Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Damainya hati sang ustadz


__ADS_3

Suara yang tiba tiba datang. Lembut dan yang pasti dirindukan olehnya. Tubuhnya tak bergerak menatap sosok bergaun putih dengan hijab senada. Apa yang ia lihat ini membutakan ingatannya. Apalagi ia juga tak bisa berkata kata saat sosok berwajah cantik, putih berseri dan manis sedang menghampirinya.


"dek"lirih ustadz Alfi.


Yaps, sosok itu adalah dian. Tampak dian tersenyum menatap ustadz Alfi yang hampir dibuat menangis olehnya. Saat sampai di depannya, tangan halus milik dian mengelus pipi kirinya yang jika ustadz Alfi lelah akan dilakukan oleh istrinya. Maka rasa lelah itu hilang begitu saja tapi berbeda dengan sekarang.


Usapan itu membuat air yang mengembun di kelopak matanya dan diwanti wanti tidak jatuh malah berhasil lolos. Ustadz Alfi memejamkan matanya dan membiarkan saja air matanya jatuh bebas di pipinya. Ia ingin memegang tangan itu tapi tidak bisa tergapai dan ternyata dian sudah ada didepannya.


"dek aku merindukanmu, kenapa tak memelukku? kemarilah"pinta ustadz Alfi seraya tangan terulur meraih tubuh istrinya. Usahanya nihil sebab kursi itu mengikatnya terlalu kuat.


"mencintaiku?"ulang dian tersenyum miris memunggungi laki laki yang ia cintai ini.


"mas mau memelukmu sebentar saja"pinta ustadz Alfi yang memberontak tapi tubuhnya malah tidak terlihat seperti itu.


Dian menatap kecewa, membiarkan air matanya luruh dan tersenyum kecut menghadap ustadz Alfi. Hati ustadz Alfi serasa ditikam belati bertubi tubi, luka hatinya menganga lebar. Tatapan kecewa itu kenapa ditampilkan lagi untuknya. Parahnya lagi ini kedua kalinya melihat itu.


"cinta? apa buktinya ? kau tentu bisa menebak perbuatanmu itu sangat membuktikan semuanya mas"ucap dian dengan mata yang berkaca kaca setelah menghapus air matanya.


"kamu sudah mengabaikan si kecil yang kuperjuangkan selama 9 bulan penuh dan bahkan mengiris iris hatinya yang kesepian. Kamu kejam mas, aku kecewa"sambung dian yang tak mau lagi menatap ustadz Alfi.


"...."Ustadz Alfi terdiam


"mas minta maaf. hafsa ku acuhkan dan sekarang ia juga telah jauh dariku sama sepertimu."


"Mas sadar, ini sungguh keterlaluan dan sangat menyesal dek. Maafkan suamimu ini."


"aku ingin memeluk yan yan milikku. Mas mohon"


Kesalahan ustadz Alfi memang pantas dapat semprotan oleh umay dan jika perlu diruqyah sekalian. Dian yang benar benar melihat penyesalan dari ustadz Alfi akhirnya ia berbalik dan tersenyum. Ikatan kuat di kursi yang diduduki oleh ustadz Alfi terlepas dan berhasil memeluk dian. Namun sebelum itu tergapai, Dian telah hilang dengan jendela yang terbuka.


"Dek!"pekik Ustadz Alfi yang sudah terduduk diranjangnya dan Merasakan badan terasa remuk semua.


"ini mimpi yaa"kecewanya didalam hati.


Namun ia sangat bersyukur. Ternyata masih berkesempatan bertemu di dalam mimpi. Bukankah ini sudah sangat cukup olehnya. Dirinya bahkan sadar jika selama ini melakukan hal yg dibenci oleh Allah yaitu meratapi jenazah. Ia terlalu bersedih dengan kepergian istrinya dan itu sangat berdosa sekali serta bagaimana seseorang yg meninggal itu akan tenang di alamnya jika masih di sedihkan saja? tentu tidak. Ustadz Alfi memulai hari dengan mencoba tersenyum seraya memandangi foto dian yang memakai pakaian pengantin.


"Suamimu ini sudah ikhlaskan kepergianmu dan membuka lembaran baru. Percayalah, kali ini aku benar benar melakukan janjiku dengan tindakan"

__ADS_1


"assalamualaikum dek"


"dan tidak ada kata wassalam tentang dirimu. Bagi mas kamu segalanya begitupula anak kita. Bismillah hari yang baru dan hati yang tetap ada untukmu, istriku."ucap ustadz Alfi.


Nampak hari sudah pagi, ustadz Alfi mengambil pakaian nya lalu segera mandi. Ciee dah mendingan, istiqamah selalu ya stadz. Walaupun tak bisa move on tapi sudah terbuka itu lebih baik wkwk


Sementara semuanya masih berbicara abstrak di ruang tamu. Hafsa termenung sedari malam dan sedikit pendiam. Hatinya rindu abi, hatinya sakit melihat abinya terbaring lemah saat terakhir ia melihat itu dan hatinya ingin pelukan. Ia sudah tak tahan lagi dan dengan tiba tiba...


