Menikahi Ustadz Idolaku

Menikahi Ustadz Idolaku
MUI : Pesan terakhir Dian


__ADS_3

Semuanya termasuk ustadz Alfi merasa penasaran dengan ucapan azzam. Ucapannya begitu membuat hati tergelitik untuk lebih tahu.


"apakah kau tahu sesuatu zam?"tanya ustadz Alfi.


"em...sesuai ingatanku saja. Karena aku juga sedikit lupa dengan apa yang terjadi."ucap azzam.


"ceritalah zam, jangan membuat kami penasaran."tuntut umay yang diangguki oleh semuanya.


"waktu itu...."ucap azzam mulai menceritakannya dan diperhatikan serius oleh semuanya.


Flasback on....


"aku harus mencari kemana lagi. Di kediri tidak ada dan di sekitarnya juga tidak ada."ucap azzam fokus mengedarai mobil kearah jalur menuju jakarta.


Hari sudah siang dibarengi adzan dzuhur yang berkumandang. Ia memutuskan keluar dari tol dan mampir ke rest area. Tak terasa sudah tembus ke nganjuk pencariannya. Mobil miliknya dihentikan dan segera melakukan sholat.


Setelah selesai, azzam kembali kearah mobil. Lalu melanjutkan perjalanan lagi. Jujur sudah sangat lelah dan menyerah untuk mencari manual. Ke jakarta adalah niatnya untuk mengambil alat pelacak milik faqih. Awal awal perjalanan seperti biasa saja namun ia heran kenapa semakin jauh dari jalan raya.


"loh koq kesini? Tunggu, ini hutan"heran azzam


Ia menghentikan mobilnya dan berhenti tepat di jalan tanah yang buntu akan pohon pohon besar. Daerah sekitar sangat sepi dan tak ada tanda bahwa seseorang melewatinya.


"perasaan aku sudah mengatur map dengan benar tapi koq arahnya salah?"bingung azzam


Ia kelihatan kebingungan sekali seraya mengkerutkan keningnya dan menggaruk rambut yang terasa gatal tiba tiba. Kopyahnya pun sudah tak benar diatas kepala.


"ck...mana bensin pakai habis lagi. Astagfirullah"decak azzam seraya melepas seat belt dan membuka pintu mobilnya lalu memilih berjalan.


Sudah berputar putar dari letaknya bahkan tak menemukan sesosok pun manusia. Yang ada hanya pohon besar dan berdiri kokoh walau sudah tua.


"hmm, ikhlas deh kl tersesat dan terdampar kayak gini. Siapa tahu bisa menemukan dian disini. Apakah bumil itu sudah makan?"ucap azzam yang lagi lagi hanya berbicara sendiri.


"kau ingin menemui wanita itu?"suara yang datang tiba tiba mengagetkan azzam.


"kalian siapa?"tanya azzam yang memandang 20 orang yang mengelilinginya.


"kau tidak perlu tahu kami siapa. Bukankah kau mau wanita itu? Aku bisa mengabulkannya."ucap pria bertubuh kekar didepannya.


"jadi kau yang menculiknya. Dasar pengecut, kalian menculiknya saat dian sedang hamil."emosi azzam terpancing.


"iya. Wanita cantik dan manis itu berada di tempat kami. eh tapi harus bermain dulu baru dapat hadiahnya"ucap pria itu


"sikat dia"perintah pria yang entah dari mana suaranya namun tak kelihatan wajahnya oleh azzam.


Bruk...duagh..bugh...bugh


Terjadilah 20 orang bertubuh kekar versus azzam seorang diri. Ia sebenarnya sangat malas meladeni ini dan juga tingkat silatnya masih dibawah ustadz Alfi. Faktor itu membuatnya kalah telak.


"aaakh"pekik azzam yang terlempar ke dekat pohon besar.


Ia pun berdiri kembali tapi sesuatu di tangan kirinya membuatnya berhenti dan tumbang kembali. Ternyata ada jarum suntik yang sudah terisi obat bius berhasil membuat azzam diboyong ke markas sementara penculik itu.

__ADS_1


Sebuah mess yang bisa terbilang gudang karena lama tak digunakan lagi. Azzam dimasukkan keruangan itu lalu di biarkan saja. Ketika kesadarannya mengumpul kembali, ia terkesiap dan terkejut dengan apa yang di lihatnya.


"dian"ucap azzam.


