
Setelah kejadian kambuhnya Dian dan sikap manjanya saat itu, kini saat genap 1 minggu ustadz Alfi semakin merasa jauh dengan istrinya sendiri. Rasanya sangat tidak nyaman dan hatinya begitu sangat terperas habis.
Bagaimana tidak. Dian mendiamkannya sudah hampir seminggu. Apalagi perhatian yg hilang begitu saja dan bahkan tak ada rasa kesal di diri Dian. Ustadz Alfi menjadi tidak waras pula, ia lebih menginginkan di bentak oleh istrinya. Ia rela di bentak sebab Dian masih berinteraksi dengannya.
Seperti saat ini, wajah ustadz Alfi terlihat sangat galau dan berantakan begini. Duduk di sofa termenung dengan segala pikiran pikiran bercabang cabang. Dirinya sendiri menjadi tak menghiraukan sakit pinggangnya sebab tidur di sofa.
Dian keluar dari kamarnya sudah rapi menggunakan pakaian silatnya dan kerudung hitam senada. Ditangannya terdapat buku absensi, buku penilaian, dan jurnal kegiatan. Berjalan dengan melihat jam di tangannya. Namun ketika hendak berjalan mendekati pintu, ia pun balik lagi ke arah sofa.
"tumben"ucap dian seraya menatap heran orang di depannya.
Ia melihat ustadz Alfi yang biasanya bawel, ngeselin dan mengganggu dirinya sekarang menjadi mayat hidup yg bernyawa. Melamun nelangsa begini membuatnya melihat intens kearah laki laki itu.
"ekhem"dehem Dian.
Namun ustadz Alfi tetap termangu dengan kegiatan non faedahnya ini. Tapi apa mungkin ia sedang berdzikir, ia pun memilih untuk menunggu 15 menit.
5 menit…
10 menit…
15 menit…
"kamu lagi ngapain sih?"tanya Dian penasaran. Tatapannya pun mengikuti apa yang ditatap oleh ustadz Alfi.
"ngapain natap ke tembok pojok sana? Kamu liat apa, ada yg menarik dari sudut ruangan itu?"tanya Dian.
Namun ustadz Alfi tak mendengarnya sama sekali apalagi merespon. Ingat ia masih memanggil dengan lembut dan ia juga tidak sadar jika ada kamera di dekat mereka. Secara live di tonton seperti biasanya karena demi melihat perkembangan.
"Mas"panggil Dian seraya melambai tangannya di depan laki laki yg duduk di sofa. Nihil guys, gak dijawab. Ia kesal karna di cuekin.
"huff sabar sabar. Kendalikan emosi"ucap Dian mengipas ngipas dirinya dengan tangan kanan miliknya.
"mas"
"ustadz"
Begitulah panggilan Dian yg lama lama sudah tidak tertahan lagi emosinya. Sudah tahu dirinya sangat mudah tersulut emosi.
"Ish...haiii"ucap Dian kesal.
(semuanya terkekeh geli)
Ustadz Alfi tetap anteng dengan kegiatannya sendiri. Lihatlah Dian sudah sangat emosi dengan apa yg dilakukan ustadz Alfi. Ia sedang ada masalah dan dibuat emosi wah ini cari gara gara.
"baik….kau yg memilih"seru Dian yg sudah tidak sabaran dengan perilaku suaminya ini.
Dengan cepat, ketiga buku tebal itu langsung ia jatuhkan dengan keras di meja dengan berteriak demi menghalau lamunan Ustadz Alfi. sebenarnya tujuannya sangatlah baik, tapi tindakannya kurang tepat.
"ALFI YUSUF AL FAHRI"teriak Dian.
Sontak ustadz Alfi terkejut bukan main dengan suara itu. Di telinganya, terdengar seperti guntur yang menggelegar. Ia pun menatap tak percaya saat Dian di depannya bersedekap tangannya di dadanya dengan raut marah dan menatap dirinya tajam.
"dek gak sopan kayak gitu manggilnya"nasehat ustadz Alfi tanpa dosa.
"trus, mau dipanggil kakek !?"sungut Dian yg duduk dengan raut kesal dan cemberut seraya memalingkan pandangannya.
