian dan sudah mengantuk akibat mendengar ayat ayat Al-quran, pintu terdengar terketuk dari luar. Dengan segera dian membuka handsetnya dan meletakkan hpnya di nakas. Lalu menatap terus kearah pintu untuk memastikan siapa yang datang.
"assalamualaikum"salam vira yang membuka pintu seraya menghampirinya dengan maksud ingin memeluk.
"waalaikumsalam, vira"jawab dian yang tersenyum sumringah dan merentangkan tangan menerima pelukan dari vira.
"bagaimana keadaanmu dek?"tanya gus agung yang meletakkan salad buah untuk dian di nakas.
"baik alhamdulillah mas jangkung hehe"jawab dian yang terkekeh kecil sebab masih saja menyapa seperti itu.
"masya allah bumil, sehat selalu dan ponakanku sehat juga sampai persalinan."ucap vira yang melepas pelukan hangat itu.
"aamiin."balas dian.
"oiya ini ada sosis solo kesukaan kamu. Dimakan dulu masih anget"ucap vira yang duduk di pinggir brangkar sedangkan gus agung duduk di kursi dan melihat ustadz Alfi tertidur tanpa terusik oleh apapun.
"dek kamu apakan ustadz alfi sampai pules begitu?"ucap gus agung yang sedikit merendahkan suaranya.
"oh itu karena kemarin aku gak bisa tidur trus mas alfi ikut juga."balas dian yang mulai menyantap sosis solonya.
"loh begadang? Gak boleh sering sering harus jaga kesehatan kalian berdua."ucap vira yang hanya diangguki oleh dian.
"kasihan kayaknya capek banget. kl gitu aku keluar dulu dek, raa"pamit gus agung yang melangkah keluar.
Di dalam hanya ada vira dan dian. Berbincang bincang tentang bagaimana dian bisa di rumah sakit dan akhirnya mengetahui bahwa sedang mengandung. Tak lama dian merasa sangat bosan di dalam.
"vira kita jalan jalan ke taman yuk. Aku bosan"ucap dian.
"iya, tapi cuma sebentar aja. Nanti kl ustadz nyariin gimana"ucap vira yang disetujui oleh dian.
__ADS_1
Vira menuntun dian yang memegang tiang infus dan membuka pintu. Lalu meminta izin ke gus agung agar berjaga jaga jika ustadz Alfi sudah terbangun tidak kepanikan sendiri karena dian tidak ada di dalam.
Dian merasa sangat senang karena sudah mencium udara di luar ruangan dan bahkan sudah lancar berjalan tanpa dituntun. Sepertinya ini tanda bahwa ia sudah bisa pulang nih. Ia sangat merindukan suasana rumah.
Sementara ustadz Alfi yang di dalam ruangan, akhirnya terbangun dari tidurnya saat pukul 2 siang. Bangun dengan rasa kaget akibat terlambat melaksanakan sholat dzuhur.
Cepat cepat ia mengambil wudhu dan melaksanakan sholat. Tak lupa ia gabungkan dengan sholat ashar karena ingin pergi ke solo mengurus sesuatu hal. Pandangannya melihat brangkar yang kosong dan membelalakkan matanya kaget.
"astagfirullah dimana dek dian? Ya allah"ucap ustadz Alfi meletakkan sajadah di sofa dengan sembarang dan segera keluar dari dalam ruangan tersebut. Ia panik dan khawatir jika ada terjadi sesuatu pada dian.
***
Panik gak stadz? Ya paniklah hehe π
Pintu terbuka memperlihatkan gurat khawatir di wajah ustadz Alfi yang membuat guz Agung menegur seseorang di depannya. Ustadz Alfi pun mendadak berhenti dengan panggilan itu. Ia bahkan tidak melihat jika ada orang di depannya tadi.
"ustadz"tegur guz Agung.
"assalamualiakum"salamnya kemudian.
"waalaikumsalam guz. Kenapa bisa disini ? Maaf tidak melihat"ucap ustadz Alfi yang tetap menghormati dan menyimpan rasa khawatir di hatinya.
"sudah dari tadi disini karena mengantar vira menjenguk dian."
"pasti ustadz sedang nyari dian ya? Lagi di taman sama vira tadi"ucap guz Agung yang membuat hati paniknya sudah menjadi tenang.
