
Ustadz Alfi belum kunjung sadarkan diri sedangkan hafsa sudah sembuh. Malam ini adalah malam ke 7 jadi mereka juga harus siap siap untuk mendoakan almarhumah. Tahlilal kali ini di pimpin oleh kakek ilham. Beliau baru bisa datang pada malam ini karena ada urusan yang mengharuskan ia ke mesir. Perusahaan milik cucu laki lakinya ini bermasalah namun tak diberitahukan sebab tak ingin menambah beban pikirannya lagi.
Kakek ilham bersama teuku dijemput oleh faqih ke bandara tadi sehabis magrib. Teuku turut berduka cita akan kepergian dari istri ustadznya ini. Sungguh terkejut mendengarnya tapi ia tak berdaya dengan urusan perusahaan di mesir sedang kacau saat itu. Baru selesai kemarin dengan dibantu kakek ilham.
Kini kakek ilham sedang berada di dalam kamar ustadz Alfi. Cucunya sakit dan ia sangat khawatir akan itu. Pandangannya mengedar kepenjuru kamar dan melihat bahwa foto pernikahan cucunya masih ditempat seperti biasanya. Teringat bahwa mendiang sahabatnya berpesan untuk menjaga cucu kesayangan tapi kekuatan kakek ilham yang mempunyai beberapa pengawal kalah cepat.
"ilham, aku bersyukur akhirnya sebentar lagi kita menjadi keluarga dan berharap ketika cucumu menikah dengan cucuku kau menggantikan aku melindunginya yaa"pesan mbah dahlan sebelum pergi untuk selamanya.
"dahlan, aku gagal melindunginya. Apa yang akan aku bertanggung jawabkan jika suatu saat nanti ajal berganti datang padaku? Aku sungguh bersalah karena terlambat mengetahui niat busuk wanita itu. Maafkan aku"
Suara hati kakek ilham seraya masih menatap foto yang penuh kebahagiaan antara sepasang insan sah menjadi suami istri 2 tahun lalu. Air mata mengalir di pipi yang mulai keriput dan termakan usia. Walau pun begitu wajahnya masih tampan saat usianya masuk kepala 7.
Setiap kepergian manusia menghadap sang pencipta itu sebagai pengingat bahwa manusia tak akan lepas dari yang namanya maut atau ajal.
"uyut tenapa nanyis?"tanya hafsa yang tiba tiba sudah berada di depannya
Tentu membuat kakek ilham terkejut akan kedatangan cicitnya ini. Ia bersyukur dengan kesehatan yang diberikan oleh Allah berkesempatan melihat cicit cicitnya. Ini kebahagiaan yang sangat luar biasa. Beliau nampak menghapus air matanya degan kain dari dalam kantung celana bahannya.
"ah,,,buyut tidak nangis nak"kilah kakek ilham.
"tayo ditu tenapa teyual ail matana? Uyut boong yaa. Allah ndak tuta nantii cama uyut"ucap hafsa mengerjap polos seraya mendongak karena buyut memiliki tinggi yg sangat jauh darinya.
"Allah jadi tidak suka sama buyut? Lho, Kenapa nak?"heran kakek ilham yang menyamakan tingginya dengan sang cicit lalu berpura pura berpikir.
"allah ndak tuta tayo belbohong. Entay beldosa"jawab hafsa dengan cepat.
"pintar sekali cicit buyut ini. Siapa yang ajarin sih?"seru kakek ilham seraya tersenyum.
"iya dong, tan anakna umi cama abi hehe"balas hafsa cengengesan.
"selalu diingat ya ajaran abi sama umi. Nak hafsa harus bisa menjadi anak baik dan pintar. Oiya tadi kamu belum mengucap salam saat masuk, ayo ulangi lagi nak."ucap kakek ilham dengan ucapan lembut. Sebab jika anak kecil dibentak atau dimarahi walau tujuan mendidik akan tidak diterima oleh otak motoriknya.
