Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Mulai terbuka si D dan narsis si A


__ADS_3

Dian berlari kecil seraya memegang 3 buku dan pulpennya. Wajahnya sudah normal namun jantungnya sangat upnormal sebab tindakan ustadz Alfi tadi. Ia menggeleng gelengkan kepalanya demi menghalau apa yg sedang ia pikirkan. 


Semuanya yang sudah menunggu kakak pelatih mereka ini mendadak menoleh saat terdengar langkah kaki seseorang langsung menoleh ke arah Dian. Kening mereka berkerut sebab Dian bertingkah aneh.


"Assalamualaikum"salamnya.


"waalaikumsalam kak"jawab mereka serempak.


"maaf ya. Kita jadi buang buang waktu... Sekarang silahkan berlatih menembak, selalu hati hati jangan sampai sasarannya mengenai teman kalian."


"oiya, nanti jika sudah siap untuk penilaian langsung saja panggil saya di lapangan"ucap Dian.


"loh kakak mau kemana ?"tanya rita.


"biasa, latihan silat rutin. Kemampuan harus diasah dan rasanya kaku kl tidak latihan"jawab Dian yg menitipkan buku buku di tangannya ke raka dan brian.


Kemudian Dian langsung berjalan lagi ke arah lapangan. Dengan memulai lari perlahan lahan dari ujung lapangan dan mengelilinginya. Pandangan serius ke arah bawah dan tanpa menyadari jika gerakannya di lihat seseorang.


Ustadz Alfi melihatnya dengan seksama dan terduduk di mimbar. Ia ingin berlatih juga namun memilih menunggu sampai Dian selesai pemanasan. Terlihat wanita di depannya ini berhenti berlari kecil. Namun yg membuatnya jantungan, Dian melakukan salto lalu handstand dan meroda. 


"ya allah istri hamba"batin ustadz Alfi menggeleng geleng kepala.


Dian memang sudah biasa jika pemanasan harus begitu. Menurutnya, gerakan silat ada yg seperti itu lalu bukankah sekalian melenturkan tubuhnya. Mumpung lagi tidak kambuh penyakitnya, ia pun berlatih.


Gerakannya tetap luwes dan masih seperti dulu, lincah. Kesempatan memang tidak ia sia siakan saat ini. Berlatih dengan tongkat bambu dan sebuah golok itulah ciri khasnya. Intermezo…. Dian menang dalam berbagai kejuaraan yg tidak ia teruskan menjadi nasional sebab ia tak mau pergi jauh dari tempat dirinya belajar dan memilih meningkatkan kemampuannya menjadi srikandi. 


Ustadz Alfi menghampiri istrinya tanpa salam dan apapun embel embelannya. Dian yg memegang golok begitu pas mencondongkan senjata itu tepat di depan wajah suaminya.


Prang….


Semuanya yg sedang menembak menjadi berhenti dan menatap kedua pasangan suami istri  di lapangan. Raka dan brian juga ikut melihat. 


"kamu ini sembrono tau gak? Bagaimana golok itu menembus keningmu"kesal Dian seraya menatap ustadz Alfi dengan ekspresi kagetnya.


"jika menembus keningku, apa yg kamu lakukan dek?"santai ustadz Alfi.


"jangan bicara seperti itu"sungut Dian tidak terima ucapan santai dari suaminya. Jangankan tertembus golok, sakit rutin ustadz Alfi saja sudah membuatnya menangis. 


"iya maaf. Oiya dek, gimana kl kita sharing"ucap ustadz Alfi seraya menutup golok tersebut dengan sarungnya lalu menyingkirkan kedua senjata itu di pinggir lapangan.


"sharing??"beo Dian yg menatap ustadz Alfi seraya mengerjap lucu.


"iya sayang. Kamu gemesin banget sih"gemas ustadz Alfi mencubit kedua pipi istrinya seraya terkekeh kecil. 


