
Dian kembali berjalan lagi bersama dengan yang lainnya. Netranya melihat vas bunga dengan berbagai macam warna dipajang rapi dan terawat. Ia berjalan menghampiri sekilas lalu antusias menatap salah satu bunga berwarna putih.
"nanti aku mau mengoleksi bunga seperti ini. Sudah lama rasanya tidak merawat tanaman."ucap Dian yang membuat semuanya tersenyum kecil akibatnya.
"tentu saja kak, nanti tinggal minta sama Komandan Agha. Pasti di kasihlah"timpal Melinda.
"benar itu kak, lagipula kakak sudah dianggap adik oleh Komandan Agha"sambung Intan.
"ah tidak enak, aku sudah merepotkan Komandan Agha selama ini"Dian menggeleng tak setuju dengan ucapan Intan maupun Melinda.
"lalu ?"tanya Intan dan Melinda serempak.
"aku mau mas Alfi yang membelinya, ya mas. Kamu mau kan mas?"Dian menatap Ustadz Alfi dengan pandangan andalan, Puppy eyes.
"iya mas belikan."Ustadz Alfi membuat Dian merasa senang bukan main. Ia mendekat ke arah suaminya dan menjulurkan jari kelingkingnya. Semuanya di belakang mendadak memelankan langkah sampai berhenti.
"janji?"Dian menghentikan langkah Ustadz Alfi. Laki laki di depannya sedikit menunduk melihatnya.
"Insyaa Allah dek"balas Ustadz Alfi yang hampir saja meraih uluran itu.
"iih kok Insyaa Allah sih mas"protes Dian mencebik.
"loh, kan harus seperti itu dek. Karena manusia hanya bisa berencana tapi jika Allah menghendaki tidak sesuai dengan rencana kita maka kita dianjurkan harus berucap seperti itu dek."Jelas Ustadz Alfi.
"iya aku tahu. Tapi aku butuh kejelasan mas. Kl aku tiba tiba sakit atau kita tidak bisa bersama lagi gimana."Dian menatap serius dan dalam menyelami lautan mata coklat milik Ustadz Alfi.
"huss, gak boleh ngomong kayak gitu"tegur Ustadz Alfi.
"kan aku hanya seandainya loh mas. Ayo dong janji yaa,yaa, yaa mas"rengek Dian.
"em baiklah baiklah mas janji."Ustadz Alfi membuat Dian tersenyum senang.
Tingkah laku Dian dilihat oleh semuanya, dan mereka merasa ada sesuatu di diri wanita beranak satu itu. Bahkan Hafsa sampai berpikir keras untuk menemukan kenapa Uminya bertingkah seperti dirinya yang hendak ingin sesuatu saat berusia 2 tahun. Namun tak menemukan ujungnya.
Semuanya berjalan kembali dan dengan suasana hening. Mereka fokus dengan tujuan akhir yakni menemukan jalan keluar dari mansion besar milik Rendi ini. Sementara Ustadz Alfi, ia menjadi kepikiran dengan ucapan Dian tadi. Tapi yang lebih mendominasi itu ialah dendam dan persyaratan Rendi yang masih tanda tanya dalam pikirannya.
"dek"panggil Ustadz Alfi dan ia menyamakan langkahnya dengan Dian.
__ADS_1
"ya mas?"sahut Dian menatap suaminya penuh tanda tanya.
"soal Rendi, bukankah kamu sudah menjelaskan jika tidak ada sangkut pautnya dengan kematian almarhumah istrinya. Lalu kenapa kamu menerima tuduhannya dek ?"Tanya Ustadz Alfi to the point. Karena mulutnya sudah gatal ingin bertanya sejak tadi.
"em, aku tak pernah melakukan itu mas. Percayalah padaku. Jika iya, aku akan tanggung jawab sejak lama. Tapi aku memang tak bersalah dalam kasus ini. Walaupun begitu aku harus masuk penjara"Sendu Dian.
"apa maksudmu?"Kaget Ustadz Alfi.
"Rendi tidak akan puas jika tidak seperti itu. Makanya aku harus tetap masuk penjara. Tenanglah mas, aku sudah punya bukti yang kuat."ucap Dian.
"walau kau menang dan berhasil menyelamatkan kami?"Tanya Ustadz Alfi. Kerutan di keningnya sangat jelas bahkan matanya menyipit seakan menandakan tidak setuju.
"iya mas"cicit Dian. Ustadz Alfi langsung saja melayangkan ucapan tak setuju dengan itu.