"ya...tidak juga."ucap ustadz Alfi yg membetulkan posisinya.
"oiya kamu kenapa sih sampai emosi begitu?"sambung ustadz Alfi.
"gara gara kamu"ngambek Dian.
"eh, Kok gara gara mas sih dek? Salahnya dimana?"tanya ustadz Alfi.
"dipanggil gak jawab dan malah melamun kayak gak ada kegiatan saja. Aku cuekin 1 tahun baru nyaho kamu"oceh Dian.
"jangan dong dek. Cukup 4 tahun lebih saja kamu jauh dan tak tergapai"curhat ustadz Alfi lesu.
"kamu tuh emangnya kenapa sih? Melamun seperti itu? Apa ada masalah?"tanya Dian bertubi tubi menatap khawatir orang yg berada di depannya. Hati Ustadz Alfi menjadi senang dengan itu lalu menatap Dian termenung lagi.
"huh gak jelas. Udah ah aku bete sama kamu, mending aku pergi aja"kesal Dian yg berdiri hendak meninggalkan tempatnya.
"eh, dek"sontak ustadz Alfi menarik Dian agar terduduk lagi. Ia melihat ekspresi tidak bersahabat lagi untuknya dari sang istri.
"sebenarnya aku merasa kamu menjauh lebih jauh lagi dek. Dirimu mendiamkanku terus. Apa mas ada salah?"ucap ustadz Alfi yg menghela nafasnya. Dian tertegun dengan itu.
"tidak, kamu gak salah apa apa. Aku hanya lelah, belakang ini lagi ada yg dipikirkan"jawab Dian menggenggam kedua jarinya dengan menunduk sendu. Sikapnya kembali dan dirinya mengadu kepada ustadz Alfi.
"kau ada masalah? Berbagilah denganku"ucap ustadz Alfi seraya tersenyum hangat. Dian pun menatapnya dengan tidak yakin seperti ragu untuk mengatakannya.
Ia berdiri dari duduknya lalu mendekat kearah ustadz Alfi. Menidurkan dirinya di bahu kekar laki laki di sampingnya seraya memejamkan matanya. Ustadz Alfi terkejut sekilas lalu memilih menidurkan Dian di pangkuannya.
"aku lelah"gumam Dian tetap terpejam.
"lelah kenapa?"tanya ustadz Alfi pelan pelan memijat kepala Dian hati hati. Karena takut bekas pasca operasi membuat istrinya kesakitan.
__ADS_1
Dian membuka matanya lalu beralih mengayunkan tangan kirinya hampir menyentuh lantai dengan wajah yg super bete banget.
"aku pernah curiga dengan anak didikku yg memiliki hubungan khusus"ucap Dian.
"mungkin mereka telah menikah dek"terka ustadz Alfi memahami kegalauan Dian.
"tapi mereka tidak ada keterangan telah menikah dari kedua orang tua kedua pihak. Aku merasa mereka sedang pacaran dan itu melanggar aturan."timpal Dian memainkan ujung hijabnya.
"loh kenapa gak dilarang atau sekedar ditegur"heran ustadz Alfi.
"ya aku tahu. Aku merasa tidak nyaman. Lagipula masa orang luar sepertiku berhak menghukum atau menegur mereka. Aku belum siap untuk di cemooh lagi"balas Dian.
Ia berkata seperti itu sebab memang kenyataannya begitu. Saat baru beberapa minggu tinggal, komandan agha menyuruhnya menjadi pembina dan ia melaksanakannya dengan baik. Namun semuanya mencemooh saat dirinya bertindak tegas seperti ikut campur aja urusan mereka.
Dian yg merasa tidak diterima oleh anak didiknya, memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat membuatnya telah nyaman. Dengan cepat dan cerdiknya, ia bisa mengelabui raka di pagar utama keluar.
flashback on….
"komandan"ucap raka tergesa gesa.
Komandan agha, gus agung, vira, caca dan para dokter cantik yang kebetulan sedang berbincang mendadak menoleh ke arah raka. Terlihat raka mengatur nafasnya
"ada apa kamu seperti itu raka?"tanya komandan Agha.
