
Jam terus berputar dengan teratur sampai tak sadar sudah berada di titik paling malam yakni jam 12 tepat tengah malam. Suasana mulai sepi dari aktivitas orang dan mungkin telah masuk ke dalam alam mimpi demi menyambut esok hari.
Ets, tapi tidak termasuk Ustadz Alfi dan Azzam. Mereka berdua dalam keadaan bingung seperti orang tak tahu arah lebih tepatnya memang agaknya tersesat. Sudah lebih dari beberapa jam dan setiap adzan maghrib sampai isya harus berhenti dulu mencari masjid atau mushola terdekat namun masih saja belum sampai di tempat tujuan.
"em.. Bang, ini beneran jalannya ?"tanya ustadz Alfi ragu. Ia duduk disebelah azzam yg sedang mengemudi.
Mobil diberhentikan sebentar. Terlihat pepohonan rindang dijalan yg sepi dan jalan yg sudah tak beraspal lagi. Cahaya lampu mobil menyinari jalanan didepannya namun tak sampai tembus diujung jalan sana. Azzam tampak bolak balik melihat sekeliling serta sesekali melihat maps dimobilnya untuk memastikan.
"aku gak tau juga al. Tapi menurut dari alamat yg di sharelock darimu itu sudah sesuai."sahut Azzam menatap kearah Ustadz Alfi yg bingung.
Ustadz Alfi merasa tidak paham dengan semua ini. Rasanya sangat curiga jika untuk membicarakan acara nanti pagi harus ketempat seperti ini. Di bogor dan hutan belantara ini. Tapi berkali kali ia selalu ucap istighfar agar tak berpraduga yg tidak tidak. Sungguh niatnya setulus hati dan sebening mutiara.
"lalu apa yg harus kita lakukan zam? Ini sudah sangat sangat malam dan hampir dini hari. Hafsa pasti sudah tidur"ucap Ustadz Alfi seraya memijat kening dan melihat arah depannya.
"kita mungkin ikuti terus petunjuknya karena menurut maps ini. Tempat yg dituju tinggal 15 menit lagi"seru Azzam yg menyalakan mobil tersebut lalu mengemudikannya terua hingga akhir perjalanan panjng mereka dari rumah. Ustadz Alfi hanya mengangguk setuju.
Beberapa saat kemudian…
Ustadz Alfi dan Azzam sama sama terbelalak (terbuka lebar) matanya horor menatap apa yg mereka lihat didepan sana. Lalu serempak menoleh dan saling menatap.
Maps berhenti tepat di tempat tujuan. Berhenti di sebuah rumah yg sudah terbilang tak terawat lama. Akar merambat di tembok dan tiang penyangga rumah itu. Suasana semakin komplit menyeramkan sebab lonceng bel rumah tersebut bergerak menari mengikuti irama angin yang berhembus perlahan lahan.
Rumah kosong. Tentu rumah yg sudah pasti banyak orang hindari sebab berbagai alasan. Termasuk tidak mungkin ada yg berani mengadakan ketemuan ditempat seperti itu. Sungguh menyeramkan jika harus masuk kedalam.
"loh, in..ini kenapa disini?"tanya azzam yang menggaruk kepalanya tak gatal dan tersenyum kikuk.
"al gimana sih alamat itu"keluh azzam. Namun sahabatnya ini tak meresponnya.
"al"panggil Azzam sekali lagi.
"eh..iya. keknya kita dikerjain"sahut Ustadz Alfi yg terbebas dari diamnya.
"yah kok dikerjain sih al. Kamu seharusnya nolak aja seperti biasanya."kesal Azzam.
"ya tapi kan gak boleh gitu zam"balas Ustadz Alfi.
__ADS_1
"iya deh al. Kamu ini terlalu baik sama orang lain padahal sudah sering kita seperti ini. Cumaaa… ini keterlaluan"ucap Azzam yg menekankan kata 'cuma' di ucapannya.
Ustadz Alfi terdiam. Memang ada sedikit rasa kesal namun ia tak boleh begini juga. Dakwah itu suci tak boleh dinodai oleh rasa kesal akibat tak jadinya kesempatan berdakwah itu. Tiba tiba, ia merasakan sesuatu di dalam dirinya.