"ish"kelus Dian seraya memegang kedua pipinya kebas lalu melepaskan kedua tangan laki laki di depannya dari pipi.


"mau gak? Atau jangan jangan kamu takut yaa"goda ustadz Alfi.


"aku berani lah. Tapi tumben kamu mau sharing ilmu silat. Setahuku kamu tak akan membongkar keahlianmu di depan orang lain"ucap Dian.


"sudah lama tidak diasah, mas gak mau kakek menjewer telingaku sebab sudah melupakan ilmu darinya."balas ustadz Alfi.


"pfft...hahaha...oh okey baiklah, Aku mau sharing denganmu"tawa kecil Dian membuat dunia ustadz Alfi cerah seperti matahari saat ini. 


Dian sudah memulai gerakannya dan disusul ustadz Alfi memasang kuda kuda. Serangan demi serangan dilancarkan oleh Dian dari tangan sampai kakinya. Mereka yg melihat menatap kagum keduanya dan merasa Pasutri itu cocok sama sama satu server.


Wajah fokus Dian memang membuat ustadz Alfi kurang fokus dengan serangan. Walaupun begitu, tetap membuat Dian terlihat cantik alami. Apalagi ketika senyum dan tertawa, duh rasanya ustadz Alfi ingin menutupi seluruh wajah istrinya agar hanya dirinya yg dapat melihat.


Serangan terus diberikan oleh Dian dan ustadz Alfi kalah cepat. Sebab kaki kanan Dian sudah mengenai bahunya dan membuatnya terlempar. 


Brukk…

__ADS_1


Semuanya melongo tak percaya dengan apa yang dilihat. Ustadz Alfi tergeletak dengan menahan sakit. Dian terkejut bukan main dan berlari.


"kamu gak apa apa? ada yg keseleo? Atau patah?"khawatir Dian yg hampir berkaca kaca. 


"gak apa apa dek, ini cuma kaget aja. Kan udah dibilang lama gak latihan"ucap ustadz Alfi tak tega melihat Dian yg menjadi merasa tak enak hati.


"tapi kan aku menendangnya keras."seru Dian yang memang tidak bisa dibohongi. 


"udah gak usah dipikirin lagi."ucap ustadz Alfi yg tersenyum.


"oiya kenapa kamu gak menangkis seranganku?"heran Dian.


"daripada mas bales dan mukul kamu. Lebih baik disayang"gombal ustadz Alfi terduduk dan menoel dagu istrinya. 


"ih.. Aku tanya serius gak usah gombal."kesal Dian yg mengalihkan wajahnya tapi tersenyum malu dan itu terlihat oleh sekumpulan orang yg menjadi penonton. 


"tapi mas sejuta rius dek hehe"ledek ustadz Alfi.


Dian kemudian memilih tidak memperdulikan suaminya. Ustadz Alfi mengambil akal untuk mendapat perhatiannya lagi dan berniat sekali lagi usil sama istrinya.


"adduh dek sakit banget seakan mau patah. Ya allah sakiiit"keluh ustadz alfi dramatis dan melirik reaksi Dian. 


Kyai (abinya gus Agung) melihat aksi cucu mantunya sangat usil menjadi tersenyum renyah. Ternyata kyai baru saja datang di Aceh dan berniat ingin menemui Dian. Sedangkan para lelaki jadi salah tingkah termasuk komandan Agha karena mereka pernah caper dan menjadi senjata kl istri mereka marah.. Jika yg belum nikah mendadak menjadi murid nih wkwk.


Dian yg mendengar itu segera menghampiri ustadz Alfi. Sungguh hatinya sangat resah dan khawatir. Wajahnya pucat pasi dengan mata yg cemas. 


"mana yang sakit?"serak Dian.


"sakitnya disini"balas ustadz Alfi memegang bagian tubuh letak hatinya. Dian yg hampir menangis menjadi menggelapkan wajahnya lalu reflek menampar.


Plakk


"awww"keluh ustadz Alfi menggerakkan rahangnya sebab kebas.


