Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Hal kecil yang hampir terlupakan


__ADS_3

"paham. Terimakasih Ness. Aku tahu apa yang harus kulakukan."ucap Dian tersenyum sekilas. Mereka berdua terdiam sejenak. Dian merasa jika ia sudah tahu apa yang dilakukan kedepannya namun masih memikirkan cara bagaimana meminta maaf dengan Ustadz Alfi nanti.


"adakah perintah nyonya Alfi?"goda Nessa. 


"Nes kalo kamu bukan sahabat dan ada di depanku saat ini. Mungkin kau akan terdaftar di UGD"cemberut Dian.


"eh kan memang benar. Kau nyonya dan ratu di hati ustadz yang tak akan tergantikan. Hehe tak sia sia kau menyerahkan foto bersama ustadz waktu itu sebelum kuliah. Kan ku bilang kalian seperti foto prewed. Cocok banget masya allah"oceh Nessa yang hanya dibalas putaran bola mata jengah dari Dian.


"aku ada sesuatu hal yang ingin kau lakukan Ness. Oiya bagaimana kabar perusahaan mas Alfi di Mesir apakah ada yang menyusahkan bang teuku ?"ucap Dian.


"em..sejauh ini ada kesulitan yan. Entahlah apa penyebabnya, namun kak teuku sedang berbuat sesuatu untuk mencegahnya. Kasusnya salah satu data anak cabang berhasil terbobol"ucap Nessa terdengar serius. (ustadz Alfi sontak kaget dengan apa yang ia dengar)


"siapa yang berani berbuat itu? Apakah Rendi?"tanya Dian.


"haish, entahlah. Eh? Tunggu yan. Alhamdulillah Kak teuku sudah mengatasi ini yan. Baru saja aku dapat kabar."ucap Nessa gembira.


"secepat itu ?"heran Dian.


"hehe sebenarnya sudah sebulan yang lalu. Perusahaan hanya rugi saja"jelas Nessa.


"kau gila ness. Itu juga uang. Huh.. Masalah lagi kan. Bagaimana reaksi mas Alfi mendengar ini? Itukan usahanya dari nol"ucap Dian terdengar penuh pikiran.


"hmm..Yan. Itu gak ada artinya. Suamimu itu sebulan bisa dapat 1 motor honda keluaran terbaru."oceh Nessa.


"ya sudahlah. Awasi terus pergerakan Rendi dan jika sampai kemungkinan terjadi. Aku akan menyiksanya sehingga menjadi remuk redam seperti diriku"ucap Dian yang menyiratkan rasa marah namun kembali normal lagi.


"tapi kalau ia pantang menyerah. Jika ia meminta maaf, aku akan mengampuninya"senyum Dian seraya bangkit dari duduknya.


"baiklah. Jaga kesehatanmu. Aku akan selalu berada di balik layar mengawasi keadaan. Oiya doakan aku dapat jodoh yaa. Aku jomblo nih"ucap Nessa.


"yaa. Semoga Nessa berjodoh dengan bang teuku aamiin"ucap Dian. 


"haii"pekik Nessa.


"loh doa baik baik kok gak terima. Lagipula bang teuku itu baik, soleh, dan bertanggung jawab. Kamu pasti bahagia jika bersamanya."ucap Dian.

__ADS_1


"em.. Tapikan kak teuku apakah mau denganku"minder Nessa.


"Ness kamu ini terus seperti itu sih. Jodoh tidak ada yang tahu. Tapi… aku punya solusinya dan ku jamin bang teuku akan mendekat"senyum Dian penuh arti seraya memangku bantalnya.


"ha? Apa kau ingin aku mempeletnya. Hih gak mau ah"tolak Nessa.


"ya enggak lah. Gila aja pakai pelet sedangkan cara lain ada"bantah Dian yang membuat Nessa terdiam dan terus mendengar ocehan sahabatnya.


"kau ingin menariknya. Coba selipkan namanya di sepertiga malam, doa setelah sholat fardhu dan cintailah Pemilik Hati lebih dekat lagi. Siapa tahu … pelet, ajian semar mesem dan jarang goyang kalah tanding."sambung Dian.


"wahh jangan jangan kamu nyisipin nama ustadz yaa."ledek Nessa.


"diih kagak..tapi kl niat mendoakan hal baik itu pernah. Mendoakan orang lain apakah salah?"


"Cuma… aku gak sengaja nyebut namanya saat mas Alfi ngechat aku menanyakan alamat. Ah iya aku ingat itu"ucap Dian meringis memegang kepalanya yang mendadak pusing.