Hafsa kecil menuruti perintah sang buyut. Jalannya masih terbilang kaku. Kakek ilham hanya memerhatikan gerak gerik cicitnya. Lucu sekali hafsa memakai hijab syar'i milik uminya yang berwarna cokelat.
"uh lucu sekali anak ustadz Alfi"
"hafsa hati hati nanti jatuh, sini sama aunty"
"ah gemas, pengen cubit pipinya itu"
Begitulah ucapan semua tetangga yang sebagian membantu merapikan rumah milik ustadznya. Mereka membantu dari hari pertama dan sampai saat ini. Jadi dian memakai sesuai adat kejawen yakni acara selametan orang meninggal harus 7 malam berturut turut. Itupun tak membuat keluarga ustadz alfi menolak dan malah menyetujuinya.
"tok....tok...."
"accalamuayaitum uyut"salam hafsa setelah menutup kamar abinya itu.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh"sahut kakek ilham seraya membukakan pintu.
__ADS_1
"em..maap uyut tadi apca maen macuk aja."ucap hafsa yang menunduk.
Karena ia salah dengan tindakan yang menurut ajaran umi atau abinya itu kurang sopan. Tadi ia membuka pintu dengan kepayahan dan memunculkan kepala kecilnya kedalam kamar melihat abinya sudah sadar atau belum. Eh malah melihat buyutnya menangis dalam diam.
"iya buyut maafkan. Lain kali jangan diulangi lagi ya nak"peringat kakek ilham yang mengelus pucuk kepala cicitnya.
Hafsa mendongak dan tersenyum manis lalu ke kamarnya yang disana ada baby zaki sedang ingin diajak main. Sejujurnya tadi ia tinggal begitu saja wkwk sembrono kamu hafsa. Bagaimana kl zakinya jatuh. Nyatanya zaki malah asyik main boneka shaun the sheep miliknya.
"didik danan matanin bonetana. Nantii tatit muyutna"pekik lucu hafsa saat sudah di depan kamar
Zaki mendengar omelan kakak hafsa yang cantik punyanya itu dan kepergok gigitin boneka hanya bisa tertawa seraya menampilkan deretan tempat giginya yang belum terisi satupun.
"adduh...tamu ndak bica ata' apca tindal bental yaa"oceh hafsa seperti seorang kakak yang lagi ngedumel akibat kecerobohannya sendiri meninggalkan zaki.
Semuanya yang mendengar itu menjadi terkekeh kecil sedangkan kakek ilham hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dan mendengar ocehan cicitnya. Zaki melepas boneka itu dan menjauhkannya kesamping sambil menatap hafsa dengan menggerakkan kaki serta tangannya seperti tanpa dosa. Oh ya ampun zaki...zaki.
"huwee..oek..oek.."
tak lama zaki menangis rewel tiba tiba. Hafsa yang mengelap tangan dengan kain khusus milik zaki langsung menepuk nepuk pelan dan mengusap lembut paha baby itu. Lalu meletakkan jari telunjuknya hati hati di dekat pipi zaki dan ternyata....
"oh tamu penen mimik cucu yaa"ucap hafsa seraya segera menggendong zaki dengan hati hati keluar dari kamar. What? Hafsa kuat banget.
"ANTY!"panggil hafsa.
"didik pinin mimik cucu, muntin didik mau tidul"sambung hafsa.
"sayang, nanti zakinya jatuh nak"ucap rida yang ngeri ngeri sedap melihat itu.
Dan emang dasar yang digendong pertama kali oleh kakaknya yah si zaki malah terpekik senang akibat efek sempoyongan itu. Bener bener adik gak ada akhlaknya dah. Itupun lagi lagi membuat tawa yang lama hilang jadi muncul kembali karena keduanya.
"didik diam nanti tita datuh"ucap hafsa yang semakin sempoyongan. Umay yang melihat itu langsung mengangkat zaki namun lupa dengan keponakannya.
"bruk"
"adduh antat apca atit"pekik hafsa yang terlupakan lalu pantatnya mencium lantai.