"ya allah kenapa aku punya firasat yg buruk dan kenapa wajah hafsa terus terlintas dibenakku?"bathin Ustadz Alfi memegang erat pegangan di pintu mobil yg biasa untuk membuka.
"al, kau merasakan hal yg sama"terka Azzam yg menoleh kepada sahabatnya ini yg tampak bertanya tanya akannya
"maksudmu zam?"bingung Ustadz Alfi.
"aku merasakan firasat yg buruk tentang hafsa"jawab Azzam yang datar menatap stir mobil didepannya.
"zam sepertinya kita harus segera pulang. Sekarang juga"ucap Ustadz Alfi gelisah bukan main.
"iya"singkat Azzam menanggapi lalu segera memutar kemudi meninggalkan perkarangan rumah kosong tersebut. Bagi mereka berdua hati merasa gelisah sebab firasat tentang hafsa bukan rasa takut akan keangkeran rumah tersebut.
🍂🍂🍂
Sementara itu…
Hafsa tiba tiba terbangun dari tidurnya dan melihat sekeliling berharap abinya telah pulang dari perginya. Rasanya sedikit kecewa sendirian tidur di rumah seluas ini.
Jarum jam menunjukkan pukul 1 dini hari. Hafsa melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Namun ia mendengar suara keributan diluar rumahnya. Seperti langkah kaki beberapa orang memasuki halaman rumahnya.
"em, siapa sih malam malam begini datang? Kok bertamu gak tahu waktu. Gak tahu tata krama mungkin yah."polos Hafsa yg menerka nerka.
Hafsa yg dibalutkan rasa penasarannya itu sudah tak terbendung lagi. Ia melangkahkan kakinya untuk membuka pintu tapi pintu itu sudah terbuka lebar menampakkan 2 orang laki laki berpakaian hitam menghampirinya.
"haii cantik"ucap salah satu laki laki didepannya.
"om siapa ?"tanya Hafsa yang perlahan bergerak mundur dengan rasa takut. Ia merasa sangat risih ditatap laki laki yg bukan abinya sebab saat ini rambut panjangnya tergerai tanpa penutup.
"ayo ikut om"ucap laki laki tersebut.
"gak mau. Om ini siapa dan dimana abi?"tanya Hafsa.
__ADS_1
"harus ikut sayang. Kita akan pergi melihat nanti"ucap laki laki tersebut.
Hafsa berlari menjauhi kedua laki laki yg tiba tiba sekali masuk ke dalam rumahnya. Larinya tidak bisa cepat karena keadaannya saat ini baru bangun tidur. Dengan begitu mudah Hafsa tertangkap.
"lepasin"
"iih lepasin om"
"lepas"
"lepasin"
"abiii, tolong"
Begitulah yg terdengar dari mulut kecil Hafsa yg memberontak ingin dilepaskan. Kedua tangannya digenggam oleh laki laki yang rupanya adalah anak buah dari seseorang.
Pintu terbuka. Hafsa terus berontak ingin dilepaskan. Tapi teriakannya terhenti sebab melihat abinya baru saja datang dan menutup pagar.
"ada apa ini?"tanya Ustadz Alfi yang baru saja sampai di rumah terkejut bukan main. Bagaimana tidak terkejut ia melihat semuanya diluar dengan masih menggunakan pakaian no formal. Em..lebih tepatnya seakan akan mereka di sergap polisi.
"akhirnya nemu jalan pulang juga yaa ?"ucap seseorang yg menjadi pemimpin dari 25 orang berpakaian hitam.
"siapa kalian sebenarnya?"tanya Ustadz Alfi kembali.
"apa perlu dijelaskan lagi? Sepertinya, tentu saja perlu tempat mengobrol santai. bukan begitu suaminya mantan tunanganku"senyum sok ramah dari laki laki yg terduduk santai di ayunan.
"kau..jadi kau rendi"celetuk Ayah Ahmad. Semua menatap kearahnya bahkan Ustadz Alfi juga. Dialah Rendi. Yang mengecewakan putri sulungnya dan mempermalukan keluarganya.
Bersambung…
🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢
Hallo permirswah, gimana epsnya neh?
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
__ADS_1
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,
Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