"sudah dari tadi duduk disini. Seharusnya guz disambut dengan baik"ucap ustadz Alfi yang duduk di sebelah guz agung.
"haha tidak usah sungkan seperti itu. Aku datang juga menjenguk dian yang sudah ku anggap adik sendiri. Em..bagaimana kabar ustadz?"ucap guz Agung.
"beneran baik baik saja? Tadi tertidur sangat pulas pasti dian sudah mengerjaimu sampai lelah begitu."ucap guz Agung yang merasa kasihan dengan ustadz Alfi yang wajahnya sedikit menyimpan rasa lelah seraya terkekeh kecil.
"tidak apa apa. Ini sudah tanggung jawabku jadi apapun yang dipinta harus aku lakukan. Lagipula membuat dek dian tersenyum tidak pakai mahal mahal. Padahal aku punya jika ia meminta lebih."ucap ustadz Alfi yang dibalas senyuman oleh guz Agung.
"memang benar. Kau beruntung mendapatkan wanita sepertinya. Yang hanya sederhana namun sudah membuatnya bahagia. Mohon maaf, bukan aku ikut campur. Bisakah kau jaga ia dengan baik? Dian kl meneteskan air mata itu tandanya sangat sakit hati. Jaga dia, beri dia apa yang ia harapkan padamu. Insya allah jangan ragukan cintanya padamu. Karena dian hanya memilihmu dari sekian banyaknya laki laki yang melamarnya hehe"terang guz Agung yang diakhiri kekehan.
"insya allah aku akan mengingat itu. Cukup sekali membuatnya seperti itu, aku tidak akan mau kejadian seperti itu lagi. Oiya, maksudnya memilihku bagaimana guz?"tanya ustadz Alfi yang penasaran akan ceritanya guz agung.
" ia memilihmu bukan berarti karna harta dan rupawannya dirimu. Tapi wanita memilih laki laki yang berani datang melamarnya dengan keikhlasan dan menerima kekurangannya."
"pernah ia di lamar namun ternyata laki laki yang melamarnya tidak dapat restu dari orangtuanya. Yang hanya membuat sakit hati paman dan bibi. Apalagi sampai almarhum tidak mengizinkan siapapun melamar cucu perempuannya selain rencana perjodohan dengan sahabatnya. Yaitu kakekmu."
"dian tidak tahu soal itu namun kami tahu. Makanya saat ustadz menikah dengannya. Hati kami lega dan mendoakan kalian tetap langgeng."cerita singkat dari guz agung.
Ustadz Alfi tertegun dengan perkataan guz Agung. Benar adanya dian pernah dilamar saat masih 17 tahun. Namun itu semua tidak akan terjadi sebab banyak pertentangan antara kasta dan posisi dian sebagai wanita biasa. Jadi penyebab dian menanyakan ke ustadz Alfi sebelum menerima lamaran ya seperti itu. Hanya tidak mau kejadian lalu terulang walaupun tidak ada yang tahu bahwa dian tahu karena tidak sengaja melihat mbah dahlan marah besar akibat itu. Cucunya dihina yang sakit hati tentu saja dirinya.
Keduanya larut dengan berbincangan antara laki laki. Sementara dian dan vira terlihat bercanda gurau di koridor. Senyum mereka bak cahaya yang membuat suami masing masing terdiam memuja kecantikan dari keduanya.
Wajah yang dilihat ustadz alfi sudah tak sepucat waktu lalu. Ia bahagia melihat dian bisa tertawa lepas hanya dengan adanya vira. Sedangkan guz agung merasa ikut bahagia melihat vira sudah tidak khawatir lagi dengan keadaan dian. Terbukti dengan senyuman keduanya.
"masya allah"ucap ustadz Alfi dan guz agung kompak.
Dian dan vira yang sudah sampai didepan para suaminya hanya mengerutkan kening seraya saling pandang satu sama lainnya. Ustadz Alfi mengambil alih dian dan menggendongnya sampai kedalam untuk istirahat. Dibelakangnya guz agung dan vira mengikuti.
__ADS_1
"mas, aku udah gak lemes koq. Tidak usah seperti ini juga."ucap dian yang mengalungi lengannya di leher ustadz Alfi.