"anu… em..komandan.. Dian pergi"gugup raka.
"APA!?"pekik mereka tak percaya.
Intan dan melinda masuk dengan niat melaporkan sesuatu. Tetapi dikagetkan dengan pekikan tersebut. Mereka pun menjadi sangat khawatir tentang hal yg hendak dilaporkan ini apakah saling berkaitan.
"bagaimana bisa seperti itu raka? Dian masih punya penyakit mental."ucap vira panik.
"aku tidak tahu pasti. Aku yakin ada yg tidak beres disini"ucap raka melirik kedua gadis di belakangnya.
"benar itu kak. Semuanya mencemooh dan menggunjing kak Dian. Jadi mungkin itu yang membuat kak Dian kabur."terang intan dengan tanpa rasa gugup. Namun jantungnya seperti dentuman bom yg besar.
"sepertinya aku harus bertindak. Kalian segera temukan dimana pun. Kl perlu geledah kota aceh, aku takut Dian akan terlacak musuhnya dan itu bahaya"ucap komandan Agha yg segera mengumpulkan anak yg berani membuat Dian keluar dari pagar tinggi ini.
Sisanya mencari cari keluar pagar dan menyisakan intan berjaga di pos. Mereka tak perlu jauh jauh mencari. Sebab Dian ditemukan oleh bi Mur dekat jalan menuju keluar daerah pegunungan. Terlihat bi Mur sedang membujuk Dian.
"pulang ya non, disini berbahaya"rayu bi Mur.
"nggak mau! Mereka tidak terima akan datangnya aku. Jadi untuk apa harus kembali kesana lagi."kekeuh Dian yg sudah muncul kelakuan anak kecilnya terduduk memeluk kedua kakinya.
"non, ingat gak? kan dokter pernah cerita kalau di hutan banyak binatang buas. Nanti kalo digigit sama macan gimana non?"ucap bi Mur yg di angguki oleh mereka semuanya.
"ayo pulang yuk, nanti kita belajar buat kue. Bukannya yan yan suka kue"bujuk dokter marissa mengulurkan tangannya.
Dian terdiam. Ia seperti tertarik belajar buat kue padahalkan sudah jago dengan apapun resepnya. Dian menatap sekeliling lalu terfokus kepada dokter marissa.
"suka"singkat Dian.
"maunya kue apa?"tanya dokter marissa.
"bolu keju"senyum Dian yg sudah terpikat dengan tawaran dokter marissa.
"baiklah. Tapi kamu harus pulang dulu"ucap dokter marissa.
Dian mau diajak pulang dan membuat semuanya bernafas lega. Pagar terbuka semua orang menatap Dian yg tampang polos bersembunyi dibalik dokter marissa.
"kami minta maaf kak"serempak mereka semua selain intan dan melinda.
Suara yg ramai itu membuat Dian ketakutan dan menangis. Dokter marissa langsung mengajaknya masuk ke dalam agar tenang. Sedangkan semuanya merasa sangat bersalah. Komandan Agha sudah puas memarahi habis habisan dan memilih diam.
"jangan sampai memengaruhi mentalnya ya, kasihan Dian pernah mengalami peristiwa sangat buruk. Kl sudah kambuh akan sangat berbahaya bagi dirinya sendiri"ucap caca perlahan lahan.
Flashback off….
Semenjak saat itu mereka semua dihukum selama Dian tidak mau menjadi pembina lagi. Namun ketika Dian sudah sepenuhnya sadar dari penyakitnya, ia merasa tidak tega dengan hukuman itu dan menjalankan amanahnya.
"Sekarang mas ingin tanya, kamu mendidik mereka atas permintaan siapa?"tanya ustadz Alfi.
"komandan agha"singkat Dian.
"lalu apa yg ia katakan sebelum kamu menjadi pembina mereka?"tanya ustadz Alfi lagi.
"aku harus menjadi pelatih yg mendidik dan membimbing mereka supaya bisa sukses dengan berkelas. Komandan Agha juga bilang bahwa aku boleh menghukum mereka dengan caranya jika melanggar peraturan."jawab Dian.