"astagfirullah. Hafsa sayang, kamu gak apa apa kan?"kikuk umay.
"ndak apa apa dimana ciih om. Tatit ini om, tatit tauu"oceh hafsa seraya bangun dan mengelus area belakangnya yang masih pedas setelah dicium lantai.
"hehe maaf ya. Om lupa"ucap umay cengengesan seraya menggaruk tengkuknya tak gatal.
"hmph"cuek Hafsa. Ia hanya cemberut lalu beralih kembali ke kamar untuk membereskan mainannya. Umay hanya menghela nafasnya lagi, sungguh hafsa punya sifat duplikat dari adik sepupunya waktu kecil.
"hmm...bener bener mirip banget sama almarhum uminya. Pasti nanti ngambek dan cuekin omnya ini. Nasib nasib"keluh umay.
"hehe sabar ya kak"ucap dayu yang menambah wajah umay tertekuk lebih dalam dan mengkerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"hahahahaha"semuanya serempak tertawa pecah dan mengisi kekosongan rumah yang telah hampir seminggu ini tanpa canda tawa.
***
Sementara dengan ustadz alfi....
Ia berada di sebuah kamar yang tentunya sangat familiar sekali yaitu kamarnya ini. Namun nuansanya berbeda sekali. Bagaimana tidak, isi kamarnya masih sama tapi tidak ada foto foto. Lebih tepatnya tak ada foto pernikahannya, ini aneh.
Ustadz Alfi nampak terduduk di kursi yang berhadapan dengan pintu dekat ranjangnya. Suasana sangat sepi, Jendela tertutup rapat, lampu menyala terang, dan pintu yang tertutup. Ditangannya ada tasbih pemberian dian ketika ingin dilepas atau bergerak maka tak akan bisa terpisah dengan tangannya. Jika seperti ini pasti saat ia termenung dan bersedih mengingat bayang bayang dian bersamanya.
Berputarlah kejadian kejadian saat pertama kali berada di rumah ini. Terdiri dari sehabis akad, makan berdua, tidur siang pertama, shalat berjamaah dan seterusnya. Pelukan, bercanda, menenangkan dian menangis gara gara kejutan ultah, belajar mengaji, hamil, menggendong hafsa dan menemani dian menidurkan anak mereka semua ikut terputar.
"mas kamu cinta aku gak?"
"tentu saja. Aku mencintaimu dek. Sepenuh hati"
"aku juga mencintaimu ustadzku. Oiya cintamu ini apakah akan selamanya?"
"jelas lah dek. Kamu adalah jodoh yang diberikan oleh Allah. Maka insyaallah dihatiku hanya ada dirimu dek. Apakah kau meragukanku?"
"tidak, aku tidak meragukan cintamu. Semoga cinta kita tetap ada ya mas. Sampai kita punya cicit"
"iya aamin"
"seandainya jika aku pergi ninggalin kamu selamanya, apakah kau juga tetap mencintaiku? Maksudku maukah kau berjanji menjaga anak kita dan memberinya kasih sayang seorang umi sekaligus abinya?"
"kamu ngomongin ini terus dari semalam. Dek mas mohon..."
"mas aku gak butuh penolakan Tapi butuh kesanggupanmu. Kamu janjikan mas sama yan yan seperti semalam?"
"iya dek. Mas janji"
Begitulah percakapan terakhir banget saat pagi hari setelah shalat tahajjud bersama. Dian saat itu terlihat memakai mukenanya dengan menyenderkan kepalanya dibahu ustadz Alfi yang kemudian merengkuh dan memberikan pelukan. Lama terbengongkan oleh apa yang ia lihat, tiba tiba ada suara yang mengagetkannya.
"mas"
duaaar...
Deg, jantungnya berdetak begitu cepat
Bersambung....
π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’
Hallo permirswah, gimana epsnya neh?
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
__ADS_1
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,
Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. SayangΒ²nya akyuu.... Mwuach π