Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Sudah merasa lebih baik


__ADS_3

Dian tertidur sampai esok hari. Sekarang tubuhnya terasa fresh kembali. Hatinya juga merasa lebih baik daripada kemarin. Walaupun begitu, ia bahkan tidak ada niatan untuk membenci suaminya.


Ia keluar melihat sang ayah sedang membaca koran hari ini. Dayu sedang membantu ibunya menghitung belanjaan yang di beli tadi pagi hari sekali. Dian berjalan kearah bu mira dengan bermanja dengan ibunya.


"bu"ucap dian yang membuat bu mira sedikit kaget.


"nduk, udah baikan?"tanya bu mira yang melihat senyum lebar dari dian.


"udah sih bu, tapi sepertinya tidak baik baik saja."jawab dian manja yang membuat ayah ahmad geleng kepala dan dayu terkekeh geli.


"loh kenapa memangnya?"tanya bu mira kembali.


"ibu dian pengen sesuatu hehe"pinta dian dengan cengengesan.


"mau apa nduk?"senyum bu mira terbit karena melihat sang anak sudah bisa tersenyum.


"mau sayur sop, mau rendang, mau pecel."ucap dian yang berbinar binar mendambakan itu.


"astagfirullah nduk, banyak banget yang dimau."ucap bu mira yang membuat dian menekuk wajahnya dan menatap sendu apa yang di depannya. Kemudian ia pun menangis tanpa sebab.


"hiks..ibu gak mau buat..."tangis dian yang membuat ayah ahmad langsung menatap dian bersamaan dayu. Mereka heran, kenapa bisa nangis kayak gitu.


"nduk, bukan ibu gak mau buat. Tapi terkejut aja kamu minta banyak, biasanya kamu tidak makan banyak. Takut mubazir."ucap bu mira menjelaskan.


"tapi yan yan pengen"lirih dian yang memainkan tangannya.


"yaudah ibu bikinin nanti harus habis"ucap bu mira yang membuat dian antusias menanti makanannya dan duduk bersila membantu mengupas bawang. Jangan lupakan senyum cerianya.


Mereka bertiga dibuat diam dengan reaksi dari dian. Benar benar tidak masuk diakal. Mana dian yang punya wibawa, yang punya wajah garangnya. Sekarang jika tidak dituruti pasti seperti itu.


Bahkan saat makanan permintaannya selesai dibuat, dian sampai lahap memakannya. Tidak peduli tatapan horor dari dayu yang melihat mbaknya seperti anak kecil.


Semua tandas dan bersih dibabat habis oleh dian. Setelah selesai dian pun bersiap untuk ke ponorogo dan mengambil kunci motor milik ayah ahmad. Kemudian ia pamit dan menyalimi kedua orangtuanya.


Berangkat dengan tersenyum senyum seperti orang kasmaran padahal hanya di buatkan apa yang ia minta sudah seperti ini.


"bu, yah mbak dian kesambet apa?"tanya dayu polos dan membuat ia mendapat jeweran ditelinga dari ayah ahmad.


"aw aws ayah sakit"pekik dayu.


"sembrono kalo ngomong"peringat ayah ahmad yang membuat dayu cengengesan. Pandangan mereka berdua menatap bu mira yang sedang tersenyum senyum tidak jelas.


"yah apa ibu ketularan sama mbak ya"bisik dayu


"husss"balas ayah ahmad.


"ibu kenapa koq senyum senyum begitu. Ayah jadi takut"ucap ayah ahmad yang spontan membuat bu mira berhenti tersenyum.


"eh koq ayah bilang begitu sih. Ibu lagi bayangin kalau kita bakal gendong cucu"ucap bu mira yang antusias.


"apa hubungannya sama nduk dian yang begitu? Ayah gak paham"bingung ayah ahmad yang belum paham paham maksud bu mira.


"ihh, nduk kae sifatnya seperti anak kecil dan minta apa apa harus dituruti. Itu tanda tanda hamil ayah. Hamiiillllll"jelas bu mira.


"tapikan kita juga gak tau bu. Itu mungkin sebab terlalu kangen sama kita dan menjadi sedikit manja."bantah ayah ahmad.