"sudah ketahuan jika komandan agha menyuruhmu seperti itu. Kamu telah diamanahkan dek dan juga berhak menghukum mereka jika buat salah. Jangan takut untuk dicemooh sama anak didikmu. Jika mereka sudah ditegur dengan baik baik namun masih saja berbuat tidak sopan denganmu. Ya... serahkan saja, agar diadili dengan komandan agha"terang ustadz Alfi. Dian terduduk lalu seperti mengkhawatirkan sesuatu.
"jangan. Nanti bisa bisa dihukum dengan kejam lagi, ngeri tahu. Cuma terlihat murah senyum diluar tapi didalam komandan agha macan kumbang"ucap Dian tanpa dosa sehingga membuat ustadz Alfi terkekeh kecil.
"yasudah, lebih baik ditegur aja dan tanya kenapa mereka melanggar aturan. Sebelum itu, disidak langsung Semua selesai kan"saran ustadz Alfi.
"em..benar juga. Jika menunggu saat kontrol rutin komandan mereka pasti sudah terencana karena pasti. Jika nanti kan masih tergolong jauh dari hari seperti biasanya"ucap Dian sudah bersemangat lagi dan disertai senyuman.
__ADS_1
"terimakasih atas sarannya"ucap Dian dengan tulus.
"cuma gitu aja dek ucapan makasih nya. Mas gak dikasih hadiah?"ucap ustadz Alfi tersenyum manis sekali.
"jadi kamu gak ikhlas ngasih sarannya nih? Ck dasar"jawab Dian yg berdiri.
"aku ingin tidur berdua denganmu mulai malam ini. Boleh ya? Pinggangku sakit jika terus di sofa"bujuk ustadz Alfi dengan mata memelas. Dian pun meringis dengan tatapan aneh.
"tolak tidak enak, kan mas alfi telah membantuku. Seharusnya aku lebih menghargainya dan menuruti keinginannya"pikir Dian sembari berjalan ke arah dapur mengambil minuman untuk ustadz Alfi. Sebab terlihat sekali seperti lemas begitu.
"dek, boleh kan?"tanya ustadz Alfi.
"baiklah, iya boleh"jawab Dian yg membuat ustadz alfi tersenyum sumringah.
"alhamdulillah, akhirnya pinggangku benar benar tidak keropos. Shh, sakit juga seminggu tidur di sofa"ucap ustadz Alfi memijat pinggangnya sekilas.
Dian kembali membawa minuman jahe hangat dan meletakkannya di meja ruang tamu. Lebih tepatnya di depan ustadz Alfi. Laki laki itu langsung menerima minuman darinya.
"makasih dek"ucap ustadz Alfi yang mulai meminum minuman itu. Dian hanya mengangguk saja lalu berlalu ke kamar untuk mengambil pulpennya.
Tak lama dari itu, Intan dan Melinda memasuki pintu yang terbuka itu. Ia kira hanya ada Kakak pelatihnya yg biasanya mengisi jurnal kegiatan di ruang tamu sebelum mulai berlatih. Namun mereka melihat ustadz Alfi sedang meletakkan cangkir di meja.
"assalamualaikum"salam intan dan melinda.
"waalaikumsalam"jawab ustadz Alfi yang menoleh kearah mereka berdua.
Karena intan dan melinda termasuk fans ustadz Alfi, ketika di hadapannya nyata terlihat sosok yg dikagumi mereka dari sudut lebih dekat lagi. Wahh jiwa fansnya meronta ronta.
"masya allah gantengnya jodoh orang"bisik melinda dengan tersenyum senyum menatap ustadz Alfi.
"shut, jodohnya kakak pelatih kita bukan main yaa. Cocok sekali mereka berdua. Yang satu ganteng dan yg satu cantik. Bagaimana kira kira wujud anaknya? Hihi"bisik Intan yg sama seperti melinda terpesona.
Ustadz Alfi menggeleng kepalanya saja dan mengalihkan pandangannya lalu terfokus minum jahe hangat buatan istrinya. Ia yang terbiasa seperti itu hanya cuek bebek saja. Sedangkan Dian sudah menatap aneh kearah anak didiknya tersenyum senyum sendiri.