"dor...dor...dor..."


Hafsa menggedor pintu kamar dengan lumayan kencang sampai membuat tangannya memerah. Tapi ia tak perduli lagi, hatinya bosan diginikan terus. Hafsa kecil lelah menunggu lagi.


"hafsa, jangan menggedor pintu nak. abimu lagi sakit."ucap umi shita dengan lembut. Hafsa tetap kekeuh mengetuk pintu kamar orangtuanya ini.


"abi teyual! Apca tau abi belpula pula. Tampai tapan abi taya dini teyus."


"Abi tuekin apca, udah ndak cayang aghi yaa hiks hiks"


"ABI...hiks hiks....danan campai apca benci cama abi hiks hiks..."


Semuanya terenyuh mendengarnya. Hafsa memang kuat tapi kesabarannya juga ada batas. Umi shita tidak sanggup untuk tahan tangisannya. Hah? Sampai kapan seperti ini, pikirnya.


"eundak bica. apca mau abi,utii...ini tatit huwaaa"kekeuh hafsa yang sudah berhenti menggedor namun tak berhenti menangis.


Bu mira dan umi shita serempak memeluk cucu mereka. Beribu kata kasihan terus dilanturkan dalam hati kepada hafsa. Seakan akan waktu begitu sangat kejam pada anak sekecil ini, pikir mereka.


Ustadz Alfi yang sudah mandi dan segar lagi fokus mendengarkan curahan hati anaknya. Tangisan hafsa tidak ada yang bisa mengehentikannya. Sebelum membuka pintu, ia memantapkan hati dan menghirup nafas lalu membuangnya perlahan. Hatinya tak sabar untuk melihat wajah sang anak namun tubuhnya gugup karena itu.


"ceklek"


Pintu terbuka membuat pandangan semuanya menjadi serempak menoleh kearah itu. Berdirilah Ustadz Alfi yang memakai baju koko bewarna merah maroon lengkap dengan kopyahnya. Jangan lupa wajahnya tersenyum hangat dan tampak fress menatap hafsa.


Hafsa yang melepas pelukan itu jadi melihat lurus yang tadinya pintu sekarang sepasang kaki didepannya. Ia pun perlahan lahan mendongak keatas untuk melihat siapa oramg didepannya.


Netranya menatap dalam ustadz Alfi. Benarkah ini abinya? Wahh apakah ini halusinasi saja. Terkaan dihati kecilnya sungguh bejibun kek harta punya sultan aja yang tak akan habis tujuh turunan. Ustadz Alfi membathin perih melihat mata sembab, hidung merah dan sisa air asin milik hafsa. Tapi tetap pasang wajah senyum terbaiknya.


"abi"panggil hafsa dengan mata berbinar namun menunduk kembali.

__ADS_1


Ustadz Alfi menyamakan tubuhnya dengan putrinya ini dan mengangkat sedikit dagu kecil nan imut itu. Mata cokelat milik hafsa akhirnya bersitatap dengan kekasih pertamanya yaitu abinya.


Pandangan Mereka terkunci dan memancarkan banyak kerinduan. Ah..mereka seperti sedang jatuh cinta. Semuanya terharu dengan perubahan ustadz Alfi dan terfokus pada interaksi keduanya.


"hafsa. Apakah sudah membenci abi sepenuhnya?"tanya ustadz Alfi.


"endak abii. Apca beyom bencii."jawab hafsa dengan suara serak sehabis nangis.


"syukurlah. Abi senang dengar itu."senyum ustadz Alfi.


"biii, macih tatit yaa? Maap dandu abii istiyahat"sesal hafsa.


"enggak. Penawar obatnya kan hafsa. Sekarang abi baik baik saja. Oiya jika tak salah, saat abi sakit. putri abi bukannya ikut juga. Bagaimana keadaanmu? Adukan mana yang sakit"ucap ustadz Alfi mengelus kepala anaknya.


Hafsa langsung loncat bak koala memeluk tubuh tegap dan menghangatkan dirinya yang tentu saja dibalas oleh ustadz Alfi. Abinya telah kembali, makasiih ya allah, pikirnya.


"apca cinta abii"seru hafsa didekapan itu.


"abi juga cinta hafsa"balas ustadz Alfi.


Mereka berpelukan lama dan mengurainya saat telah cukup. Mereka berdua sama sama tersenyum bahagia. Ustadz Alfi menggendong dan mencium wajah hafsa bertubi tubi.


"hahaha....ab..abii...hihi tutup."


"geyiii abii hihi"


"hafsa gemesin, sini abi tidak akan berhenti"


Ustadz Alfi tertawa bersama hafsa dengan gembiranya. Suasana rumah yang suram menjadi ceria kembali. Semuanya ikut bahagia melihat ustadz Alfi menerima semuanya dan akan menjalani hari hari berdua bersama putri manisnya ini.


Bersambung ....


🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒🐒


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa

__ADS_1


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘


__ADS_2