Benar apa yang ia ucapkan. Bisa saja dian itu kangen pada mereka. Minta dibuatkan ini itu mungkin pengen di perhatikan oleh kedua orangtuanya. Wajah terang benderangnya bu mira kini redup kembali Sebab perkataan ayah ahmad. Dayu hanya bisa tersenyum akibat itu, dan pergi bergandengan dengan ayahnya menuju kebun.


***


Pukul 09.20


Akhirnya kedua mobil yang berisikan keluarga ustadz Alfi telah sampai di depan rumah. Mobil diparkirkan di halaman, karena tidak ada 2 motor berbeda jenis milik ayah ahmad. Sepertinya keadaan rumah sepi dan senyap.


"assalamualaikum"salam umi shita.


"kulo nuwun"sambung umay yang bakalan gak bisa dikenali suaranya. Ini suara aslinya banget, halus dan serak basah gimana gitu. Wkwk


"waalaikumsalam, monggo."jawab bu mira yang seraya membuka pintu.

__ADS_1


Bu mira terkaget kaget dengan apa yang ia lihat saat ini. Kemudian ia mempersilahkan duduk para tamunya di teras yang terdapat banyak kursi dan ada mejanya juga. Jika di dalam, sepertinya tidak sopan. Karena masih dibersihkan. Ia pun menyediakan hidangan dan kemudian izin untuk membersihkan rumah.Tak lama terdengar suara seseorang.


"haha ayah sih pakai yang ini. Lha wes tau motornya suka mogok"tawa dayu yang membawa singkong dari kebun.


"kan motor ayah yang satu dipakai sama mbakmu. Masa kita jalan ke kebun tanpa naik motor, kamu mau naik turun gunung jalan kaki."ucap ayah ahmad


"hehe iya deh. Dayu bercanda ayah. Ojo nesu nesu (jangan ngambek)"ucap dayu yang sumringah sedangkan ayah ahmad menggeleng geleng kepala saja. Namun ketika melihat umay menghampiri mereka berdua, membuat ayah ahmad mengerutkan keningnya.


"assalamualaikum paman"ucap umay yang mencium tangan kanan ayah ahmad.


"waalaikumsalam, ini ada apa?"tanya ayah ahmad yang berwajah lain di depan umay.


"paman pasti sudah tau permasalahannya. Bisakah kita bicara baik baik?"tanya umay.


"bisa tapi aku ingin berbicara empat mata sama nak Alfi sekarang."jawab ayah ahmad kemudian ia memarkirkan motornya. Lalu membasuh tangannya dan berjalan kearah kursi yang terletak di halaman tempat parkir.


"ustadz, paman ingin bicara serius dan empat mata."ucap umay yang duduk di kursinya tadi bersama dayu yang meletakkan singkong di depan pintu.


"kak, ceritakan semuanya. Ayah hanya ingin mendengar penjelasan dari kak alfi sendiri. Mungkin ayah bisa bantu"ucap dayu yang menyakinkan ustadz Alfi. Ia pun berjalan mendekati ayah ahmad.


Terlihat disana ayah ahmad bersama ustadz Alfi berbicara. Semuanya sangat deg degan apa yang dibicarakan oleh mereka berdua sampai serius begitu. Apalagi ustadz Alfi setelah pembicaraan itu sungkem yang membuat ayah ahmad meletakkan tangannya dibahu ustadz Alfi . Namun kemudian keduanya berjalan beriringan kearah mereka.


"nanti nak alfi lebih baik berbicara saja. Tapi tidak bisa sekarang."ucap ayah Ahmad.


"lho emangnya kemana diannya?"tanya umi shita.


"lagi ke ponorogo ke pesantren kyai. Soalnya bantu bantu persiapan nikahannya gus Agung"jawab ayah ahmad.


"masya allah gus agung nikah sama siapa paman?"tanya umay antusias. Bagaimanapun gus agung adalah temannya.


"sama kak vira. Maka dari itu mbak usahain segera pulang."ucap dayu yang membantu menjawab karena ayah ahmad sedang meminum teh.