"kenapa memangnya dek?"tanya ustadz Alfi yang meletakkan dian dengan hati hati di brangkar.
"em..hehe malu mas ada vira sama mas jangkung"ucap dian tersenyum malu. Sedangkan guz agung dan vira terkekeh geli melihatnya.
"kalau gak ada ustadz Alfi kenapa dek hidung merah itu sensi sekali. Nah sekarang malah lembut dan manja banget. Ustadz Alfi ini pawang nya yaa"bathin guz agung.
"oiya, mas mau pergi ke solo ada urusan."ucap ustadz Alfi yang mengingat sudah waktunya ia berangkat.
"mau ikut mas"ucap dian memegang kunci mobil milik ustadz Alfi yang hendak diambil oleh pemiliknya namun kalah cepet.
"gak usah disini aja. Kan ada vira"ucap Ustadz Alfi yang mengarahkan tangannya untuk mengambil kunci tersebut.
"gak boleh"ucap dian.
Terjadilah aksi serang dan menghindar oleh kedua tangan mereka. Guz agung yang melihatnya sampai melongo. Dua duanya jago juga sama silat ternyata, pantas saja jodoh.
"hadduh kalian jangan begitu. Gak malu sama si kecil yang di dalam perut. Mungkin udah tertawa melihat abi dan uminya seperti ini."ucap guz Agung yang merebut kunci mobil tersebut dari tangan dian.
"yah mas jangkung. Sini kembaliin"ucap dian.
"begini saja. Ustadz Alfi pergi sama mas agung. Sedangkan dian sama aku."ucap vira yang diangguki oleh ustadz Alfi dan juga suaminya. Dian pun cemberut lalu vira mendekat kearah dian dan berbisik.
"koq gak enak gini perasaanku"bathin ustadz Alfi dan guz agung bersamaan.
"yan minta apa gitu sama ustadz kl gak dituruti jangan izinin pergi."bisik vira yang membuat dian tersenyum misterius dan ustadz Alfi merinding jadinya.
"okey. Kamu boleh pergi mas. Tapi dengan satu syarat. Kalian harus beliin aku martabak dan pecel. pecelnya harus ada mienya dan ada gorengannya. oiya mas gorengannya bakwan biasa aja jangan yang jagung. yaa mas"ucap dian yang menampilkan wajah andalannya untuk membuat keinginannya terwujud.
"ya allah dek itu terlalu banyak loh. Mas belum mengambil uang lagi di rekening"ucap ustadz Alfi yang berbicara seperti itu agar tidak membuat guz agung direpotkan.
"kan ada mas agung ustadz, iya kan yan?"ucap vira seraya bertos ria dengan dian. Setelah itu dian dan vira tertawa riang.
"eum.. Okey. Aku akan membelikannya sesuai kemauan tuan putri berdua."balas guz agung yang membuat ustadz Alfi tak enak hati.
"tapi guz.."ucap ustadz Alfi yang terhenti.
"turuti saja kemauannya lagi pula kita patungan ustadz haha"tawa renyah guz agung yang berjalan beriringan keluar ruangan bersama ustadz Alfi.Ustadz Alfi menggaruk kepalanya tidak gatal dengan ucapan guz agung ini yang ada benarnya juga. ya ampun ternyata istrinya kerja sama dengan vira. perlu digaris bawahi guys, vira pengen martabak sedangkan dian ingin pecel gitu sekalian hehe...
"kl begitu yaudah. Assalamualaikum. Jaga diri baik baik di sini jangan ngerepotin vira ya dek"pamit ustadz Alfi yang memberikan tangan kanannya untuk dicium dan lalu mencium kening dian setelahnya. Begitupun juga vira dan gus agung.
"waalaikumsalam mas"serempak dian dan vira yang berlanjut kesibukan mereka kembali. Biasa deh kl udah kumpul pasti bahas bahas tentang kuliner atau hal lain.
Pintu tertutup. Mereka berdua pamit dan menutup pintu, sebelum pergi ustadz Alfi menitipkan istrinya kepada perawat yang memang sedang duduk di sekitar ruangan itu dan benar benar pergi.
Bersambung....
π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’
Hallo semuanya, Salam sehat >_<
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan selamat membaca... Bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
__ADS_1
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya, Terimakasih π·