"doa mu terkabulkan sekarang."ucap Nessa. 


Namun Dian tak merespon lagi, sebab kepalanya seakan tertusuk tusuk. Ternyata inilah yang ia lupakan, hal kecil tapi berarti dalam hidupnya. 


Dian pun berdiri dari duduknya hendak mengambil obatnya yang jaraknya sedikit jauh dari ranjang. Namun sebelum sampai, tak sengaja tersandung sesuatu. 


"aww"pekik Dian. 


(semuanya melihat itu menjadi khawatir tapi semua itu menjadi lega sebab dengan cepat Ustadz Alfi masuk kedalam kamar tersebut)


Ustadz Alfi segera menghampiri Dian yang terduduk di lantai dengan ekspresi menahan pusing dan menutup matanya. Ia menggendong tanpa aba aba lalu meletakkan istrinya di ranjang seperti meletakkan barang yang mudah pecah jika tersenggol sedikit.


Dian meringis menahan sakit di kepalanya yang terus berdenyut nyeri membuat sudut mata dan keningnya berkerut. Ketika membuka matanya sekilas, ia melihat Ustadz Alfi masih sibuk menyelimutinya dan beralih mengambil obat yang entah apakah diketahui atau tidak.


"em..mas"panggil Dian. Seketika Ustadz Alfi menoleh segera kearah ranjang.


"iya dek. Apa yang kamu rasakan sekarang? kita kerumah sakit atau panggil dokter untuk memeriksamu"usul Ustadz Alfi.


"tak usah. Obatku ada di lemari dekat pintu sana."ragu Dian.

__ADS_1


"baiklah"simpul Ustadz Alfi.


Ustadz Alfi segera mengambil obat tersebut dan mengambil air putih di dapur. Ia berjalan cepat menghampiri lagi Dian yang menatapnya ragu ragu. Setelah sampai di depan wanitanya, ia pun membantu Dian duduk dan menuntunnya meminum obat.


Obat telah di minum oleh Dian. Ia merasa sudah tidak pusing lagi tetapi sangat mengantuk sekali. Ustadz Alfi ingin pergi untuk membiarkan Dian beristirahat dulu namun tertahan oleh pelukan.


"jangan pergi"gumam Dian yang telah masuk ke alam mimpi.


"Mas tidak ingin mengganggumu, sekarang kamu harus istirahat dek. Mas keluar dulu dan tidurlah dulu yaa?"seru Ustadz Alfi.


"gak mauu"tolak Dian seraya menggeleng geleng cepat lalu semakin mengeratkan pelukannya seperti tidak mau terpisahkan bahkan mendusel dusel mencari kenyamanan.


Ustadz Alfi membalas pelukan itu dan mengelus perlahan lahan rambut yang tertutup hijab. Tersenyum senang sebab Dian sudah mendekat kearahnya bahkan memintanya untuk membalas pelukan. Setelah Dian pulas di dalam pelukannya, ia segera menidurkan dan menyelimutinya kembali.


Melihat sekilas yang sedang tertidur pulas seperti bayi dan sedikit mengangkat kepala itu. Dengan hati hati, ustadz Alfi melepas hijab yang mengganggu jika dipakai saat tidur dan melepas kuncir rambut warna merah yang membuat rambut panjang nan hitam itu tergerai.


"akhirnya kamu mau mendekatiku lagi dek. rasanya tak bisa di tuliskan dalam bentuk apapun. Mas sayang dan mencintaimu walau kamu mungkin sudah tidak sempurna lagi menjadi seorang istri atau wanita."


"Bahkan cintaku tidak sebanding dengan pengorbananmu untukku dan semuanya sangat luar biasa. Apapun yang akan terjadi ke depannya, aku harap kamu selalu ada untukku."


Begitulah ucapan lirih dari ustadz Alfi. Dirinya bahkan tak sadar jika telah meneteskan air matanya lalu menghapusnya kembali. Berniat pergi keluar dari kamar untuk membereskan rumah. Sebelum itu, ia sempat mencium kening Dian sekilas dan benar benar meninggalkan istrinya sendiri.


("ah kata katanya sungguh membuatku meleleh"kompak para dokter yang menyaksikan itu.


Sedangkan Vira, Caca, dan wanita di dalam zoom menjadi tersenyum penuh arti. Para laki laki hanya mengucap syukur jika Dian punya perkembangan yang bagus dan lega jika ustadz Alfi tak seperti mayat hidup lagi.)


bersambung...


🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,

__ADS_1


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘


__ADS_2