"bagus ya, pemandangannya indah banget. Lihat deh sampai seperti tersenyum sendiri begitu. belum netes aja tuh air liurnya neng"sindir Dian berhasil membuat Intan dan Melinda berhenti menatap ustadz Alfi.
"eh..kak, maaf"gugup mereka berdua.
"oh tidak masalah. Kan yg ditatap juga gak masalah, Malah kayaknya nyaman seperti itu"sindir Dian kembali. Ustadz Alfi menatap Dian dengan intens, ia tahu walau sikap cuek istrinya tentu saja tetap akan cemburu jika dirinya menjadi pusat perhatian.
"dek, mana mungkin mengusir tamu dengan alasan seperti itu"ucap ustadz Alfi yg perlahan lahan meminum kembali jahe hangatnya.
"okey deh. Kau sedang memilih kandidat untuk menjadi istrimu ya? Oh baiklah mereka punya sikap lebih baik dariku yg selalu membuatmu mengelus dadamu"cuek Dian.
Ustadz Alfi tersedak dengan ucapan itu. Sedangkan intan dan melinda menjadi merasa bersalah.
"kamu ini selalu berbicara seperti itu. Memangnya mau jika aku punya istri lagi?"tanya ustadz Alfi yg meletakkan cangkirnya.
"jika itu maumu lalu apakah ada hak untuk aku melarang. Untung di diriku loh demi menuruti permintaanmu menikah lagi aku dapat pahala. Lalu jika kamu gak adil terhadapku, kamu yg berdosa. Simple kan"santai Dian seraya tersenyum manis.
Senyuman itu memang manis tapi jika ustadz Alfi, intan dan melinda yg melihat sangat menakutkan sekali. Mereka bertiga seperti di sidak dengan warga karena kasus perselingkuhan.
Intan dan melinda menjadi serba salah. Ingin keluar tapi takut trus kl tetap disini harus menyaksikan perang dingin antara pasutri di depannya. Ustadz Alfi selalu tertampar dengan ucapan istrinya dan ia dengan cepat mendudukkan Dian dipangkuannya.
"untuk apa aku menikah lagi. Sedangkan istri dirumah menanti dengan wajah yg berseri dan menawan begini. Mas tidak mau melepaskanmu lalu memilih wanita lain"senyum miring ustadz Alfi yg mendekatkan dirinya menjadi lebih dekat lagi dengan Dian. Ia tak peduli lagi dengan wajah bersemu merah dari istrinya dan kedua gadis belum menikah alias jomblo hampir terlonjak kaget akibat tindakannya.
"kau...lepaskan aku."berontak Dian seraya memundurkan wajahnya yg dekat dengan wajah suaminya.
"tidak semudah itu. Aku mau meminta hadiah ku"ucap ustadz Alfi yg memeluk istrinya lebih erat lagi.
Dian membelalakkan matanya merasakan kecupan itu. Sedangkan Intan dan Melinda berbalik mengambil ancang ancang ingin berlari. (yg menonton hanya beristighfar saja. Beruntung tidak ada anak anak yg melihat.)
"assalamualaikum kak. Ditunggu ya buat latihannya."ucap Intan.
"habiskan waktumu dengan ustadz dulu. Kami akan menunggu beberapa menit lagi"timpal Melinda. Mereka berdua melesat kencang pergi dari tempat itu.
"jaga mulutmu dek. Kl tidak aku akan menghukummu."ucap ustadz Alfi tersenyum penuh arti yg mendudukkan Dian di sofa lalu mengambil cangkir kosong ke dapur dengan santainya.
"akh aku kecolongan… dasar ustadz mesum"pekik Dian yg segera mengambil 3 buku dan pulpen.
Lalu keluar tergesa gesa dengan wajahnya yang merona. Bahkan ia lupa mengucap salam. Ustadz Alfi di dapur tertawa puas seraya mengambil sapu dan membersihkan lantai.
"membuat merona check"ucap ustadz Alfi.
Perlu di garis bawahi ya, sebenarnya ini tidak ada di dalam proposal yg diberikan oleh dokter marissa. Itu hanya akal akalannya si ustadz saja.
Bersambung…
🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢
Hallo permirswah, gimana epsnya neh?
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,
__ADS_1
Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