"gak enak dek shh"desis ustadz Alfi yg memasang wajah sendu seperti seorang anak kecil sedang di omeli ibundanya. 


"siapa suruh kamu bercanda."marah Dian. Ketika ustadz Alfi ingin berbicara, ucapannya terpotong.


"jangan jangan kamu kira aku ini tega kdrt sebab aku gila?"tuduh Dian.


"nggak. Kau tidak gila dek"bantah ustadz Alfi.


"halah gak usah bilang begitu. Jujur saja aku ini gila. Untuk apa kamu tutup tutupi lagi"ucap Dian sudah terlanjur berprasangka buruk kepada diri sendiri.


"hm, aku ini gila. Hanya bisanya merepotkan semua orang. Gila, yah aku gila"ucap Dian berbicara dengan dirinya sendiri. Semuanya mendadak tegang dan menunggu segala reaksi.


"dek tolong tenang dan jangan dirasakan. kamu hanya sakit sementara saja lalu akan sembuh"ucap ustadz Alfi namun tidak ada jawaban sebab Dian mencoba menekan semua rasa takutnya.


"jangan seperti itu. Maaf aku tidak bermaksud. Jujur, Hatiku memang sakit saat kau seakan tak peduli lagi denganku"ucap ustadz Alfi mulai buka semuanya.


"maaf? Untuk apa? Aku tidak peduli denganmu sebab kau masih banyak salah denganku"balas Dian. 


"salah apa?"pikir mereka semua.


"jika begitu jujurlah padaku dan pukullah aku. Mas siap nanggung semuanya."seru ustadz Alfi.


"aku terbangun koma dan memoriku semuanya hilang. Tapi yg ku ingat hanya segala kesalahan orang lain yg masih tertanam. Aku sendiri bingung dan ragu dengan apa yg ku ingat. Bahkan tidak tahu nama nama siapa yg buat salah apalagi tentangmu."


"aku berusaha mengingatmu dan menghabiskan 2 tahun setengah. Dan pertama ku ingat semua tapi hanya kesalahanmu yg muncul. Aku tidak melihatmu yg perhatian dan sabar seperti ini."


"aku melihatmu dengan wujud yg berbeda. Tidak peka, salah satunya"jelas Dian. 

__ADS_1


"apa kau belum memaafkanku? Soal ketidak pekaan waktu kamu mau mendengar penjelasanku. Mas hanya tidak sengaja bertemu dengannya dan tiba tiba dia datang."ucap ustadz Alfi.


"tidak, aku sudah memaafkanmu. Bagaimanapun waktu itu terlalu berprasangka buruk. Tapi walau maaf aku berikan, ingatan itu tetap membekas dan itu membuat dirimu jelek di mataku"cerita Dian menyampaikan apa yg ia rasakan. Ustadz Alfi merasa senang jika istrinya ini sudah mau mengungkapkan isi hatinya walau kenyataan itu sungguh pahit.


"tidak apa apa. Lagipula itu sungguh kesalahanku yg membuat aku benci pada diriku sendiri. Membuatmu kecewa padahal aku sudah berjanji agar kau tetap nyaman denganku"ucap ustadz Alfi.


"nyaman diriku itu berbeda denganmu. Aku sih ingin mempunyai suami yg sederhana. Agar aku bisa tenang. Tapi Allah berkehendak lain namun masih sama dengan keinginanku. Kau perhatian, penyabar, baik, ramah, dan yg penting bisa selalu menghiburku. Hanya saja status kita berbeda"terang Dian.


"jadi…"ucap ustadz Alfi tak bisa melanjutkan terkaannya. Ia takut jangan jangan Dian tidak mencintainya lagi dan tertekan sebab menerimanya yg berstatus terkenal ini.