Wanita yang dicari cari berada di depannya. Ternyata ia disekap di ruangan ini. Walau sampai seluruh kediri diobrak abrik sampai botak tak akan ketemu jika yang dicari berada di nganjuk.


Mulut dian yang disumpal kain putih serta menutup matanya bersender di dinding dengan kedua tangan dan kakinya terikat oleh sebuah tali. Mata azzam menggelap seketika karena melihatnya. bahkan sahabatnya sangat menghormati dan memuliakan istrinya begitu baik tapi diperbuat seperti ini benar benar membuat emosi.


"brengsek!! Buka pintunya. Kau gila membuat seorang wanita seperti ini. Dimana otak kalian semua."teriak azzam


"dor dor dor dor..."


Bunyi gedoran pintu memecah keheningan. Dian yang mulai tersadar dengan gedoran itu. Percuma pintu ini sudah tergembok dari luar, azzam pun berhenti sebab suara seseorang yang berbicara tapi tersumpal kain.


"emmm...emmm"suara yang terdengar saat dian berbicara saat melihat azzam berada didekat pintu.


Dengan sigap azzam melepaskan kain yang menyumpal mulut dian. Wajah bumil itu sangat gembira melihat azzam. Namun kembali layu teringat akan perkataan si penculik kemarin.


"yan apa kau baik baik saja? Aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Kamu sudah ku anggap sebagai adik. Aku merasa bersalah padamu"ucap azzam


Dian nampak tertegun. Ia senang ternyata azzam menganggapnya adik sesuai yang ia harapkan. Tapi ucapan itu juga membuatnya merasa bimbang dan tak mau membuat azzam celaka.


"bang azzam kenapa mencariku?"tanya dian yang murung. Berbeda saat azzam membantunya tadi.


"Tentu saja ingin menyelamatkanmu dan seharusnya kita cari cara untuk keluar dari sini"ucap azzam sekilas kesal akan pertanyaan itu.


"bang kita gak akan selamat jika bang azzam ada disini. Sebaiknya kau kembali ke kediri yaa, paman irawan akan melindungimu."ucap dian terlihat memendam sesuatu tapi tidak mau dilihat oleh azzam.


"sebenarnya aku menyerahkan diri pada mereka tapi aku tak tau apa tujuan mereka. Namun aku tahu pasti jika mereka hanya ingin nyawaku"jelas dian.


"jangan gegabah yan. Pikirkan kembali dan kau seharusnya tidak bertindak sendiri."ucap azzam.


"Aku sudah berpikir matang matang dan aku mohon padamu, untuk pergi dari sini. "bujuk dian memohon.


"kau menyerahkan nyawamu?!. Dian nurul cahyanigrat ! Bagaimana perasaan keluargamu terkhusus suami dan anakmu tentang keputusan ini"ucap azzam.


"kau harus selamat bang. Tanpamu semua orang yang aku kenal akan selamat dari ancaman ini."ucap dian kembali.


"ancaman? Kau diancam dan begitu saja percaya"dingin azzam.


"mereka mengancam jika aku tak menyerahkan nyawaku ini sangat bahaya. Jika pun aku selamat bersama bang azzam keluar dari sini. Pikirkan keadaan mereka, aku takut rumah yang selama ini aku rindukan penuh lautan darah"


Ucapan dian membuat azzam terdiam. Rumah yang dimaksud adalah kebersamaan dan rasa kasih sayang antar  mereka. Lama diam dengan kesibukan pikiran masing masing,terdengar suara yang mereka kenal.


"gimana kabar kalian disini?"tanya seorang perempuan berkucir kuda.


"kania"kor azzam dan dian bersamaan.


Flasback off...


Wajah yang tak ada yang pernah tau, sekarang muncul begitu saja. Umay memasang wajah dingin yang penuh akan amarah dengan kedua tangan dikepal hingga buku buku tangannya terlihat putih. Semuanya terkejut akan reaksi umay dan ayah ahmad memakluminya. Ia tahu besarnya umay dan bahkan setiap ciri khas keponakan sudah diluar kepalanya. Putrinya ini sangat disayangi oleh umay jadi tak salah jika saat ini umay begitu bereaksi.

__ADS_1


"umi tidak menyangka jika gadis penurut dan baik seperti kania berubah menjadi seperti ini"ucap umi shita yang tak menyangka.


"aku juga tidak menyangka umi. Kania bisa senekat itu. Ia juga yang menembakku hingga tiga kali demi mengancam dian terus menerus. Aku rasa ia sengaja melakukan itu agar dian cerai dengan alfi"ucap azzam.