"dek, mas tidak setuju. Ini tidak adil bagimu. Tolong pikirkan lagi keputusanmu itu."Tegas Ustadz Alfi.
"Maaf mas, aku tidak meminta keputusanmu dulu. Selama ini apapun masalahnya pasti aku juga menimbangnya. Jika kamu tak setuju, maka aku tidak melakukannya. Tapi Maaf sekali lagi untuk kali ini terpaksa aku tak bisa menerima pendapatmu. Mas, Nessa dan Bang Teuku yg akan membebaskan aku nanti."Jelas Dian. Ia sedikit menurunkan nada ucapannya agar suaminya dapat mengerti akan keputusannya.
"huff"
"baiklah, mas setuju. Tapi hanya 1 hari saja."ucap Ustadz Alfi kemudian.
"mana bisa cuma satu hari mas. Itu seperti menumpang makan dan minum di penjara. Ayolah mas, bang Teuku dan Nessa juga butuh waktu membebaskanku"bujuk Dian kembali.
"haish dek. Itupun satu hari mas sangat berat."kesal Ustadz Alfi.
"em, bagaimana jika 1 minggu mas"tanya Dian.
"tidak, mas tidak setuju"
"5 hari ya mas"
"masya Allah adek, mas tetap tidak setuju"
Semuanya mendadak menyaksikan perdebatan antara pasangan suami istri tersebut. Ustadz Alfi yang kekeh dengan pilihannya dan Dian yang kekeh dengan keputusannya. Jika mereka sudah berdebat seperti ini, pilihan untuk mengelus dada masing masing adalah tepat. Soalnya gak akan berhenti kl salah satu dari mereka tidak mengalah.
"5 hari itu juga minimal mas, masa gak setuju sih"Dian mendadak hampir menyerah dengan kekehnya Ustadz Alfi menolak keputusannya.
__ADS_1
"2 hari. Kamu hanya punya 2 hari saja dan tak ada lagi penolakan. Mas gak mau dibantah"Final keputusan Ustadz Alfi.
"iya baiklah mas"pasrah Dian.
Dian akhirnya setuju dengan keputusan Ustadz Alfi. Ia sangat tahu ketegasan suaminya. Jika berkata a harus a seperti dirinya yang selalu kekeh dengan keputusan yang telah terucap atau yang telah dilakukan. Bukankah jodoh cerminan dirinya. Tapi secara diingat ingat ulang, suaminya selalu menuruti kemauannya kecuali bertentangan dengan pemikirannya.
Semuanya berjalan dengan sesekali melihat pekarangan yang luas ini. Dian sempat berpikir secara keras memutuskan jalan mana yang mengarah ke pintu gerbang. Tadi sih sebelum benar benar pergi dokter angelica membisikkan sesuatu di telinganya. Membantunya untuk menemukan jalan ke gerbang depan.
Setelah jalan beberapa menit, akhirnya mereka semuanya sampailah di gerbang yang sudah terlihat mobil berjejer dengan sangat rapi. Terdapat om Darman, om Irjan & om Fajri dengan anak anak yang diawasinya menyambut rombongan yang dipimpin Dian. Mereka yang identik dengan pakaian loreng menyambut dengan senyuman ramah.
"Alhamdulillah, sudah berhasil. Nak tentu hatimu sangatlah gembira sekarang"ucap om Darman.
"alhamdulillah juga, benar sekali om"ucap Dian yang bahkan tersenyum sangat melegakan.
Om Darman ikut lega lalu beralih melihat ke arah laki laki yang sepertinya seumuran dengannya. Memakai celana bahan dan baju koko yang sederhana. Ialah Ayah Ahmad. Sedangkan yg dilihat juga melihat lalu mereka saling jabat tangan.
"sepertinya kamu seumuran dengan saya"ucap om Darman yang diangguki oleh Ayah Ahmad.
"betul. Kl begitu panggil saja dengan sebutan nama."Ayah Ahmad kemudian menyebutkan namanya yang disusul om Darman menyebutkan namanya juga.
"Ahmad"
"Darman"
Keduanya saling tersenyum dan beramah tamah. Begitupun dengan semuanya yang ikut berkenalan saat pertemuan untuk yang pertama kalinya. Tak lama munculnya komandan Agha dengan beberapa orang di belakangnya.
bersambung…
🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢
Hallo permirswah, gimana epsnya neh?
Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa
Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,
Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘
__ADS_1