"kau tahu dulu aku pernah kecewa. Saat diriku memulai mengenal apa sih cinta itu. Tapi sudah kecewa sebab status laki laki itu yg terlalu tinggi. Orangtuanya tidak merestui dan membuat almarhum mbah marah besar. Padahal aku sudah nyaman tapi begitu deh, yg tadinya laki laki itu merasa cocok denganku dan malah ia sudah menikah dengan wanita lain. Dari situ aku tak mau menerima lamaran dari orang yg statusnya lebih tinggi dariku. cinta akan kalah sebab kasta."senyum miris Dian yg membuat siapa saja yg mendengarnya terharu. 


"lalu kenapa kau menerima lamaranku?"tanya ustadz Alfi.


"karena kau menjawab dengan benar pertanyaanku. Aku takut tidak sebanding dan ternyata banyak yg tidak setuju jika aku bersanding denganmu. Ada yg memfitnahku bahwa pakai pelet. Yah memang aku tahu pelet itu apa tapi dikeluargaku melarang keras menggunakan itu. Apalagi saat aku dinyatakan meninggal ternyata mereka berbondong bondong menggantikan posisiku."ucap Dian.


"jika statusku yg membuatmu tak nyaman, aku akan keluar dari dunia yg membuatmu tertekan"simpul ustadz Alfi.


"maksudmu kau berhenti dari cita citamu menjadi ustadz?"kaget Dian.


"cita citaku kan hanya menjadi ustadz dan tidak pernah ingin menjadi terkenal. Tujuanku hanya satu yaitu bisa menyebarkan ilmu yg kupelajari selama ini. Mas tetap jadi ustadz. Kan bisa tausiyah di masjid atau membina TPQ untuk anak anak. Itu juga bisa disebut ustadz kok. Jika jujur aku tak mau dipanggil ustadz"ungkap ustadz Alfi.


"benar juga sih. Tapi kan kau sudah punya penggemar yg banyak. Bukankah itu sangat disayangkan?"tanya Dian.


"ngapain sih dek peduli sama seperti itu. Lagipula kau tak tahu, sekarang ini aku sudah tidak punya penggemar kok. Kan penggemar paling akut dan kesayangan ada di sini"senyum ustadz Alfi penuh arti.


"siapa?"tanya Dian seraya menoleh kearah lain sembari mencari sesuatu.


"kamu"singkat ustadz Alfi. Sontak saja Dian tiba tiba tersenyum malu di depan ustadz Alfi.


"akh aku baper mas"batin Dian.


"aish senyumnya dek. Masya allah"puji ustadz Alfi dan pipinya yg kebas itu tak berasa sakit. Satu kata untuk mendeskripsikannya saat ini yaitu kesemsem. 


"aku hanya mengagumi ilmumu saja saat tausiyah bukan rupamu yg ganteng itu"ucap Dian yg mengalihkan pembicaraan namun membuat ustadz Alfi membalas lebih menyakitkan lagi wkwk.


"alhamdulillah makasih dek. Emang mas ganteng dari lahir hehe"narsis ustadz Alfi tersenyum manis semanis gula.


"dasar narsis….Aku gak mau lagi deh sharing sama kamu, males"kesal Dian tapi pura pura sebab malu dengan ucapannya sendiri tadi yg tanpa dipikirkan dahulu. 


"loh jangan gitu, Sekali lagi ya. Gak adil jika hanya mas mempelajari ilmumu saja."ucap ustadz Alfi seraya bangkit dari duduknya.


"tidak usah. Aku sudah tahu sedikit. Lagipula aku mau mengambil nilai mereka."tolak Dian.


"baiklah"pasrah ustadz Alfi. 


"ekheem... assalamualaikum"salam kyai.


Mereka berdua serempak menoleh kearah kumpulan orang orang yg tidak dianggap oleh keduanya. Dian salah tingkah dan ustadz Alfi menggaruk tengkuknya. 


"waalaikumsalam mbah kyai"jawab ustadz Alfi mencoba menghilangkan rasa malunya sebab tadi kan...ah sudahlah memalukan sekali.


Bersambung….


🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,

__ADS_1


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘


__ADS_2