"jika tidak segera menandatangi surat cerai, dian diancam akan kehilangan keluarga, teman dan semua yang dikenalnya. Bahkan hafsa akan di siksa. Oiya jangan lupakan aku disana. Kania juga mengancam akan membunuhku didepan dian."


"saat itu aku bersedia menyerahkan diri. Kania pun menarik pelatuk itu dan menembakku di depan dian. Setengah sadar aku mendengar bahwa dian memohon menghentikan semua itu tapi kania seakan tuli dan terus menembakku. sampai ketiga tembakan itu, dian pun memeluk kaki kania dan bersedia mengikuti perintah kania untuk tanda tangan"


Cerita azzam membuat para wanita tak tahan untuk tidak menangis. Sungguh pengorbanan dian untuk mereka begitu besar.


"lalu bagaimana kelanjutannya zam?"tak sabar abi abdurahman untuk segera menganalisa peristiwa yang merenggut menantu kesayangannya.


"entahlah abi. Aku masih mengingat sedikit. Selain surat cerai, kania juga memaksa untuk membuat rekaman yang menyatakan kata yang dibenci oleh alfi. Aku bahkan merasa sakit mendengar itu."


"untuk kata kata terakhir sebelum aku berpisah dari dian, ia berkata...


'unta harus tetap hidup, biarkan aku yang menjamin nyawa kalian semua dengan nyawaku. Tapi juga tak tau jika sudah tiada nanti kania berniat membunuh lagi. Namun singa tidak akan mati penuh penyesalan karena nanti kalian dalam bahaya tanpa memberi peringatan. pesanku, tolong jangan sampai lengah dan saling menjaga. Berharap unta menyampaikan pesanku dan sampaikan maafku untuk semunya. Dian sayang semuanya serta mencintai mas Alfi walau sampai pada akhirnya aku bawa mati'


Katanya begitu dan aku sudah tidak tahu lagii... Jadi tidak tau dian kemana karena aku langsung pingsan"ucap azzam. 


Jangan tanyakan perasaan mereka semua saat ini. Apalagi ustadz Alfi menjadi tambah syok dan merasa sedih yang begitu mendalam lagi. Rasanya hatinya sudah hilang begitu saja.


"ini adalah sebuah kode. Jika kita mengabaikan pesannya bukankah pengorbanan almarhum akan sia sia saja?"timpal umay.


"rencananya azzam akan menyelidiki keberadaan kania lebih dulu bersama faqih"ucap azzam


"aku merasa kematian dian begitu teka teki. Entahlah perasaan ini apakah benar atau tidak. Semoga hasilnya yang terbaik"bathin azzam yang tersenyum tipis.


"Bagaimana jika paman ahmad dan bibi serta dayu 1 bulan sekali mengunjungi jakarta. Jangan sampai musuh mencium rasa kekeluargaan kita begitu dekat. Apakah paman setuju?"tanya farhan.


"apapun keputusan kalian. Aku menghargainya. Tapi nanti setelah tujuh harian putriku. Aku tidak mau melewatkannya"ucap ayah ahmad.


"tentu paman. Maaf jika farhan lancang."ucap farhan yang tak enak hati karena seperti mengatur orang yang lebih tua darinya.


"tak apa apa nak. Kami setuju"ucap ayah ahmad seraya tersenyum menyakinkan.


"baiklah. Kita akan di diskusikan dengan kakek di pesantren.semoga kita selalu dilindungi oleh Allah"ucap abi abdurahman


"aamiin"kor semuanya.


Semuanya nampak setuju. Dian sudah tiada dan sekarang mereka harus melanjutkannya. Sepertinya tim dan anggota dakwah akan menyelidiki serta terus mencari cara agar semuanya bisa tuntas. Yang pasti tausiyah sementara dihentikan karena keadaan belum begitu menyakinkan dan tidak tahu bahaya mana lagi yang didapatkan.


Bersambung....


🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢


Hallo permirswah, gimana epsnya neh?


Alhamdulillah episodenya sudah terupdate dan bila ada typo yang buat gak nyaman bacanya, mohon dimaafkan yaa


Stay Tune dan Nantikan Notif Updatenya,

__ADS_1


Salam sehat & Terimakaseh, see you di next eps. Sayang²nya akyuu.... Mwuach 😘


__ADS_2