Beberapa jam kemudian, mereka semua melaksanakan sholat dzuhur bersama dan makan siang. Tak lama, dian pulang dengan memberhentikan motornya di halaman. Tapi ia heran kenapa ada 2 mobil.


"loh ini kan mobilnya bang umay dan mas Alfi ? Kenapa ada ada disini."pikir dian yang meletakkan helmnya di kursi dekatnya.


Dian tidak tau harus berbuat apa jika ustadz Alfi benar benar ada di dalam. Tapi dirinya tiba tiba merindukan sosok yang biasanya berada di dekatnya. Namun logika malah tidak perduli akan itu.


"waalaikumsalam."jawab semuanya.


"gimana kabar kyai?"tanya ayah ahmad.


"baik alhamdulillah. Aku datang kesana tidak ngapa ngapain. Kakung nyuruh masuk ke ndalem"jawab dian dengan apa adanya.


Memang benar apa yang ia katakan. Mau bantu tapi gak boleh. Mau ini, itu, sana, sini gak dibolehin sama kyai. Jadi ia akhirnya duduk anteng di sofa keluarga ndalem.


"sepertinya saat ini, aku harus bicara"pikir ustadz Alfi yang berdiri dan berjalan menghampiri dian.


Namun ketika pandangan mereka bertemu. Tampak Dian merespon dan tersenyum kearahnya. Yang membuat semuanya bengong karena Dian malah memeluk ustadz Alfi dengan erat. Yang dipeluk terkejut akan itu.


Sudah lama Dian memeluk tapi Ustadz Alfi tidak membalasnya membuat ia kemudian melepas pelukan itu dan menatap orang yang didepannya.


"gak mau dipeluk? Maunya sama kania ya mas."tanya dian yang hampir saja menangis.


"bukan begitu dek"jawab ustadz Alfi.


"aku gak mau lihat kamu lagi. Aku benci sama kamu mas. Lebih baik kamu turuti kania. Kl perlu dinikahi aja sana, aku gak peduli"sarkas dian yang langsung pergi ke kamarnya. Tanpa memerdulikan semuanya. Ketika hendak mengejarnya kedalam kamar, ustadz Alfi dicegah oleh ayah ahmad.


"tapi ayah..."ucap ustadz Alfi


"biarkan saja nak. Nanti juga membaik lagi."ucap ayah ahmad yang melihat dian pergi lagi.


"emosinya lagi naik turun jadi kl nduk dian ramah padamu harusnya di baik baikin. Kami juga pusing kenapa bisa begitu."sambung ayah ahmad.


"iya itu benar. Tadi minta 3 makanan sekaligus, karena ibu juga kayak kamu tadi gak tau. Eh malah nangis dan merengek dibuatkan. Setelah itu berangkat tadi pagi senyum senyum sendiri."ucap bu mira.


"atau jangan jangan dian ngidam?"terka umi shita yang membuat bu mira menegur suaminya.


"tuh kan ayah. Sebaiknya nduk dian diperiksa secepatnya. Ibu takut jika benar benar terjadi dan sekarang malah bolak balik ke sana naik motor."ucap bu mira.

__ADS_1


Malam hari datang...


Dian sudah pulang kembali kerumah. Ketika itu wajahnya sangat lelah. Ia pun masuk. Terlihat semuanya tampak sehabis makan bersama.


"ya Allah nduk. Wajahmu lelah, udah makan?"khawatir bu mira yang mengelus pipi dian.


"udah bu, aku gak apa apa koq."ucap dian tersenyum ceria.


"bangunkan suamimu dari tadi tidak keluar dari kamar sejak kamu pergi lagi. Suruh makan nduk"perintah ayah ahmad yang dianggukki oleh dian.


"iya ayah"ucap dian yang membuat semuanya tersenyum lega sepertinya dian sudah tidak marah lagi atau kesel sama suaminya.


Dian pun masuk dan membangunkan ustadz Alfi. Meletakkan tas selempangnya dan kunci motor punya ayah ahmad. Lalu ia menepuk tangan ustadz Alfi. Tangan itu panas sekali dan keningnya juga. Dian yang panik langsung pergi ke dapur yang membuat bu mira menyusul.


"ada apa nduk? Kenapa panik begini"tanya bu mira.


"mas Alfi panas bu."jawab dian yang mengisi wadah dengan air dan waslap.


"yaudah, ibu buatkan bubur dulu. Kamu kompres dulu saja"ucap bu mira.


Setelah dian pergi datanglah umi shita yang mendengar percakapan antara keduanya.


"alfi mungkin sakit karena kemarin hujan hujanan mencari dian."ucap umi shita yang membantu menyiapkan air hangat.


"ya allah. Pantas saja sakit."ucap bu mira.


"tapi sepertinya dian sangat khawatir dan gerak cepat membawa wadah tadi. Aku beruntung mempunyai anakmu menjadi menantuku"ucap umi shita yang terseyum.


"semoga masalah cepat selesai dan semuanya kembali seperti semula"ucap bu mira yang diaminkan oleh keduanya.


Sementara dian sedang fokus mengompres, ia tidak perduli pada rasa lelahnya. Ustadz Alfi mulai merasakan sesuatu di atas keningnya perlahan lahan mulai membuka matanya.


"dek"lirih ustadz Alfi yang memegang lengan dian.


"mas makan dulu ya, ini ibu membuatkan bubur."ucap dian yang melepas pegangan ustadz Alfi dan berjalan mengambil pakaiannya.


"kamu gak mau suapi aku dek?"tanya ustadz Alfi.


"enggak mas, kamu makan sendiri aku mau mandi"ucap dian yang sudah mulai hilang dari balik pintu. Sedangkan ustadz Alfi bangun dan memakan buburnya lalu meminum obat.


Ustadz Alfi merasa dian semakin jauh darinya, bahkan dengan ucapan tadi yang membuat hatinya perih. Namun nyatanya dian merasa bersalah atas apa yang diucapkannya dan bahkan membentak suaminya sendiri. Sudah ditahan tahan malah keluar sendiri.


Selesainya, ia keluar dari kamar dan meletakkan mangkuk itu di wastafel. Lalu berjalan kearah ruang tamu dan duduk bersama dengan semuanya.


"bukannya ustadz lagi sakit, kenapa gak istirahat saja di dalam kamar"tanya azzam yang memakan singkong goreng.


"enggak koq bang, cuma panas aja."jawab ustadz Alfi yang lagi merasa kesepian.


"hmm, jangan begitu ustadz. Aku punya ide untuk membuat dian mau sama ustadz lagi"ucap azzam. Kemudian ustadz Alfi mendekatkan dirinya lalu azzam membisikkan sesuatu.


"jika dian natap ustadz, senyumin aja. Jangan dibalas sendu"bisik azzam yang membuat ustadz Alfi mengerutkan keningnya tidak yakin.


"sok atuh dicoba dulu sulfur, pasti manjur"ucap azzam yang memakan kembali memakan apa yang ada di tangannya.


Ustadz Alfi kembali kedalam kamar dan melihat dian yang sudah tertidur di meja riasnya. Bahkan rambutnya tidak berbalutkan hijab. Botol di dekat tangannya dian sedikit lagi terjatuh. Ia pun segera mengambil minyak wangi yang berada di pinggir meja banget.


Setelah itu, ia pun menggendong dan meletakkan dian di kasur. Saat ingin menjauh, tangan dian menahan ustadz Alfi tetap berada disampingnya. Itu membuatnya senang lalu mencium kening dian.


Terlihat dian tersenyum setelah mendapatkan ciuman itu dan melepas tangannya yang memeluk ustadz Alfi erat seraya membalikkan tubuhnya menghadap tembok. Rasa kantuk juga menyerang ustadz Alfi, ia menidurkan tubuhnya lalu memeluk dian dari belakang.


"Dek aku mencintaimu jangan sekalipun kamu berniat untuk menjauh dariku. Aku suamimu dan hanya aku yang berhak memilikimu."bisik ustadz Alfi yang dibalas gumaman oleh dian.


Bersambung...


🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒


Hallo semuanya, Salam sehat >_<


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan selamat membaca... Bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa

__ADS_1


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya, Terimakasih 🌷


__ADS_2